
Seperti biasanya, saat patah hati, Elvano kini terduduk lesu di meja bartender sebuah Klub Malam. Tidak seperti kemarin, dia menghabiskan malamnya dalam keadaan mabuk berat. Kali ini, Elvano hanya meneguk segelas minuman saja.
Di tengah kegalauannya, seorang wanita berpakaian mini dan seksi datang menghampirinya.
"Hai sayang ..." Sapa wanita itu sembari mengelus lembut pundak Elvano.
Dengan kasar Elvano menepis tangan wanita itu. Siapa lagi wanita seksi itu kalau bukan Liza. Dan Liza lah penyebab gagalnya hubungan yang tengah dibangun Elvano bersama Mita. Wajar saja, jika Elvano bersikap kasar pada Liza.
"Tumben, selama beberapa bulan ini kamu tidak pernah lagi datang kemari. Kalau sekarang aku melihat kamu di tempat ini, itu artinya kamu ..."
"Shut up!" Sela Elvano dengan nada keras dan lantang, "Kalau saja kamu bukan perempuan, aku pasti sudah membuat perhitungan denganmu."
Liza pun terdiam bercampur kaget.
Tanpa mempedulikan Liza, Elvano pun bergegas keluar dari Klub Malam itu.
Tidak jauh dari Klub Malam itu, ada sebuah minimarket. Elvano pun mendatangi minimarket itu untuk membeli minuman dingin.
Di lemari pendingin, hanya tersisa satu minuman dingin favoritnya. Bergegas Elvano membuka pintu lemari pendingin itu dan mengulurkan tangannya hendak mengambilnya. Namun tiba - tiba, ada tangan lain yang telah lebih dulu mengambilnya. Elvano pun kesal dibuatnya.
"Hei. Itu punyaku." Seru Elvano sambil menatap punggung seorang gadis.
Gadis itu pun menghentikan langkahnya.
"Kembalikan. Itu punyaku. Aku yang lebih dulu melihatnya." Seru Elvano lagi.
Gadis itu pun memutar tubuhnya menghadap Elvano. Rambut panjangnya yang tergerai, melayang di udara saat gadis itu memutar tubuhnya.
Gluk!
Elvano menelan salivanya dalam. Tertegun memandang gadis itu.
Park Shin Hye?
Bukan kali ya? Tapi kok mirip? Sangat mirip dengan artis terkenal itu. Yang sering tampil dalam drama TV yang sering ditonton mamanya itu.
Wow ...
Seorang gadis berparas manis dan menawan, dengan sepasang bola mata indah itu tengah menatapnya datar.
"Maaf, tapi aku yang lebih dulu mengambilnya." Ucap gadis itu santai.
"Tapi aku yang lebih dulu melihatnya."
"Tapi skarang ada di tanganku." Sambil memperlihatkan sebotol minuman dingin itu, "Berarti ini punyaku."
Gadis itu pun kembali memutar tubuhnya lalu bergegas ke meja kasir. Setelah selesai dengan pembayarannya, gadis itu pun keluar dari minimarket itu.
Elvano pun menghembuskan napasnya kasar, lalu menggeleng - gelengkan kepalanya. Tidak disangka ada gadis yang sifatnya mirip Mita.
Akh, Mita lagi, Mita lagi. Sudah lah Elvano. Kamu sudah memilih untuk merelakannya. Jadi sekarang, pikirkan saja kehidupanmu sendiri. Kebahagiaanmu sendiri. Jangan lagi melihat ke belakang. Life must go on (hidup harus terus berjalan).
Akhirnya, Elvano pun memilih mengambil minuman dingin yang lain. Kemudian bergegas ke meja kasir, lalu keluar dari minimarket itu.
Sembari meminum minuman kemasan itu, Elvano melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Sampai tiba - tiba ...
Bugh!
Byurrr!
Bak Mbah Dukun yang sedang beraksi, minuman dingin yang sempat diteguknya pun menyembur dan membasahi baju seorang gadis yang bertabrakan dengannya. Elvano pun kesal dibuatnya. Belum sempat minuman itu melewati tenggorokannya, eh malah main nyembur.
