Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 28


__ADS_3

Liza masih memeluk erat tubuh kekar Elvano. Sementara Elvano semakin risih di buatnya. Di seberang, Mama Maria mendelik ke arahnya. Dengan jelas memperlihatkan rasa tak sukanya pada Liza. Wanita cantik dan seksi yang berprofesi sebagai model itu. Ssst, jangan ada yang kasih tahu Mama Maria ya, kalau Liza itu sebenarnya adalah model majalah dewasa.


Pelan Elvano membuka dekapan tangan Liza yang melingkari pinggangnya.


"Sorry ya Liz. Ini di rumahku. Tidak enak kalau nanti ada orang rumah yang melihat." Sembari Elvano melirik Mama Maria di seberang. Mama Maria tersenyum puas sambil mengacungkan dua jempolnya.


Liza terlihat cemberut. Lalu menggelayut manja di lengan Elvano.


"Van, kok akhir - akhir ini kamu jarang sekali datang ke tempatku. Padahal aku kangeeen banget sama kamu loh Van." Ucap Liza manja.


"Aku sibuk Liz. Sorry, aku tidak punya waktu berkunjung ke tempatmu."


"Sibuk? Kamu kan punya banyak karyawan. Biar mereka yang bekerja untuk kamu. Dan kamu tinggal menunggu hasilnya saja kan?"


"Sebenarnya, aku sedang mempertimbangkan untuk bekerja di perusahaan property Papa. Untuk itu, aku benar - benar sibuk." Kilah Elvano demi menghindari Liza.


"Nah, gitu dong. Kamu itu kan anak satu - satunya. Jadi kamu itu harus mulai mempelajari bisnis Papa kamu. Karna kamu adalah pewaris tunggal."


Eh, apa maksud Liza berkata seperti itu ya? Apa dia benar - benar tulus mencintai Elvano? Atau, dugaan Mama Maria memang ada benarnya. Liza mengincar hartanya saja. Maklum, Elvano adalah putra tunggal dari pengusaha property ternama. Samuel Abraham. Namun Elvano lebih memilih mengelola coffeshop nya ketimbang meneruskan usaha sang ayah.


"Liz, aku capek. Mendingan kamu pulang. Aku mau istrahat." Elvano mulai melenggang. Dan Liza malah mengekor di belakangnya.


"Eh Eh Eh, kamu mau kemana?" selidik Elvano begitu menyadari Liza terus mengikutinya.


"Ikut kamu. Kemana lagi?"


"Aku mau ke kamar. Apa kamu juga mau ikut?"


"Ya iyalah. Cuma ke kamar doang."


"Ya udah, kalo gitu aku mau ke toilet dulu. Apa kamu juga mau ikut?"


"Iiikh ... Vano. Kamu kok gitu sih? Belakangan ini aku merasa kamu makin aneh deh. Kayaknya kamu udah mulai berubah. Apa kamu punya cewek lain?"


"Terserah kamu mikirnya apa. Skarang, aku mau istrahat. Capek. Kamu mendingan skarang pulang. Ya? Sebelum Mamaku yang cantik itu berubah jadi kuntilanak."


Di seberang, Mama Maria masih mengawasi. Dan langsung memelototi Elvano begitu Elvano bilang mamanya akan berubah jadi kuntilanak.


Elvano pun mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. Peace Mamaku. Dan Mama Maria malah mempraktekkan gaya menggorok lehernya sendiri. Membuat Elvano bergidik ngeri. Hiiii .... serem.


Begitulah gaya ibu dan anak yang satu ini. Kadang terlihat seperti kakak beradik. Mungkin karena Elvano anak tunggal ya?


"Ya sudah. Aku pulang dulu. Tapi besok aku akan kemari lagi."


"Jangan. Kamu belum tau seperti apa Mama dan Papaku."


"Kalo gitu aku tunggu kamu di studio."


"Aku tidak janji."


"Ingat ya Van, aku tidak suka kamu mendekati wanita lain," sambil menatap tajam Elvano.


"Ya sudah, aku pulang dulu."


Kemudian Liza pun pamit pulang. Dan Elvano kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Dan Mama Maria tergesa - gesa mengikuti langkah Elvano sampai ke kamarnya.

__ADS_1


Di kamarnya, Elvano menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Sembari menghembuskan napas panjang. Dan pikirannya pun mulai menerawang jauh.


Memikirkan Mita membuat Elvano tersenyum - senyum sendiri. Dan gelagatnya itu sempat tertangkap mata Mama Maria.


"Hayo ... lagi mikirin apa? Kenapa senyam - senyum sendiri?" selidik Mama Maria sembari mengambil duduk di tepi ranjang.


Elvano pun bangun duduk dan menatap Mama Maria sembari mengulum senyum.


"Mamaku yang cantik, kepo amat."


"Van, kamu pacaran dengan Liza ya?"


"Tidak lagi Ma."


"Baguslah. Mama tidak suka dengan Liza. Menurut penglihatan Mama, dia itu tidak tulus mencintai kamu. Pasti dia ada maunya tuh. Mama bisa tau hanya dari gelagatnya saja."


Elvano manggut - manggut, "aku sudah punya cewek lain. Orangnya cantik, sederhana, dan yang pasti dia sangat baik."


"Oh ya? Kenalin dong ke Mama." Mama Maria begitu antusias.


"Aku tidak yakin kalau dia bisa menerima aku apa adanya."


