
"Terlambat Maemunah ... Aku sudah terima pekerjaannya." Ujar Mita kesal pada sahabatnya melalui sambungan telepon. Mita sedang menemani Nara bermain boneka di kamarnya.
"Sorry Mit, aku benar - benar lupa kalau itu alamat rumahnya Anjas. Lagian, mana aku tau kalau anak yang akan kamu asuh itu adalah ponakannya Anjas. Sorry ya Mit. Jangan marah dong." Seru Nayla dari seberang. Nayla baru menyadari kalau alamat yang diberikannya pada Mita itu adalah alamat rumahnya Anjas.
Mita kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Benar - benar tuh si Nayla. Dia sudah menjadikan sahabatnya sendiri sebagai umpan bagi si macan tutul.
Tapi eh tapi, Nayla kasihan juga kalau dia terus mengumpatnya. Dia sudah bilang, dia sama sekali tidak tahu kalau anak yang akan diasuhnya itu adalah Nara.
Mungkin sudah jodohnya kali selalu bertemu dengan Anjas.
What???
Jodoh???
Amit - amit jabang bayi. Hiii ... Seram.
Mita jadi merinding sendiri membayangkannya. Hingga membuat Nara keheranan melihat tingkahnya.
"Bunda kenapa?" Tanya Nara.
"Hah?" Mita terhenyak, "Oh ya Nara, Daddy nya Nara pulangnya jam berapa sih?" Mita pura - pura bertanya. Padahal dia sendiri sudah tahu jam berapa Anjas selesai dengan pekerjaannya. Mantan sekertaris gitu loh.
"Sore Bunda."
"Begitu pulang biasanya Daddy ngapain aja?" Loh, loh, kok Mita jadi kepo ya?
"Hmmm ..." Nara tampak berpikir.
"Pulang kerja Daddy langsung masuk ke kamar. Setelah itu Daddy tidak keluar lagi. Kadang Daddy suka malas kalau diajak makan malam sama Oma." Ujar Nara kemudian.
"Oh ... Gitu ya?" Mita tersenyum senang. Seakan dia baru saja menang lotre.
Jika begitu pulang kerja Anjas langsung mengurung diri di kamarnya, itu berarti Mita punya kesempatan keluar dari sarang macan ini tanpa sepengetahuan macan itu sendiri. Itu artinya mereka tidak akan bertemu satu sama lain.
.
Sementara di tempat berbeda. Di ruangannya, Anjas tampak sedang menghubungi seseorang melalui panggilan telepon.
"Kamu dimana skarang?" Tanya Anjas.
"Aku lagi di kampus Kak." Sahut seseorang dari seberang. Yang tidak lain adalah Anjani, adiknya.
"Nara gimana? Kamu titip ke Mama?"
"Nara di rumah Kak. Mama sudah mencari orang yang bisa menjaga Nara di rumah."
"Pengasuh maksud kamu?"
"Seperti itulah. Eh Kak, pengasuhnya cantik loh Kak. Masih muda lagi. Kakak pasti bakalan kaget kalau melihat pengasuhnya Nara."
"Kakak tutup dulu teleponnya. Kakak sibuk." Anjas pun menutup sambungan teleponnya.
Ceklek ...
Terdengar decitan pintu terbuka. Chandra datang sambil membawa sebuah map biru.
"Apa saja jadwalku hari ini?" Tanya Anjas sembari menerima map yang disodorkan Chandra padanya.
Chandra mulai membuka ponselnya dan memeriksa jadwal atasannya itu.
"Siang ini Bapak ada meeting di luar."
"Tolong tunda dulu. Hari ini aku kurang enak badan. Kalau ada berkas - berkas penting yang harus aku tanda tangani, tolong kamu bawa ke rumah ya?"
"Baik, Pak." Kemudian Chandra pun keluar dari ruangan itu, setelah Anjas membubuhkan tanda tangannya.
Anjas menghembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Hari ini memang Anjas kurang bersemangat. Mengingat sebentar malam dia dan keluarganya akan makan malam di rumahnya Sasha. Entah bagaimana caranya agar Anjas bisa menghindarinya. Sejujurnya, Anjas sungguh tidak ingin bertemu dengan orang tuanya Sasha yang sudah pasti akan selalu bertanya soal hubungannya dengan Sasha. Padahal kenyataannya, diantara mereka tidak ada hubungan apa - apa.
Semoga saja Anjas bisa menemukan alasan yang tepat untuk tidak menghadiri makan malam bersama keluarga itu.
__ADS_1
.
.
.
Siang hari Anjas pulang ke rumah. Segala urusan di kantor sudah dipercayakannya pada Chandra.
Anjas menghempaskan tubuhnya di sofa. Kemudian melepas dasi yang dikenakannya. Membuka satu kancing teratas kemejanya, lalu menggulung kedua lengan kemejanya.
"Mey ... Memey ..." Panggil Anjas pada ART nya.
Memey datang tergopoh - gopoh.
