Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 51


__ADS_3

Pagi yang cerah. Secerah rona wajah Anjas yang tampak berseri - seri. Tidak seperti sebelumnya, wajahnya selalu tampak suram. Tapi pagi ini, kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya.


Tentu saja, yang membuat Anjas bahagia saat ini, tidak lain dan tidak bukan adalah pujaan hatinya. Miss Anamita. Ceileeeh ... Yang lagi kasmaran.


Saking jelas terlihat di wajahnya, sampai - sampai Oma Lidya keheranan melihatnya. Pagi itu mereka sedang sarapan bersama. Dan tingkah Anjas benar - benar membuat Oma Lidya keheranan sekaligus penasaran. Apa gerangan yang terjadi dengan putranya. Apa jangan - jangan Anjas lagi kesambet.


Bagaimana tidak akan membuat orang penasaran. Mana ada orang yang sedang makan sambil senyum - senyum sendiri. Bahkan makannya pun sampai lahap begitu. Tapi, emang ada kali ya, yang makan sambil senyum - senyum sendiri. Tuh, Anjas buktinya.


Tapi, kalau Anjani, sudah bisa menebak apa yang membuat kakaknya terlihat bahagia.


"Kok senyum - senyum? Kamu tidak ke kantor hari ini?" Tanya Oma Lidya. Karena memang Anjas tidak terlihat seperti orang yang akan pergi bekerja.


"Aku masih kurang enak badan." Jawab Anjas enteng.


"Kenapa tidak ke dokter kalau memang kamu sakit."


"Tidak perlu, Ma. Aku hanya butuh istirahat saja." Sembari terus mengunyah makanannya.


Loh, sejak kapan Anjas suka membolos kerja. Biasanya, meski kurang enak badan, dia tetap memaksakan diri bekerja. Tapi hari ini?


Wah ... Wah ... Mencurigakan nih! Jangan - jangan ...


Duh, Anjas. Jangan ngeres lagi pikirannya ya. Udah ada penangkal setan cabul belum? Jangan sampai tergoda oleh setan cabul ya? Biasanya, setan akan datang disaat ada kesempatan. Apalagi pas ada mangsa. Klop gak tuh.


"Dan kamu Anjani, kamu tidak ke kampus hari ini?" Tanya Oma Lidya.


"Jam sepuluh, Ma."


"Tugas kuliah kamu gimana? Beres?"


"Beres dong. Anjani gitu loh."


"Anjas, semalam Mama merasa tidak enak hati dengan Bu Ambar. Makan malam yang sudah mereka siapkan untuk kita, jadi berantakan gara - gara kamu." Ucap Oma Lidya mengungkit soal kejadian semalam. Makan malam itu terpaksa dibatalkan.


"Kenapa bukan Mama saja yang pergi? Kan Mama yang paling antusias."


"Gimana ceritanya kalau hanya Mama sendiri yang pergi ke sana. Mama sampai harus meminta maaf berkali - kali. Mama malu, Anjas."


"Aku sudah kenyang." Anjas pun menghentikan aktifitasnya. Meletakkan sendok dengan kasar. Lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan.


"Mama heran dengan Kakak kamu. Kira - kira apa yang membuatnya berubah seperti ini. Biasanya dia selalu menuruti semua kata - kata Mama. Tapi sekarang? Kayaknya Mama harus cari tau penyebab Kakak kamu jadi seperti ini. Apa kamu tau Anjani?"


"Mana aku tau, Ma. Mungkin sebaiknya Mama tidak usah lagi mengatur hidup Kakak. Sampai kapanpun, yang namanya cinta itu tidak bisa dipaksakan."


"Daddy kenapa sih Oma? Kok marah - marah begitu?" Tanya Nara.


"Daddy nya Nara hanya kurang enak badan saja. Wajar kalau dia marah - marah." Jawab Oma Lidya.


"Ya sudah. Oma pergi dulu ya? Jangan lupa sarapannya dihabiskan." Sembari beranjak dari tempat duduknya. Kemudian pergi setelah memberikan kecupan pada Nara.


Beberapa saat setelah Oma Lidya pergi, Mita pun datang.


"Pagi ..." Sapa Mita pada Nara dan Anjani yang sedang sarapan.


"Pagi, Bunda ..." Balas Nara dengan senyum cerianya.


"Pagi, Mit. Eh, udah sarapan belum? Ayo, kita sarapan bareng." Ajak Anjani.


"Makasih, tapi aku sudah sarapan dari rumah." Tolak Mita halus.


Waaah ... Sayang sekali Mita sudah sarapan. Padahal menu sarapan mereka hari ini menggugah selera loh. Bikin ngiler.


"Ayo, Bunda. Kita sarapan bareng. Tidak usah malu Bunda." Ajak Nara.


Aih, anak kecil ini. Ngomongnya udah kayak orang dewasa aja.


Mita tersenyum malu, "Bunda masih kenyang. Makasih atas tawarannya."


"Sudah datang pengasuhnya?" Seseorang tiba - tiba datang mengagetkan mereka.


Anjas.


