
Kediaman Winata.
Pagi hari.
Oma Lidya tampak duduk di ruang tengah dengan bersidekap dada. Menunggu kedatangan seseorang yang telah membuat hatinya geram. Dan seseorang itu pun kini terlihat memasuki rumah dengan santainya.
"Anjas ... Dari mana saja kamu? Kenapa tidak pulang semalam?" Rentetan pertanyaan Oma Lidya dengan hati kesal. Sembari berdiri, menghampiri Anjas yang kini menghentikan langkahnya.
Anjas tahu hal ini pasti akan terjadi. Karena memang tidak ada satu hal pun yang bisa disembunyikan dari mamanya mengenai Winata Group.
"Aku rasa Mama tidak perlu tahu." Jawab Anjas enteng tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun. Seakan enggan bertatap muka dengan mamanya.
"Jelaskan pada Mama apa yang terjadi."
"Tanpa aku jelaskan pun Mama sudah pasti tahu apa yang terjadi."
"Dengar, Anjas. Mama tidak bisa menerima semua ini. Kamu sudah mengorbankan keluarga kita hanya demi keegoisan kamu itu. Kamu benar - benar sudah membuat Mama kecewa. Kamu sudah menghancurkan impian Almarhum Papa kamu, Almarhum Kakak kamu. Bahkan kamu sudah mengorbankan masa depan adik kamu dan Nara." Amarah Oma Lidya benar - benar tak tertahan lagi.
Sambil memegangi dadanya, wanita paruh baya itu berusaha menguasai dirinya. Menormalkan kembali detak jantungnya yang semakin berpacu, menormalkan kembali darahnya yang semakin mendidih. Yang terbakar oleh api amarah.
"Lalu bagaimana dengan impianku? Apa selama ini Mama pernah bertanya, apa yang aku inginkan? Selama ini, aku hanya mengikuti keinginan Mama. Apa Mama pernah memikirkan bagaimana perasaanku?" Sembari memalingkan wajahnya, menatap tajam mamanya. Anjas pun mulai terpancing.
"Sejak aku kembali ke rumah ini, tidak ada yang pernah memikirkan perasaanku. Tidak ada yang peduli padaku. Demi Mama, demi Nara, demi kalian semua, aku mengorbankan kebahagiaanku sendiri."
Ya, kehidupan yang Anjas jalani selama empat tahun terakhir ini hanyalah mengikuti keinginan mamanya. Sejujurnya, sejak ayah dan kakaknya meninggal, Anjas sama sekali tidak ingin mengambil alih Winata Group. Dia hanya ingin menjalani kehidupannya sendiri sesuai dengan kata hatinya. Akan tetapi mamanya selalu memaksa.
Padahal kondisi Winata Group saat itu sedang berada di ambang kehancuran. Bahkan terancam gulung tikar. Tapi karena Oma Lidya yang terlalu antusias, Oma Lidya pun menerima tawaran Sasha. Yang menawarkan bantuannya dengan meminta ayahnya berinvestasi di Winata Group. Tentu saja saat itu Oma Lidya menyadari kalau Sasha menaruh hati pada Anjas. Hingga Oma Lidya pun mengiming - imingi Sasha dengan perjodohan antara dirinya dengan Anjas.
Sasha yang kebetulan sangat menyukai Anjas pun, tentu saja tidak menolak. Bahkan sangat ingin Anjas menjadi miliknya.
"Jadi kamu mulai menyalahkan Mama?"
"Mama ... Kak Anjas ..." Anjani tiba - tiba datang karena mendengar perdebatan mama dan kakaknya.
"Tolong berhentilah. Aku tidak ingin perdebatan Mama dan Kakak sampai dilihat Nara. Dia akan ketakutan."
"Tolong kamu temani Nara sebentar." Pinta Anjas.
"Baik, Kak." Anjani pun beranjak ke kamarnya Nara.
"Katakan, apa hubungan kamu dengan pacarnya Vano?" Tanya Oma Lidya dengan nada penuh penekanan.
Anjas menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan kemudian.
"Dia bukan pacarnya Vano."