"Loh, Aden sudah pulang? Tidak biasanya." Bukannya menanyakan keperluan majikannya, Memey malah berbasa - basi.
"Nara di mana?"
"Di kamarnya Den bersama pengasuhnya. Mungkin sudah tidur siang. Soalnya saya dengar pengasuh itu membacakan dongeng lalu menyanyikan lagu pengantar tidur."
"Buatkan aku jus, bawa ke belakang, di kolam renang."
"Baik Den. Oh ya Den ..."
Anjas yang berdiri dan hendak ke belakang, menoleh ke arah Memey.
"Ada apa?"
"Aden tau tidak? Pengasuhnya Nara itu masih muda loh, cantik lagi." ART yang satu ini ibarat infotainment berjalan. Tidak salah Anjani memberinya julukan Miss Sosmed. Kecepatan gibahnya melebihi sosial media.
"Oh ya?" Anjas mengangkat alisnya. Anjani sudah mengatakan itu.
"Lebih cantik dari Non Sasha kayaknya. Dan orangnya__"
"Bukan urusanku." Sela Anjas cepat sambil mengibaskan tangannya. Kemudian beranjak ke halaman belakang.
Di kamarnya, Nara sudah tertidur. Setelah makan siang dan bermain sebentar, Mita kemudian menidurkan anak itu.
Perlahan Mita turun dari tempat tidur Nara. Kemudian keluar dari kamar itu, agar tidak mengganggu tidur siang anak itu.
Di dapur, tampak Memey sedang membuat jus entah untuk siapa. Karena merasa bosan, Mita pun melenggang ke halaman belakang. Bermaksud menghilangkan rasa bosannya dengan mencari udara segar.
Di halaman belakang rumah itu, ada sebuah kolam renang yang cukup besar. Mita bermaksud duduk di tepian kolam ingin bermain - main air sebentar. Maklumlah ya, di rumahnya Mita tidak ada kolam renang. Adanya cuma bak mandi. He he he, malu - maluin Mita. Kalau nanti kecebur gimana? Mita kan tidak bisa berenang.
Mita sudah membungkuk, hendak duduk di tepian kolam. Sampai tiba - tiba dia melihat Anjas sedang duduk bersandar sambil tangan kanannya menopang kepalanya. Persisi seperti orang yang sedang pusing atau banyak pikiran mungkin.
"Anjas? Kenapa dia pulang jam segini? Bukannya seharusnya dia di kantor? Atau jangan - jangan dia sudah tau lagi, kalau aku bekerja di rumahnya. Waduh, gawat nih." Lirih Mita menggerutu.
Pelan dan berusaha tidak membuat suara apapun, Mita mulai beranjak. Baru saja selangkah kakinya berhasil berpijak, tiba - tiba terdengar suara seseorang yang membuatnya kaget setengah mati.
"Siapa itu?" Tanya Anjas dengan suara keras sembari memperhatikan punggung Mita yang terlihat oleh pandangan matanya.
Waduh, gimana nih? Mita mulai panik. Apalagi saat Anjas perlahan mulai menghampirinya.
Kalau Mita menjawab pertanyaannya, meski Mita mengubah namanya, Anjas tetap akan mengenalinya. Mana mungkin Anjas lupa dengan suaranya.
"Kamu siapa?" Tanya Anjas sekali lagi.
Kini Anjas sudah berdiri tepat di belakang Mita.
Deg Deg Deg
Kacau. Degup jantung Mita benar - benar kacau.
Sedangkan Anjas mengamati gelagat Mita dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sedetik kemudian dahinya mengerut. Dia merasa seperti mengenali sosok yang berdiri membelakanginya saat ini.
"Mita?" Tebak Anjas. Siapa tahu dia benar. Atau mungkin juga dia salah mengenali.
Gedebug!
Bola mata Mita membulat sempurna. Bahkan seakan ingin meloncat keluar dari tempatnya. Mita menelan salivanya dalam - dalam.
Mati aku! Gerutu Mita dalam hatinya. Degup jantungnya yang kacau tadi seakan telah berhenti berdetak.
__ADS_1
Insting Anjas memang seperti macan. Bisa langsung mengenali mangsanya meski hanya melihat punggungnya saja.
"Bu_bukan Tuan." Sahut Mita gugup. Tentu saja dengan mengubah sedikit nada suaranya. Kira - kira seperti suara tikus kejepit gitu.
"Oh ya? Tapi, aku tidak mungkin salah mengenali orang." Mata Anjas masih mengawasi gelagat Mita.
Otak Mita bekerja keras mencari cara meloloskan diri dari si macan tutul itu. Maka, sebelum macan itu benar - benar mengenalinya, dengan cepat Mita melangkahkan kakinya. Berniat kabur dari tempat itu. Tapi sial.
Sebab dengan cepat pula Anjas menarik pergelangan tangannya. Alhasil, tubuh Mita berbalik dengan paksa, berhadapan dengan Anjas.