"Sudah sarapan?" Tanya Anjas sok santai. Mita menyunggingkan senyumnya. Begitu pun Anjas. Keduanya saling melempar senyum. Dengan sorot mata berbinar - binar.

__ADS_1


"Sudah, Pak. Saya sudah sarapan dari rumah." Jawab Mita sopan, dan sok formal. Mita sengaja apa sedang bercanda nih. Semalam udah jadian, sekarang berlagak seolah belum saling mengenal satu sama lain.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Anjani terbatuk - batuk melihat tingkah keduanya.


"Minum dulu Aunty." Nara menyodorkan segelas air minum pada Anjani. Yang langsung disambar oleh Anjani, lantas meneguknya hingga habis.


Perlahan Anjas pun menghampiri Anjani. Lalu mulai berbisik di telinganya.


"Udahan sarapannya. Kamu ke kampus jam sepuluh kan? Berarti masih ada waktu dua jam lebih. Kakak mau minta tolong sama kamu."


"Minta tolong apa sih Kak?" Bisik Anjani pula. Sebenarnya Anjani sudah bisa menebak apa maksud kakaknya itu.


"Tolong kamu ajak Nara main di luar sebentar. Ajak dia beli mainan atau es krim. Pokoknya kamu ajak saja dia keluar sebentar. Ada yang harus Kakak selesaikan. Butuh waktu dan privasi. Kamu mengerti kan?"


Anjani tersenyum genit mendengarnya.


"Aku tau Kakak mau ngapain. Ingat, jangan macam - macam loh Kak. Oke, aku ajak Nara keluar. Tapi hanya satu jam lebih. Soalnya aku harus siap - siap ke kampus."


"Ya sudah, ayo cepat."


Anjani pun menyodorkan tangannya, "Ongkosnya mana."


"Pakai punya kamu dulu. Nanti Kakak ganti."


"Gantinya dua kali lipat ya?"


Anjas mengangguk. Kemudian memberi kode dengan kerlingan matanya. Agar Adiknya itu cepat - cepat mengajak Nara keluar.


"Nara ... Nara mau tidak Aunty beliin mainan?"


"Mau dong Aunty. Sama es krim ya? Boleh kan Daddy?"


"Boleh." Sahut Anjas sembari mengulas senyum.


"Asiiik ..."


Anjani pun segera mengajak Nara keluar. Tinggallah Mita dan Anjas berdua. Sembari celingak - celinguk, perlahan Anjas menghampiri Mita. Kemudian dengan cepat menarik pergelangan tangannya. Mengajaknya naik, menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Bertepatan dengan itu, Memey datang untuk membereskan meja makan. Dan tanpa sengaja, sekilas, sempat melihat Anjas menggandeng tangan Mita. Mengajaknya naik ke lantai dua. Seketika, raut wajah Memey tampak kebingungan.


.


Anjas mengunci pintu kamarnya begitu mereka masuk ke kamar itu.


"Anjas, apa yang kamu lakukan? Gimana kalau ada yang melihat kita." Cemas Mita.


"Aku tidak peduli."


"Kamu sudah gila." Mita pun berbalik. Hendak membuka pintu itu. Tapi kemudian Anjas menariknya dan memeluknya dari belakang.


Sembari menyandarkan dagunya di pundak Mita, Anjas membisikkan kata - kata yang membuat Mita tak bisa menolaknya.


"Aku sangat merindukanmu. Sejak lama aku merindukan saat - saat seperti ini. Apa kamu tau, aku tidak bisa hidup tanpamu." Lirih Anjas sembari mulai mengecup leher jenjang Mita. Hingga membuat Mita merinding jadinya.


Nah kan? Setan cabul mulai menggoda. Apalagi momennya pas.


Ya Rabbi ... Jauhkan dua insan ini dari segala macam godaan. Yaelah Mita, perkuat imanmu. Be carefull. Jangan sampai kebablasan loh ya ...


"Anjas ..." Lirih Mita tak bisa berbuat apa - apa.


Anjas masih menyusuri leher jenjang itu. Seakan memberi akses, Mita pun menengadah. Hingga Anjas bebas berkeliaran.


Dengan cepat Anjas memutar tubuh Mita berhadapan dengannya. Bibirnya yang semula menjelajahi leher jenjang itu, kini berpindah memagut mesra bibir ranum Mita. Menyesapnya lembut dan semakin dalam. Semakin lama semakin rakus Anjas melahapnya. Hingga membuat Mita sedikit kesulitan bernapas.


"Anjas ..." Seru Mita begitu melepaskan ciumannya. Kesempatan bagi Mita untuk meraup oksigen.


"Maaf, aku tidak bisa menahan diriku."


Di sela napasnya yang masih memburu, Anjas merogoh kantong celananya. Dan mengeluarkan sebuah benda mungil nan cantik dari dalam sana.


Cincin yang sudah empat tahun lamanya tersimpan rapi, kini bisa Anjas berikan pada Mita.


"Sudah lama aku ingin memberikan ini." Ucap Anjas sembari meraih jemari Mita. Lalu memakaikan cincin itu di jari manisnya. Kecupan hangat pun mendarat di punggung tangan Mita.

