
Dengan langkah lunglai, Anjas memasuki rumahnya. Melepas jas yang dikenakannya, melepas dasi, lalu melemparnya asal ke sembarang sofa.
Huft!!!
Anjas pun menghempaskan tubuhnya ke sofa. Menyandarkan kepalanya serta memejamkan matanya. Hari ini, hati dan pikirannya kacau. Entah dia harus berbuat apalagi agar Mita mau memberinya kesempatan. Apakah pintu hati Mita benar - benar sudah tertutup untuknya?
"Anjas?" Oma Lidya datang dan mengambil duduk di sebelah Anjas.
Anjas masih memejamkan matanya. Seakan tidak terganggu dengan kehadiran mamanya.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Oma Lidya. Tapi tidak mendapat tanggapan dari Anjas.
"Oh ya, tadi Sasha menelpon Mama. Katanya besok atau lusa, orang tuanya Sasha mengundang kita makan malam di rumahnya. Mama rasa, mereka mau membicarakan masalah pertunangan kalian." Ujar Oma Lidya.
"Apa sebaiknya Mama kasih saran saja ke mereka, agar pertunangan kalian sebaiknya dipercepat. Kalau kalian sudah terikat satu sama lain, akan lebih mudah bagi kalian untuk bisa saling menerima. Lagian, Sasha itu orangnya baik, cantik lagi. Kamu beruntung bisa mendapatkan Sasha." Ujar Oma Lidya lagi, hingga membuat Anjas gerah.
Anjas pun membuka matanya. Kalimat terakhir mamanya akhirnya membuatnya terusik.
"Apa Mama tidak punya topik lain untuk dibahas? Please Ma, stop membahas tentang Sasha." Hati Anjas yang kacau jadi tambah kacau gara - gara Oma Lidya membahas soal pertunangannya dengan Sasha.
"Kamu kenapa sih? Sasha itu kan calon tunangan kamu. Mama cuma mau me__"
"Cukup Ma!" Anjas seketika bangkit dari duduknya. Matanya menatap tajam Oma Lidya yang menengadah menatapnya heran dengan perubahan sikapnya itu.
"Mulai detik ini, aku tidak mau mendengar nama Sasha lagi. Jangan pernah lagi membahas soal pertunangan. Karna aku tidak mau bertunangan dengan Sasha." Tegas Anjas.
Apa yang terjadi dengan Anjas? Baru kali ini Anjas bersikap seperti ini. Selama ini Anjas tidak pernah menolak keinginan mamanya. Tapi kali ini?
Oma Lidya pun berdiri sambil menatap garang. Amarahnya mulai tersulut. Ada apa dengan Anjas?
"Tapi kenapa? Bukankah selama empat tahun ini kalian selalu bersama? Sasha selalu membantu kamu, menemani kamu. Sasha selama ini sudah baik sama kamu. Lalu apalagi kurangnya Sasha?"
"Sudah cukup Mama selalu mengatur hidupku."
Oma Lidya terperanjat mendengar kalimat Anjas yang terdengar begitu asing telinganya. Apa Anjas kerasukan?
Oh astaga!
"Anjas, tolong jangan buat Mama kecewa. Apa kamu mau keluarga kita nanti hidup di jalanan? Kamu tidak kasihan sama Nara?"
"Cukup Ma, cukup! Aku lelah! Aku lelah selalu menuruti permintaan Mama. Aku juga ingin menjalani hidupku sendiri seperti yang aku inginkan."
"Silahkan, kalau itu yang kamu mau. Lalu apa salahnya dengan Sasha. Dia jodoh yang pantas buat kamu. Lagipula, kalian masih sama - sama sendiri. Trus kenapa?"
"Mama bertanya kenapa? Karna aku tidak mencintai Sasha. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mencintainya."
"Cinta itu bisa datang kapan saja kalau kalian sudah bersama nanti. Maka dari itu kalian secepatnya harus bertu__"
"Aku mencintai wanita lain."
Duarrr!!!
Eh, ada petir menyambar. Iya, menyambar Oma Lidya. Hingga terperangah seketika. Mulut menganga, menatap tak percaya ke arah Anjas.
"Wanita mana? Masa lalu kamu itu? Kalian sudah lama putus. Dan kalian sudah tidak pernah bertemu lagi. Untuk apa mengharapkan orang yang sudah tidak ada."
"Sekali lagi aku minta jangan pernah lagi Mama mengatur hidupku. Aku lelah!" Kemudian Anjas berlalu meninggalkan Oma Lidya dengan kekesalannya.
Baru kali ini Anjas bersikap seperti ini. Apa gerangan yang membuat Anjas berubah sedrastis ini.
__ADS_1
Tapi mungkin memang ini yang terbaik. Sudah seharusnya Anjas berani mengambil sikap. Hal yang seharusnya dilakukannya sejak dulu.
Di kamarnya, Anjas menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Hati dan pikirannya sungguh kacau. Jalannya untuk mendapatkan Mita kembali semakin tertutup rapat.
BODOH!
Anjas hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Seharusnya dia bisa mengendalikan perasaannya. Anjas benar - benar terbawa emosi karena cemburu. Memang ya, cemburu itu membutakan segalanya. Karena cemburu, akhirnya Anjas kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kembali cintanya.
Betapa bodohnya!
Anjas menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Entah kenapa. Tapi isak tangis mulai terdengar.
Oh my God ... Anjas menangis. Betapa berat beban yang dipikulnya. Hatinya sungguh pilu. Dan yang bisa mengobati pilunya hati Anjas saat ini, hanyalah Mita seorang.
