Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 42


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Abraham.


"Lun ... Luna ..." Mama Maria memanggil salah satu ART nya. Sembari melangkah pelan menuju ruang makan. Dimana Samuel Abraham, suaminya tengah menikmati sarapannya tanpa menunggu kehadiran anggota keluarga yang lain.


"Tumben Papa makan lebih dulu. Tunggu Vano dulu Pa." Ucap Mama Maria sembari mengambil duduk di sisi kanan meja. Di sebelah suaminya.


"Hari ini Papa sibuk. Tidak bisa menunggu kalian." Ucap Papa Samuel santai.


ART yang bernama Luna pun datang. Sembari membungkukkan badannya bertanya perihal majikannya yang memanggilnya.


"Ada apa Nyonya panggil saya? Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" Tanya Luna.


"Panggil Vano untuk sarapan." Titah Mama Maria.


"Baik Nyonya." Sembari berbalik, hendak menuju anak tangga yang tidak jauh dari ruang makan. Tapi langkahnya terhenti sesaat karena Mama Maria memanggilnya kembali.


"Luna ..."


"Iya, Nya." Sahut Luna begitu berbalik.


"Semalam Vano pulang jam berapa?"


"Jam sebelas Nyonya. Pulangnya juga basah kuyup."


"Basah kuyup?" Mama Maria keheranan plus khawatir.


"Iya, Nyonya."


"Ya sudah, tolong kamu panggilkan dia."


"Baik, Nyonya."


Luna kembali berbalik. Kemudian mulai melangkah menuju anak tangga. Baru saja Luna hendak menapakkan kakinya, Elvano terlihat tengah menuruni anak tangga sembari mengenakan jaket tebal.


"Lun ... Bikinin teh hangat." Titah Elvano sembari berjalan menuju ruang makan.


"Baik, Den." Luna pun bergegas ke dapur hendak membuatkan teh hangat pesanan sang majikan.


Dengan santainya Elvano mengambil duduk di sebelah Mama Maria. Sementara Mama Maria tengah memperhatikan paras Elvano yang tampak pucat.


"Van ... Sarapannya tidak dimakan?" Mama Maria keheranan melihat putranya yang tampak tidak bernafsu makan.


"Nanti saja Ma." Ucap Elvano lesu.


"Dimakan sarapannya. Kata Luna semalam kamu kehujanan. Nanti kamu sakit." Papa Samuel pun khawatir melihat putranya pagi ini dengan wajah yang pucat pasi.


"Aku belum lapar Pa."


"Oh ya, Papa sudah selesai. Papa berangkat dulu." Ucap Papa Samuel sembari bangun dari duduknya.


"Mama antar ke depan ya Pa?" Tawar Mama Maria.


"Tidak perlu. Perhatikan saja anakmu itu. Tuh, lihat, mukanya pucat begitu. Kalau sakit, telfon saja Dokter Budi." Sembari berlalu.


Tak berapa lama, Luna pun datang dengan secangkir teh hangat. Kemudian meletakkannya di depan Elvano. Setelahnya, Luna kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Semalam kamu belum cerita, ada apa antara kamu dan Mita. Dan kenapa kamu pulang sampai basah kuyup begitu." Mama Maria tampak cemas. Dipandanginya wajah pucat Elvano dengan dahi mengerut.


Elvano tampak santai mulai menyeruput teh hangatnya. Tanpa menghiraukan pertanyaan Mama Maria.


"Van ... Ada apa?" Tanya Mama Maria lagi. Tetapi Elvano tampak enggan menjawabnya.


Kemudian tiba - tiba saja ...


"Hatcihhh ..." Elvano bersin sembari menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya.


"Kamu sakit?" Mama Maria semakin cemas.

__ADS_1


"Badan kamu panas lagi." Sembari menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Elvano.


"Kita ke dokter ya? Kamu demam Van. Ini gara - gara kamu kehujanan semalam. Ya sudah, Mama temani kamu ke dokter. Sekarang. Mama tidak mau demam kamu tambah parah nanti." Makin cemas aja Mama Maria dengan kondisi Elvano. Tenang aja Mama Maria. Elvano cuma demam. Bukan terkena virus mematikan yang lagi heboh sekarang ini.


"Aku tidak apa - apa Ma. Cuma pilek. Nanti juga sembuh sendiri."


"Tapi badan kamu panas Van. Mama takut kalau kamu_"


"Aku bukan anak kecil lagi Ma. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Kemudian segera menghabiskan tehnya sebelum menjadi dingin.


"Aku pergi dulu Ma, ada urusan penting." Elvano bangun dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Mama Maria.