Akibat tarikan paksa yang terlalu kuat itu, tubuh Mita pun akhirnya oleng. Dan ...
Byurrr ...
Mita jatuh ke kolam renang. Karena panik, Anjas pun melompat ke kolam renang itu dan menolong Mita. Anjas tahu, Mita tidak bisa berenang.
Begitu Anjas menangkap tubuh Mita, Mita langsung melingkarkan kedua lengannya di pundak Anjas dan memeluk Anjas erat. Sangat jelas terlihat kalau Mita ketakutan.
"Jangan dilepas. Aku tidak bisa berenang." Ucap Mita ketakutan. Napasnya terengah - engah.
"Aku tau." Ucap Anjas sembari memeluk Mita. Senyum tipis terbit di wajahnya. Ternyata dia tidak salah mengenali orang. Tetapi, apa yang dilakukan Mita di rumahnya? Apa Tuhan sengaja mengirimnya karena Tuhan tahu kegundahan hatinya?
Bukannya membawa Mita ke tepi kolam renang, Anjas malah memeluknya. Mita pun masih memeluk Anjas karena takut tenggelam. Sampai akhirnya dia menyadari apa yang terjadi saat ini.
Tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di pundak Anjas, Mita memalingkan wajahnya. Begitupun Anjas. Hingga keduanya saling menatap dalam jarak yang begitu dekat.
Kali ini, hati Mita berdebar - debar. Entah sudah berapa lama dia tidak menatap Anjas dalam jarak sedekat ini. Cara Anjas menatapnya masih sama seperti dulu. Tatapan yang membuat hatinya berdebar. Tatapan yang membuatnya jatuh cinta.
"Kenapa harus lari dariku? Begini kan jadinya? Kalau kamu tenggelam, gimana? Apa kamu mau mati di rumah ini?" Celetuk Anjas hingga membuat Mita cemberut plus kesal.
"Siapa juga yang mau mati di sarang macan."
"Macan?" Anjas mengernyit.
Mita jadi salah tingkah dibuatnya. Dia sudah berani menyamakan Anjas dengan macan. Mita pun melepas tangannya yang melingkar di pundak Anjas. Dan hendak ke tepi. Tapi Mita malah tenggelam. Anjas pun kembali mengangkat tubuhnya sambil tertawa kecil. Kemudian membawanya ke tepi.
Kecelakaan kecil ini justru terasa menyenangkan bagi Anjas. Tidak sia - sia dia pulang lebih awal. Rupanya ada kejutan kecil yang sedang menunggunya.
"Ya ampun Kak Anjas, Mita. Kenapa kalian bisa jatuh ke kolam sih?" Tanya Anjani panik sembari berlari kecil menghampiri.
Anjani yang baru saja pulang dan hendak ke dapur untuk mengambil air minum, tiba - tiba dikagetkan dengan pemandangan di kolam renang.
"Sini Mit. Aku bantu." Anjani mengulurkan tangannya. Mita pun bergegas menaiki tangga kolam itu. Kemudian meraih uluran tangan Anjani. Di susul oleh Anjas setelah itu.
"Bukannya kamu lagi di kampus?" Tanya Anjas.
"Diminta Mama cepat pulang. Soalnya sebentar malam kita ada undangan makan malam di rumahnya Sasha."
"Tolong kamu ajak dia mengganti bajunya. Nanti dia kedinginan." Titah Anjas.
"Oke, Kakakku. Yuk, Mit. Kamu pakai bajuku aja ya? Kamu tidak membawa baju ganti kan?" Ajak Anjani sembari merangkul Mita, mengajaknya masuk.
Mita hanya tersenyum dan menurut saja dengan ajakan Anjani.
Sembari berlalu, sebelum mereka menghilang di balik pintu, Anjani menoleh sebentar ke belakang. Sekilas matanya menangkap pemandangan langka, yang sudah lama tidak pernah dilihatnya lagi. Anjas tersenyum - senyum sendiri. Itu yang terlihat oleh pandangan mata Anjani.
Sudah lama Anjani tidak melihat senyum itu di wajah kakaknya. Dan hari ini, Anjani bisa melihat itu lagi sejak ada Mita.
Memey yang muncul tiba - tiba sambil membawa nampan berisi segelas jus pun kebingungan melihat Anjas tersenyum - senyum sendiri seperti orang gila. Dalam keadaan basah kuyup lagi.
"Kecebur kolam kok malah senang Den?" Seloroh Memey sambil menyodorkan segelas jus pada Anjas.
"Ini jusnya Den."
"Buat kamu saja. Kelamaan kamu. Hausnya sudah hilang." Kemudian Anjas berlalu meninggalkan Memey yang masih kebingungan.
"Kok, aneh ya ... Baru kali ini liat Den Anjas senyum - senyum sendiri kayak orang gila. Kecebur kolam kok malah senang. Aneh." Memey menggeleng - gelengkan kepalanya heran.
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...