"Jelas tidak lagi sekarang. Karena kamu sudah merebutnya dari Vano. Pantas saja Vano melakukan ini. Papanya Sasha adalah pamannya. Dan mereka adalah orang - orang yang berkuasa. Karena kamu sudah merebut pacarnya, dan kamu selingkuh di belakang Sasha. Sekarang lihat ... Lihat, apa yang terjadi pada keluarga kita. Apa tidak ada perempuan lain yang bi__"
"Mita adalah wanita yang aku cintai, sejak dulu sampai detik ini." Tegas Anjas sambil menatap tajam mamanya.
Oma Lidya pun tertegun sejenak. Mencoba memahami ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Anjas. Dan kini, Oma Lidya mulai paham.
"Jangan bilang kalau dia adalah wanita masa lalu kamu itu."
"Iya. Mama benar."
"Jadi, wanita rendahan itu adalah Mita?"
"Berhenti mengatakannya rendahan."
"Mama tidak menyetujui hubungan kalian. Sampai kapanpun, Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Karena wanita rendahan itu keluarga kita harus hidup menderita."
"Stop Mama. Jangan pernah mengatakan Mita rendahan. Aku benar - benar tidak suka."
"Sekarang, bagaimana kita harus hidup? Kita sudah tidak punya apa - apa lagi. Dengar Anjas, sampai mati pun Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Paham?" Kemudian beranjak pergi meninggalkan Anjas.
"Aku tidak peduli. Dan aku tidak butuh restu Mama." Lirih Anjas bergumam sambil memandangi kepergian mamanya.
Keputusan yang sulit memang. Tapi Anjas sudah bertekad. Sejak bertemu Mita kembali, sejujurnya Anjas sudah memikirkan ini sebelumnya. Sudah saatnya dia memikirkan masa depannya sendiri. Dan kebahagiaannya hanyalah Mita.
.
.
.
Sementara di tempat berbeda, pagi yang sama.
Mita berjalan mengendap - endap memasuki rumahnya. Semalam dia tidak pulang. Untungnya, dia sudah meminta tolong Nayla membohongi mamanya. Mita meminta Nayla mengatakan pada mamanya bahwa malam itu dia akan menginap di rumah Nayla.
Tapi, meskipun begitu, Mita tetap merasa tidak enak hati pada mamanya. Sebab dengan sengaja telah berbohong. Hanya demi menghabiskan malam bersama Anjas. Sedangkan Nayla tidak tahu menahu mengenai hubungan Mita dengan Anjas yang telah terjalin kembali.
Pelan Mita mulai mendorong daun pintu kamarnya. Saat tiba - tiba terdengar suara cempreng memanggil namanya.
"Mita ..."
__ADS_1
Mita pun terkesiap. Dengan hati berdebar - debar. Berharap mamanya tidak akan bertanya lebih.
"Dari mana saja kamu?"
Jleb!
Mita menelan salivanya dalam - dalam. Apa Nayla tidak memberitahu mamanya kalau dia menginap di rumah Nayla semalam? Yah, walaupun itu bohong sih. Hadeh, bisa ribet nih urusan negara kalau kebohongannya terungkap.
"Kenapa semalam kamu tidak pulang? Semalam Vano datang mencari kamu. Ada apa diantara kalian berdua? Apa kalian bertengkar?"
"Satu - satu dong Ma pertanyaannya. Aku harus jawab yang mana dulu nih?" Mita berpura - pura santai. Padahal mah, urat sarafnya sudah menegang saat ini.
"Jawab saja."
"Semalam aku menginap di rumahnya Nayla. Orderannya banyak, jadi aku membantunya."
"Mama tau."
"Kalau tau kenapa nanya, Ma ..."
"Mama hanya memastikan, apakah kamu akan berbohong atau tidak. Skarang jawab, ada apa antara kamu dan Vano."
"Jangan bahas soal Vano lagi, Ma." Sembari melenggang memasuki kamarnya. Kemudian meletakkan tasnya di nakas.
Mama Retno pun ikut masuk ke kamar Mita. Tentu saja suara cemprengnya masih terdengar.
"Memangnya kenapa? Kalian pasti lagi berantem. Mama benar kan?"
