Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 56


__ADS_3

Di hari yang sama, di tempat berbeda.


Oma Lidya berdiri mematung di depan butiknya, sambil menatap lurus ke depan. Rasa tak percaya, akan tetapi inilah yang terjadi. Apa yang menjadi kekhawatirannya selama ini akhirnya terjadi juga. Butik kesayangannya, kini diambil alih oleh orang lain. Kerja kerasnya, impiannya, hilang dalam sekejap.


Tidak percaya, namun inilah kenyataannya. Kenyataan yang membuatnya tak habis pikir. Terlebih lagi, kenapa orang itu adalah Elvano? Orang yang sudah merebut impiannya?


Oma Lidya pun mulai teringat ucapan Memey. Yang memberitahunya pernah melihat Elvano dan Anjas berkelahi. Apakah ini penyebab Elvano melakukan semua ini? Tapi kenapa?


Dengan perasaan sedih bercampur amarah, Oma Lidya pun beranjak pergi meninggalkan butik itu.


Sementara Anjas dan Mita masih berada di taman itu. Duduk berdua di sebuah bangku di taman itu. Mita menyandarkan kepalanya di bahu Anjas. Sambil jemari keduanya saling menggenggam erat. Sesekali Anjas mengecup punggung jemari Mita.


"Maafkan aku jadi penyebab semua ini." Ucap Mita lesu. Karena pada akhirnya, Anjas pun tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Mita.


"Semua ini terjadi bukan karena kamu. Jangan pernah membahas hal ini lagi."


"Tapi, gimana dengan Mama kamu. Apa yang akan kamu katakan pada Mama kamu nanti."


"Itu urusanku. Aku sudah memikirkan ini sejak jauh - jauh hari."


"Tapi__" Mita mengangkat wajahnya, menatap Anjas yang kini pun menatapnya.


"Mit, tolong jangan bahas ini lagi. Aku merasa lega akhirnya bisa terbebas dari semua ini. Aku merasa, Tuhan memberi kita kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. Aku ingin mengulang kembali saat - saat itu. Kenangan kita."


Mita pun tersenyum. Dan mendapatkan satu kecupan singkat di bibirnya.


"Aku__"


CUP


Satu kecupan singkat kembali mendarat di bibir Mita.


"Aku mencintaimu." Sela Anjas cepat sebelum Mita menyelesaikan kalimat itu.


"Anjas ..." Mita memanyunkan bibirnya. Cemberut lagi di depan Anjas. Padahal Mita bukan ingin mengucapkan kalimat itu.


"Jangan cemberut."


Mita tahu, jika dia cemberut, Anjas akan langsung menyergap bibirnya. Tapi kali ini, sumpah, Mita tidak menginginkan hal itu.


"Anjas ... Aku lapar." Rengek Mita. Hingga Anjas pun terkekeh.


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Ayo, kita cari makan dulu. Aku juga sudah sangat lapar." Sembari berdiri. Diikuti oleh Mita.


"Setelah ini kita akan ke mana? Apa kita pulang saja?"


"Kita akan menghabiskan waktu berdua. Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Nanti kamu bakal tau sendiri." Sambil menyentil hidung Mita.


Di seberang jalan, seseorang tanpa sengaja melihat kemesraan mereka dari balik jendela mobil yang sedang melintas.

__ADS_1


Oma Lidya.


Wanita paruh baya itu tanpa sengaja melihat Anjas sedang bergandengan tangan dengan Mita. Saling tertawa, bahkan Anjas merangkul bahunya dan mengecup puncak kepalanya. Dari yang tampak, mereka seolah seperti sepasang kekasih.


Oma Lidya geram menyaksikan pemandangan itu. Otaknya mulai mengait - ngaitkan antara omongan Memey, dan kejadian saat ini. Terlebih lagi saat tiba - tiba Elvano mengambil alih semua aset keluarganya. Mungkin inilah penyebab Elvano melakukan semua ini. Karena Anjas sudah merebut kekasihnya.


