
Pagi datang menyapa. Bias cahaya mentari pagi yang menembus melalui jendela dan menerpa kulit wajah, membangunkan Mita dari tidurnya. Matanya nanar memandangi jendela kamar hotel itu yang gordennya sedikit terbuka.
Di sampingnya, Anjas masih terlelap dalam tidurnya. Satu tangannya masih melingkari pinggang Mita. Mita hendak bangun. Namun wajah bantal Anjas begitu menggodanya. Mita pun kembali merebahkan dirinya. Menatap paras suaminya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Anjas memang pria sempurna. Memiliki paras yang rupawan, hidung yang lancip, rahang yang tegas, bibir yang tipis. Yang membuat Mita selalu tak bisa menolak setiap kali bibir itu menyentuh bibirnya.
Perlahan Mita pun membawa jari telunjuknya menyentuh bibir Anjas. Jarinya bermain-main di bibir itu untuk sesaat. Sedetik kemudian dikecupnya bibir itu. Bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali. Sembari lirih berkata,
"Pagi suamiku ..."
Pelan dan hati-hati Mita pun bangun, hendak ke kamar mandi. Sembari menahan selimut yang menutupi tubuhnya, Mita mulai beringsut. Namun tiba-tiba saja tangan kekar Anjas menarik pergelangannya kuat. Hingga Mita pun jatuh merebah. Dalam sekejap saja tubuh polosnya yang hanya tertutupi selimut itu pun kini telah berada di bawah kungkungan Anjas.
Senyum usil nan menggoda pun terukir di wajah Anjas. Meski dengan rambut yang sedikit berantakan, Anjas tetap menarik di mata Mita.
"Jadi, sejak tadi kamu sudah bangun?" Tanya Mita.
"Kamu yang sudah membangunkan tidurku. Dan skarang kamu malah lari dari tanggung jawab?"
"Maksud kamu?"
Anjas mendekatkan wajahnya, sembari berbisik di telinga Mita,
"Kamu sudah membangunkan Anjas yang lain."
Mita bahkan sampai terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Di bawah sana, sesuatu milik Anjas terasa mengeras. Wajah Mita pun mulai bersemu merah. Meski masih merasa malu, namun hatinya berdebar-debar. Semalam saja mereka bahkan sampai beberapa ronde. Anjas benar-benar membuat Mita tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Kalau begini bisa remuk semua badan Mita. Tenaga Anjas memang tidak bisa dianggap remeh.
"Tapi skarang aku mau mandi sayang. Badanku rasanya lengket semua. Belum lagi perutku lapar." Mita mencoba menghindari pergulatan panas itu lagi. Badannya terasa pegal semua. Sebab semalam Anjas terlalu bersemangat.
"Tanggung jawab dulu."
"Nanti saja."
"Sekarang."
"Tidak bisa Anjas. Aku__" Kalimat Mita terhenti, sebab sentuhan lembut Anjas yang mulai menghanyutkan.
"Setelah ini kita mandi dan sarapan." Bisik Anjas begitu dekat ditelinga Mita. Hingga membuat bulu kuduk Mita meremang.
"Tapi ..."
Namun Anjas tidak mempedulikan penolakan Mita. Anjas malah telah lebih dulu membenamkan wajahnya di ceruk leher Mita, mengecupnya lembut. Dan kecupannya semakin turun ke bawah. Mita mau menolak bagaimana lagi kalau sudah begini jadinya. Anjas bahkan mencumbunya semakin panas saja. Menyusuri setiap lekuk tubuhnya dengan sentuhan lembut dan memabukkan.
"Aaakkhh ..." Pekik Mita halus kala Anjas mulai menyatukan dirinya.
Pelan Anjas pun memulai kembali permainannya. Dan Mita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkan suaminya mendapatkan apa yang diinginkannya.
.
.
.
Pagi yang sama, di lain tempat.
Seorang perawat cantik terlihat memasuki sebuah ruang rawat VIP. Di ruangan itu terbaring seorang pasien yang kabarnya karena kecelakaan.
Perawat itu datang membawakan sarapan dan obat yang harus diminum oleh si pasien. Karena pasien yang dirawatnya masih terlelap, perawat itu pun bermaksud keluar sebentar. Namun sebuah suara terdengar memanggilnya.
"Suster."
__ADS_1
Suster itu pun menghentikan langkahnya. Lalu memutar tubuhnya.
"Anda sudah bangun rupanya. Saya membawakan sarapan dan obat yang harus anda minum." Ujar suster itu sembari melangkah menghampiri dan mulai menyiapkan sarapan untuk pasien itu.
"Kamu ..." Ucap pasien itu sambil terus memperhatikan suster.
"Anda harus sarapan. Mari, saya bantu." Ucap suster itu lalu membantu pasien duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.
"Buah apel?" Seru pasien itu tiba-tiba, yang tidak lain adalah Elvano.
Suster yang di panggil Elvano buah apel itu pun terhenyak. Lalu menatap Elvano dengan seksama. Raut wajahnya pun seketika berubah. Yang semula ramah, kini jutek dan menunjukkan rasa tak sukanya. Suster itu sudah beberapa kali pernah bertemu dengan Elvano.
