
Mita masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Anjas tersenyum lebar menatapnya.
Mita bahkan harus susah payah menelan ludah. Keberuntungan macam apa ini. Ini jelas kesialan. Kesialan yang nyata. Orang yang selalu berusaha dia hindari justru selalu bertemu dengannya. Tanpa terduga.
Dan sekarang, mereka justru akan sering bertemu satu sama lain. Setiap hari.
Oh god ... Lelucon macam apa ini ?
"Maaf, mungkin aku salah masuk ruangan. Bapak - bapak berkumis tadi mungkin salah ya. Maaf, aku permisi dulu." Mita tidak tahu mau bilang apa lagi. Yang terlintas di benaknya hanya menghindar dan menjauh dari makhluk yang bernama Anjas.
Mita hendak melangkahkan kakinya. Namun dengan cepat si asisten itu menghentikannya.
"Nona Anamita, kamu tidak salah masuk ruangan. Beliau ini adalah atasan kamu sekarang." Ujar Chandra.
"Jadi kamu sekretaris ku yang baru?" Anjas masih menatap Mita dengan senyum yang terkembang.
Entah kenapa Mita merasa senyum Anjas itu seperti sedang meledeknya.
Mita menghela napas panjang, menghembuskannya kasar. Kemudian dengan mantap berkata,
"Maaf skali, aku mengundurkan diri sekarang juga."
"Apa sebelum tanda tangan kontrak, kamu tidak baca dulu isi kontraknya?" tanya Chandra membuat Mita bingung jadinya.
Chandra mengambil surat perjanjian kontrak Mita dan menyerahkannya pada Mita.
"Baca baik - baik."
Mita kemudian memusatkan perhatiannya pada isi kontrak itu. Membacanya dengan teliti dari awal hingga akhir.
Awalnya isi kontrak itu terlihat seperti pada umumnya. Tidak ada yang aneh - aneh. Namun saat matanya membaca satu poin yang hampir terlewatkan, Mita pun hanya bisa melongo dengan mulut mangap.
Poin itu menyebutkan bahwa Mita tidak boleh mengundurkan diri selama masa percobaan tiga bulan kedepannya. Jika tidak, akan di tuntut ganti rugi. Dan yang membuat Mita hampir tidak mempercayainya adalah nominal biaya ganti rugi yang begitu besar.
Astaga. Apa ini pemerasan ? Kenapa Mita bodoh sekali. Harusnya dia baca dulu isi kontraknya sebelum sembarangan membubuhkan tanda tangannya. Kalau sudah begini, Mita bisa apa lagi ? Mita hanya bisa pasrah sekarang.
"Silahkan duduk dulu. Chandra akan menjelaskan apa saja tugas kamu," seru Anjas masih dengan senyum terkembang.
"Silahkan." Kembali Anjas mempersilahkan Mita duduk. Karena Mita hanya bengong memandanginya.
Apa - apaan ini? Apa takdir sedang mempermainkan aku?
Mita hanya bisa membatin. Masih tidak bisa mempercayai kenyataan yang ada di depan matanya. Anjas selalu berada di waktu dan tempat yang tidak Mita harapkan. Kenapa mereka selalu saja bertemu. Apa takdir sengaja ingin membuka kembali luka lama Mita yang bahkan belum mengering hingga kini.
Empat tahun. Ya, empat tahun Mita menahan luka itu. Tanpa tahu alasan Anjas mencampakkannya dulu. Dan baru sekarang dia mengetahui alasan Anjas meninggalkannya dulu itu tidak lain karena Sasha. Wanita lain dalam hidup Anjas.
"Nona Anamita, Pak Anjas mempersilahkan anda duduk." Seru Chandra mengingatkan.
Mita tersentak, seakan tersadar dari lamunannya. Namun masih enggan mengambil duduk di depan Anjas.
__ADS_1
"Oh ya, Chandra. Siapkan satu meja untuk dia. Apa sebaiknya kita satu ruangan saja? Biar interaksinya lancar. Tidak ada hambatan." Ucap Anjas seolah sedang mempermainkan Mita.
"Apa? Satu ruangan dengan kamu? Di ruangan sekecil ini?" Mita menyapukan pandangannya ke seisi ruangan yang lumayan besar itu. Namun terasa kecil bagi Mita karena ada makhluk yang bernama Anjas di dalamnya.
"Jaga sikap kamu. Dia ini atasan kamu. Yang sopan kalau bicara dengan atasan." Tegur Chandra sebagai asisten yang baik dan menghormati atasan.
Namun Anjas hanya tersenyum menatap tingkah Mita. Hingga membuat Chandra keheranan. Sambil memandangi Anjas dan Mita bergantian.
"Aku tidak mau." Mita kesal melihat Anjas yang tampak seperti sedang meledeknya.
"Baiklah. Kalau begitu meja kamu akan berada di luar ruangan ini."
"Memang sebaiknya begitu." Sahut Mita ketus.
"Chandra, antar dia ke mejanya. Jelaskan padanya, apa saja tugasnya."
"Baik, Pak."
"Mari Nona, ikut saya."