__ADS_1


"Mita ... Maaf jika ini tidak seperti yang kamu harapkan. Tapi, aku ingin mengulang kembali saat itu."


Mita masih menunggu apa yang ingin dikatakan Anjas.


"Maukah kamu menikah denganku?"


Mita tertegun mendengarnya. Bagaimana ini? Mungkinkah hubungan mereka akan mendapatkan restu dari mamanya dan Oma Lidya? Dua emak - emak rempong itu bagaikan pedang terhunus, yang siap menebas kapanpun.


"Aku tau, aku sangat tidak tau malu mengatakan ini. Setelah memutuskan hubungan kita tanpa alasan, kini aku__"


"Aku mau!" Sela Mita cepat.


Kini giliran Anjas yang tertegun mendengarnya. Sedetik kemudian Anjas pun tersenyum dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


"Kamu serius?"


Mita mengangguk sembari mengulas senyum manisnya.


Air mata yang menggenang di pelupuk mata itu pun akhirnya luruh sudah. Anjas tidak bisa menahan perasaan bahagianya. Sambil berderai air mata, dikecupnya lembut kening Mita.


Kecupan itu perlahan mulai turun. Kembali mendarat dibibir ranum Mita. Memagutnya lembut dan penuh cinta. Mata Mita terpejam. Membiarkan Anjas melakukan apa yang diinginkannya.


Untuk sesaat Anjas pun mengakhiri ciumannya. Untuk kemudian mengangkat tubuh ramping Mita, membaringkannya perlahan diatas tempat tidurnya. Dalam sekejap, tubuh Mita sudah berada dibawah kungkungannya. Hembusan napas Anjas pun semakin berat dan memburu. Menahan hasrat yang bergejolak dijiwanya.


"Aku sangat mencintaimu, Mit." Lirih Anjjas dengan tatapan semakin sendu.


"Anjas, maafkan aku."


"Untuk apa?"


"Selama ini aku pikir kamu memutuskan hubungan kita karna wanita lain. Maaf, aku sudah salah menilaimu."


Anjas mengulum senyum. Lalu mengecup kening Mita.


"Anjas ..." Ucap Mita sembari mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh Anjas.


"Maaf karna aku baru mengatakan ini sekarang." Sembari mengusap lembut wajah Anjas dengan sebelah tangannya. Sementara Anjas masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Mita.


"Aku mencintaimu. Aku ingin bersama denganmu, selamanya. Aku ingin jadi milikmu seutuhnya." Ucap Mita mantap. Membuat Anjas tertegun. Menatap Mita sendu.


Mita pun tersenyum. Namun sedetik kemudian, sapuan hangat bibir Anjas mendarat di bibirnya. Mengulum lembut dan penuh cinta. Mita memejamkan matanya. Membalas setiap lum*atan yang Anjas berikan.


Ciuman lembut yang saling berbalas itu pun terasa mulai menuntut. Perlahan Anjas mulai menyusuri leher jenjang Mita. Seakan memberi akses, Mita pun menengadah. Agar Anjas leluasa menyusuri area itu.


Keduanya semakin terbawa dan terbuai oleh perasaan cinta masing - masing. Hingga sedikit menghilangkan akal sehat.


Anjas pun semakin kalap. Saat terdengar suara lenguhan merdu Mita yang tanpa sadar keluar dari mulutnya. Anjas kembali mengulum bibir ranum Mita. Sembari tangannya mulai membuka satu per satu kancing baju Mita. Tak ada penolakan dari Mita. Seakan Mita pun menginginkan hal ini.


Anjas pun kembali menurunkan sapuan hangat bibirnya menyusuri leher jenjang itu hingga ke dada Mita. Yang menampakkan dua buah benda kenyal yang masih tertutupi oleh kain berenda itu. Sembari mengecupnya lembut, satu tangan Anjas mulai menyusuri punggung Mita. Hendak membuka pengait kain berenda itu.


Namun tiba - tiba ...


Drrrt Drrrt Drrrt


Ponsel Anjas yang tergeletak di nakas itu bergetar. Hingga menyadarkan keduanya dari kekhilafan yang hampir saja terjadi.


"Maafkan aku ... Aku tidak bisa menahan diriku." Ucap Anjas di sela napasnya yang memburu. Kemudian turun dan tempat tidurnya dan meraih ponselnya.


Sebuah panggilan dari Chandra.


"Halo ..." Sapa Anjas sambil mengambil duduk di tepian tempat tidur.


Mita pun bangun. Kemudian mengancingkan kembali kancing bajunya. Perlahan mulai beringsut, memeluk Anjas dari belakang. Menyandarkan dagunya di pundak Anjas.


Untung saja Chandra menelfon. Kalau tidak, bisa - bisa mereka kebablasan. Tapi tak apalah. Anjas kan sudah melamar Mita. Dan Mita menerimanya. Paling tidak mereka adalah calon pengantin. Tapi apakah akan semudah itu mewujudkan impian keduanya?


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


Hampir saja☺️☺️☺️


__ADS_2