
Tibalah jam pulang kantor. Mita mulai bersiap - siap untuk pulang. Setelah merapikan kembali mejanya, Mita pun melenggang dengan santainya meninggalkan lantai 5. Lantai di mana ruangan atasannya berada.
Di jam pulang kantor seperti ini, lift selalu saja penuh. Mita bahkan harus menunggu sedikit lama untuk bisa menaiki lift itu.
Ting !
Bunyi lift terbuka. Mita langsung saja masuk. Di ikuti seseorang yang tanpa Mita sadari berdiri di belakangnya sejak tadi. Dan anehnya, karyawan lain yang menunggu bersamanya malah tidak ikut naik saat melihat sosok yang berdiri di belakang Mita saat ini. Mita pun jadi keheranan dibuatnya.
Pintu lift tertutup. Mita menekan tombol lantai 1.
"Aneh, kenapa mereka tidak ikut naik? Mereka seperti baru melihat hantu saja. Apa di belakangku skarang ada hantu ya?" Mita mengoceh sendiri.
Mita berpikir, di dalam lift itu hanya ada dirinya seorang. Karena terlalu asyik dengan ponselnya saat menunggu lift tadi, hingga Mita tidak menyadari kehadiran seseorang yang mengekor di belakangnya saat memasuki lift itu.
Merasa aneh dan penasaran, Mita pun akhirnya menoleh ke belakang. Sekedar memastikan tidak ada hantu yang berdiri di belakangnya.
Namun sial, bukan hantu ataupun alien. Melainkan makhluk tampan yang tengah menatapnya dengan senyum tersungging di bibirnya. Anjas.
Mita pun justru melotot menatap Anjas. Yang menatapnya dengan senyum yang semakin lebar.
"Kenapa? Hantunya terlalu tampan?" celetuk Anjas.
Pantas saja, karyawan lain tidak ikut naik lift bersamanya. Rupanya karena si bBoss aneh ini.
Mita membuang muka sambil mengembuskan napasnya kasar. Kesal dengan kehadiran Boss aneh itu.
"Sial. Kenapa harus ketemu dia lagi sih?" Lirih Mita menggerutu. Namun tertangkap oleh indera pendengaran Anjas.
"Karena ada aku, kamu jadi tidak berdesak - desakan dalam lift ini. Harusnya kamu berterima kasih padaku." Seloroh Anjas.
Membuat Mita ingin rasanya mencekik leher Anjas saat itu juga. Sekali menyebalkan tetap menyebalkan. Tiba - tiba saja, entah apa sebabnya, Mita merasa gerah. Hingga Mita pun memilih menjauh beberapa langkah ke samping. Sampai tubuhnya membentur dinding lift itu.
Anjas seakan tidak terima Mita menjauhinya. Dengan cekatan tangan Anjas menarik lengan Mita. Hingga membuat tubuh ramping Mita otomatis tertarik dan berada begitu dekat dengan Anjas.
Akh, ya ampun. Debaran aneh itu datang lagi. Jantung Mita berdetak lebih cepat. Semakin tak karuan saat sorot matanya bertatapan dengan sorot mata Anjas yang menatapnya begitu dalam.
Deg Deg Deg !
Gawat!
Makin kacau debaran jantung Mita. Serasa jantung itu ingin melompat keluar dari tempatnya saat ini. Menatap Anjas sedekat ini, membuat Mita seakan lupa caranya untuk bernapas. Sorot mata Anjas yang begitu dalam, membuat Mita kehilangan kata - kata. Tidak tahu harus bilang apa. Tubuhnya tidak mampu menolak untuk berada lebih dekat dengannya.
Anjas terus menatap Mita lekat. Keheningan masih menguasai. Hanya tatapan mereka yang seakan berkata tentang perasaan mereka saat ini.
Oh God (oh Tuhan)
Perasaan apa ini? Kenapa hati dan pikiran Mita mendadak jadi tidak sinkron begini sih? Jantungnya semakin berdegup kencang. Tidak bisa lagi diajak berkompromi. Please deh, apa Mita gugup sekarang?
__ADS_1
Anjas. Anjas terlihat berbeda sejak empat tahun terakhir ini. Terlihat lebih dewasa. Lebih menarik. Lebih tampan. Tidak bisa dipungkiri. Apa Mita baru menyadarinya sekarang? Atau Mita selama ini selalu berusaha membohongi dirinya sendiri?
Oh came on Mita.
Ting !
Pintu lift pun terbuka. Di depan lift itu, berdiri dua orang yang yang hendak menemui Anjas.
Refleks, Anjas pun dengan cepat melepaskan lengan Mita. Dan segera mengalihkan pandangannya pada Sasha dan Nara yang berdiri di depan lift.
Sedangkan Mita bergegas keluar dari lift itu. Yang disambut dengan tatapan aneh Sasha. Kemudian di ikuti oleh Anjas. Mengekor di belakang Mita.
"Bunda ..." seru Nara kegirangan begitu melihat Mita.
"Hai Nara ..." sapa Mita sembari menghampiri Nara dan mengusap lembut puncak kepalanya.
"Kenapa Bunda tidak ada di sekolah tadi. Nara jadi tidak semangat belajarnya gara - gara bukan Bunda yang ngajarin." gerutu Nara membuat Mita gemas melihatnya. Di tambah lagi gadis kecil itu cemberut. Makin lucu dan imut.