.
.
.
Di tempat yang berbeda. Di kamarnya, Mita tengah mengobrol dengan Nayla, sahabatnya.
"What? Kamu dipecat?" Nayla terkejut mendengar pengakuan Mita.
Mita menganggukkan kepalanya dengan wajah cemberut.
"Kamu serius?"
Mita kembali mengangguk.
"Bagus dong. Selama ini kan kamu selalu berusaha menghindari Anjas. Itu artinya, peluang kamu untuk bersama Vano semakin besar."
"Bercanda kali Mit ..."
"Cariin aku pekerjaan baru dong. Bosan kalau harus di rumah terus." Pinta Mita.
"Sebentar." Nayla meraih ponselnya yang terletak di nakas. Kemudian mulai mencari sesuatu dari situs website.
"Kayaknya belum ada deh Mit. Biasanya setiap hari banyak postingan tentang lowongan pekerjaan. Kenapa hari ini tidak ada satupun ya?" Ucap Nayla sambil jempolnya sibuk menggulir layar ponselnya.
"Tapi nanti akan aku cek setiap hari. Kalau ketemu, akan segera aku kabari."
"Kenapa ya nasibku selalu saja sial." Keluh Mita.
"Yang sabar Mit. Hidupmu tidak sial, hanya saja keberuntungan belum berpihak pada kehidupan kamu."
"Sama saja tolol."
"Ha ha ha ... Jangan terlalu serius dong. Untuk sementara kamu bantu - bantu dulu di toko kue mama kamu. Atau kalau kamu mau, kamu bisa ikutan jualan online bareng aku. Gimana? Ya ... Biar kamu tidak merasa bosan aja. Itung - itung, biar aku punya kurir gratis."
"Dasar kamu. Suka memanfaatkan teman."
"Bukan memanfaatkan Mit, tapi saling membantu." Canda Nayla dengan cengiran khasnya.
"Yang serius dong Nay. Aku benar - benar lagi butuh pekerjaan."
"Iya, aku tau. Bercanda sedikit kenapa sih? Lagian, sejak kapan aku tidak pernah membantu kamu. Jangan terlalu tegang begitu dong. Rileks Beb ... Rileks. Nanti kamu cepat tua loh kalo mukanya ditekuk terus begitu. Santai ..." Canda Nayla lagi sembari merebahkan tubuhnya.
Mita menatap kesal sahabatnya itu. Tapi yang dikatakan Nayla ada benarnya juga. Setidaknya dia harus punya kesibukan untuk menghilangkan kejenuhannya.
__ADS_1
.
.
.
Sementara di lain tempat. Di kediaman Abraham.
Elvano terbangun dari tidurnya. Perlahan Elvano bangun dari berbaringnya. Setelah minum obat dari dokter dan beristirahat sebentar, kini keadaannya sudah lebih baik. Elvano hendak keluar kamar sampai tiba - tiba kedatangan seseorang mengagetkannya.
Sasha.
"Aku dengar kamu sakit. Untuk itu aku datang untuk menjenguk kamu." Ucap Sasha sembari melenggang masuk ke kamar Elvano.
"Makasih."
"Oh ya, gimana hubungan kamu dengan Mita?"
"Untuk apa kamu bertanya soal hubungan aku dengan Mita? Kenapa? Apa kamu belum bisa mendapatkan Anjas?" Sahut Elvano datar. Lagian, bukannya bertanya tentang kondisi kesehatannya, Sasha malah bertanya perihal hubungan asmaranya dengan Mita.
"Apa kamu sudah tau kalau Mita sudah di pecat?"
"Apa?" Elvano terkejut mendengarnya.
"Anjas memecat Mita." Sasha memperjelas kalimatnya.
"Kamu serius?" Raut wajah Elvano tampak cemas. Mita dipecat pasti karena dirinya. Ternyata pemikirannya tentang Anjas salah besar. Dia berpikir Anjas tidak mungkin memecat Mita. Tapi kenyataannya, hal itu justru terjadi.
Elvano mengira Anjas hanya sekedar mengancam. Ternyata dia serius dengan ucapannya. Lalu sekarang bagaimana dengan Mita? Kalau begini jadinya, Elvano jadi merasa bersalah terhadap Mita.
"Aku sarankan, sebaiknya kamu serius. Sebelum dia jatuh ke tangan orang lain." Ucap Sasha dengan raut wajah yang mendadak berubah sinis.
"Maksud kamu apa?"
"Kamu tidak berniat main - main kan dengan Mita?"
"Siapa yang main - main? Tentu saja aku serius. Aku sudah pernah melamarnya, tapi semuanya kacau gara - gara Liza."
"Mau aku bantu?"
"Memangnya kamu bisa bantu apa?"
"Bantu membuat Mita jadi milik kamu seutuhnya."
Kini Elvano menatap Sasha serius. Sementara Sasha tersenyum sinis.
Apa yang ditawarkan Sasha sedikit menyentil hatinya. Membuat Mita jadi miliknya seutuhnya? Jujur, hal itu pun sangat diinginkan Elvano. Tapi bagaimana caranya?
Sedangkan Sasha, sejumlah ide mulai berkeliaran dibenaknya. Kali ini, Sasha tidak akan tinggal diam. Sudah cukup dia bersabar menanti cinta Anjas. Tetapi hingga kini, sangat sulit baginya meraih perhatian pria itu. Nyatanya, kesabaran dan ketulusan hatinya tidak berarti apa - apa bagi pria itu.
Lalu apa yang direncanakan Sasha?
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1