
Sejatinya perjalanan hidup seseorang sudah diatur oleh sang maha kuasa. Tak terkecuali dengan perjalanan cinta. Dengan siapa hati itu memilih, dan pada siapa hati itu akhirnya berlabuh, hanya kita sendirilah yang tahu.
Sama halnya dengan perjalanan Mita dan Anjas. Yang awalnya telah dipertemukan oleh cinta, lalu berpisah karena cinta yang dikhianati, namun akhirnya kembali dipertemukan oleh cinta. Dan disinilah mereka saat ini berdiri, tempat yang kini menyatukan mereka atas nama cinta.
Siapa sangka, dua insan yang saling mencintai yang terpisah oleh keadaan dan kesalahpahaman, kini dipersatukan kembali. Apa boleh dikata, jodoh masih selalu menjadi misteri.
Seperti kata pepatah, takkan lari gunung dikejar. Jikalau memang berjodoh pasti akan bertemu jua.
Beribu-ribu selamat untuk pasangan Mita dan Anjas. Yang berbahagia malam ini, duduk bersanding di pelaminan. Bak raja dan ratu sehari.
Anjas yang menawan dalam balutan jas berwarna abu-abu, dan Mita yang tampak anggun dalam balutan gaun pengantin terindah. Senyum bahagia pun selalu terukir di wajah keduanya.
Resepsi pernikahan malam itu berlangsung meriah dengan dihadiri banyak tamu undangan. Mulai dari keluarga kedua belah pihak, rekan kerja, kolega, teman dan sahabat, bahkan jajaran direksi serta karyawan dan karyawati Winata Group pun ikut serta hadir dalam pernikahan itu.
Tak terasa, acara resepsi pernikahan itu berlangsung hingga pukul sebelas malam. Para tamu undangan pun mulai terlihat meninggalkan gedung itu setelah memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Mita tampak kelelahan berdiri beberapa jam lamanya di pelaminan. Anjas pun membantunya untuk duduk kembali.
"Mau aku pijat kakinya?" Tanya Anjas. Sebab dilihatnya Mita sedang memijit-mijit kakinya. Anjas pun menawarkan bantuannya, sebab tak tega melihat Mita kelelahan seperti itu.
"Tidak usah. Makasih." Tolak Mita halus.
"Kamu lupa ya, aku ini suami kamu skarang."
"Aku tau. Aku hanya tidak mau merepotkan kamu."
"Mulai skarang, kamu harus terbiasa menerima bantuan dariku. Lagipula kamu ini istriku. Aku tidak mau melihat istriku kesusahan."
Mita mengulum senyum manisnya, "Makasih sayang ..."
"Apa? Tolong ulangi lagi. Aku suka kata itu." Goda Anjas demi ingin mendengar kata sayang lagi.
"Makasih."
"Bukan. Kata setelah itu ..." Anjas makin usil saja.
"Sa__" Ucapan Mita pun terhenti. Sebab terdengar suara seorang anak kecil memanggilnya.
"Bunda ..." Panggil Nara sembari menghambur memeluk Mita.
"Nara sayang ..." Mita membalas pelukan Nara.
"Bunda cantik sekali." Sembari melepas pelukannya.
"Makasih sayang ..." Mita pun menyentil gemas hidung Nara.
"Nara ... Sama Oma yuk." Ajak Oma Lidya sembari menghampiri.
"Nara maunya sama Bunda dan Daddy Oma." Rengek Nara.
"Nara, acaranya kan sudah selesai. Nah, skarang kita pulang yuk. Daddy dan Bunda capek, mereka harus istirahat. Nara ngerti kan?" Ujar Oma Lidya panjang lebar.
__ADS_1
"Nara ... Ikut Aunty pulang yuk. Aunty capek nih, pengen cepat-cepat bobo." Anjani pun ikut-ikutan membujuk Nara agar tidak ikut bersama Daddy dan Bundanya.
"Ya udah, Aunty pulang saja bareng Oma. Nara mau pulang bareng Daddy dan Bunda."
"Tapi Daddy dan Bunda tidak akan pulang ke rumah. Jadi Nara, pulang bareng Oma dan Aunty." Ujar Oma Lidya pula.
Duh, anak kecil ini. Emang susah ya kalau nikahnya paketan. Baru nikah langsung dapat buntutnya. Begini kan jadinya.
Mendengar hal itu, Anjas memandangi mamanya dengan kernyitan di dahinya. Oma Lidya dan Anjani hanya tersenyum melihat wajah bingung Anjas. Sedetik kemudian, Oma Lidya pun mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Lalu memberikannya pada Anjas.
