
"Selamat datang ..." Sapa seorang karyawan minimarket yang Anjas datangi.
Anjas terlihat bingung sembari menyapukan pandangannya. Matanya mencari - cari satu benda yang dimaksud Mita. Sebenarnya, bisa saja Anjas meminta tolong Chandra untuk membelikannya. Tapi ini, yang meminta tolong adalah Mita. Jelas Anjas mau - mau saja dan tidak keberatan meski Mita meminta hal yang aneh darinya. Hitung - hitung, Anjas jadi punya sedikit kesempatan untuk meraih kembali perhatian wanita itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya seorang karyawati saat menghampiri Anjas. Sejak datang tadi, Anjas masih terlihat kebingungan. Sehingga karyawati itu datang menghampiri dan menawarkan bantuannya.
"Eum ... Saya sedang mencari sesuatu."
"Sesuatu? Apa itu Pak?"
Anjas tampak sedang menggaruk tengkuknya. Dia masih ragu dan malu mengatakannya. Wajahnya saja jadi bersemu merah seperti itu.
"Pembalut."
Karyawati itu terlihat seperti sedang menahan tawanya. Baru kali ini dia melihat ada pria tampan ingin membeli pembalut.
"Pembalut untuk wanita, ada kan?" Tanya Anjas ragu - ragu. Karyawati itu pun semakin kesulitan menahan tawanya.
"Pembalut memang untuk wanita Pak. Mari Pak, di sebelah sini." Karyawati itu menuntun Anjas ke sebuah rak yang tersimpan berbagai macam pembalut wanita.
Anjas terlihat bingung hendak memilih pembalut yang mana. Lagipula Mita tidak mengatakan pembalut seperti apa yang diinginkannya.
"Bapak mau pilih pembalut yang seperti apa? Ada yang ukurannya kecil, ada yang lebar dan panjang, ada yang biasa, dan ada juga yang ada sayapnya." Terang karyawati itu panjang lebar sembari berusaha menahan tawanya.
Anjas mendesah panjang. Mita ... Mita ... Ukuran kamu berapa sih? Anjas jadi bingung kan?
"Ada juga model terbaru Pak. Lebih nyaman dipakai. Dan aman, tidak akan tembus dan meleber kemana - mana." Tambah karyawati itu.
" Model terbaru?"
" Iya Pak. Lebih gampang cara pakainya. Model pants."
Anjas masih saja terlihat bingung. Gimana ini? Sumpah, seumur - umur baru kali ini Anjas membeli pembalut wanita. Jika bukan karena Mita, mana mau Anjas mempermalukan dirinya seperti ini. Karyawati itu pasti berpikiran yang aneh - aneh tentang Anjas.
"Punya istri Bapak ya?" Tanya karyawati itu tiba - tiba.
"Hah? Istri?"
"Jarang loh ada suami seperti Bapak. Yang mau membelikan barang seperti itu untuk istrinya."
Tapi kini Anjas tersenyum tipis. Entah kenapa kata ISTRI itu terdengar indah di telinganya. Hingga membuat hatinya sedikit berbunga - bunga.
"Jadi, mau yang mana Pak?" Tanya karyawati itu lagi.
"Eum ... Model yang terbaru." Anjas tersipu malu.
"Baik Pak, akan saya siapkan." Karyawati itu pun mengambil pembalut yang dimaksud Anjas dan membawanya ke meja kasir.
.
.
__ADS_1
Di toilet itu, masih sepi. Hanya ada Mita di dalamnya. Anjas pun hati - hati memasuki toilet itu. Dan mendekati toilet tempat Mita berada.
"Mit ... Mita ..." Panggil Anjas pelan.
Mita pun menyembulkan kepalanya dari balik pintu toilet itu.
"Lama amat sih?" Gerutu Mita.
"Sudah untung aku mau membelikannya untukmu. Aku sampai kehilangan muka saat membeli itu."
"Ya udah, sini, berikan." Sembari mengulurkan tangannya. Anjas pun memberikan kantong kresek itu ke tangan Mita. Setelah kantong kresek berpindah ke tangan Mita, Mita pun menutup kembali pintu toiletnya. Dan Anjas menunggunya di luar toilet itu.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Mita telah selesai dengan urusannya. Mita pun keluar dari toilet itu. Dan sangat terkejut saat mendapati Anjas masih menunggunya.
"Dari tadi kamu berdiri disini?" Tanya Mita heran.
Anjas mengangguk.
"Ya ampun. Kenapa tidak tunggu saja di mobil."
"Memangnya kenapa?"
Tiba - tiba ada seorang karyawati pabriknya yang hendak ke toilet itu. Karyawati itu tercengang saat melihat atasannya sedang berdebat dengan seorang wanita di depan toilet. Karyawati itu menatapnya heran.
Waduh, gawat. Pasti karyawati itu berpikir yang bukan - bukan tentang Anjas. Tetapi kemudian, tiba - tiba saja Anjas melingkarkan lengannya di pundak Mita. Lalu mengajak Mita meninggalkan toilet itu.
"Calon istri saya ini. Jangan heran begitu." Kata Anjas pada karyawatinya sembari berlalu sambil terus merangkul pundak Mita.