"Antara aku dan Vano tidak ada hubungan apa - apa. Sejak awal. Jadi tolong stop membahas soal Vano. Oke?" Tegas Mita. Kemudian mengambil handuknya. Hari ini dia ada janji dengan Anjas untuk menemani Anjas mencari pekerjaan. Maklum, Anjas kan sekarang pengangguran. Jadi dia harus mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Dan demi impiannya untuk segera menikahi Mita.
"Maksud kamu putus? Begitu?"
"Iya. Vano tidak benar - benar menyukaiku. Dia hanya bermain - main. Jadi untuk apa aku menjalin hubungan dengan laki - laki seperti itu."
"Jangan bilang kalau semua karena Anjas."
Mita menghembuskan napasnya kasar, "Kalau iya, memangnya kenapa Ma?"
"Mama tidak setuju. Mama tidak akan merestui kalian. Laki - laki tidak bertanggung jawab itu sudah meninggalkan kamu dulu. Mama yakin pasti karena wanita lain. Apa kamu sudah lupa?"
Waduh, dendam lama bersemi kembali nih. Segitu susahnya Mama Retno melupakan kesalahan Anjas dulu.
"Terse__" Ucapan Mita terpotong. Bukan karena Mama Retno menyelanya. Melainkan karena di depan terdengar suara seseorang yang sedang bertamu.
"Permisi ... Apa ada orang di rumah?" Suara merdu seorang wanita terdengar dari arah ruang tamu.
"Maaf, anda siapa ya?" Tanya Mama Retno dengan dahi mengerut. Sembari mengamati wanita yang sedang berdiri di ambang pintu rumahnya itu.
Wanita itu pun melakukan hal yang sama. Mengamati Mama Retno dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sampai tiba - tiba, wanita itu pun berseru dengan girangnya.
"Sulastri?"
Mama Retno terkejut bukan kepalang, ada orang yang mengetahui nama aslinya sebelum berganti menjadi Retno.
"Marni?" Seru Mama Retno tak kalah girangnya.
Wanita yang di panggil Mama Retno dengan sebutan Marni itu pun terlihat sumringah.
"Kamu Marni kan?" Mama Retno menghampiri wanita yang dipanggilnya Marni.
"Iya, ini aku, Marni." Wanita itu pun membenarkan.
"Ya ampuuun ... Sudah lama sekali ya kita tidak pernah bertemu lagi. Sejak kamu menikah dan pindah ke kota, aku jadi kehilangan teman baikku. Wah, waaah ... Kamu semakin cantik saja, Marni. Kelihatan masih seperti anak gadis loh."
"Akh ... Kamu ini bisa aja."
"Eh, ayo masuk. Duduk dulu."
Wanita itu pun masuk dan mengambil duduk.
"Oh, ya. Ada apa kamu datang kemari?" Tanya Mama Retno.
Wanita itu pun tersadar. Saking senangnya bisa bertemu kembali dengan teman lama, hampir saja dia melupakan tujuannya datang ke rumah itu.
"Tunggu dulu ..." Wanita itu tampak berpikir sejenak.
"Kedatanganku kemari untuk bertemu seseorang. Apakah kamu ... Kamu ..."
"Tante Maria?" Tiba - tiba Mita datang setelah mandi dan berganti pakaian.
Cepat amat Mita mandinya ya? Mandi bebek kali si Mita.
Wanita yang dipanggil Mita dengan sebutan Tante Maria itu pun menoleh. Spontan bangkit dari duduknya. Sambil menatap tak percaya.
Yap. Wanita paruh baya yang masih nampak aura kecantikannya itu adalah Mama Maria, mamanya Elvano.
__ADS_1
Ealaaah ... Ternyata dunia itu memang sempit ya? Kok bisa Mama Maria dan Mama Retno berteman? Apakah ini takdir, atau memang hanya kebetulan saja?
Anggap saja kebetulan. Kalaupun takdir, mungkin karena Tuhan memang ingin mempertemukan dua teman lama itu. Tidak ada hubungannya dengan Mita.
"Mita? Jadi, Lastri, Mita ini anak kamu?" Tanya Mama Maria tak percaya.
Mama Retno pun bangkit dari duduknya.
