
Mita menggerutu sendiri saat mendapat tugas aneh dari Anjas. Masih pagi, mana Mita belum sarapan lagi, eh malah dapat tugas membelikan sarapan untuk Anjas di resto langganannya. Yang letaknya tidak jauh dari kantor. Mana belinya dua porsi lagi. Apa Anjas sedang meledek Mita ya? Udah tahu Mita belum sarapan, eh malah Anjas sengaja mau bikin Mita ngiler.
Dari aromanya saja, sungguh menggugah selera. Perut Mita sampai keroncongan saat wangi aromanya menyeruak dan memenuhi indera penciumannya.
Uuukh ... Dasar Anjas ! Mita kesal setengah mati sambil menyentak - nyentakkan kakinya di lantai resto itu. Sambil tangannya menenteng paper bag yang berisi makanan pesanan Anjas. Kalau bukan karena Mita sudah terlambat berangkat ke kantor, pasti Mita sempat sarapan tadi.
Akhirnya dengan langkah gontai, Mita berjalan ke luar resto. Di depan resto itu Mita berdiri sambil mengutak - atik layar ponselnya. Hendak memesan ojek online. Biar cepat sampai ke kantor.
Namun tiba - tiba di seberang tak jauh dari tempat Mita berdiri, ada seorang ibu - ibu cantik sedang kebingungan. Ibu - ibu itu terlihat baru saja turun dari taksi.
"Ada tidak Bu? Saya harus narik lagi nih Bu. Maklum, ngejar setoran." Desak si supir taksi.
"Aduuuh ... gimana nih, tas saya ketinggalan di mobil." Seru ibu - ibu itu menyahuti si supir taksi.
"Punya mobil kenapa malah naik taksi sih Bu?".
"Darurat Pak."
"Trus gimana nih bayarannya? Atau Ibu mah alasan aja. Bilang saja kalau tidak punya uang, jangan coba - coba mau menipu saya ya Bu? Modelan kayak Ibu ini, banyak. Suka nipu. Ibu bukan penipu kan?"
"Eh Pak, sembarangan aja. Bapak belum tau siapa saya. Enak aja ngatain saya penipu. Tas saya itu ketinggalan di mobil. Nah di dalam tas itu ada dompet saya." Ibu - ibu cantik itu sungguh berani beradu mulut dengan si supir taksi.
"Masih aja ngeyel. Saya laporin polisi nih." Sambil memperlihatkan ponselnya.
"Astaga ... Eh Pak, jangan sembarangan ya? Taksi Bapak saja bisa saya beli sekalian sama perusahaannya. Enak aja mau ngelaporin ke polisi." Ibu - ibu itu tidak mau mengalah.
Di seberang, Mita masih mengamati. Sementara perdebatan itu semakin sengit. Sampai akhirnya Mita tidak bisa berdiam diri. Saat terlihat supir taksi itu akan main kekerasan. Dengan langkah cepat Mita menghampirinya.
"Eh Pak, Pak, jangan gitu dong sama perempuan." Sergah Mita saat supir itu mulai main tangan. Astaga, emang nekat ya si supir taksi.
"Saya sudah merekam perbuatan Bapak. Tinggal saya upload ke medsos, trus viral, dan Bapak bisa kena pasal kekerasan pada perempuan. Atau bisa saja videonya saya kasih caption pelecehan pada perempuan. Gimana? kira - kira Bapak pilih caption yang mana? Kekerasan atau pelecehan?" ancam Mita untuk menakut - nakuti si supir taksi.
Si supir pun terlihat gentar.
"Jangan gitu dong Neng. Ibu ini tidak mau membayar ongkos taksi saya. Sudah tau tidak punya uang malah naik taksi. Penampilannya saja berkelas. Tapi nyatanya, tidak jauh beda sama penipu." Gerutu si supir.
"Eh ... sembarangan ngatain saya penipu. Belum tau ya siapa saya?" geram si Ibu cantik itu.
"Ya sudah, biar saya yang bayar. Berapa Pak ongkosnya?" tanya Mita.
"Dua ratus ribu Neng."
"Buseeet ... mahal amat Pak. Bapak mau nipu ya?"
"Ya emang segitu Neng."
"Ya sudah," Mita mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.
"Nih," sembari menyodorkan uang itu dan langsung di sambar si supir taksi itu dari tangan Mita.
"Gitu dong. Makasih Neng."
"Ya sudah sana, pergi."
Supir taksi itu pun bergegas naik ke taksinya dan mulai mengemudikan taksinya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Makasih ya?" kata ibu itu sembari mengulum senyum menatap Mita.
"Sama - sama Bu. Oh ya, kalau gitu saya permisi dulu Bu." Pamit Mita namun ibu - ibu cantik itu mencegah Mita cepat.
"Eh, saya belum tau nama kamu. Kalau nanti kita ketemu lagi, saya akan ganti uang kamu."
"Tidak usah Bu, saya ikhlas kok."
"Jangan panggil Ibu. Panggil saja saya Tante. Tante Maria."
"Ooh ... iya Tante. Saya Mita."
Mama Maria terlihat sumringah melihat Mita.
Dia cantik, baik, dan ramah. Cewek yang kayak gini nih yang cocok buat Vano. Batin Mama Maria.
