Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 68


__ADS_3

Suasana di gedung itu semakin tegang di saat Anjas hingga detik ini belum juga menampakkan batang hidungnya. Bukan hanya para tamu undangan, namun juga keluarga dari kedua mempelai. Terlebih Mita.


Entah apa yang terjadi hingga sudah hampir satu jam lamanya waktu yang berlalu. Namun Anjas belum juga datang.


"Maaf Bu, sudah satu jam waktu yang berlalu. Apa pernikahannya masih ingin dilanjutkan?" Tanya sang penghulu.


"Tunggu sebentar lagi Pak. Anak saya pasti datang." Pinta Oma Lidya sedikit memelas.


"Tapi saya tidak bisa menunggu lama Bu."


"Tolong sabar sedikit Pak. Saya mohon, sebentar saja. Anak saya pasti datang."


Penghulu itu nampak membuang napas kasar.


"Baiklah, Bu. Sepuluh menit lagi."


Sementara para tamu undangan mulai saling berbisik, Mita semakin tak bisa menahan air matanya. Hatinya terasa begitu perih. Jika Anjas ingin membatalkan pernikahan ini untuk kedua kali, kenapa harus sekarang. Disaat semua telah berada di depan mata.


Jika dulu Anjas melakukan hal ini, Mita masih bisa menerimanya. Namun kini, Anjas ingin membatalkannya di saat berpasang - pasang mata tengah menyaksikan pemandangan ini. Bukan hanya malu, bahkan rasanya Mita ingin menghilang dari dunia ini, detik ini juga. Ini jelas teramat sangat memalukan. Jika memang benar Anjas ingin membatalkan pernikahan ini untuk kedua kalinya.


Air mata Mita pun semakin tertumpah ruah. Nayla dan Mama Retno berusaha menghiburnya. Sedangkan Oma Lidya masih berusaha menghubungi ponsel Anjas. Akan tetapi ponsel Anjas dalam keadaan nonaktif.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa menunggu lagi. Kalau begitu, saya permisi dulu Bu." Penghulu itu pun bangkit berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu. Sampai tiba-tiba terdengar suara seseorang hingga menghentikan langkahnya.


"TUNGGU!" Seru seseorang lantang sembari memasuki gedung itu.


Serentak semua yang hadir di tempat itu pun mengalihkan pandangan.


Tampak dari ambang pintu itu, Anjas melangkah panjang menghampiri. Namun ada berbeda dengan Anjas. Kemeja putih di balik jas hitamnya tampak ada bercak darah. Hingga menimbulkan pertanyaan bagi siapapun yang melihatnya.


Tapi tidak dengan Mita. Melihat kedatangan Anjas, sontak saja Mita langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukan Anjas dengan berderai air mata. Isak tangisnya semakin terdengar saat Anjas membalas pelukannya.


"Maaf, aku datang terlambat." Lirih Anjas.


"Aku pikir kamu tidak akan datang."


"Mana mungkin. Sudah lama aku menanti hari ini. Tidak mungkin aku membuang impianku begitu saja. Lagipula, aku sudah berjanji apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu."


"Pak penghulu, anak saya sudah datang. Tolong jangan pergi dulu Pak." Pinta Oma Lidya sekali lagi.


"Baik, Bu."


"Anjas, ayo cepat. Penghulunya tidak punya waktu lagi. Nanti saja kita bicara." Ujar Oma Lidya.


"Tapi, Ma. Kemejanya Kak Anjas ada bercak darahnya." Seru Anjani.


"Tidak apa-apa. Nanti saja ganti bajunya, setelah akad nikahnya selesai. Ayo, Anjas." Desak Oma Lidya.


Maka tanpa perlu berlama-lama lagi, Anjas dan Mita bergegas menghampiri penghulu yang telah siap menikahkan mereka.


Tak butuh waktu lama, akad nikah itu pun terlaksana. Berjalan mulus tanpa hambatan. Dengan mantap Anjas mengucapkan ijab kabul. Dan akhirnya mereka pun sah menjadi suami istri.


Rona bahagia tampak dari wajah keduanya. Baik Anjas maupun Mita tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Satu kecupan hangat pun berlabuh di kening Mita setelah Mita mencium punggung tangan Anjas, suaminya.

