Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 39


__ADS_3

Di meja makan itu, tampak Mama Maria dan Papa Samuel, Elvano serta Mita. Tengah menikmati makan malamnya. Dengan khusyu.


Sejak tadi, tatapan Elvano tidak pernah lepas dari Mita. Hingga membuat Mita jadi salah tingkah. Kikuk rasanya di perhatikan Elvano seperti itu terus. Apalagi saat ini mereka sedang makan bersama orang tuanya Elvano.


Sejujurnya, situasi ini membuat Mita canggung. Sekaligus tidak percaya diri. Sebelumnya, Mita menyangka Elvano hanyalah pria biasa saja. Karena kerap kali pria itu tampil sederhana dan apa adanya.


Akan tetapi, Mita tidak menyangka ternyata Elvano adalah putra seorang pengusaha ternama. Bahkan mendadak Mita minder untuk berada dekat dengan Elvano. Yang status sosialnya benar - benar jauh berbeda dengannya. Elvano berada sangat jauh di atasnya. Sedangkan dirinya sendiri, sangat tidak pantas di sandingkan dengan Elvano.


"Oh ya, Mit. Pekerjaan kamu skarang apa?" Tanya Mama Maria saat mereka telah selesai makan malam. Dan kini, mereka tengah duduk santai di taman belakang rumah mewah itu.


Jamuan makan malamnya tidak berlangsung lama. Karena sejujurnya, Papa Samuel tidak suka mengobrol saat sedang makan. Baginya, hal itu sangat mengganggu.


"Dulu, saya mengajar di sebuah Taman Kanak - Kanak Tante. Tapi skarang, saya bekerja di Winata Group. Sebagai Sekretaris Direktur." Sahut Mita sopan plus malu - malu.


Di tengah obrolan itu, Luna pun datang menyajikan empat cangkir teh hangat dan sepiring brownies buatan Mama Retno. Yang di bawa Mita sebagai buah tangan. Sekaligus sebagai ucapan terima kasih untuk jamuan makan malamnya. Yang jujur saja, semua makanannya itu mewah plus enak. Super duper enak. Seumur - umur, baru kali ini lidah kampungan Mita merasakan hidangan selezat itu.


He he he, malu - maluin Mita. Tau aja, setiap hari di rumah, makannya tempe goreng mulu. Mana gosong lagi. Eits, Mita meremehkan Mama Retno nih. Meskipun begitu, Mama Retno paling jago kalau urusan kue. Apalagi kuetek. Hoek, bau tau.


"Kamu kerjanya sama Anjas dong."


"Iya, Tante."


"Kalian ngobrol saja dulu. Papa ada urusan sebentar." Ujar Papa Samuel sembari bangkit dari duduknya. Kemudian berlalu. Obrolan seperti itu membuat Papa Samuel tidak betah. Obrolan wanita itu memang membosankan.


Tetapi bagi Elvano, menyenangkan. Karena ada Mita. Elvano jadi tidak canggung lagi, karena ternyata orang tuanya menyukai Mita. Otomatis, peluang semakin terbuka lebar bagi Elvano untuk mendapatkan Mita.


"Oh ya, Van. Katanya Anjas sama Sasha mau menikah. Kok, sampai sekarang belum ada kabarnya sih?" Tanya Mama Maria yang merasa penasaran akan hubungan Anjas dan ponakan suaminya itu.


"Mana aku tau Ma." Elvano mengendikkan bahunya.


Sementara Mita, terlihat agak berbeda. Saat mendengar tentang Anjas dan Sasha. Dan Elvano sempat menangkap perubahan raut wajah Mita itu.


"Oh ya, Mit. Silahkan diminum dulu tehnya. Mumpung masih hangat." Mama Maria mempersilahkan. Kemudian mengambil sepotong brownies dan mulai memakannya.


"Hemmm ... Kuenya enak sekali. Kamu beli di mana kuenya Mit?" Tanya Mama Maria yang terkesan dengan enaknya kue buatan Mama Retno.


Nah, kan? Terbukti kalau Mama Retno itu paling jago kalau urusan kue. Biarpun tampilan kuenya sederhana, tapi rasanya MANTUL. Alias Mantap Betul.


"Itu kue buatan Mama saya Tante."


"Benarkah? Kok, kayaknya Tante pernah makan kue seperti ini? Tapi di mana ya?" Mama Maria tampak sedang mengingat - ingat sesuatu.


"Brownies kan dimana - mana ada Ma." Ujar Elvano.

__ADS_1


"Iya, memang. Tapi yang ini beda. Brownies ini mirip dengan buatan teman lama Mama dulu di kampung." Ealah, Mama Maria kok malah buka - buka kartu sendiri sih?


Memang, Mama Maria dulunya berasal dari kampung. Setelah menikah dengan Samuel Abraham, perlahan - lahan mulai merubah status sosialnya dan mengangkat derajat keluarganya. Ceileh, tapi jangan salah. Samuel Abraham merintis usahanya itu dari Nol besar. Hingga menjadi sukses seperti sekarang ini.


Oh, pantas saja ya. Cara berpikir Mama Maria itu sangat sederhana. Ternyata berasal dari kampung toh. Baginya, menilai seorang wanita itu dilihat dari ketulusan hatinya. Jempol deh buat Mama Maria. Syalut eikeh.


"Oh ya? Siapa teman Mama itu?" Tanya Elvano.


"Namanya Sulastri."


