
"Kamu pasti kaget melihat Mama dan Kak Anjas berdebat." Ucap Anjani saat mereka sedang duduk di taman belakang menemani Nara.
Mita menundukkan wajahnya. Dia jadi tak enak hati dan merasa bersalah pada Anjas. Sebelumnya, dia mengira alasan Anjas meninggalkannya itu karena wanita lain. Hingga dia begitu membenci Anjas. Tapi ternyata, dia salah besar. Anjas benar - benar berada dalam posisi yang sulit. Dimana dia harus memilih antara cintanya atau keluarganya.
"Sejak Kak Anjas kembali ke rumah ini empat tahun lalu, aku tidak pernah lagi melihat Kak Anjas bahagia. Seperti yang aku lihat saat dia bersama kamu."
Mita pun mengangkat wajahnya. Menoleh, menatap Anjani yang juga menatapnya.
"Tidak ada yang bisa membuat kakakku bahagia, kecuali kamu. Tidak bisakah kamu memberi kakakku satu kesempatan lagi? Aku sungguh ingin melihatnya bahagia."
Mita sedikit tersentuh mendengar ucapan Anjani. Apa memang sebaiknya dia memberi Anjas satu kesempatan lagi? Tapi, mungkin hubungan mereka tidak akan berjalan mulus. Ada banyak aral melintang yang harus mereka lewati. Terlebih soal restu. Sudah pasti hal itu akan sulit mereka dapatkan. Jadi, Mita harus bagaimana?
.
Akhirnya Mita bisa pulang. Kini Mita tengah berdiri di depan gerbang rumah Anjas, sambil sibuk dengan layar ponselnya. Memesan ojek dari aplikasi.
Baru saja Mita hendak memesannya, tiba - tiba sebuah mobil berhenti di depannya.
"Ayo naik." Seru seseorang dari dalam begitu kaca jendela di turunkan. Siapa lagi kalau bukan Anjas.
"Tidak usah, makasih. Aku sudah pesan ojol." Tolak Mita halus.
"Ayo, cepat naik. Apa perlu aku menyeretmu?"
"Itu penculikan namanya."
"Makanya naik. Ayo, cepat."
Akhirnya Mita pun naik ke mobil itu. Sejurus kemudian mobil itu pun mulai melaju.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil lain mengikuti mereka dari belakang. Mobil itu mengikuti mereka sejak dari depan rumah Anjas tadi.
"Bukannya kamu__"
"Buat apa pergi makan malam kalau aku sendiri sudah kenyang." Sela Anjas cepat. Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang tampak ramai.
"Kamu hanya akan membuat Mama kamu kecewa. Nara juga ingin melihat Mommy dan Daddy nya bersama. Harusnya kamu memikirkan perasaan Nara."
Ckiiiiit ...
Anjas mengerem mendadak. Menghentikan mobilnya di tepi jalanan yang tampak gelap. Hingga membuat Mita terkejut.
Anjas diam sejenak. Tapi kemudian menoleh, menatap Mita.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa ada yang memikirkan perasaanku?" Pertanyaan yang entah harus dijawab apa oleh Mita.
"Bukankah egois namanya jika kamu hanya memikirkan dirimu sendiri? Mungkin kamu bisa menyakiti Mama kamu. Tapi Nara? Apa kamu tega menyakiti perasaan seorang anak kecil?"
"Jika memang aku egois, lalu kamu?" Anjas menatap tajam Mita. Membuat Mita terpaku seketika. Seakan tatapan itu menghujam jantung.
"Ini bukan tentang aku. Aku tidak ingin membahas masa lalu." Mita membuang pandangannya ke sembarang arah. Asalkan tidak bertatapan dengan Anjas.
"Kamu egois, Mit. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri."
"Aku? Aku egois?" Mita menyeringai tipis. Dia sedikit tersinggung dengan ucapan Anjas.
"Bukannya kamu yang egois? Meninggalkan aku tanpa alasan apa pun, bukankah itu egois namanya? Kamu tidak tau seperti apa perasaanku saat itu. Bahkan kamu tidak mau tau. Karna memang kamu tidak peduli padaku." Amarah Mita mulai tersulut.
"Aku akui aku salah. Seharusnya aku memberitahu kamu seperti apa situasiku saat itu."
"Seharusnya seperti itu. Aku bisa mengerti keadaan kamu, jika saja kamu memberitahuku sejak awal."
__ADS_1
"Maafkan aku."
