Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 54


__ADS_3

Di ambang pintu sudah berdiri Oma Lidya dengan wajah penuh selidik.


"Dengan siapa kamu di dalam?"


Anjas menatap mamanya datar.


"Dengan siapa kamu di dalam?" Oma Lidya mengulang pertanyaannya. Sembari pandangan matanya tertuju ke dalam kamarnya Anjas.


"Tidak ada siapa - siapa. Kita bicara di bawah saja, Ma." Anjas hendak menutup pintu kamarnya. Namun secepat kilat Oma Lidya langsung saja masuk ke kamar Anjas sembari menyapukan pandangannya. Mencari di setiap sudut ruangan. Dia yakin mendengar suara seorang wanita. Kira - kira, dimana Anjas menyembunyikannya?


"Ma ... Mama ... Tolong keluar dari kamarku. Tidak ada siapa - siapa Ma." Titah Anjas sambil menyusul langkah Oma Lidya yang kini sedang berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Mita yang tengah bersembunyi di balik pintu, semakin dibuat gugup setengah mati. Situasi benar - benar gawat darurat. Bagaimana jika dia ketahuan? Apa yang akan terjadi nanti?


"Bu Ambar tadi datang menemui Mama ..." Ucap Oma Lidya sambil mendorong daun pintu kamar mandi. Lalu menutupnya kembali saat tidak menemukan apapun di dalamnya.


"Mama tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada keluarga kita. Bu Ambar sudah tau kalau kamu tidak mencintai putrinya." Tambahnya sembari berjalan perlahan menuju pintu.


"Baguslah kalau dia sudah tau. Skarang Mama keluar." Sambil mengikuti mamanya dari belakang.


"Almarhum Kakak kamu pasti sangat kecewa jika mengetahui hal ini. Adik kesayangannya akan mengorbankan kerja kerasnya selama bertahun - tahun, apa yang sudah dia bangun dengan susah payah dari nol besar. Bahkan almarhum Papa kamu juga pasti sangat kecewa."


"Sebenarnya apa yang ingin Mama bicarakan denganku?"


"Apa segitu sulitnya buat kamu menerima Sasha? Nikahi saja dia, toh dia sangat mencintai kamu."


"Tapi aku tidak mencintainya."


"Kalau kalian sudah bersama, lama kelamaan juga bakalan cinta kok. Banyak kasus yang seperti itu."


"Sudahlah, Ma. Aku tidak ingin membahas ini. Tolong Mama keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Anjas mendorong pelan mamanya keluar dan menutup pintu itu kemudian.


Mita masih berdiri di tempatnya dengan wajah tegang, bahkan terlihat pucat. Anjas pun menarik lengan Mita dan membawa Mita kedalam pelukannya.


Mita melingkarkan kedua tangannya di pinggang Anjas. Membalas pelukan itu.


"Sungguh, aku belum siap untuk hal ini. Aku masih takut menghadapi Mama kamu." Ucap Mita dengan kepala bersandar di dada bidang Anjas.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa."


Padahal Anjas sudah bersiap untuk segala kemungkinan terburuk sekalipun.


Tapi eh tapi, masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya Mita keluar dari kamar Anjas? Kalau ketahuan Oma Lidya bisa gawat kan? Bisa ribet deh urusan negara.


Di lantai bawah, terdengar Oma Lidya memanggil Memey.


"Mey ... Memey ..."


"Iya, Nyonya ..." Memey pun datang secepat kilat.


"Ambilkan air minum."


"Baik, Nya." Memey bergegas ke dapur. Tak berapa lama kembali dengan segelas air minum di tangannya.


"Ini, Nya. Silahkan di minum." Sembari menyodorkan segelas air minum.


"Nara mana Mey?" Tanya Oma Lidya setelah meneguk air minum, lalu memberikan kembali gelasnya ke tangan Memey.


"Ada, di kamar, Nya. Bersama pengasuh itu. Oh ya, Nya ... Pengasuh itu kayaknya ..." Memey ragu melanjutkan kalimatnya. Dia teringat kembali ucapan Anjani.


Nah kan? Benar kecemasan Anjani. Si Miss Sosmed ini pasti mulutnya bakalan bocor kemana - mana. Apalagi saat dia mendengar Anjas mengatakan bahwa dia adalah calon suaminya Mita. Jiwa ghibah nya makin bergejolak.


"Ada apa? Kenapa dengan Mita?"


"Tidak jadi akh Nya. Takut kena pasal penyebar hoaks. Alias berita palsu."