"Dasar sial. Kalau jalan pake mata dong." Umpat Elvano sambil menatap kesal gadis yang tengah membersihkan bajunya menggunakan tissue.
__ADS_1
"Kamu yang harusnya jalan pake mata. Lihat, bajuku jadi kotor gara - gara kamu." Kesal gadis itu sambil menatap garang Elvano.
Eh tunggu, tunggu!
Gadis itu ...
Park Shin Hye?
Gadis yang bertemu dengannya di minimarket tadi.
"Kamu?" Seru keduanya berbarengan. Dengan jari telunjuk mengarah ke wajah masing - masing.
"Gadis aneh." Umpat Elvano, lalu menurunkan jemarinya.
"Bukannya minta maaf, malah mengataiku aneh. Dasar, laki - laki tidak punya tata krama." Balas gadis itu tak mau kalah.
"Ap_apa kamu bilang? Aku laki - laki yang tidak punya apa?" Elvano memelototi gadis itu.
"Kamu sudah mengotori bajuku, lalu mengataiku aneh. Masih untung aku tidak meminta ganti rugi."
"Ganti rugi?" Elvano semakin melotot, "Ya elaaah ... Dilap sebentar juga pasti bersih lagi kok. Pake minta ganti rugi segala." Sembari mengambil sapu tangannya dan hendak membersihkan baju gadis itu.
Namun tiba - tiba saja ...
PLAK!!!
"Aww!!!" Elvano meringis kesakitan sambil memegangi pipi kirinya yang terkena tamparan keras gadis itu.
Gadis itu menatap garang Elvano.
"Dasar mesum." Umpat gadis itu. Pasalnya, yang terkena tumpahan minuman itu adalah baju di bagian atas gadis itu. Tepatnya di antara belahan bukit kembar. Dan Elvano hampir saja menyentuhnya. Jelas saja gadis itu marah.
"Apa? Mesum? Heh, aku hanya mau membersihkan baju kamu. Bukan mau menyentuh buah apel kamu itu." Kesal Elvano dikatai mesum.
"Sekali mesum tetap mesum. Dasar gila." Umpat gadis itu sembari berlalu sambil menggerutu, "Enak saja mengatai punyaku APEL. Memangnya sekecil itu apa?"
Eh, Mita lagi, Mita lagi. Segitu susahnya ya melupakan Mita.
Akhirnya, Elvano pun kembali melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir. Namun lagi - lagi, langkahnya terhenti. Di seberang jalan, tak jauh dari Klub Malam itu, pandangan matanya menangkap sesosok yang familiar. Tengah berbincang dengan seorang pria yang berpenampilan mirip preman.
Sosok yang familiar itu tidak lain dan tidak bukan adalah Sasha, sepupunya sendiri. Elvano pun mengernyit. Otaknya mulai berkelana, mengira - ngira apa yang dilakukan Sasha dengan pria bertampang preman itu.
Sejurus kemudian, pria bertampang preman itu berlalu meninggalkan Sasha. Dan Sasha bergegas naik ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Entah kenapa, yang ada dalam benaknya saat ini hanya Mita. Tiba - tiba saja bayangan Mita muncul. Dan perasaan tak enak pun menyelimuti hatinya seketika.
.
.
.
Mentari pagi mulai menyapa.
Hari ini adalah hari pertama Anjas bekerja sebagai Office Boy di salah satu perusahaan besar. Sayang sekali, tapi beruntung Anjas sudah terbiasa melakukan pekerjaan apapun. Dulu saja dia bekerja sebagai barista. Jadi untuk pekerjaan yang satu ini, tidak masalah.
Anjas hanya perlu bersabar dan bekerja keras serta bertekad kuat untuk memulai semuanya dari awal. Demi orang - orang terkasihnya.
Tanpa ragu dan tanpa perlu malu - malu, Anjas pun memulai pekerjaannya dengan melayani permintaan karyawan dan karyawati kantor itu, yang memintanya untuk membuatkan minum. Meski ada sebagian karyawati yang terpesona melihatnya. Bahkan mereka saling berbisik.
