
Liza.
Wanita itu tampak tengah diliputi amarah yang menggunung.
Mita pun ikut mengalihkan pandangan ke arah suara itu. Mita tampak kebingungan melihat wanita seksi itu datang menghampiri dengan raut wajah kurang bersahabat. Atau lebih tepatnya mirip hantu mungkin. Oh bukan, lebih mirip nenek lampir yang siap menyerang lawan. Ups! Be careful Mita.
Elvano dan Mita pun serentak bangun dari duduknya.
"Oooh ... Jadi ini alasannya kamu jadi jarang datang menemuiku? Chat ku tidak pernah kamu balas. Bahkan telefon ku pun tidak pernah kamu jawab. Rupanya karena perempuan jalang ini." Ucap Liza dengan gamblangnya. Asal semprot aja tuh Mak Lampir.
"Jaga mulut mu. Jangan pernah mengatakan Mita jalang." Tandas Elvano yang mulai kesal dengan tingkah Liza.
"Oh, jadi namanya Mita."
"Maaf ya, kamu ini siapa?" Tanya Mita penasaran.
"Sayang, tidak usah pedulikan perempuan gila ini. Kita ke dalam yuk." Ajak Elvano sembari mulai meraih pergelangan tangan Mita. Tetapi secepat kilat, Mita menepis tangan Elvano. Hingga membuat Elvano tersentak.
"Aku harus tau siapa dia." Tegas Mita.
"Dia itu tidak penting. Dia itu cuma perempuan tidak waras. Ayo, kita ke dalam saja. Mama pasti ingin mengobrol sama kamu."
"Jadi Vano tidak cerita apapun soal aku sama kamu?" Tanya Liza sinis.
Mita masih menatap tajam ke arah Liza. Menunggu penjelasan Liza soal hubungannya dengan Elvano. Sementara Elvano sendiri justru terlihat panik.
"Aku pacarnya." Tegas Liza dengan nada penuh penekanan.
"Pacar?" Mita mengernyit.
"Mantan pacar. Kita sudah tidak punya hubungan apa - apa lagi. Dan skarang, pergi kamu dari sini." Tegas Elvano.
"Tunggu dulu ..." Kini Mita menatap Elvano dengan seksama. Menimbulkan kekhawatiran Elvano atas reaksi Mita nanti.
"Jadi ... Selama ini, sebenarnya kamu sudah punya pacar? Dan kamu berani melamarku, sementara kamu sendiri sudah punya pacar?"
"Mit, dengarkan aku dulu. Di antara kami sudah tidak punya hubungan apa - apa lagi. Aku ti__"
"Astaga. Aku pikir kamu ... Van, tolong kamu jujur. Sebenarnya apa maksud kamu mendekatiku? Kamu tidak mencintaiku. Iya kan?" Ya ampun, cinta? Untuk apa pula Mita mengharapkan cinta Elvano. Tapi jujur, perlahan Elvano sudah mulai mencuri hatinya. Tapi secepat ini hatinya remuk. Gara - gara Elvano.
"Cinta? Elvano tidak mencintai siapapun. Dia ini seorang playboy, yang selalu memanfaatkan wanita demi kepuasannya semata. Dia mendekati wanita bukan untuk cintanya. Tapi untuk tubuhnya. Apa Vano sudah menidurimu?" Mulutnya Liza semakin pedas saja.
Mita pun tercengang mendengar penuturan Liza.
"Dasar wanita ular. Pergi kamu dari sini. Sebelum aku seret kamu. Pergi." Usir Elvano. Tetapi Liza malah tidak menghiraukannya.
"Sorry Van. Aku harus pulang." Mita pun bergegas meninggalkan Elvano.
Namun Elvano tidak ingin kehilangan jejak Mita. Elvano pun mengejar Mita. Sampai di ruang tamu rumahnya, Elvano berhasil menyusul langkah Mita. Lalu menarik kuat pergelangan tangannya. Hingga membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya.
"Lepasin Van." Mita menghempas kasar tangannya dalam genggaman Elvano.
"Dengarkan dulu penjelasanku." Pinta Elvano memohon.
"Penjelasan pacar kamu tadi sudah cukup. Aku rasa, kamu tidak perlu menjelaskan apa - apa lagi. Semuanya sudah jelas."
"Tolong jangan percaya apa yang dikatakan Liza. Dia itu wanita ular. Dia melakukan ini karna dia__"
__ADS_1
"Cukup Van. Aku sudah mengerti. Betapa bodohnya aku mempercayai pria seperti kamu. Maaf, mungkin sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Permisi." Mita semakin mempercepat langkahnya keluar dari rumah itu.
Sampai di teras rumah, langkahnya justru terhenti. Mama Maria sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah kebingungan. Menangkap gelagat aneh diantara keduanya.
"Mita ... Kamu kenapa?" Sembari mengernyit. Mengamati raut wajah keduanya.