__ADS_1


Jiaaaah ... Akhirnya statusnya pun berubah. Dari sepasang kekasih menjadi sepasang suami istri.


Ucapan selamat pun membanjiri. Mulai dari keluarga kedua belah pihak hingga dari para tamu undangan yang hadir saat itu. Acaranya berlangsung dengan khidmat. Dan hanya tinggal menunggu satu prosesi acara lagi. Yaitu resepsi pernikahan, malam nanti.


.


.


Keluarga tampak berkumpul setelah para tamu undangan meninggalkan tempat itu. Kedatangan Anjas dengan tampilan yang tak biasa menimbulkan berbagai pertanyaan dibenak mereka.


"Anjas, kenapa sih kamu bisa datang terlambat? Apalagi kemeja kamu ada bercak darahnya. Memangnya kamu dari mana saja? Sejak tadi Mama berusaha menghubungi kamu. Tapi henfon kamu malah tidak aktif. Apa kamu tau, kami semua sangat mencemaskan kamu." Cerca Oma Lidya tanpa henti.


Anjas tampak menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Maaf, Ma. Maaf semuanya. Sebenarnya aku baru saja dari rumah sakit." Ucap Anjas singkat.


Semuanya pun terkejut.


"Siapa yang sakit?"


"Kakak tidak menabrak orang di jalan kan?" Tanya Anjani cemas.


"Sebenarnya apa yang terjadi Nak Anjas?" Tanya Mama Retno pula.


Anjas kembali menghembuskan napasnya yang mulai terasa berat. Mungkin saja kabar yang akan disampaikannya akan membuat mereka terkejut.


"Anjas, kamu baik-baik saja kan?" Cemas Mita yang tengah menggelayut di lengan Anjas.


Anjas mengulum senyum sembari mengangguk kecil.


"Sebenarnya ..." Anjas kembali mengatur napasnya, "Vano kecelakaan. Dan aku harus mengantarnya ke rumah sakit."


"Apa?"


Benar dugaan Anjas. Semuanya terkejut mendengar apa yang disampaikannya. Terlebih Mita.


"Tapi, bagaimana bisa?" Lirih Mita bertanya sembari menatap lekat Anjas yang kini pun menatapnya. Pasalnya, baru beberapa saat lalu, Elvano datang menemuinya. Lalu sekarang Elvano kecelakaan. Bagaimana bisa?


Anjas membawa jemarinya mengusap lembut wajah Mita, "Vano menyelamatkan aku. Jika bukan karna dia, mungkin skarang akulah yang akan terbaring di rumah sakit. Berkat Vano, akhirnya impianku terwujud." Lalu mendaratkan satu kecupan di kening Mita.


"Gimana ceritanya kok Vano bisa kecelakaan?"


Anjas pun mulai menceritakannya dari awal.


Beberapa jam sebelumnya.


Anjas dan keluarga telah siap pergi ke gedung pernikahan. Namun tiba-tiba saja Anjas telepon dari orang yang tak dikenal. Yang mengabarkan bahwa pabrik Winata Group mengalami kebakaran hebat. Hingga mau tidak mau Anjas pun terpaksa harus pergi untuk memastikan keadaan itu.


Sesampainya di pabrik, ternyata kebakaran itu hanya kabar burung belaka. Entah siapa yang sudah mengerjainya dengan mengabarkan berita palsu itu. Anjas sama sekali tidak tahu menahu. Entah siapa yang berniat buruk padanya. Anjas tidak ingin menaruh curiga pada siapapun. Tapi kejadian ini sungguh mencemaskan hatinya.


Terlebih lagi saat dalam perjalanan ke gedung pernikahan tadi, sebuah mobil berwarna hitam tengah mengikutinya dari belakang. Mobil hitam itu adalah mobil yang pernah mengikutinya beberapa hari yang lalu. Mobil hitam itu mengikutinya sejak dari pabrik.


Di tengah perjalanan, Anjas menerima telepon dari Elvano. Saat itu Anjas tengah mengemudi sendiri, hingga Anjas pun harus menepi sebentar di sisi jalan. Untuk sekedar menjawab panggilan Elvano. Namun mobil hitam yang terus mengikutinya seakan ingin mencelakainya. Hingga Anjas pun tidak bisa menepi.