"Maksud kamu?" Mama Maria mengernyit heran.


"Dia belum tau siapa aku sebenarnya."


Memang, Mita belum mengenal baik Elvano. Pria yang seharusnya di panggil Tuan Muda itu memang selalu tampil apa adanya. Tidak pernah menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Karena baginya, kekayaan orang tuanya bukanlah miliknya.


"Masalahnya, dia itu terlalu sederhana. Bukan hanya penampilannya saja, tapi juga cara berpikirnya. Kalau dia tau aku berasal dari keluarga yang seperti apa, mungkin dia akan menolakku." Tambah Elvano dengan lesunya berkata.


"Menurut Mama?" Elvano malah balik bertanya sambil menatap Mama nya serius.


.


.


Sementara di tempat lain. Setelah Sasha pamit pulang, Anjas kembali ke kamarnya. Anjas hendak merebahkan dirinya di kasur empuknya, saat tiba - tiba Oma Lidya datang.


"Anjas, kenapa Sasha nya tidak di antar pulang?" entah itu pertanyaan atau ungkapan kekecewaan Oma Lidya atas sikap Anjas terhadap Sasha. Calon menantu idamannya. Putri seorang pengusaha property. Sepupu Elvano. Kok Oma Lidya jadi rada - rada matre gitu ya?


"Dia bawa mobil sendiri. Dia juga bisa pulang sendiri."


Oma Lidya mendesah kasar. Seakan kecewa dengan jawaban Anjas.


"Anjas, jujur, Mama sedikit kecewa sama kamu."


Nah kan? Apa lagi nih maunya si ibu - ibu rempong ini? Semoga saja tidak akan membebani Anjas.


"Sorry Ma." Ucap Anjas singkat dan terkesan cuek.


"Mama cuma ingin kamu dan Sasha segera menikah. Secepatnya kamu lamar Sasha secara resmi. Mama yakin dia tidak akan menolak kamu. Dia itu sangat mencintai kamu."


Anjas menghembuskan napasnya kasar sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat. Jujur, Anjas sangat - sangat tidak ingin menuruti permintaan Mamanya. Karena sejak awal, Anjas memang tidak punya perasaan apapun terhadap Sasha. Anjas hanya menganggap Sasha teman biasa, tidak lebih dari itu.


.

__ADS_1


.


Dan di sudut kota yang lain. Mita tengah mengobrol dengan Mama Retno di ruang tengah. Sedangkan Nayla sedang asyik menikmati acara TV yang di tontonnya. Terkadang, setiap malam minggu Nayla tidur di rumah Mita. Biasa, cewek kalau jomblo begitu. Kurang kerjaan. Bebas mah, mau ngapain aja.


"Mit, sudah empat tahun berlalu. Mama heran, gimana ceritanya kamu bisa ketemu Anjas lagi?" tanya Mama Retno.


"Aku juga bingung Ma, kenapa setiap aku menghindari Anjas, eh malah ketemu lagi. Bahkan aku udah berhenti dari sekolahan hanya agar tidak bertemu lagi dengan Anjas. Setelah dapat kerjaan baru, eh malah ketemu Anjas lagi."


"Maksud kamu?"


"Jodoh kali Mit." Seru Nayla santai.


"Sembarangan." Sergah Mama Retno sambil memukul pelan lengan Nayla. Dan Nayla malah nyengir lebar.


"Anjas itu atasan aku, di tempat kerjaku yang baru."


"What??? " Nayla tersentak kaget. Remote TV di tangannya saja sampai terlempar begitu saja.


"Aduh Nayla, rusak nanti remotenya ..." omel Mama Retno. Dan Nayla pun mengambil kembali remote itu.


"Gara - gara kamu nih Nay." Gerutu Mita.


"Kok gara - gara aku sih?" Nayla cemberut.


"Iya, gara - gara kamu. Gara - gara kamu nyaranin aku melamar pekerjaan di tempatnya Anjas."


"Mana aku tau kalau Anjas pimpinan di perusahaan itu. Jadi kamu ... sekretarisnya Anjas Mit?" Kini Nayla terbelalak.


"Mau gimana lagi?" Mita pasrah plus kesal.


"Waaah ... emang beneran jodoh kalian Mit. Takdir selalu mempertemukan kalian. Udah, trima aja takdirmu, tidak perlu menghindar lagi."


"Kalau gitu ceritanya, lebih baik kamu mengundurkan diri. Udah, beres kan?" usul Mama Retno. Kemudian berdiri dan hendak ke kamarnya. Tapi sebelum itu, ibu - ibu bersuara cempreng itu kembali berkata,


"Mama harap kamu tidak akan membuat Vano kecewa. Dia itu calon menantu idaman Mama." Kemudian melenggang dengan santainya memasuki kamarnya.


Mita sampai tercengang mendengar ucapan mamanya. Yang jatuh hati pada Elvano sebenarnya Mita atau Mama Retno sih? Padahal belum lama mereka saling mengenal, tapi Mama Retno sudah jatuh hati pada Elvano.


Kalau boleh Mita jujur, sebenarnya, meski Mita membenci Anjas entah kenapa Mita sedikit cemburu melihat Anjas bersama Sasha. Apa Mita masih menyimpan rasa terhadap Anjas?


Entahlah. Hanya Mita yang tahu.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Always saranghae readers ❤️


Salam Hangat 🤗


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2