Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 6


__ADS_3

Deg !!!


Inikah yang di namakan mimpi?


Ataukah ini hanya halusinasi?


Imajinasi semata?


Dari mana datangnya alien ini?


Kenapa dia tiba-tiba berdiri di hadapannya saat ini?


Mita mematung sempurna, bak patung lilin, dengan mata melotot dan mulut menganga.


Si duren sawit? Anjas?


Oh really? (oh benarkah)


Seriously? (serius)


Mita menelan ludah nya berkali-kali. Rasanya dia tidak percaya, tapi ini kenyataan yang ada di depannya kini.


"Your eternal enemy (musuh abadimu). Dia sudah menikah dan punya anak."


Mendadak Mita teringat kembali perkataan Nayla di telepon barusan.


Mita menurunkan pandangannya, menatap Nara yang masih menggandeng tangannya. Kemudian menaikkan kembali pandangannya, menatap si duren sawit yang kini tengah mengulum senyum menatapnya.


Rasanya Mita ingin pingsan saja. Tapi untungnya dia sempat sarapan yang banyak dari rumah. Jadi pingsannya bisa di tunda dulu.


"Bunda, kenalan dulu sama daddy nya Nara." Desak Nara sambil menarik pergelangan tangan Mita.


Anak kecil ini ...


Mita hanya bisa mendengus kesal.


"Daddy ... ini Bunda nya Nara. Cantik kan?"


Nara kini berpindah menggelayuti tangan daddy nya.


Si duren sawit, oh Anjas namanya. Berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Nara.


"Jadi ini Bunda nya Nara yang sering Nara ceritakan itu?" ucap Anjas sambil melirik ke arah Mita.


Nara mengangguk, "iya."


"Yang suka ngasih Nara cokelat dan permen?" Anjas kembali melirik Mita.


"Belum kali ..." gerutu Mita dalam hatinya.


Nara kembali mengangguk. Membuat Mita melotot.


"Ya ampun nih anak. Belum juga sempat aku kasih." Mita kembali menggerutu dalam hatinya.


Anjas kini berdiri dan lebih mendekat ke arah Mita. Membuat jantung Mita dag dig dug ser tak karuan.


Ingat Mita. Dia musuh abadimu. Orang yang sudah memporak-porandakan hidupmu. Si alien sialan.


Mita mengingatkan dirinya sendiri. Tentang siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya. Dalam jarak yang begitu dekat.


Oh astaga, apa orang ini lupa kalau ini di sekolah? Dilarang dekat-dekat.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar?" tanya Anjas sembari mengulum senyum.


Gugup? Mita gugup?


Oh came on Mita. Kuasai dirimu. Ingat, musuh abadi.


"Seperti yang kamu lihat. Bahkan lebih baik." Ucap Mita sembari memasang wajah tersenyum. Meski sedikit di paksakan.


"Oh, jadi Nara ini anak kamu?" tanya Mita cepat demi mengalihkan pembicaraan.


"Bu__" Anjas hampir saja keceplosan. Untung saja dia masih bisa mengontrol lidahnya.


"Iya, Nara anak aku." Jawab Anjas kemudian.


Jujur, Anjas tidak ingin Mita salah mengira tentang dirinya. Namun situasi saat ini sangat tidak menguntungkan baginya. Mengingat Nara ada bersamanya. Mau tidak mau Anjas pun harus mengakui bahwa Nara adalah anaknya, bukan keponakannya.


Meskipun yang sebenarnya, Nara adalah keponakannya. Putri dari almarhum kakaknya.


"Nara ... Nara udah di jemput daddy kan? Jadi Nara udah boleh pulang skarang." Ucap Mita sambil memandang ke arah Nara.


Husss ... Husss ... Pulang saja sana.

__ADS_1


Mita mengusir Anjas secara halus. Rasanya gerah berlama-lama di dekat Anjas.


Apakah Mita masih sakit hati atas perlakuan Anjas dulu?


That's over (itu sudah berakhir).


Dan sekarang, Anjas adalah orang asing.


Ya. Orang asing !


Musuh abadi Mita !


Anjas hanya bisa terkekeh mendengar sindiran halus Mita. Tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun dari Mita.


I miss you (aku merindukanmu).


Anjas hanya bisa membatin.


Andai saja dulu Anjas tidak di hadapkan pada situasi yang sulit. Mungkin saat ini Mita sudah menjadi miliknya.


Mita kembali memasang senyum yang di paksa-paksakan. Sambil tangan kanannya terulur, mempersilahkan Anjas pergi.


Mita benar-benar mengusir Anjas secara halus.


Sepertinya, kali ini akan sulit untuk menaklukkan kembali hati Mita. Mengingat kebencian Mita yang semakin mendalam terhadap Anjas.


Namun Anjas, malah mendekati Nara dan kembali berjongkok di hadapan anak itu.


"Nara ... mulai skarang, daddy akan antar jemput Nara setiap hari. Nara suka kan?" ucap Anjas sambil sesekali melirik Mita.


"What (apa)? Apa maksudnya nih orang. Dia mau antar jemput Nara setiap hari? Wah, pertanda bahaya nih. Musuh mulai mendekat. Harus menghindar."


