Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 24


__ADS_3

Taksi yang Mita pesan sudah tiba. Mita hendak membuka pintu taksi itu. Namun tiba - tiba saja, Anjas menarik lengannya dan kemudian memeluk tubuhnya erat. Dan Mita terbelalak dengan sikap Anjas.


Di seberang, ada sepasang mata yang menyaksikan mereka. Dari sorot matanya, tampak ada kekesalan.


Sasha.


Sejak awal perasaannya mendadak jadi tak karuan. Seperti ada firasat yang mengatakan bahwa hubungan Anjas dan Mita bukan hanya sekedar teman dahulu. Sasha merasa ada yang aneh dari sikap Anjas. Untuk itu, saat Anjas pergi ke toilet, Sasha mengikutinya diam - diam. Dan inilah pemandangan yang tampak di depan matanya saat ini. Pemandangan yang menyakitkan hatinya.


..


Perlahan Anjas pun melepaskan pelukannya. Dan menatap Mita lekat. Sudah lama Anjas ingin berada sedekat ini dengan Mita. Rasa rindunya yang kian hari kian menggunung, sedikit demi sedikit terobati. Meski Mita kini malah membencinya.


"Anjas, apa yang kamu lakukan?" tanya Mita dengan kekesalan yang tertahan.


"Aku sudah bilang, aku sangat merindukanmu." Jawab Anjas mantap.


"Mbak, jadi pergi tidak?" tanya si supir taksi mengagetkan mereka.


"Jadi, jadi dong Pak." Sahut Mita antusias.


"Kirain ... ya udah Mbak, cepetan. Kalau mau pelukan nanti aja Mbak. Di rumah lebih enak, lebih nyaman. Tidak akan ada yang mengganggu." Seloroh si supir taksi.


"Eh, si Bapak, sembarangan. Ya sudah, kita jalan Pak." Mita kemudian naik ke taksi tanpa mempedulikan Anjas yang terlihat masih ingin bersamanya.


Taksi itu pun melaju meninggalkan tempat itu dan Anjas yang hanya bisa memandangi kepergian Mita sampai menghilang dari pandangannya.


Hah ... Anjas hanya bisa mendesah panjang. Bagaimana lagi caranya merebut kembali hati Mita. Kalau seperti ini terus keadaannya, bisa - bisa dia kalah langkah dari Elvano. Playboy itu memang tidak bisa dianggap remeh.


Akhirnya Anjas pun kembali ke dalam restoran itu dan duduk kembali di tempatnya semula. Sementara Sasha, kedua bola matanya terus mengawasi Anjas. Dengan hati menahan kesal dan cemburu.


"Lama amat sih Kak ke toiletnya." Seru Anjani sambil mengunyah makanannya.


"Daddy habis pipis atau pup?" tanya Nara polos hingga membuat Anjas tertawa mendengarnya.


"Ha Ha Ha ... bukan dua - duanya. Daddy habis cuci muka aja. Abis Daddy ngantuk." Kilah Anjas demi menghindari pertanyaan aneh Nara selanjutnya.


"Oh ya, kalau kalian masih ingin disini, silahkan. Aku mau balik ke kantor dulu. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Pamit Anjas sembari bangun dari duduknya.


"Daddy tidak makan dulu. Nanti Daddy kelaparan loh." Seru Nara


"Daddy udah kenyang. Nara pulangnya sama Aunty dan Mommy ya? Daddy harus ke kantor nih. Tidak apa - apa kan?"


"Oke Daddy. Nara titip salam ya buat Bunda Mita."


Ikh, anak kecil ini. Pikirannya sudah seperti orang dewasa saja. Dan Anjas pun tersenyum.


"Iya, akan Daddy sampaikan."


Kemudian Anjas bergegas pergi. Di ikuti pandangan kesal Sasha yang sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari Anjas.

__ADS_1


Anjani tahu seperti apa perasaan Sasha saat ini. Sasha kesal karena Anjas tidak menghiraukannya. Bahkan kehadirannya bagai makhluk tak kasat mata di depan Anjas. Sungguh terlalu.


"Nara ..." panggil Anjani lirih.


"Hmm?" sambil mengunyah makanannya.


"Nara kenal Bunda Mita dimana?" Anjani kepo.


"Di sekolah Nara. Dia gurunya Nara. Tapi udah berhenti. Dan kemarin Nara ketemu Bunda di kantornya Daddy." Anak kecil itu emang polos ya? Saking polosnya, jadi bisa buat ngorek informasi.


"Bunda Mita itu, orangnya seperti apa sih? Galak ya?"


Nara menggeleng mantap, "Bunda orangnya baik. Tidak suka marah - marah. Trus, suka ngasih Nara cokelat dan permen."