"Van ... Vano ... Kamu mau kemana. Kamu lagi sakit Vano ..." Teriak Mama Maria sembari menyusul langkah Elvano yang sudah jauh di depan.


Brmmm ...


Mobil Elvano melesat kencang meninggalkan pekarangan rumahnya. Mama Maria hanya bisa mendengus kesal dengan sikap putranya yang terkesan tidak mempedulikannya itu. Baru kali Elvano bersikap seperti itu.


"Ada apa dengan anak itu?" Cemas Mama Maria. Yang berdiri di ambang pintu sambil memandangi mobil Elvano yang melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.


Biasanya Elvano sering berpura - pura sakit hanya untuk menghindari wanita - wanita yang dipacarinya, disaat moodnya memburuk. Tapi sekarang, disaat sakit pun, seakan dia tidak peduli. Apa terjadi sesuatu dengan putra semata wayangnya itu? Mama Maria menghembuskan napas panjang. Kemudian berbalik kembali masuk ke dalam rumahnya.


.


.


.


Sekali lagi Elvano harus kecewa. Mita ternyata berangkat kerja lebih awal hanya untuk menghindarinya.


Karena hal itulah, kini Vano memberanikan diri datang menemui Mita di tempat kerjanya. Elvano bukan wajah baru di tempat itu. Karenanya dia bisa dengan bebas keluar masuk. Bahkan kini dia sudah berdiri di depan pintu ruangan Anjas. Sebab orang yang hendak ditemuinya tidak berada di tempatnya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Elvano mengetuk pintu ruangan itu. Kemudian mendorong daun pintu itu perlahan begitu terdengar sahutan dari dalam.


Saat pintu terbuka, tampak Anjas tengah duduk dibalik meja kerjanya. Sementara Mita berdiri di sebelahnya. Menunggu berkas laporan mingguan selesai ditandatangani oleh Anjas.


"Elvano ..." Sapa Anjas dengan dahi mengerut. Sedikit penasaran, apa gerangan maksud kedatangan Elvano kali ini ke kantornya.


Sedangkan Mita, bukan penasaran, melainkan kesal melihat kedatangan pria menyebalkan itu. Hingga Mita pun memalingkan wajahnya. Enggan bertatap muka dengan pria yang satu ini. Bukan tanpa alasan sikap Mita yang seperti itu. Masalahnya, selama ini Mita merasa telah ditipu dan dipermainkan oleh Elvano. Si playboy cap kadal.


"Sorry Jas kalau kedatanganku sedikit mengganggu. Tadinya aku mau memberitahu kamu soal kedatanganku. Tapi tidak sempat, karna aku terburu - buru." Ucap Elvano.


"Tidak apa - apa. Tapi kamu ada perlu apa datang kemari? Soalnya kamu tiba - tiba datang tanpa membuat janji. Jujur aku sedikit kaget. Tidak ada yang serius kan?"


"Ada. Bahkan sangat serius." Sahut Elvano enteng.


"Oh ya?" Anjas terkaget, "katakan, apa masalahmu."


"Aku mau bicara dengan Mita sebentar. Penting."


Ada apa lagi kali ini? Anjas memandangi Mita dan Elvano bergantian. Mita tampak memalingkan wajahnya. Dari gelagatnya saja Anjas tahu, gadis itu mungkin tidak ingin bertemu dengan Elvano. Tapi kenapa? Apa ada masalah diantara mereka berdua?


"Tapi, sepertinya Mita tidak ingin bicara dengan kamu. Mungkin juga dia tidak ingin bertemu dengan kamu." Ucap Anjas enteng. Sebab gelagat Mita pun menggambarkan hal itu.


"Mit ... Aku mau bicara sebentar. Please ..." Pinta Elvano dengan tatapan sendu. Tanpa mempedulikan ucapan Anjas.


Kali ini Mita menatap Elvano dengan tatapan tajam. Seakan tidak ingin memberi Elvano kesempatan lagi.


"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas. Jadi untuk apalagi?" Mita benar - benar tidak ingin memberi Elvano kesempatan lagi.


"Tapi aku tidak terima dengan keputusan kamu. Kamu bahkan tidak memberi aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


Wah wah wah ... Rupa - rupanya memang ada masalah diantara mereka berdua. Anjas memperhatikan keduanya. Penasaran juga, apa sebenarnya terjadi diantara mereka berdua.


"Penjelasan apalagi? Bukannya sudah jelas? Diantara kita sudah tidak ada apa - apa lagi sekarang. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini."