"Kecuali kamu menyebarkan berita itu ke media sosial. Lah, ini kan ke saya. Jadi bukan hoaks. Gosip, iya."


"Akh, Nyonya bisa aja. Tapi Memey takut akh Nya. Takut ketahuan sama Den Anjas. Permisi Nya." Memey pun berbalik dan hendak meninggalkan Nyonya nya. Tapi sang Nyonya dengan cepat mencegah Memey.


"Udah lama kamu belum jalan - jalan ke Mall kan Mey?" Goda Oma Lidya. Kalau urusan duit, shopping, Memey tidak akan bisa menolak. Terhitung sudah hampir setahun ART kepo itu belum jalan - jalan ke Mall.


Oma Lidya tahu aja kelemahannya Memey. Rasa penasarannya bertambah saat Memey menyebutkan nama Anjas.


Pelan, sambil malu - malu kucing, Memey pun kembali memutar tubuhnya, menghadap majikannya yang menatapnya dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Tiga kali lipat. Kamu bisa beli apapun yang kamu mau. Smartphone terbaru, kosmetik, sepatu, tas, apalagi ya?" Oma Lidya semakin menggoda Memey. Agar Memey mau memberitahukan rahasia apa yang diketahuinya.


"Mita itu pacarnya Vano. Kamu kenal Vano kan?"


"Oh ... Jadi dia itu pacarnya Den Vano. Pantesan, tadi Den Vano datang kemari dan sempat berantem dengan Den Anjas."


"Berantem dengan Anjas? Kenapa?" Oma Lidya semakin penasaran.


"Memey takut akh Nya. Memey permisi dulu."


"Memey ... Mau kamu saya pecat?"


Memey pun tidak bisa mengelak kalau sudah diancam seperti ini. Mau cari pekerjaan kemana lagi. Masa dia harus pulang ke kampung halamannya? Mau kerja apa di kampung?


Memey meringis sembari menggaruk tengkuknya.


"Kenapa Anjas bisa berantem dengan Vano. Dan ada apa dengan pacarnya Vano?" Tanya Oma Lidya.


"Begini, Nya. Memey cuma heran aja dengan sikapnya Den Anjas."


"Kenapa memangnya dengan sikap Anjas? Ada yang aneh?"


"Sangat aneh malah Nyonya."


"Aneh gimana?"


Memey lebih mendekat ke Oma Lidya.


"Tadi pagi, Memey tidak sengaja melihat Den Anjas mengajak pengasuh itu ke lantai atas. Trus, Memey juga melihat pengasuh itu keluar dari kamarnya Den Anjas. Mereka sering curi - curi pandang sambil senyum - senyum gitu, Nya."


"Oh ya? Kamu salah lihat kali Mey. Mungkin saja Anjas hanya sekedar bersikap baik padanya. Apalagi dia itu pacarnya Vano, sepupu Sasha."


"Nah, itu dia Nya. Memey heran, kalau sama Non Sasha, Den Anjas itu sikapnya terlalu dingin. Tapi kalau sama pengasuh itu, Den Anjas kayak agresif gitu Nya."


"Kamu salah paham kali Mey. Mungkin kamu kebanyakan nonton drama. Jadinya otak kamu itu blank."


"Memey mana mungkin salah, Nya. Apalagi tadi pas Den Anjas dan Den Vano berantem. Den Anjas bilang kalau dia adalah ca__"


"Memey ..." Tiba - tiba Anjani datang dari arah depan. Dan langsung mengambil duduk disebelah Oma Lidya.


"Memey permisi dulu, Nya." Memey pun bergegas kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya.


"Mama kenapa udah pulang, Ma?" Tanya Anjani cepat. Demi mengalihkan pembicaraan.


"Mama hanya merasa sedikit pusing."


"Udah minum obat?"


"Mama mungkin cuma butuh istirahat sebentar. Ya sudah, Mama ke kamar dulu ya?" Sembari bangkit lalu beranjak ke kamarnya.


Hufttt!


Anjani pun bisa bernapas lega. Untung saja dia datang tepat waktu. Kalau tidak Memey pasti sudah membocorkan rahasia kakaknya.


.


.


.


Seperti biasa, malam hari barulah Mita bisa pulang. Dan Anjas sudah menunggunya di luar gerbang, di seberang jalan tidak jauh dari rumahnya.


Dalam perjalanan pulang, sejenak keadaan hening. Hanya Mita yang sesekali memalingkan wajahnya, memperhatikan Anjas yang tengah terfokus pandangannya ke jalanan di depannya.


Mita masih memalingkan wajahnya, saat mereka sampai di depan rumah Mita.