"Oh ... Kirain." Padahal Elvano sempat berpikir kalau Mama Retno adalah teman lama mamanya.


"Ma ..." Panggil Elvano setengah berbisik. Mama Maria pun menoleh. Dan mendapati putranya itu tengah memberi kode melalui isyarat matanya agar meninggalkan mereka berdua di taman itu.


Ibu dan anak ini selalu kompak. Mama Maria pun mengedipkan matanya. Pertanda setuju.


"Kalian ngobrol saja dulu berdua. Mama ke dalam sebentar ya? Mama mau memeriksa pekerjaannya Luna. Jangan - jangan dia buat ulah lagi tuh." Mama Maria beranjak dari tempat duduknya. Tapi sebelum benar - benar kembali masuk ke dalam rumah, Mama Maria kembali berkata ...


"Oh ya, Mit. Nanti pulangnya diantar Vano aja ya?"


"Iya, Tante."


YES! Seru Elvano dalam hatinya. Kesempatan besar nih.


Mita tampak ragu dan canggung. Sekarang Mita sudah tahu siapa Elvano. Seketika membuat Mita jadi minder untuk berada dekat dengan Elvano. Jujur, hal ini yang di khawatirkan Elvano terjadi. Mita akan menjauhinya.


"Mit ... Please." Pinta Elvano lagi. Akhirnya, Mita pun duduk di kursi yang sudah disediakan Elvano di sampingnya.


"Kamu kenapa sih? Tiba - tiba muka kamu berubah." Jujur, Elvano cemas Mita akan semakin menjauhinya saat tahu siapa dirinya. Dan hal itu, terbukti dengan sikap Mita terhadapnya saat ini. Mulai menjaga jarak.


"Van ... Kayaknya aku harus pulang."


"Kenapa? Kamu tidak nyaman berada disini? Mama Papa ku tidak melarang kamu berlama - lama disini kok. Malah Mama sangat menyukai kamu."


"Bukan begitu Van. Aku__" Kalimat Mita terpotong. Sebab Elvano menyelanya dengan cepat.


"Kamu mulai menjaga jarak dariku. Aku benar kan?"


"Van ... Kita itu ibarat langit dan bumi. Sangat berbeda jauh."


"Apanya yang beda? Status sosial? Mita, bagiku semua itu tidak berarti. Aku sayang sama kamu tulus."


Waduh, gimana nih. Elvano tampak serius dengan ucapannya. Jujur, entah kenapa perlahan - lahan Anjas mulai mencuri kembali perhatiannya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, Elvano sangat baik dan tulus. Mau tidak mau, Mita pun jadi tak enak kalau harus menyakiti perasaan Elvano.

__ADS_1


"Tapi tetap saja Van. Apa kata orang nanti. Setidaknya kamu harus menjaga nama baik keluarga kamu. Dengan tidak menjalin hubungan dengan wanita yang tidak sederajat dengan keluarga kamu."


Elvano merubah posisi duduknya sedikit menyamping. Kemudian diraihnya jemari Mita ke dalam genggamannya. Sembari menatapnya lekat - lekat.


"Mita ... Jujur, aku cinta sama kamu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama kamu. Apa kamu mau menikah denganku?"


Dug Dug ... Dug Dug ... Dug Dug


Kekacauan detak jantung Mita terjadi di dalam sana. Seakan detak jantung itu tengah berdemo ria. Kacau.


Astaga, what is this (apa ini). Kenapa tiba - tiba Elvano melamarnya seperti ini? Apakah Elvano sedang bercanda?


Mita pun terkekeh. Jujur, Mita kurang percaya. Mana mungkin Elvano mau menikah dengannya. Gadis sederhana dari keluarga menengah ke bawah. Yang kata mamanya Anjas, dari kelas rendahan. Ya Tuhan, nyesek amat ucapan mamanya Anjas.


"Kalau bercanda kira - kira dong Van. Hal seperti ini kok malah dijadikan candaan." Seloroh Mita. Sekaligus untuk mengusir rasa gugupnya.


"Aku serius Mit. Aku ingin menikah denganmu."


"Tapi Van ... Aku ..." Jujur, Mita masih ragu. Tapi, kasihan Elvano juga.


"Kamu butuh waktu lagi untuk berpikir? Aku mengerti. Hal ini masih sulit untuk kamu percaya. Tapi aku, akan slalu menunggu jawaban kamu. Hm?" Sambil mengulum senyum manisnya.


Ya ampun. Ini, mata Mita yang kabur, minus, atau gimana ya? Elvano tersenyum seperti itu jadi mirip banget sama Ji Chang Wook. Sumpah, suer deh. Di sambar geledek. Duileh, Mita salah lihat kali.


Mita pun membalas senyuman Elvano. Namun tiba - tiba saja, dengan cepat, Elvano malah menyambar bibirnya. Dan mengulumnya dengan lembut. Mita ingin menolak, tapi tak enak hati. Nanti malah akan menyakiti perasaan Elvano.


"Vano!" Tiba - tiba saja, terdengar suara seorang wanita menghardik.


Sontak, Elvano pun mengakhiri ciumannya. Lalu menoleh ke arah sumber suara.


Seorang wanita bertubuh seksi tengah berdiri di hadapan mereka dengan tatapan tajamnya. Bagai menembus jantung.


Liza.


Wanita itu tampak tengah diliputi amarah yang menggunung.


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2