"Maaf ya Nara. Bunda sudah tidak mengajar di sekolah itu lagi. Tapi kalau Nara pengen belajar di temani Bunda, boleh. Bunda mau ngajarin Nara."
"Benarkah?" Nara semakin kegirangan.
Mita menganggukkan kepalanya. Sambil tersenyum manis.
"Asiiik ... Nanti Nara minta daddy buat jemput Bunda. Boleh ya?"
"Boleh. Daddy tidak keberatan." Anjas menyela kalimat Mita dengan cepat.
Anjas memang tidak keberatan. Tapi ada seseorang yang keberatan. Dan kelihatannya tidak suka dengan ide Nara.
"Nara, kalau Nara mau, nanti mommy cari guru les yang bagus buat Nara. Mommy punya banyak kenalan yang bisa jadi guru les Nara di rumah. Gimana, Nara mau kan?" Sasha menampakkan ketidak sukaannya terhadap ide Nara itu.
Bukan tanpa alasan. Saat di dalam lift tadi, Sasha merasakan ada yang aneh di antara Anjas dan Mita. Seakan mereka pernah dekat sebelumnya. Apa lagi saat melihat tatapan Anjas yang tidak biasanya terhadap Mita. Tatapan yang tidak pernah Sasha rasakan dari seorang Anjas.
Tatapan yang begitu dalam. Yang mampu melukiskan perasaannya. Tatapan yang tidak pernah di berikan Anjas untuk Sasha.
Namun Sasha, tidak ingin menaruh rasa curiga pada Anjas. Apa lagi, setahu Sasha Mita adalah kekasih Elvano. Saudara sepupunya.
"Tapi Nara maunya Bunda Mita." Rengek Nara.
"Nara ... tidak baik memaksa kalau Bunda Mita tidak mau."
"Bunda, boleh ya?" Nara memohon.
"Boleh dong ... tapi sama Om Vano. Biar Om Vano yang mengantar dan menjemput Bunda Mita. Gimana? Nara senang?" Elvano tiba - tiba datang dan langsung merangkul pundak Mita.
Si tampan limited edition ini, selalu saja ada di waktu yang tepat. Tapi, sedang apa Elvano di kantornya Anjas? Dari mana dia tahu kalau Mita sekarang sudah bekerja di sini?
Oh iya. Pasti dari Sasha. Mereka kan sepupuan. Pasti Sasha yang memberitahu Elvano tentang Mita.
__ADS_1
Seketika, raut wajah Anjas pun berubah. Menampakkan rasa ketidak nyamanannya atas kehadiran Elvano. Apa Anjas cemburu? Bagus dong. Biar Anjas tahu rasa. Biar Anjas merasakan sakit hati Mita saat dicampakkannya dulu.
"Om Vano kok disini?" tanya Nara polos.
"Mau menjemput pacar Om Vano dong. Ini dia orangnya." Sambil mencubit kecil pipi Mita.
Mita pun memaksakan senyumnya. Meski terlihat aneh. Setidaknya, di depan Anjas, mereka benar - benar terlihat seperti pasangan sungguhan.
Sekali lagi, Anjas menatap Mita tajam. Raut wajahnya semakin jelas berbeda. Menampakkan guratan amarah yang tertahan. Yang sering di sebut apa itu? Yang lebih cocok untuk ekspresi Anjas saat ini?
Cemburu.
Tepat sekali. Cemburu. Anjas cemburu.
"Oh ya, aku bawa pacarku pulang saja ya? kayaknya dia capek nih. Kalian ada rencana makan malam di luar kan? Ya sudah, kalau begitu kita duluan ya?" Elvano ini memang paling mengerti situasi.
Elvano tahu kalau Mita berada di situasi yang kurang menguntungkan. Seperti apapun hubungan Mita dan Anjas dulu, Elvano tidak peduli. Dan tidak mau tahu. Yang dia tahu, Mita adalah wanita yang mampu mencuri hatinya. Dan Mita harus jadi miliknya. Bagaimanapun caranya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Mita, Elvano pun langsung menarik pergelangan Mita. Dan membawanya pergi dari tempat itu.
Anjas hanya bisa memandanginya dengan hati yang menahan kekesalan. Kenapa harus Elvano. Kenapa harus pria itu yang di pilih Mita.
___
"Van, kamu apa - apaan sih?" ucap Mita sedikit kesal saat tangan Elvano sudah bersiap untuk mengemudikan mobilnya.
"Salah kamu sendiri. Sejak tadi aku menelfonmu tapi tidak pernah kamu jawab. Untung Sasha memberitahu aku kalau kamu skarang kerja di kantornya Anjas."
Elvano membuang napas sebentar,
"Aku tidak tahu seperti apa hubungan kamu dan Anjas dulu. Tapi, aku tidak suka melihat kamu berada di dekat Anjas."
"Kita ini hanya berpura - pura. Kenapa kamu malah jadi seperti ini? Lagipula kita belum lama saling mengenal."
"Aku masih menunggu jawaban kamu."
"Van ..."
"Mita, aku serius, aku sayang sama kamu."
Mita terdiam. Sulit untuk mempercayai ucapan Elvano. Mita hanya tidak ingin kembali merasakan kekecewaan yang sama. Kekecewaan saat menjalin hubungan dengan Anjas.
...*...
...*...
...*...
...-Bersambung-...
__ADS_1