Ingin rasanya Oma Lidya mendatangi mereka. Tapi mungkin ini bukan saatnya. Dia akan meminta penjelasan dari Anjas saat Anjas sudah berada di rumah nanti.


.


Layaknya remaja yang sedang kasmaran, Anjas dan Mita mengisi waktu dengan berjalan - jalan. Setelah makan di salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, mereka mengisi waktunya dengan bermain di wahana permainan yang tersedia di pusat perbelanjaan itu. Layaknya anak kecil yang sedang bermain, keduanya terlihat bahagia.


Banyak permainan yang sudah mereka mainkan, hingga keduanya merasa lelah. Saat hari menjelang sore, Anjas membawa Mita ke pantai yang ada di pinggiran kota. Letaknya cukup jauh hingga memakan waktu satu jam perjalanan untuk sampai di tempat itu.


Dan kini, mereka tengah duduk di tepi pantai, menyaksikan matahari terbenam. Mita menyandarkan kepalanya di bahu Anjas sambil merangkul pinggang Anjas.


Menjelang malam, Anjas mengajak Mita ke salah satu motel yang berada tidak jauh dari pantai itu.


Nah, loh ya ... Otaknya Anjas ngeres lagi nih. Buat apa ke motel segala kalau mereka bisa beristirahat di rumah. Apalagi hari sudah malam. Kalau Mama Retno mencarinya gimana? Mita akan beralasan apa pada mamanya itu? Mita hanya tidak ingin mendengarkan suara cempreng mamanya kalau sedang mengomel. Karena bukan bikin budeg lagi, tapj bisa - bisa gendang telinga Mita ini bisa pecah nantinya.


Otak Mita berusaha berpikiran positif. Seperti kata Anjas, dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama Mita.


Mita masih berdiri mematung di kamar motel itu, saat tiba - tiba Anjas datang memeluknya dari belakang. Diraihnya ponsel Mita yang masih dalam genggaman Mita, lantas menonaktifkan ponsel itu. Dan melemparnya ke atas tempat tidur.


"Anjas, kenapa dimatikan? Kalau Mama__" protes Mita. Namun Mita tidak bisa melanjutkan kalimatnya sebab Anjas dengan cepat memutar tubuhnya. Dengan cepat pula sapuan hangat bibirnya mendarat di bibir Mita.


Mita tidak bisa menolaknya. Anjas adalah pria yang mengisi hatinya. Pria yang dicintainya. Mita hanya bisa membalas lum*atan - lum*atan yang Anjas berikan dengan begitu lembutnya. Seiring dengan itu, tubuh keduanya semakin beringsut, mendekati tempat tidur. Hingga akhirnya, Mita pun jatuh perlahan, merebahkan dirinya tanpa melepaskan ciuman itu.


Namun sedetik kemudian, Mita pun menghentikan aksi Anjas. Saat perlahan Anjas mulai melepas satu per satu kancing bajunya.


"Anjas." Seru Mita disela napasnya yang terengah - engah.


Rona wajah Anjas tampak memerah. Napasnya semakin memburu. Anjas mungkin tidak bisa lagi menahan gejolaknya. Rasa cintanya yang begitu dalam terus mendorongnya untuk melakukanya.


Dan Mita, tidak akan menolak jika memang Anjas menginginkannya.


"Aku hanya ingin menghabiskan malam bersamamu. Begitu banyak waktu yang terbuang sia - sia saat kita berpisah. Aku ingin menggantinya dengan bersamamu malam ini. Aku janji, aku tidak akan melewati batasan yang sudah aku buat. Aku hanya ingin bersamamu." Lirih Anjas sambil menatap sayu.


"Jika memang kamu mencintaiku, kenapa harus ada batasan diantara kita." Ucap Mita sembari mulai membuka satu per satu kancing kemeja Anjas. Namun Anjas menghentikannya. Menahan jemari Mita yang mulai nakal.