"Maaf Tante. Saya pamit pulang dulu." Pamit Mita sopan. Namun berusaha menyembunyikan kekecewaannya terhadap Elvano.
"Diantar pulang sama Vano ya?"
"Tidak usah Tante. Saya bisa pesan ojol kok." Tolak Mita halus.
"Tidak bisa. Ini sudah malam. Tante khawatir kalau sampai terjadi apa - apa sama kamu di jalan nanti."
"Ma ... Siapa yang sudah memperbolehkan Liza masuk ke rumah ini?" Tanya Elvano kesal.
Mama Maria tersentak. "Liza? Di mana dia skarang?"
"Di taman belakang."
"Ini pasti kerjaan Luna nih. Harus di tatar anak itu. Jangan sampai dia buat kesalahan lagi. Ya sudah, kamu antar Mita pulang. Liza biar Mama yang urus."
"Jono ..." Panggil Mama Maria sekencangnya pada bodyguardnya itu. Sambil berlalu memasuki rumahnya.
"Iya Nyonya." Terdengar Jono menyahuti.
"Ada tugas buat kamu ..."
Terdengar jelas suara Mama Maria yang juga kesal akan kehadiran Liza di rumah itu.
Tanpa menunggu aba - aba lagi, Elvano langsung menarik pergelangan tangan Mita. Dan membawanya menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Lalu membukakan pintu depan dan mendesak Mita naik ke mobilnya. Tidak ada yang bisa Mita perbuat. Selain menurut saja.
.
.
"Mita kenapa Van?" Tanya Mama Retno.
"Hanya sedikit salah paham Tante."
"Salah paham kenapa?"
Elvano tak menggubris pertanyaan Mama Retno. Raut wajahnya kini terlihat cemas.
"Ya sudah. Biar nanti Tante bicara sama Mita. Siapa tau Tante bisa membujuk Mita. Ya?"
"Makasih Tante. Kalau begitu aku pulang dulu Tan."
"Iya. Hati - hati di jalan ya Nak."
"Permisi Tan. Selamat malam?"
"Malam."
Elvano pun bergegas pergi.
Sementara itu, di kamarnya, Mita tengah duduk termenung di tepian ranjang. Mama Retno pun perlahan menghampirinya. Lalu mengambil duduk di sebelah putrinya.
__ADS_1
"Kenapa Mit? Kamu ada masalah dengan Vano?" Tanya Mama Retno lembut.
Mita menggeleng. "Tidak ada, Ma. Tidak ada apa - apa antara aku dan Vano."
"Jangan bohong sama Mama. Cerita saja, siapa tau Mama bisa membantu."
Mita kembali menggeleng. "Aku lagi badmood Ma. Bisa, tolong Mama tinggalkan aku sendiri dulu."
"Ya sudah. Tapi nanti kalau ada apa - apa, kamu cerita ke Mama ya?"
Mita tersenyum hambar. Kemudian Mama Retno pun keluar dari kamar Mita. Memberinya waktu untuk menenangkan diri.
.
.
Masih di malam yang sama. Di satu sudut kota.
Anjas tengah duduk seorang diri di tepian kolam renang. Matanya terfokus menatap kolam renang itu. Sementara pikirannya melayang - layang. Dan Mita masih senantiasa mendominasi isi kepalanya saat ini.
"Kak." Seruan Anjani membuyarkan lamunan Anjas. Anjas pun menoleh.
"Sejak tadi aku perhatikan, Kakak itu melamun saja. Kakak sedang memikirkan apa sih?" Tanya Anjani sembari mengambil duduk di samping kakaknya.
"Nara sudah tidur?"
"Sudah."
"Sebaiknya kamu juga tidur. Besok kamu kuliah kan?"
"Kakak sedang memikirkan Mita ya?"
Anjas tersentak. Kembali menoleh, menatap Anjani dengan kernyitan di dahinya. Anjani pun mengulas senyum tipisnya.
"Aku tau. Kenapa tadi Mita tersinggung dengan omongan Mama. Mita itu mantan pacarnya Kak Anjas kan?"
Anjas memalingkan wajahnya. Kembali memusatkan pandangannya ke kolam renang itu.
"Aku sudah tau sejak lama." Sambung Anjani.
"Kakak masih mencintainya kan?" Tanya Anjani lagi.
Anjas malah menghembuskan napasnya panjang. Anjani memang benar. Anjas masih sangat mencintai Mita.
"Jangan sampai Kakak menyesal, jika Kakak tidak memperjuangkannya dari sekarang."
"Entahlah. Aku mungkin sudah tidak punya kesempatan lagi. Dia sedang menjalin hubungan dengan Vano. Apalagi Mama tidak akan setuju." Ucap Anjas lesu.
"Sebelum terlambat. Nanti Kakak menyesal. Mama skarang sudah merencanakan pertunangan Kakak dengan Sasha. Tuh, Mama lagi telfon - telfonan dengan Mamanya Sasha."
"Apa?" Anjas pun tersentak.
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...