Gumam Mita dalam hatinya. Sambil menatap kesal Anjas. Namun yang di tatap justru mengulum senyum semanis mungkin. Seakan tengah meledek Mita.


"Asiiiik ... Nara suka. Beneran daddy? Daddy tidak bohong kan?" ucap Nara kegirangan.


Anjas pun kembali berdiri. Dan menggandeng tangan Nara kemudian.


"Kalau daddy sempat, akan daddy tungguin sampe Nara selesai belajarnya. Gimana?"


"Asiiiik ... Nara senang. Tapi bareng sama mommy ya?"


"Uhuk ! Uhuk !" entah karena kesambet atau apa pun itu, tiba-tiba saja Mita tersedak. Entah tersedak apa.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Anjas.


Mita hanya mengangguk sambil membuang pandangannya ke sembarang arah. Sembari mengelus-elus dadanya sendiri.


"Ehem ... ehem ..." Mita berdehem. Memberi pertanda untuk Anjas segera pergi.


"Baiklah. Nara, ayo kita pulang." Ajak Anjas kemudian menggandeng tangan Nara dan mengajaknya pergi.


Mita kembali memaksakan senyumnya sambil melambaikan tangannya mengiringi kepergian Nara dan si alien sialan itu.


"Da da Bunda." Ucap Nayla sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Mita.


___


Mita membuang napasnya kasar. Sambil merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk.


Daddy ...


Anjas sudah jadi seorang ayah ?


Sejak kapan ?


Apa karena itu Anjas meninggalkannya dulu ?


Apa dia tidak sengaja menghamili anak orang ?


Ataukah dia selingkuh di belakang Mita ?


Akh !!! Benar-benar menyebalkan bertemu kembali dengan orang itu. Mana anaknya adalah muridnya lagi.


Kalau sudah begini, bagaimana caranya Mita menghindar?


Akh !!! Sungguh sial.


Mita hanya bisa mendengus kesal berkali-kali.


Eh, tapi ... Anjas terlihat berbeda. Apa itu namanya?


Keren ?

__ADS_1


Bukan, yang satunya.


Tampan ?


That's right (tepat sekali).


Tunggu dulu. Mita memikirkan apa tadi? Anjas tampan? Anjas keren?


Iyuuuuuuh ... Amit-amit !!!


Pria menyebalkan dan tidak punya hati seperti Anjas lebih pantas di telan bumi. Menyesal Mita rasanya, kenapa dulu dia menjalin kasih dengan pria menyebalkan itu.


Sudah tahu bersalah, malah tidak meminta maaf. Memang benar-benar makhluk aneh. Alien sialan.


Lebih baik tidur. Lebih menyenangkan. Pikir Mita.


Namun, belum sempat dia memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Nayla.


"Halo ..." sapa Mita kesal karena sudah mengganggu istirahatnya.


"Aku tunggu di coffeshop ..." Nayla menyebutkan sebuah coffeshop di pertengahan kota. Sebuah coffeshop yang cukup ternama dan memiliki cabang di berbagai penjuru kota.


"Skarang ! Jangan pake lama !"


Mita kembali membuang napasnya kasar. Nayla ini, selalu saja punya topik untuk di bahas. Untung saja setiap kali mereka bertemu, Nayla yang mentraktir. Jadi Mita tidak perlu buang-buang duit.


Dengan sedikit memaksakan diri, akhirnya Mita telah sampai di coffeshop yang di maksud oleh Nayla. Dan langsung mendapati Nayla sedang duduk di meja di satu pojok ruangan. Dekat jendela besar dengan view jalanan yang padat akan kendaraan.


Mita pun mengambil duduk di depan Nayla.


"Sudah dapat info terkini kan?" tanya Nayla sambil menatap tajam Mita.


Mita mendengus kesal sambil memutar bola matanya jengah.


"Aku sudah tau. Dia sudah punya anak."


"Yes, that's true (ya, itu benar)"


"Parahnya, anaknya itu muridku."


Nayla terbelalak kaget, "serius???" dengan suara kencang. Biasa, Nayla memang selalu bersemangat.


Mita menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Meminta Nayla agar tidak mengeraskan suaranya.


"Dua rius. Kalau Darius mah punya nya Dona."


Mita cekikikan mendengar kekesalan sahabatnya.


"Tadi dia datang menjemput anaknya." Ucap Mita cepat sebelum tawanya Nayla pecah dan mengundang atensi pengunjung coffeshop yang lain.


"Sungguh dunia tidak selebar daun kelor. Inikah yang namanya maju kena mundur kena?" seloroh Nayla.


"Bukan kali. Tapi maju kecebur got."


"Masuk jurang, ha ha ha ..." tawa Nayla justru pecah.


Membuat Mita harus memelototinya lebar-lebar. Namun dia justru tertegun. Di kejauhan, nampak sesosok familiar tengah berjalan memasuki coffeshop sambil menerima panggilan telepon.


Dan sesosok familiar itu sukses membuat Mita terbelalak dan harus menelan ludah berkali-kali dengan susah payah.


"Anjas ???"


*


*


*


...-Bersambung-...


**Hai 🤗 readers yang budiman ...


Boleh dong minta dukungannya ...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 🤗


Agar otor kawe ini makin semangat update nya.


So love u all 🤗


Salam ...


Fhatt**

__ADS_1


__ADS_2