
"Selamat datang di butik Lidya Collection. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang karyawan begitu Elvano dan Mita masuk.
"Berikan aku gaun terbaik di butik ini." Titah Elvano.
"Baik Tuan. Tunggu sebentar." Karyawan perempuan itu bergegas mengambil beberapa gaun terbaik di butik itu.
"Van ... Kamu apa - apaan sih?" gerutu Mita setengah berbisik.
"Tenang sayang. Kita hanya akan bermain - main sebentar dengan penampilan kamu."
"Jangan buang - buang duit kamu hanya untuk membelikan aku gaun. Pasti gaunnya sangat mahal. Butiknya saja mewah dan elegan begini." protes Mita sembari menyapukan pandangannya hingga ke setiap sudut butik itu. Memang butik itu terkesan mewah.
Elvano tersenyum. Setidaknya malam ini dia ingin Mita tampil maksimal. Secara, mereka akan makan malam di rumahnya Sasha. Dan sudah pasti ada Anjas. Elvano hanya ingin memperlihatkan pada Anjas dan Sasha bahwa Mita juga bisa tampil modis dan elegan seperti Sasha. Elvano tahu persisi seperti apa sepupunya itu. Dia pasti ingin menunjukkan pada Mita bahwa dia adalah wanita yang pantas untuk Anjas. Berasal dari keluarga terpandang dan sederajat.
"Eeh ... ada Vano ..." sebuah suara lembut datang menyapa. Dialah pemilik butik itu, Oma Lidya. Wanita paruh baya yang tidak berbeda jauh usianya dengan Mama Retno itu datang menghampiri.
"Sama siapa Van?" tanya Oma Lidya sembari mengulas senyum.
"Eh, Tante ... malam Tan." Sapa Elvano. Mereka memang sudah saling mengenal.
"Malam ... tumben kamu ke butik Tante. Ini siapa? Pacar kamu?" sembari memperhatikan Mita dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Mita jadi risih dipandangi seperti itu. Memang sih, penampilan Mita biasa saja, terlalu sederhana. Tidak seperti Oma Lidya yang kece abis dengan bulu mata anti badai ala Syahrini dan bibir merah merona, mirip vampir yang habis minum darah. He he he, tidak juga kali. Tapi, Mita tetap cantik meski sederhana. Cantiknya natural.
"Iya, Tan. Ini pacar aku."
Seorang karyawan pun datang membawakan beberapa lembar gaun terbaik di butik Oma Lidya.
"Ini, Pak gaunnya. Bisa di coba dulu." Kata karyawan itu.
"Van, udahlah. Kita pergi aja yuk." Bisik Mita di telinga Elvano. Dan Elvano hanya tersenyum.
"Mau Tante Bantu?" tawar Oma Lidya.
"Boleh Tan. Tante kan jagonya kalau urusan yang beginian." Puji Elvano.
"Ya sudah. Mari ikut Tante." Sembari menatap Mita.
Awalnya Mita terlihat ragu dan malu - malu. Tapi karena Elvano memaksanya, akhirnya Mita pun menurutinya.
"Yang cantik ya Tan." Seru Elvano saat Mita dan Oma Lidya berjalan ke satu ruangan. Di ikuti oleh karyawan yang membawakan gaun untuk dikenakan oleh Mita.
"Pacar kamu udah cantik, tinggal di poles dikit aja." Balas Oma Lidya.
Di dalam ruang ganti sekaligus merangkap ruang make up itu, khusus punya Oma Lidya. Karena memang butik itu tidak menyediakan jasa make up. Oma Lidya melakukannya khusus untuk Elvano. Sahabat Anjas, sekaligus sepupu Sasha. Calon menantu idamannya.
Mita sudah mencoba gaun ke tiga. Gaun yang berwarna pink pastel selutut dengan bahu sedikit terbuka itu sangat pas di tubuh ramping Mita. Oma Lidya pun tersenyum, sembari memperhatikannya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
"Cantik. Gaun ini cocok untuk kamu. Ya udah, skarang kamu duduk disini. Kita akan memoles sedikit muka kamu." titah Oma Lidya.
Mita menurut. Karena hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini. Dan Oma Lidya pun memulai proses make up nya.
Di tengah - tengah proses make up itu, tiba - tiba ponselnya berdering. Oma Lidya menghentikan sebentar kegiatannya lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya yang terletak di meja kecil di sudut ruangan.
__ADS_1
"Halo ... Daddy udah pergi? ... Trus Nara mau ke sini sama siapa? Sama Aunty? ... Ya sudah, Oma tunggu." Kemudian memutus sambungan telepon dan kembali menghampiri Mita.
"Cucu Tante, anaknya sangat manja. Sangat bergantung sama Daddy nya." Kata Oma Lidya sembari memulai kembali kegiatan make up nya.
"Namanya mirip dengan nama seorang anak yang saya kenal."
"Oh ya? Cucu Tante itu sedikit kurang beruntung. Dia sudah di tinggal ayah dan ibunya sejak masih bayi."
"Maaf Tante, saya tidak bermaksud__"
"Tidak apa - apa. Tante hanya ingin berbagi sedikit kesedihan Tante. Kamu kan pacarnya Vano, tidak apa - apa kan kalau Tante cerita sama kamu?"