"Untuk malam ini. Agar kalian aman tanpa gangguan." Ucap Oma Lidya sembari memberikan sebuah kunci kamar hotel ke tangan Anjas.
Sengaja Oma Lidya menyewakan sebuah kamar hotel berbintang untuk Anjas dan Mita beristirahat malam ini. Mengingat Nara pasti akan menjadi gangguan terbesar untuk mereka berdua jika mereka pulang ke rumah.
"Makasih, Ma." Anjas tersenyum menatap mamanya.
"Mita ..." Mama Retno dan Nayla datang menghampiri. Mita pun berdiri dari duduknya.
"Selamat ya Nak. Mama dan Nayla mau pulang dulu. Besok kamu akan pindah ke rumah mertua kamu. Jadi Mama mau membereskan barang-barang kamu, dan nanti dibantu sama Nayla." Ujar Mama Retno sembari mengelus lembut lengan Mita.
Mendengar ucapan mamanya, sontak Mita menghambur memeluk mamanya. Ada rasa haru dan pilu dihatinya. Mamanya adalah orang yang selalu berada disisinya. Menemaninya, selalu ada disaat suka maupun duka. Dan kini, setelah dia menikah, dia akan meninggalkan mamanya tercinta. Demi kewajiban sebagai seorang istri dan menantu.
"Maafkan aku Ma. Aku tidak bisa menemani Mama." Lirih Mita dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Tidak apa-apa Nak. Yang terpenting buat Mama adalah kebahagiaan kamu."
Mita pun melepas pelukannya. Dengan lembut, Anjas melingkarkan lengannya di pundak Mita. Memberinya kehangatan, memberinya kasih sayang seperti yang telah diberikan oleh ibundanya selama ini.
"Nak Anjas, Tante titip Mita ya? Tolong jaga dia baik-baik." Pinta Mama Retno.
Anjas tersenyum, "Saya janji, saya akan menjaga Mita dengan baik."
Memang hal yang tersulit bagi seorang anak adalah berpisah dengan orang tua. Tapi dengan cinta Anjas yang begitu besar, setidaknya bisa sedikit mengobati pilunya hati Mita berpisah dari ibunya.
Di kamar hotel itu, Mita tengah duduk di tepian tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Mita sedang asik berbalas chat dengan seseorang.
"Chatingan dengan siapa sih?" Tanya Anjas sembari mengambil duduk disamping Mita.
"Lyra. Dia mengirimkan permintaan maafnya karena tidak bisa hadir di pernikahan kita."
"Loh, kenapa?"
"Katanya dia sudah diterima bekerja di salah satu rumah sakit. Trus, di rumah sakit tempatnya bekerja itu ada seorang pasien kecelakaan. Dan dia ditugaskan merawat pasien itu."
Anjas lalu mengambil ponsel Mita dan menonaktifkannya. Diletakkannya ponsel itu di nakas. Di sebelah ponselnya yang tergeletak.
Perlahan Anjas meraih jemari Mita, mengecupnya lembut kemudian. Sambil menatapnya lekat, Anjas pun mulai membawa jemarinya mengusap lembut wajah Mita.
Anjas memang sudah sering memperlakukan Mita seperti ini. Namun entah kenapa, malam ini justru terasa jauh berbeda. Membuat jantung Mita berdegup kencang. Bahkan terasa dua kali lebih kencang dari biasanya. Hatinya pun mulai berdebar-debar.
"Makasih kamu sudah hadir dalam hidupku. Aku minta maaf karna dulu pernah meninggalkanmu. Mulai skarang, aku akan selalu ada disisimu. Aku janji, kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi."
__ADS_1
Mita pun mengurai senyum manisnya. Diiringi derai air mata bahagia.
Dan perlahan, Anjas pun mulai mendekatkan wajahnya. Mita memejamkan matanya, siap menyambut suaminya. Sapuan napas hangat Anjas begitu terasa menerpa wajahnya. Membuat hati Mita semakin berdebar, menanti sentuhan lembut suaminya.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Sungguh sial. Ponsel Anjas bergetar. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Pertanda sebuah panggilan masuk.
Anjas pun membuang napasnya kasar. Diraihnya ponsel itu dari nakas. Rupanya Anjas lupa mematikan ponselnya dan hanya menyetelnya ke mode silence.
"Halo ..." Sapa Anjas lembut. Anjas tidak bisa mengabaikan penelpon yang satu ini. Mau tidak mau, meski kesal, Anjas tetap menjawabnya.