"Maaf, Pak. Jangan keenakan merangkul pundak orang." Celetuk Mita sembari meringis, takut kalau Anjas tersinggung. Abisnya Anjas sih, kelamaan merangkul pundaknya. Seakan tidak mau melepasnya. Dan apa itu tadi? Calon istri? Enak saja. Bukannya calon istrinya itu Sasha?
"Seenaknya saja bilang kalau aku ini calon istrinya." Gerutu Mita lirih. Hampir tak terdengar.
Akan tetapi, indera pendengaran Anjas termasuk tajam. Dan kalimat Mita itu sempat terdengar olehnya.
"Kamu marah ya soal malam itu?" Tanya Anjas tiba - tiba.
Mita kaget dan melongo, menatap heran Anjas.
"Aku marah? Soal apa?" Suer deh, Mita tidak mengerti arah pembicaraan Anjas.
"Ayahnya Sasha memintaku segera menikahi Sasha. Aku tau, kamu tidak suka mendengarnya."
Mita terkekeh. Kemudian berjalan ke arah mobil Anjas yang terparkir. Dan langsung naik ke mobil itu. Di dalamnya ada Chandra yang sudah bersiap di depan setir.
Kemudian menyusul Anjas. Naik ke mobil itu dengan wajah kesal.
"Ndra, tunggu diluar sebentar." Titah Anjas.
"Baik, Pak." Chandra pun bergegas turun dari mobil itu.
"Kenapa main pergi begitu saja? Aku belum selesai ngomong." Ucap Anjas kesal dengan tingkah Mita.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau ngomong apa?" Mita malah meledek Anjas.
"Please ... Kamu jujur. Sebenarnya bagaimana perasaan kamu padaku?"
"Biasa saja. Lagian kan, diantara kita sudah tidak ada apa - apa lagi? Memangnya apa yang kamu harapkan dariku?"
"Jika aku menikah dengan Sasha, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku?" Mita terlihat gugup dan salah tingkah. Jujur, entah kenapa hati Mita tiba - tiba terasa ngilu mendengarnya. Sama seperti malam itu. Saat ayahnya Sasha meminta Anjas untuk segera menikahi putrinya. Dan Anjas sama sekali tidak menolaknya.
"Terserah kamu. Memangnya apa yang bisa aku lakukan. Lagipula, kalian terlihat sangat cocok." Ucap Mita sembari memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.
Jika Anjas menikahi Sasha? Apa yang akan Mita lakukan? Duh, kok rasanya sakit hati Mita membayangkan kalau hal itu sampai terjadi. Hingga tanpa disadarinya, air matanya pun luruh begitu saja dari pelupuk matanya. Buru - buru Mita menghapus air mata itu sebelum Anjas melihatnya.
Namun terlambat. Sebab Anjas telah lebih dulu melihatnya sebelum Mita menghapus air mata itu. Perlahan Anjas mengulurkan tangannya menyentuh wajah Mita. Sontak Mita pun menoleh, menatap Anjas.
Dan tiba - tiba saja Mita merasakan sapuan hangat bibir Anjas dengan cepat mendarat di bibirnya. Anjas memagut lembut bibir ranum Mita. Yang sudah lama dirindukannya itu. Begitu lama Anjas menikmati permainan bibirnya. Seakan tak ingin melepaskannya lagi. Mita pun hanya bisa memejamkan matanya. Ikut menikmati permainan bibir Anjas. Entah kenapa Mita tidak bisa menolaknya. Seakan Mita pun begitu merindukan saat - saat seperti ini.
Tangan Anjas yang semula menyentuh wajahnya, kini merangkul tubuh Mita dengan sangat erat. Sembari memberinya ciuman yang semakin dalam. Anjas seakan tak ingin terlepas sedikitpun dari Mita. Semakin lama Anjas bahkan semakin beringas. Anjas semakin lupa diri. Hingga sebuah pukulan pelan di dadanya menghentikan Anjas dari aksinya yang semakin tak terkendali itu.
Hiii ... Anjas. Lupa ya kalau Mita lagi datang bulan? Kok bisa kalap begitu? Udah gak nahan ya?
"Aku sangat merindukanmu Mita. Aku masih mencintaimu." Lirih Anjas. Membuat air mata Mita kembali berderai dari pelupuk matanya.
"Anjas ..."
"Aku sangat mencintaimu. Selama empat tahun kita berpisah, tidak sekalipun aku melupakanmu."
"Tapi Anjas, kamu dan Sasha ..."
"Aku tidak serius mengatakan itu. Aku tidak akan pernah menikahi Sasha. Karna aku hanya mencintaimu." Sembari membawa jemarinya menghapus air mata di wajah Mita dengan lembut.
Waduuuh ... Mita harus bagaimana ini? Lalu Elvano? Apa yang akan Mita lakukan pada Elvano?
.......
.......
.......
...Bersambung...
Setelah membaca, boleh dong minta jejaknya 🤗
Agar otor kawe ini makin semangat update nya
Always saranghae ❤️❤️
salam hangat
Otor Kawe
__ADS_1