"Jangan memanggilku buah apel kalau tidak ingin merasakan akibatnya." Ish, susternya galak juga ya.
Elvano tertawa kecil. Punya nyali juga tuh suster. Sayang, cantik-cantik kok galak.
Suster itu membawakan baki yang berisi sarapan Elvano. Dan meletakkannya hati-hati di pangkuan Elvano.
"Aku makan sendiri nih? Tidak disuapi?" Tanya Elvano usil.
Suster cantik itu malah memasang tampang menyeramkan.
"Memangnya berapa umur kamu skarang? Kamu bukan bocah kan?" Sinis suster cantik itu.
Elvano pun kembali terkekeh. Kemudian mulai menyantap sarapannya. Sementara suster itu menunggu sampai pasiennya selesai dengan sarapannya.
Sesekali Elvano melirik suster itu yang tengah asik di sofa sebelah sambil menatap layar ponselnya. Terkadang suster itu tampak tersenyum. Dan tidak menyadari Elvano tengah memperhatikannya.
Elvano pun tak bisa menutupi kekagumannya. Meski terlihat galak, tapi suster itu berparas cantik. Sekilas mirip seseorang yang dikenalnya.
Cklek
Pintu ruang rawat Elvano dibuka seseorang dari luar. Tampak, Anjas dan Mita melangkah masuk sambil bergandengan.
"Hai, Anjas ... Mita. Selamat ya? Sorry, aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian."
"Tidak apa-apa. Aku tau keadaan kamu skarang. Tapi, makasih ya Van. Kamu sudah menyelamatkan Anjas." Ucap Mita.
Mendengar nama seseorang disebut, suster cantik itu pun sontak mengangkat pandangannya, menoleh ke arah Mita dan Anjas yang berdiri di sisi tempat tidur.
"Mita?" Seru suster cantik itu sembari berdiri menghampiri Mita.
"Lyra?" Mita begitu terkejut saat mengalihkan pandangannya.
Suster yang dipanggil Mita dengan nama Lyra tampak sumringah sembari berlari kecil, dan menghambur memeluk Mita kemudian. Keduanya pun saling berpelukan, melepas rindu yang telah lama bersarang di dada.
"Ya ampun Mit ... Aku rindu sama kamu." Ucap Lyra bahagia setelah melepaskan pelukannya.
"Sama. Aku juga merindukanmu sepupuku yang cantik." Mita pun tak kalah bahagianya.
Tunggu, tunggu!
Mita bilang apa tadi?
Sepupu?
Di seberang, Anjas dan Elvano saling bertukar pandang. Sebab merasa heran melihat pemandangan itu.
"Anjas?" Lirih Elvano memanggil.
__ADS_1
"Ada apa?"
Elvano menyodorkan baki yang berisi sarapannya ke tangan Anjas. Anjas pun meraihnya dan menaruhnya di nakas kemudian.
"Mita bilang apa tadi? Sepupu?" Elvano mencoba memastikan pendengarannya.
"Sepertinya, iya." Jawab Anjas singkat.
"Pantas sama."
"Maksud kamu?"
"Sama-sama galak."
"Istriku bukan galak. Tapi ... Hanya sedikit keras kepala."
"Ha ha ha ..."
Sontak, Anjas dan Elvano tertawa-tawa dengan obrolannya sendiri.
Mendengar kedua pria itu tertawa, Mita dan Lyra pun mengalihkan pandangannya serentak.
"Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Mita.
"Jadi ini sepupu kamu yang sering kamu ceritakan itu?" Anjas malah balik bertanya.
"Oh, iya. Sampai lupa. Lyr ..." Mita meraih pergelangan Lyra, mengajaknya menghampiri Anjas dan Elvano.
"Anjas, Vano ... Kenalkan, ini Lyra, sepupuku." Ucap Mita mantap.
Lyra pun menyunggingkan senyum manisnya yang di balas senyuman ramah Anjas dan Elvano.
Oooh ... Jadi Lyra ini memang benar sepupunya Mita. Pantas saja, mereka sama-sama cantik. Dan juga sama-sama jutek. Sifatnya pun beda-beda tipis.
"Dan Lyra ... Ini adalah Anjas, suamiku." Mita memperkenalkan Anjas.
"Hai ..." Sapa Lyra sembari tersenyum ramah.
"Hai." Balas Anjas ramah.
"Dan yang ini ... Elvano. Panggil saja Vano." Ucap Mita lagi.
Kali ini, sikap Lyra berbeda. Senyum yang yang sempat terukir di wajahnya hilang entah kemana. Tatapannya justru datar, atau bahkan kurang suka terhadap Elvano.
Namun berbeda dengan Elvano. Pria itu justru tersenyum lebar menatap Lyra. Sembari mulai mengulurkan tangannya,
"Hai ..." Sapa Vano sambil tersenyum manis. Mengalahkan manisnya madu.
Lyra menatapnya datar.
"Hai ..." Sapaannya pun datar.
"Jadi nama kamu Lyra? Senang berkenalan denganmu. Apa boleh kita berteman?"
Waduh, jiwa playboy Elvano kambuh lagi nih.
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...