"Untuk apa lagi? Sekarang, yang harus kamu pikirkan adalah Nara. Lagipula, apa kurangnya Sasha. Dia wanita yang baik, cantik, dari keluarga terpandang pula. Hubungan kalian pasti akan berjalan mulus." Mita menunduk lesu. Entah kenapa, dadanya kembali terasa sesak.
"Apa memang sudah tidak ada kesempatan lagi untukku? Seberapa besar kebencianmu padaku?"
Mita pun mengangkat wajahnya. Lalu menoleh, menatap Anjas yang menatapnya sendu.
Ada desiran aneh di hatinya saat melihat Anjas menatapnya seperti itu. Kalau boleh jujur, Mita merasa kasihan melihat Anjas tersiksa dengan perasaannya sendiri.
"Tidak. Tidak ada. Aku sangat membencimu." Ucap Mita mantap. Tapi kenapa, hatinya justru terasa sakit saat mengatakan itu.
Tanpa Mita sadari, ucapannya itu pun menyakiti hati Anjas. Hingga matanya tampak mulai berkaca - kaca. Hingga akhirnya, bulir - bulir air bening itu pun berjatuhan dari sudut matanya.
Ya Tuhan ... Apa yang sudah Mita lakukan. Dia benar - benar sudah menyakiti Anjas.
Tanpa sadar, perlahan Mita mengulurkan tangannya. Menghapus air mata itu.
"Bagaimana caranya menghapus kebencianmu padaku?" Sembari meraih jemari Mita yang menyentuh wajahnya dan menggenggamnya erat.
Namun Mita malah menarik kasar tangannya. Kemudian bergegas turun dari mobil. Dadanya terasa semakin sesak. Perih. Entah kenapa. Hingga tanpa disadarinya, air matanya pun berderai membasahi pipinya.
Apa Mita masih ingin membohongi perasaannya sendiri. Sampai kapan dia terus membodohi dirinya seperti ini, jika memang cinta itu masih ada.
Anjas pun turun dari mobilnya dan menghampiri Mita yang masih berdiri di sisi mobil sambil mengusap wajahnya.
"Mit ..." Lirih Anjas memanggil sembari lebih mendekat selangkah.
Mita memutar tubuhnya membelakangi Anjas. Berusaha menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh Anjas.
Meski Mita membelakanginya, tapi Anjas tahu, wanita itu sedang menangis. Perlahan, Anjas menyentuh pundak Mita.
"Mit, please, jangan membohongi dirimu sendiri. Aku tau, perasaanmu padaku belum berubah."
"Jika aku memberimu kesempatan, apa kamu bisa menjamin, kamu tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama?" Tanya Mita kemudian. Membuat Anjas terkejut mendengarnya.
"Ma_maksud kamu?" Anjas tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa Mita sedang bercanda kali ini? Anjas ingin memberikan jawaban, tapi apakah Mita sungguh akan memberinya satu kesempatan lagi?
Mita kembali berbalik. Ditatapnya lekat - lekat pria yang berdiri dihadapannya saat ini.
"Apa kamu bisa berjanji, kamu tidak akan meninggalkanku lagi?" Tanya Mita lagi.
"Aku janji." Sembari mengangguk. Raut bahagia mulai terpancar dari wajahnya. Matanya pun kembali berkaca - kaca. Sungguh ini membuat Anjas begitu bahagia. Hal yang dinantikannya selama ini. Akhirnya Mita membuka kembali hatinya untuknya.
"Walau apapun yang akan terjadi nanti, kamu janji tidak akan meninggalkanku?"
"Aku janji." Ucap Anjas sungguh - sungguh.
Mita pun tersenyum bahagia melihat kesungguhan hati Anjas.
Sambil berderai air mata bahagia, Anjas meraih Mita kedalam pelukannya. Ini terasa seperti mimpi baginya.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih, kamu sudah memberiku kesempatan. Aku janji, apapun yang terjadi, aku akan slalu berada di sisimu." Lirih Anjas sembari mempererat pelukannya.
Mita pun membalas pelukan itu. Setelah memberi kan Anjas kesempatan lagi, Mita merasa seperti beban dihatinya luruh sudah. Ada kelegaan di hati itu. Mungkin benar, Mita pun masih mencintai Anjas.
Anjas melepaskan pelukannya. Dan berganti merangkum wajah mungil Mita. Menatapnya lekat.
"Makasih, kamu mau menerimaku kembali. Aku sayang kamu."