Chandra melangkah keluar di ikuti oleh Mita yang mengekor di belakang Chandra.
Chandra menunjukkan pada Mita di mana meja kerjanya. Dengan lengkap, Chandra mulai menjelaskan kepada Mita tentang tugas - tugasnya. Mita pun menyimak dengan baik. Meski sebenarnya semangat kerjanya anjlok. Turun drastis dan berhamburan entah kemana.
Apa mungkin Mita bisa bertahan untuk waktu tiga bulan lamanya? Bersama Anjas?
Apa Mita berpura - pura membuat kesalahan saja. Agar dia di pecat dan tidak perlu bertemu Anjas lagi.
Ah ya. Kesalahan. Ide yang bagus.
Tulululut .... tulululut ... tulululut ...
Suara dering telepon paralel yang terhubung langsung ke ruangan Anjas mengagetkan Mita. Membuat ide brilian yang baru saja melintas di benaknya berantakan dan sirna dalam sekejap.
"Halo ..." sapa Mita ketus.
"Ke ruanganku, skarang!"
Mita mendengus kemudian melenggang memasuki ruangan Anjas yang hanya berjarak beberapa langkah dari mejanya.
"Ada perlu apa Bapak memanggil ku" wajah Mita benar - benar terlihat kesal. Dia mulai memikirkan, kira - kira kesalahan apa yang dilakukannya agar secepatnya dia di pecat. Dan tidak perlu membayar ganti rugi. Karena sudah melanggar kontrak.
"Tolong kamu periksa semua laporan - laporan ini. Temukan kesalahan dalam laporan ini sekecil apapun itu."
Anjas menyorongkan setumpuk berkas laporan ke arah Mita. Yang disambut dengan wajah melongo Mita.
"Sebanyak ini?" Mita keheranan.
Anjas mengangguk, dengan ekspresi datarnya menatap Mita.
__ADS_1
"Kesalahan seperti apa?"
"Seperti kesalahan pengetikan mungkin. Typo. Trus, kesalahan ejaan. Atau mungkin ada tanda tanganku yang menggunakan tinta berwarna lain." Anjas seperti sedang mempermainkan Mita.
"Hanya itu?"
Anjas kembali mengangguk.
Mita hanya bisa menelan ludah yang tiba - tiba terasa sulit melewati tenggorokannya.
Gila. Tugas apaan seperti ini. Mita menggerutu dalam hatinya. Dia hanya bisa menyesali keputusannya berhenti dari sekolah. Ternyata keputusannya itu salah besar. Dan justru membuatnya terjebak bersama makhluk tak berperasaan ini.
"Baiklah. Aku bawa ke meja ku saja Pak."
Mita mulai mengulurkan tangannya hendak mengambil setumpuk laporan itu.
"Tidak perlu. Di sini saja. Duduk di sofa itu." Sambil menunjuk sofa di sudut ruangan.
"Kan aku punya meja sendiri. Kenapa harus disini?"
"Aku atasan kamu. Tidak boleh protes. Atau gaji kamu akan aku potong."
"Tidak perlu Pak. Pecat saja sekalian. Aku tidak keberatan." Mita menyunggingkan senyum anehnya.
Anjas terdiam. Sambil terus menatap Mita. Hah, andai saja Mita tahu, betapa Anjas ingin sekali memeluknya saat ini. Namun kebencian di hati Mita membuat Anjas mengurungkan niatnya.
"Tidak semudah itu aku memecat kamu. Jangan pernah berpikir untuk membuat kesalahan, agar aku memecat kamu. Karna itu tidak akan pernah terjadi."
Astaga. Dari mana Anjas tahu isi pikiran Mita? Apa dia bisa membaca pikiran orang?
Akhirnya Mita pun hanya bisa menuruti perintah atasannya itu. Dengan wajah cemberut dia mengambil setumpuk laporan itu. Dan membawanya ke sofa di sudut ruangan. Satu per satu laporan itu mulai di periksanya dengan teliti. Menemukan typo, kesalahan ejaan, atau apapun itu. Sesuai perintah atasannya yang aneh itu.
Sementara di belakang mejanya, Anjas hanya bisa memperhatikan Mita. Sambil tersenyum - senyum sendiri.
Tiba - tiba saja Anjas mendapatkan ide aneh ini. Hanya agar dia bisa bersama dengan Mita. Semoga saja, seiring berjalannya waktu, Mita bisa kembali membuka hatinya untuk Anjas. Dan memaafkan kesalahannya dulu.
"Atasan gila. Tidak ada yang salah dengan semua laporan ini. Apa dia sedang mempermainkan aku? Atau dia malah menganggap aku bodoh? iiikh ... dasar menyebalkan." Mita menggerutu sendiri sambil membolak - balikkan setiap halaman laporan.
Mita melayangkan pandangannya ke Anjas. Mita benar - benar kesal di buatnya. Sedangkan Anjas hanya tersenyum menatapnya.
Kesempatan yang sayang untuk di lewatkan. Anjas mulai berpikiran usil.
...*...
...*...
...*...
...-Bersambung-...
__ADS_1