"Daddy ... Nara kangen. Nara ingin tidur bareng Daddy dan Bunda. Daddy cepat pulang." Rengek Nara dari seberang.
Nah, kan? Benar apa kata Oma Lidya. Tidur di hotel malam ini, mereka akan aman dari gangguan. Lagipula ini adalah malam pertama mereka. Tentu saja mereka tidak ingin terganggu.
"Nara ... Nara tidur bersama Aunty dulu ya? Besok Daddy pulang. Skarang Daddy capek. Daddy harus istirahat. Lain kali saja kita tidur bareng-bareng ya?" Bujuk Anjas.
"Aku mau mandi dulu, gerah." Bisik Mita, kemudian berdiri dan melenggang masuk ke kamar mandi.
Anjas memandangi punggung Mita dengan helaan napas panjang. Sedikit kecewa, kenapa Nara harus menelponnya disaat-saat seperti ini.
Akhirnya, dengan susah payah Anjas berhasil membujuk Nara.
Tak butuh waktu lama bagi Mita untuk membersihkan dirinya.
Cklek
Mita pun keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk di tubuhnya. Dilihatnya Anjas tidak berada di dalam kamar itu. Mita menyapukan pandangannya ke sekeliling, sampai tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya dengan kuat. Hingga Mita pun jatuh dalam dekapannya.
"Anjas? Kamu membuatku kaget saja." Pekik Mita lirih saking terkejutnya.
Namun Anjas malah tersenyum sembari menatap Mita lekat. Tatapan Anjas terasa berbeda kali ini. Tatapan itu telah diselimuti oleh kabut gairah. Keadaan Mita yang hanya berbalut handuk membuat hasratnya semakin bergejolak. Di tambah lagi wangi sabun mandi yang menyeruak dari tubuh Mita, membuat Anjas semakin tak bisa menahan diri.
Tanpa aba-aba Anjas pun mendaratkan bibirnya, memagut lembut bibir Mita yang bak candu baginya. Mita pun memejamkan matanya. Menerima perlakuan lembut Anjas tanpa penolakan sedikitpun. Bahkan saat jemari Anjas perlahan membuka sehelai kain tebal yang melilit di tubuhnya dan melemparnya asal.
Jemari itu pun mulai berkelana, menyusuri setiap lekuk tubuh polos Mita. Hingga menimbulkan gelenyar-gelenyar aneh yang mulai terasa. Perlahan, namun mampu menghanyutkan. Bahkan tanpa sadar lenguhan lembut pun terdengar dari mulut Mita. Membuat Anjas semakin tak bisa menahan hasratnya. Gelora di jiwanya yang begitu menggebu-gebu semakin mendesaknya untuk segera merealisasikannya.
Tanpa berlama-lama lagi, Anjas pun mengangkat tubuh polos Mita. Dan membaringkannya perlahan diatas tempat tidur. Dalam sekejap tubuh ramping Mita sudah berada di bawah kungkungannya. Buru-buru Anjas melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Melemparnya asal hingga berserakan tak karuan di lantai kamar itu.
Seakan mengerti bahwa Anjas telah lama berusaha menahan hasratnya itu, Mita pun mengulurkan kedua tangannya. Meminta Anjas mendekat padanya. Lengan Mita pun melingkari pundak Anjas begitu Anjas mendekat.
Cahaya temaram serta aroma dari pengharum ruangan yang menyeruak, semakin menambah gairah keduanya. Tak ada lagi kata yang mampu melukiskan kebahagiaan diantara keduanya. Keduanya pun semakin tenggelam dalam gelora api asmaranya. Semakin berpacu dalam pelampiasan hasrat yang semakin menyiksa.
Hingga akhirnya, keduanya pun mencapai puncak kenikmatan dengan bermandikan peluh. Anjas tersenyum bahagia, lalu melabuhkan satu kecupan hangat di kening Mita.
"Makasih ya sayang. Kamu sudah memberiku kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Aku mencintaimu." Lirih Anjas.
"Aku juga mencintaimu." Sembari mengulas senyum bahagianya.
Anjas pun merebahkan diri disebelah Mita, dan membawa Mita ke dalam dekapannya. Keduanya tertidur pulas dalam keadaan saling mendekap.
__ADS_1
Akhirnya, kebahagiaan itu kembali menyapa. Anjas dan Mita adalah pasangan yang paling berbahagia. Semoga saja kebahagiaan ini untuk selamanya.