"Bukannya Daddy melarang Nara makan cokelat dan permen?"


"Iya. Tapi kalau Bunda yang ngasih, Daddy tidak akan marah."


"Oh ya?" Anjani keheranan.


Sementara Sasha semakin kesal mendengarnya. Anjani bisa melihat itu. Sangat jelas dari raut wajahnya yang cantik mendadak jadi suram.


Lalu apa yang bisa Anjani lakukan untuk membantu Sasha. Perasaan seseorang itu tidak bisa di paksakan. Harusnya Sasha mengerti itu. Tapi kita lihat saja nanti. Sejauh mana batas kesabaran Sasha menanti cinta Anjas.


.


.


"Ehem ... Ehem ..." Anjas berdehem sebentar. Dan berhasil mengusik perhatian Mita. Hingga Mita pun mengangkat pandangannya dan menatap Anjas. Yang menatapnya dingin.


Segera Mita mematikan ponselnya dan berdiri sekedar memberi hormat pada atasannya itu.


"Sibuk ya?" celetuk Anjas sambil melirik ponsel Mita. Dalam hati Anjas menebak kalau Mita pasti sedang chatingan dengan Elvano. Dan tebakannya itu tepat sekali.


"Maaf Pak. Saya akan menyelesaikan tugas saya. Apa ada lagi yang bisa saya bantu Pak?" Mita melempar senyum kikuknya. Senyum yang dipaksakan mengembang agar tak terkesan tidak sopan terhadap atasan.


"Sebenarnya banyak. Tapi apa kamu mampu?"


"Saya akan berusaha semampu saya. Kalau saya tidak mampu, Bapak bisa kok langsung memecat saya." Kali ini Mita nyengir kuda.


Dan Anjas terkekeh mendengarnya. Tingkah Mita jadi lucu kelihatannya.


"Jangan harap. Kamu akan jadi sekretaris abadi ku." Kemudian berlalu masuk ke ruangannya.


Sementara Mita terbengong dengan mata melotot. Parah nih si Anjas. Apa seumur hidup Mita akan bekerja dengan Boss aneh seperti Anjas itu. Ikh ... amit - amit. Sehari saja Mita rasanya bosan, gerah, kesal, jengkel, rasanya ingin mencekik Boss aneh itu sampai bola matanya melompat keluar.


Huh, andai saja Mita tidak ceroboh karena sembarangan membubuhkan tanda tangannya di kontrak itu, pasti Mita akan mengundurkan diri sekarang juga.


Eh, tapi, kalau Mita nyicil bayarnya, bisa kali ya? Anggap saja kredit gitu. Tapi nanti. Mungkin Mita akan mencoba membicarakan itu dengan Anjas. Semoga saja Anjas setuju dengan ide anehnya ini.

__ADS_1


.


.


Tibalah jam pulang kantor. Mita melenggang dengan santainya menuju keluar gedung. Begitu sampai di depan, ternyata Elvano sudah menunggu sambil menyandarkan punggungnya di sisi mobil. Melihat kedatangan Mita, Elvano pun tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.


"Hai ..." sapa Elvano.


Mita pun tersenyum sembari menghampiri Elvano.


"Kok mau - maunya merepotkan diri sendiri sih?"


"Ikh, siapa yang repot. Untuk pacar tercinta, aku rela. Meski harus menunggu lama."


"Gombal. Sudah berapa banyak wanita yang kamu perlakukan seperti ini? Pasti banyak kan?"


"Cuma kamu seorang sayang."


"Bohong."


"Serius sayangku." Sambil menyentil gemas hidung Mita.


Di seberang sana, Anjas menyaksikan kemesraan mereka dengan hati mendongkol. Anjas hanya bisa mendengus berat. Tanpa bertegur sapa, bahkan tanpa menoleh sedikitpun, Anjas melewati mereka begitu saja. Langsung masuk ke mobilnya kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terasa begitu memekakkan telinga.


Elvano dan Mita pun saling menatap heran. Akan tetapi, entah kenapa, Mita jadi merasa tak enak hati. Dengan tulus, Anjas sudah meminta maaf padanya. Namun hubungan di antara mereka tidak akan mungkin bisa kembali seperti dulu lagi.


Lebih baik Mita move on. Dan mencoba membuka hatinya untuk Elvano.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Pa kabar readers 🤗


Kabar baek kan?


Cuma mau bilang, so thankyou udah sempat sempatnya membaca karya recehan yang tidak seberapa ini. Semoga bisa menghibur readers semua ya ....


Jangan lupa tetap jaga kesehatan.


Saranghae readers ❤️


Salam hangat


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2