Baru kali ini ada OB setampan itu di kantor mereka. Namun Anjas tidak menghiraukan bisikan - bisikan tetangga itu. Yang terpenting baginya sekarang adalah bekerja. Bahkan saat ini Anjas tidak memikirkan lagi bagaimana caranya untuk mendapatkan Winata Group kembali dari Elvano. Jika satu - satunya cara hanyalah mengorbankan Mita, Anjas tidak akan pernah melakukan itu.
Sementara di tempat berbeda, Mita baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Dengan keadaan kusut Mita keluar kamar mencari keberadaan mamanya.
__ADS_1
Di dapur Mama Retno sedang memasak. Rutinitas Mama Retno setiap paginya. Memasak sarapan untuk mereka berdua.
"Ma ..." Panggil Mita sembari mengambil duduk di meja makan yang kebetulan tak jauh dari dapur.
"Kamu sudah bangun?" Sambil menyajikan sepiring nasi goreng dan telur ceplok di depan Mita.
"Cepat habiskan sarapanmu, ada yang mau Mama bicarakan sama kamu setelah ini."
"Gimana aku bisa ada di rumah? Bukannya semalam aku ..." Gumam Mita. Otaknya berputar, memikirkan bagaimana caranya tiba - tiba dia bisa berada di rumah. Seingat Mita, semalam dia sedang berbincang dengan Sasha di kafe. Lalu bagaimana bisa dia terbangun di pagi harinya, di rumahnya sendiri pula.
"Anjas yang membawa kamu pulang." Sahut Mama Retno mendengar gumaman putrinya.
"Kok bisa?" Mita mengernyit heran , bingung, plus penasaran.
"Itu dia yang mau Mama bicarakan dengan kamu." Sembari mengambil duduk di depan Mita.
Mita mulai menyantap sarapannya.
"Anjas membawamu pulang dalam keadaan pingsan. Memangnya semalam kamu dari mana, kok bisa sampai pingsan begitu? Pulangnya diantar Anjas lagi. Atau jangan - jangan ..."
"Semalam aku bertemu teman. Aku juga bingung Ma, kenapa aku bisa pingsan. Dan soal Anjas ... Nanti saja aku cerita ke Mama."
"Apa kamu dan Anjas ..."
Mita menganggukkan kepalanya. Mama Retno pun menghembuskan napasnya kasar. Pantas saja Anjas berani melamar Mita kembali. Ternyata kedua kembali menjalin hubungan.
"Dengar ya Mit, Mama tidak mau kamu kecewa untuk kedua kalinya. Apa kali ini Anjas benar - benar serius?"
Mita kembali mengangguk sambil mengunyah makanannya.
"Rasanya Mama kurang yakin."
"Sejak awal Anjas memang serius. Hanya saja waktu itu dia dalam keadaan yang sulit. Ceritanya panjang."
"Oh ya, jadi Mama setuju dengan hubungan kami?" Tanya Mita cepat untuk mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya dia juga penasaran kenapa dia bisa pulang dalam keadaan pingsan.
"Trus Vano ..."
"Ma ... Sudah berapa kali aku bilang, aku dan Vano tidak ada hubungan apa - apa selain teman."
"Ya tapi_"
"Jadi Mama setuju nih?" Sela Mita.
"Mama cuma khawatir saja kalau nanti kamu__"
"Asiiik ..." Mita langsung bangun dari duduknya dan menghambur memeluk mamanya, "Makasih Ma ... Aku sayang Mama."
"Kamu, apa - apaan sih?" Mama Retno tersipu.
Meski Mama Retno tidak mengatakan iya, tapi Mita tahu, mamanya sudah menyetujui hubungannya dengan Anjas. Karena tidak ada hal yang lebih penting di dunia ini baginya selain kebahagiaan Mita.
Waaah ... Selamat ya Mita. Kalian sudah bisa maju selangkah. Dan kabar gembira ini, Anjas juga harus tahu.
Setelah melepaskan pelukannya, Mita pun berlari ke kamarnya. Buru - buru masuk ke kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1
Mohon maaf baru bisa update. Jujur, susah banget membagi waktu antara rutinitas sehari hari dgn kegiatan menulis. Semoga msh bisa menghibur. Thankyou yang udah nungguin updatenya☺️