"Aku tau." Mita mengulum senyum manisnya. Membuat hati Anjas berdebar - debar. Sudah lama Anjas tidak melihat Mita tersenyum padanya.
__ADS_1
Senyum manis itu membuat Anjas tak bisa menahan hasratnya. Sapuan hangat nan lembut bibirnya pun dengan cepat mendarat di bibir ranum Mita. Menyesapnya lembut, dan penuh cinta. Mita pun memejamkan matanya. Saling berbalas. Menyalurkan hasrat cinta dan kerinduan yang lama terpendam.
Tanpa sepengetahuan mereka, di seberang, tidak jauh dari tempat mereka, seseorang tengah memperhatikan keduanya dari balik kaca mobil yang di terparkir. Seseorang duduk di dalam mobil itu dengan tatapan garang dan penuh kebencian. Rasa cemburu terlihat jelas dari raut wajah itu.
.
.
.
Masih di malam yang sama, di lain tempat.
Elvano tampak rapi dan hendak menaiki mobilnya. Sampai tiba - tiba terdengar suara seseorang menyapanya.
"Hai, Van."
Elvano pun menutup kembali pintu mobil yang sempat dibuka. Kemudian berbalik. Dilihatnya Sasha datang menghampiri dengan raut wajah berbeda. Seakan tengah menahan amarah yang menggunung.
"Apa lagi kali ini yang membuatmu datang kemari? Semuanya lancar kan?" Pertanyaan Elvano seolah meledek Sasha.
"Gimana hubungan kamu dengan Mita?"
"Kenapa malah bertanya soal hubungan aku dengan Mita. Itu urusanku."
"Kamu serius mencintainya? Playboy seperti kamu ini mana bisa serius dengan satu wanita."
"Apa maksud kamu? Kamu meremehkan aku? Tentu saja aku serius dengan perasaanku. Kamu pikir aku main - main."
"Apa kamu tau Mita skarang bekerja di rumahnya Anjas sebagai pengasuh Nara?"
"Kamu dapat info dari mana? Mana mungkin. Mita membencinya. Jadi mana mungkin."
"Tante Lidya sendiri yang bilang."
Elvano pun terdiam, menatap Sasha serius. Apa benar yang dikatakan Sasha? Kalau itu memang benar, itu artinya mereka akan sering bertemu. Dan Anjas pasti akan memanfaatkan keadaan itu.
Sasha tampak mengutak-atik layar ponselnya yang sejak tadi dalam genggamannya. Beberapa saat kemudian, disodorkannya ponsel itu pada Elvano.
"Kamu lihat saja sendiri." Kata Sasha.
Elvano pun meraih ponsel itu dari tangan Sasha dengan wajah kebingungan sekaligus penasaran. Apa yang ingin diperlihatkan Sasha padanya.
Betapa terkejutnya Elvano saat melihat foto digital yang terpampang di depan matanya. Foto itu memperlihatkan Mita dan Anjas yang saling berpelukan. Bahkan saling berciuman.
Amarah dan rasa cemburu itupun mulai terlihat dari raut wajahnya. Elvano tidak mengira, semudah itu Mita berpaling. Apakah selama ini Mita hanya memanfaatkan dirinya untuk membuat Anjas cemburu? Ini tidak bisa diterima.
"Aku minta sama kamu, lakukan sesuatu. Kamu tidak ingin kehilangan Mita kan? Aku akan membantumu mendapatkannya."
"Bagaimana caranya?"
Senyum sinis terbit di wajah Sasha. Sudah lama dia merencanakan ini. Tapi membutuhkan bantuan Elvano.
Rupanya, seseorang yang mengikuti Anjas dan Mita adalah Sasha. Sasha yang ingin memastikan apakah Anjas mau menghadiri makan malam di rumahnya, justru terkejut saat melihat Mita keluar dari rumah itu. Terlebih lagi, saat melihatnya naik ke mobil Anjas. Hingga Sasha pun memutuskan mengikuti mereka secara diam - diam. Dan siapa sangka dia justru menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya gerah.
Hal yang sama pun dirasakan Elvano. Baru kali ini hatinya terasa perih. Melihat wanita yang dicintainya berada dalam pelukan pria lain. Ini pertama kali baginya, merasakan cinta. Tidak seperti sebelumnya, yang selalu bermain - main dengan wanita. Kali ini Elvano serius dengan perasaannya. Tapi justru harus merasakan sakit yang tiada tara.
Mungkin benar kata Sasha. Dia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan Mita kembali.
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...