"Ooh ... Mita. Oh ya, apa Tante boleh minta nomor ponsel kamu? Tante cuma ingin mengajak kamu makan malam di rumah Tante kapan - kapan. Yaa anggap saja sebagai ucapan terima kasih Tante atas bantuan kamu."
"Boleh, boleh Tante."
Mita pun mengambil secarik kertas dan mulai menuliskan nomor ponselnya. Setelah selesai, di berikannya secarik kertas itu pada Mama Maria.
"Anamita ... nama yang cantik. Sama seperti orangnya." Puji Mama Maria sembari mengulum senyum menatap Mita.
Mita terkekeh mendengarnya, "biasa saja kok Tante. Oh ya, saya permisi dulu ya Tante. Saya buru - buru soalnya."
"Oh iya, iya,silahkan."
Bersamaan dengan itu, ojek online yang di pesan Mita baru saja tiba. Dan Mita pun langsung bertengger di boncengan dengan tangan masih menenteng paper bag.
"Maaf Nyonya, kami sedikit terlambat. Jalanan di depan macet. Belum lagi bengkelnya agak jauh dari sini. Maaf ya Nyonya." Ucap si bodyguard sambil terbungkuk - bungkuk.
"Iya, benar Nyonya. Maafkan kami." Si supir ikut menimpali.
"Iya, tidak apa - apa. Untung saja kalian datang terlambat. Kalau tidak, saya tidak akan bertemu dengan gadis itu."
Si supir dan si bodyguard terlihat saling memandang heran. Kok aneh ya, Nyonya besar mereka ini. Biasanya, kalau majikan yang lain sudah pasti ngomel - ngomel. Tapi majikan yang satu ini, justru terlihat berbeda.
Saat dalam perjalanan menuju restoran, ban mobil Mama Maria kempes. Hingga mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan. Sementara Mama Maria terburu - buru untuk bertemu sahabatnya di restoran itu. Hingga akhirnya Mama Maria memutuskan naik taksi. Dan sialnya, tas dan dompetnya tertinggal dalam mobilnya.
"Ya sudah, ambilkan tas saya. Cepetan." Titah Mama Maria dan langsung di patuhi si bodyguard.
.
.
Dengan hati - hati Mita meletakkan paper bag itu di meja kerja Anjas, tepat di depan wajahnya. Wajah Mita cemberut saat meletakkan paper bag itu. Dan Anjas terus memperhatikannya.
"Maaf sedikit terlambat. Tadi ada sedikit hambatan." Ucap Mita dengan wajah cemberut.
Huh, dia kan punya asisten, kenapa harus aku? Gerutu Mita dalam hatinya.
Sebenarnya bisa saja Anjas meminta Chandra yang membelikannya. Karena biasanya tugas itu dia bebankan pada Chandra. Tapi entah kenapa, Anjas iseng ingin mengerjai Mita. Dan sengaja Anjas melewatkan sarapannya dari rumah.
Anjas pun mulai mengeluarkan satu per satu isi paper bag itu. Sementara Mita masih berdiri di depan mejanya.
__ADS_1
Aroma khas makanan yang menyeruak itu pun tertangkap oleh indera penciuman Mita. Dan seketika perutnya yang kosong itu mulai keroncongan.
Kruuuk Kruuuk Kruuuk
Ups ! Mita menelan ludah sambil mengusap - usap perutnya. Wahai perut keep calm (tetap tenang). Please jangan gaduh, malu - maluin.
Sementara Anjas sejak tadi berusaha menahan tawanya.
Waaah ... Anjas pasti sengaja nih. Mau bikin Mita ngiler. Sedikit banyak Anjas tahu kebiasaan Mita yang sering terlambat bangun hingga akhirnya tak jarang Mita sering melewatkan sarapan.
"Duduk." Titah Anjas kemudian.
"Ap_apa?" Mita terkaget.
"Aku bilang DUDUK." Ucap Anjas sekali lagi dengan penuh penekanan.
Mita pun mengambil duduk di depan Anjas. Masih dengan wajah cemberutnya.
Dan Anjas menaruh satu porsi makanan itu di depan Mita.
"Dimakan." Titah Anjas lagi.
"Tidak usah Pak, makasih. Saya sudah sarapan dari rumah kok." Tolak Mita, padahal mah perutnya terasa melilit.
"Kamu pikir kenapa aku minta di belikan dua porsi?"
"Maksudnya? saya pikir, Bapak mau makan semuanya."
"Perutku tidak sebesar itu. Ayo dimakan."
"Tapi Pak."
"Mita ..." Anjas menatap tajam Mita, "berhenti bersikap formal. Di sini hanya ada kita berdua. Diam, dan makan saja."
Mita mau menjawab apa lagi kali ini. Anjas ini memang selalu susah di tebak. Sikapnya selalu tidak terduga.
"Aku tau kamu belum sarapan. Mana ada orang yang datang terlambat masih sempat sarapan."
Ooh gitu ya. Jadi Anjas masih perhatian sama Mita. Apa Mita harus baper?
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama kamu." Ucap Anjas kemudian.
Anjas masih gigih berusaha mendapatkan hati Mita kembali.
.......
.......
.......
...Bersambung...
Always saranghae readers ❤️
Salam hangat 🤗
__ADS_1
Otor Kawe