__ADS_1


What? Jadi mereka putus? Mita dan Elvano putus? Anjas tersenyum tipis mendengarnya. Akhirnya Mita menyadari juga siapa sebenarnya Elvano.


Yes! Anjas kegirangan dalam hatinya. Kalau Mita dan Elvano putus, itu artinya kesempatan buat Anjas untuk mendapatkan Mita kembali semakin terbuka lebar. Tidak ada lagi yang menjadi penghalangnya.


Eitsss, tunggu dulu! Masih ada Sasha. Anjas harus memikirkan bagaimana caranya membatalkan perjodohannya dengan Sasha.


Senyum tipis Anjas sempat tertangkap pandangan mata Elvano. Dan hal itu membuat Elvano tidak nyaman. Dia tahu apa yang ada dalam benaknya Anjas saat ini. Pria itu pasti senang mendengar hubungannya dengan Mita sudah berakhir.


No No No. Ini belum berakhir. Tidak semudah itu hubungannya dengan Mita berakhir. Jangan senang dulu Anjas.


"Ikut aku. Kita harus bicara." Elvano mendekat lalu menarik pergelangan tangan Mita. Hendak membawanya keluar dari ruangan itu. Akan tetapi Mita memberontak.


"Lepaskan Vano." Mita menarik kasar tangannya dari genggaman Elvano. Tapi nihil. Genggaman Elvano terlalu kuat.


"Mita please. Tolong jangan buat aku marah." Elvano bersikeras. Dan Mita pun tidak mau mengalah.


"Marah? Untuk apa kamu marah? Bukannya seharusnya aku yang marah?"


Tanpa menghiraukan ucapan Mita lagi, Elvano kembali menarik pergelangan tangan Mita. Kali ini Elvano harus sedikit kasar karena Mita keras kepala. Elvano terpaksa harus menyeretnya. Dia hanya tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan Mita di depan Anjas. Walau bagaimanapun, masalah yang terjadi diantara mereka berdua, Anjas tidak perlu mengetahuinya.


"Vano, lepaskan. Sakit Van ..." Mita merengek. Tapi percuma saja. Sebab Elvano tidak peduli.


Tangan Elvano sudah bersiap hendak memutar engsel pintu. Tetapi tiba - tiba saja, Anjas menghentikannya.


"Lepaskan tangannya Van ..." Pinta Anjas. Sambil tangannya mencoba melepaskan genggaman Elvano dari pergelangan tangan Mita. Tak tega rasanya melihat Mita kesakitan seperti itu.


Elvano pun menurunkan kembali tangannya yang hendak memutar engsel pintu. Kemudian berbalik, menatap tajam Anjas, tanpa melepaskan genggamannya. Percuma saja Anjas berusaha melepaskannya. Sebab Elvano malah semakin mempererat genggamannya. Hingga Mita meringis kesakitan.


"Aww!" Mita benar - benar kesakitan.


Tapi lebih sakit lagi hati Anjas melihat hal seperti itu terjadi di depan matanya.


"Anjas, tolong jangan ikut campur." Pinta Elvano.


"Sorry Van, tapi Mita karyawanku. Lagipula ini masih jam kerjanya. Dan aku tidak mengijinkan kamu mem


bawanya keluar." Jurus jitu Anjas mencegah Elvano berbuat semaunya.


Elvano tersenyum sinis.


"Oke. Kalau begitu, sebagai sahabat, sekali lagi aku meminta ijin untuk membawa pacarku. Ada kesalahpahaman yang terjadi diantara kami berdua yang harus segera diselesaikan."


"Tapi_" Ucapan Anjas terpotong. Karena tiba - tiba ...


"Hatcihhh!!!"


Elvano bersin sembari menutup mulut dan hidungnya dengan sebelah tangannya. Dan hal itu pun sukses membuat Mita terkejut, sembari menatap Elvano dengan seksama.


"Hatcihhh!!!" Elvano kembali bersin.


Dan entah apa yang terjadi pada Mita. Perlahan Mita mengangkat tangan kanannya, dan menempelkan punggung tangannya di dahi Elvano.


"Badan kamu panas Van ..." Tampak kekhawatiran di wajah Mita.


Namun Elvano malah tersenyum. Wajah cemas Mita membuatnya merasa senang.


"Aku tidak apa - apa."


"Tapi_"


"Ikut aku sebentar saja."


Mita tampak ragu. Tapi melihat keadaan Elvano, sejujurnya Mita khawatir. Apa seharusnya dia memberi Elvano kesempatan untuk memberikan penjelasannya?


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung...


__ADS_2