"Tidak apa - apa Tan. Kebetulan, saya adalah pendengar yang baik."
Oma Lidya pun tersenyum dan kembali berkata,
"Tapi Nara beruntung karena putra Tante yang lain mau merawat dia dan memberinya kasih sayang agar tidak kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ayah. Saat dia mulai mengerti, dia malah mengira putra Tante yang masih singgel itu ayahnya."
"Jadi, yang dia kira ayahnya itu adalah pamannya?"
"Benar skali. Dan kami tidak ada yang berani mengatakan itu pada Nara. Kami hanya takut Nara sedih dan kecewa."
"Kasihan sekali ..." gumam Mita.
"Lebih kasihan lagi putra Tante. Orang - orang mengira dia sudah menikah. Padahal dia masih singgel."
"Ooh ... begitu ya ..."
"Yap. Sudah selesai. Tinggal kita semprot ini aja. Coba tutup mata kamu." Lalu menyemprotkan setting spray ke wajah Mita setelah Mita menutup matanya.
.
.
"Vano ... udah selesai nih." Seru Oma Lidya sembari menghampiri Elvano. Dengan Mita menyusul di belakangnya.
Dan Elvano pun tercengang begitu melihat penampilan Mita yang terlihat jauh berbeda.
Apa namanya?
Cantik?
Iya, cantik. Dan satu lagi apa namanya?
Anggun?
Ya. Malam ini Mita begitu cantik dan Anggun. Mata Elvano sampai tidak berkedip menatap Mita.
Dug ... Dug ... Dug ...
Jantung Elvano makin berlomba. Berdetak kencang serasa jantung itu akan melompat dari tempatnya. Hatinya pun berdebar - debar gila. Tidak disangka, Mita bisa secantik ini.
"Gimana Van? Cantik kan?" tanya Oma Lidya menggoda Elvano.
__ADS_1
Elvano tersenyum lebar menatap Mita yang terlihat risih di perhatikan Elvano seperti itu.
"Oma ..." tiba - tiba seorang anak kecil datang dan langsung menghambur ke dalam pelukan Omanya.
"Cucu Oma yang paling manis, paling manja ..."
Saat anak kecil itu melepas pelukannya, pandangan matanya pun menengadah, beralih pada Mita. Yang mendadak diam seribu bahasa.
"Bunda ..." sapa anak kecil itu yang tidak lain adalah Nara.
"Nara kenal pacarnya Om Vano?" Oma Lidya mengernyit.
"Kenal dong Oma. Kan Bundanya Nara di sekolah."
"Oooh ..." Oma Lidya ber oh panjang.
Saking terkejutnya, Mita sampai tidak membalas sapaan Nara. Otaknya kembali bekerja, mengaitkan antara omongan Oma Lidya beberapa saat yang lalu dengan Anjas. Jika cucu Oma Lidya ini adalah Nara, berarti putra Oma Lidya yang dianggap Nara ayahnya itu adalah Anjas? Jadi ini yang berusaha Anjas beritahukan pada Mita, akan tetapi Mita selalu menghindarinya.
Jadi, Anjas dan Sasha tidak pernah menikah. Dan Nara adalah keponakannya.
Oh God (oh Tuhan)
Ternyata selama empat tahun ini, Mita sudah salah menilai Anjas. Kenapa Anjas tidak mengatakan ini sejak awal, sejak empat tahun lalu. Sebelum kesalahpahaman diantara mereka semakin melebar kemana - mana.
"Bunda cantik banget ..." kata Nara sembari tersenyum manis memandangi Mita. Sedangkan Mita, hanya menatap Nara tanpa berkedip.
"Mit ..." sapa Elvano sembari menepuk lembut pundak Mita hingga Mita pun tersadar dari lamunannya.
"Nara menyapa kamu tuh dari tadi. Kamu melamun ya?"
"Eh ... Maaf, aku hanya ..." Entah Mita gugup atau mungkin ada perasaan lain yang mulai mendera hatinya.
"Ini Nara, cucu Tante yang Tante ceritakan tadi." Kata Oma Lidya memperkenalkan Nara. Bersamaan dengan itu, Anjani datang. Dan begitu terkejut saat melihat Mita ada di butik mamanya.
"Loh ... Kamu kan ... Mita?" Anjani memastikan tidak salah mengenali orang.
"Iya Aunty. Ini Bunda Mita. Pacarnya Kak Vano." Malah Nara yang menyahuti. Dan Anjani lebih terkejut lagi.
"Pacarnya Kak Vano?" raut wajah Anjani mulai berubah. Seakan kecewa saat mendengar bahwa Mita adalah pacar Elvano.
"Van ... kita pergi saja dari sini." Pinta Mita.
"Ya sudah. Oh ya Tan. Aku mau menyelesaikan pembayarannya." Ucap Elvano.
"Buat kamu gratis."
"Waaah ... makasih banyak loh Tan. Kalau gitu kami permisi dulu Tan. Buru - buru soalnya. Sekali lagi makasih ya Tan?"
Mita dan Elvano pun akhirnya meninggalkan butik itu.
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...