"Maaf, bukannya aku tidak percaya kamu, hanya saja aku benar - benar belum siap." Ucap Mita kemudian, memecah keheningan diantara mereka.


Meski Anjas berkata tidak apa - apa, tapi Mita tahu, Anjas pasti kecewa. Sebab Mita meragukan keberaniannya untuk mengakui hubungan mereka.


Anjas pun menoleh sembari mengulas senyum. Diraihnya jemari Mita kedalam genggamannya.


"Besok kamu tidak perlu lagi datang ke rumah. Datanglah ke kantor." Ucap Anjas.


"Nara gimana?"

__ADS_1


"Aku akan meminta Mama mencarikan pengasuh lain. Aku hanya ingin slalu berada dekat denganmu. Dengan begitu, kecemasanku akan sedikit berkurang. Aku takut kalau Vano akan datang lagi ke rumah dan mengganggu kamu."


"Akan aku pikirkan dulu. Tapi aku tidak janji."


"Mita ..."


"Iya, iya."


Anjas pun meraih tengkuk Mita dan mengecup keningnya lembut.


"Mimpikan aku ya?" Lirih Anjas sembari mengusap lembut bibir merah Mita dengan jempolnya.


Mita pun mengulas senyum manisnya.


"Makasih kamu sudah memberiku kebahagiaan ini. Aku sungguh bahagia bisa memilikimu lagi dalam hidupku. Mungkin aku bisa mati jika aku harus kehilanganmu lagi."


"Gombal." Mita cemberut mendengar ucapan Anjas.


"Sudah kubilang jangan cemberut di depanku."


Mita tersenyum manis, dengan cepat dikecupnya singkat bibir Anjas. Sebelum Anjas yang menyergap bibirnya lebih dahulu.


"Aku turun dulu. Hati - hati pulangnya ya?" Mita pun bergegas turun dari mobil itu kemudian. Baru saja selangkah, terdengar Anjas memanggilnya. Mita berbalik. Dilihatnya Anjas datang menghampiri.


"Ada apa?" Tanya Mita.


"Aku butuh vitaminku." Sembari menarik Mita kedalam pelukannya.


Mita pun membalas pelukan Anjas. Entah kenapa, Anjas semakin tak ingin terpisahkan. Seolah setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi.


"Sudah cukup?" Tanya Mita.


"Belum. Sebentar lagi." Anjas malah semakin mempererat pelukannya. Semakin tenggelam dalam perasaannya yang semakin mendalam.


Dua insan yang sedang kasmaran itu pun masih berpelukan mesra. Sementara di seberang jalan, tak jauh dari tempat mereka berdiri, lagi - lagi, seseorang tengah memperhatikan mereka dari dalam mobil yang sedang terparkir.


Elvano.


Wajahnya tampak diliputi amarah. Cemburu yang semakin menguasainya. Elvano menggeram, mengepalkan tinjunya erat. Mata yang mulai berkaca - kaca.


Sakit rasanya melihat pemandangan itu. Wanita yang dicintainya lebih memilih kembali ke pelukan mantannya. Sungguh perih hati Elvano. Rasanya dia tidak bisa menerima semua ini.


.


.


.


"Ada apa Van? Tumben kamu datang menemui Om? Apa kamu punya masalah?" Tanya Sandy Abraham, pamannya. Saat Elvano menemui pria paruh baya itu di rumahnya.


"Aku butuh bantuan Om?"


"Kamu butuh bantuan Om? Tumben. Apa yang bisa Om bantu?"


Elvano menghela napas sebentar. Kemudian mengutarakan niatnya. Pak Sandy mengangguk - anggukkan kepalanya. Tanda mengerti dengan maksud ucapan Elvano.


"Baiklah. Tapi, Om rasa kamu butuh persetujuan Papa kamu. Karena dana yang nanti akan kamu keluarkan itu bukan jumlah yang kecil. Jadi sebaiknya kamu minta persetujuan Papa kamu dulu. Kalau Papa kamu setuju, kamu hubungi Om lagi."


"Baik, Om. Tapi makasih sebelumnya."


"Ngomong - ngomong, kalau boleh Om tau, kenapa kamu melakukan ini? Bukankah dia teman kamu?"


Sebuah seringai tipis terukir di wajah Elvano. Entah apa yang direncanakannya kali ini. Sebuah rencana yang terdorong atas rasa cemburu.


"Nanti Om juga akan tau sendiri."


.......


.......


.......


......***Bersambung......


Thankyou so much buat readers ter❤️

__ADS_1


Saranghae ❤️***


__ADS_2