__ADS_1


Akhirnya, sembari mengemudi, Anjas pun berusaha menjawab panggilan Elvano. Dan sempat memberitahu Elvano lokasinya saat itu.


Dan saat itu, pengemudi mobil hitam yang mengikutinya masih terus berusaha mengikutinya dan berusaha menyerempet mobilnya. Maka mau tidak mau Anjas pun harus menambah kecepatan mobilnya. Tiba di persimpangan jalan, tiba-tiba saja mobil lain melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak mobil hitam itu. Hingga kecelakaan itu pun tak bisa dihindari. Beruntung Anjas sudah berada di seberang jalan saat itu, dan berhasil lolos dari kecelakaan itu.


Namun, ada satu hal yang membuat Anjas sangat terkejut. Mobil lain yang melaju kencang dan menabrak mobil hitam yang mengikutinya itu, tidak lain adalah mobil Elvano. Dan Anjas pun tidak bisa membiarkannya begitu saja. Elvano adalah sahabatnya.


Yang menjadi tanda tanya besar bagi Anjas adalah kenapa Elvano melakukan ini, meskipun dia tahu nyawa adalah taruhannya. Kenapa Elvano membahayakan dirinya sendiri seperti ini?


"Trus, Vano gimana keadaannya?" Tanya Oma Lidya begitu Anjas menceritakan apa yang menyebabkannya terlambat datang ke pernikahannya sendiri.


"Aku sudah meminta Chandra menemaninya sampai keluarganya datang." Jawab Anjas.


"Kamu tau siapa orang yang bilang kalau pabrik kita kebakaran?"


"Entahlah, Ma. Aku tidak tau siapa."


"Apa itu cuma kerjaan orang iseng saja?"


"Aku rasa tidak."


Mendadak semua pun menjadi cemas. Tak terkecuali Mita. Yang begitu khawatir ada orang yang ingin mencelakai suaminya.


"Tapi, kalian semua tidak perlu khawatir. Aku sudah meminta Chandra untuk mencaritahu." Ucap Anjas kemudian.


"Ya sudah, kalau begitu kalian istirahat dulu untuk sebentar malam nanti. Masih ada satu prosesi acara lagi. Jadi kalian harus menjaga stamina. Tinggal beberapa jam lagi loh." Ujar Oma Lidya.


"Iya, sebaiknya kalian istirahat dulu. Kalian mau istirahat dimana? Disini atau di rumah?" Mama Retno ikut menimpali.


"Di rumah aja, Ma." Sahut Mita cepat.


Anjas pun sontak memelototi Mita, agar mereka beristirahat di kamar pengantin yang telah disediakan di dalam gedung itu. Namun Mita malah tersenyum lebar. Seakan Mita tidak mengerti maksud Anjas.


"Asiiik ... Kalo gitu, Nara ikut ke rumahnya Bunda ya?" Pinta Nara dengan polosnya.


"Eeeh ... Nara. Nara pulang sama Oma. Jangan mengganggu Daddy dan Bunda." Ajak Oma Lidya. Namun anak kecil itu malah memasang wajah cemberutnya.


"Nara sama Aunty aja yuk. Kita beli es krim, kita main game, kita__" Anjani mencoba membujuk Nara, namun gagal.


"Tidak mau. Nara mau ikut Daddy dan Bunda." Rengek Nara.


"Boleh kok sayang. Nara boleh ikut Daddy sama Bunda." Seru Mita mengijinkan.


"Horeee ... Makasih ya Bunda." Sembari menghambur memeluk bundanya.


Alhasil, Anjas pun hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Sembari memijit keningnya yang mulai terasa berkedut.


Duuuh Mita. Gak pengertian amat sih. Kalian sudah sah loh. Gak tau apa, kalau Anjas sangat ingin berduaan saja dengan isteri tercintanya ini.


Sabar ya Anjas. Pasti akan ada waktu yang pas untuk kalian berdua. Lagipula masih ada satu prosesi acara lagi loh. Jadi, simpan tenagamu untuk malam nanti.


.......


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung...


__ADS_2