"Iya, Mita ini anakku satu - satunya. Tapi jangan panggil Lastri lagi dong. Panggil saja aku Retno." Mama Retno tersipu malu.
"Oh ya, apa kalian ini sudah saling mengenal?" Tanya Mama Retno kemudian.
"Iya. Kebetulan Mita ini adalah teman dari anakku, Vano. Dan kedatanganku kemari untuk bertemu dengan Mita."
"Vano? Jadi, Vano itu anak kamu?" Mama Retno pun terkejut mendengarnya. Tidak disangka, dunia ini memang hanya selebar daun kelor.
Mama Maria mengangguk sembari tersenyum.
"Ya ampuuun ... Pantesan, pertama kali ketemu saja aku merasa seperti sudah lama mengenal Vano. Ternyata dia itu anak kamu."
"Mita ... Kemari." Panggil Mama Retno.
Mita pun semakin mendekat.
"Kenalkan, ini teman lama Mama." Ucap Mama Retno memperkenalkan.
Mita cukup terkejut. Ternyata mamanya Elvano adalah teman dekat mamanya. Terus, apa Mita harus bilang wow gitu? Mita cukup menyunggingkan senyum manisnya.
"Oh ya, katanya tadi kamu ada perlu dengan Mita. Kalau begitu, silahkan kalian mengobrol dulu. Aku tinggal dulu sebentar ya?"
Mama Retno pun beranjak ke dapur. Meninggalkan Mama Maria dan Mita yang masih dalam kebingungan atas kedatangan wanita paruh baya itu ke rumahnya.
"Maaf, Tante. Kira - kira Tante ada perlu apa ingin bertemu dengan saya?" Tanya Mita agak sungkan.
Mama Maria menghela napas sebentar, "Apa ada masalah antara kamu dan Vano?"
Mita pun terhenyak. Jadi ini maksud kedatangan Mama Maria. Kenapa Elvano harus menggunakan mamanya untuk melunakkan hati Mita? Kekanak - kanakan sekali.
"Apa Vano yang meminta Tante datang kemari?"
"Tidak. Tante datang atas keinginan Tante sendiri."
"Maaf, Tante. Bukannya saya bermak__"
"Vano sakit." Sela Mama Maria cepat.
"Semalam dia pulang dalam keadaan mabuk berat. Dan dia terus memanggil - manggil namamu. Jadi Tante pikir, ada masalah diantara kalian berdua."
Mita menghembuskan napasnya panjang.
"Masalah diantara kami sudah selesai. Hanya sebuah kesalah - pahaman kecil saja Tante."
"Tapi, dari yang Tante lihat, tidak seperti itu."
Mita tersenyum tipis, "Tante mungkin sudah salah mengira. Sa__"
"Vano mencoba bunuh diri." Sela Mama Maria lagi.
Dan kali ini Mita sangat terkejut. Elvano mencoba bunuh diri? Si playboy itu?
Oh my God.
Lelucon macam apa lagi ini. Apa Elvano itu anak kecil sampai berpikiran pendek seperti itu. Lah, terus ... Apa urusannya dengan Mita? Kalau mau mati, ya silahkan saja. Jangan ajak - ajak orang lain dong.
"Bu_bunuh diri?" Mita pun tergagap.
"Tante mau minta tolong sama kamu. Tolong, kamu temui Vano. Mungkin, dengan kamu menemuinya sebentar, dia akan merasa lebih baik."
"Ta_tapi Tante ..."
Ping ...
Bunyi pesan masuk dari Anjas di ponsel Mita. Mita pun segera membuka isi pesan itu.
Kamu tidak lupa dengan janji kita kan? Jangan lama. Aku butuh vitaminku. I love you.
Jujur, Mita tidak ingin menemui Elvano. Lalu Mita harus bagaimana. Cintanya sedang menunggunya saat ini. Jika dia pergi menemui Elvano, meski hanya sekedar untuk menjenguknya, tetap saja hal itu akan membuat Anjas marah. Dan Mita tidak ingin menyakiti Anjas. Apalagi harus membuatnya kecewa. Lalu Mita harus bagaimana?
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1
**Thankyou so much dah mampir di karya receh otor kawe ini ☺️
Saranghae readers ✌️**