"Kamu berusaha menggodaku?"


Mita menggeleng pelan, "Tidak. Aku hanya mencintaimu." Sembari menyentuh lembut bibir Anjas.


"Mita, aku mencintaimu setulus hatiku. Bukan karena *****. Kamu adalah satu - satunya dalam hidupku. Aku hanya ingin, semua terasa indah pada waktunya nanti."


Mita pun mengangguk kecil disertai senyum tipis diwajahnya, "Aku mengerti."


Perlahan, dengan penuh cinta, Anjas pun kembali menyesap bibir Mita. Keduanya pun saling memagut mesra. Mencurahkan kasih sayang, perasaan keduanya yang begitu kuat dan semakin dalam.


Seperti janjinya, Anjas tidak melewati batasan yang sudah dibuatnya sendiri. Dia hanya bermain - main sejenak di tubuh bagian atas Mita. Hanya sampai kerinduannya terobati.


Malam semakin merangkak. Keduanya pun terlelap dengan saling memeluk.

__ADS_1


.


.


.


Sementara Mita dan Anjas terlelap dalam mimpi indahnya. Elvano justru terjaga dari mimpi buruknya.


Malam itu, Elvano berada di sebuah bar dalam keadaan mabuk. Teman - temannya terus saja menyuguhkannya minuman keras.


Sudah lama, sejak mengenal Mita, Elvano tidak pernah lagi datang ke bar atau club - club malam yang biasa dikunjunginya kala ingin bersenang - senang. Sejak mengenal Mita, untuk pertama kalinya Elvano ingin menjadi pria baik - baik di mata Mita.


Namun hari ini, keinginannya, impiannya untuk hidup bersama Mita hancur sudah karena kehadiran Anjas. Mantan Mita yang masih mencintainya.


"Ayo, Bro. Tambah lagi minumnya. Kamu tidak pernah datang kesini lagi sejak kamu mengenal wanita itu." Seru salah seorang temannya, sambil menuangkan minuman keras ke dalam gelas Elvano yang sudah kosong.


Elvano pun meraih gelas yang telah terisi minuman itu. Lalu hendak meneguknya. Tapi seseorang tiba - tiba datang dan merampas gelas itu dari tangannya.


"Bukan seperti ini caranya membalas sakit hatimu. Kamu pengecut." Tandas Sasha sambil menatap tajam Elvano.


"Kamu sendiri gimana? Hah? Memangnya apa yang bisa kamu lakukan. Kamu hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Apa yang bisa kamu lakukan untukku, sedangkan kamu sendiri tidak bisa berbuat apa - apa." Ucap Elvano dalam keadaan kacau.


"Akan aku lakukan sesuatu. Mita harus mendapatkan balasannya karna sudah berani merebut Anjas dariku." Geram Sasha.


"Apa ... Apa yang akan kamu lakukan? Hah? Aku sudah merebut semua dari Anjas. Tapi aku tidak bisa merebut Mita darinya. Aku bisa membeli apapun yang aku inginkan. Tapi aku tidak bisa membeli cintanya. Mita ... Kamu jahat." Racau Elvano dalam mabuknya.


"Kamu semakin kacau saja. Ayo, kita pulang. Aku antar kamu pulang. Tante Maria mencarimu. Dia khawatir dengan keadaanmu. Dasar, tukang mabuk." Kemudian memapah Elvano, membantunya berjalan sampai ke mobilnya yang terparkir.


Dengan bantuan Sasha, kini Elvano sudah berada di rumahnya. Mama Maria yang memang mencemaskan keadaannya hanya bisa mengelus dadanya sembari menghembuskan napasnya panjang.


Perlahan Mama Maria mengambil duduk di tepian tempat tidur Elvano. Memandangi wajah putranya yang tampak kacau. Sampai tiba - tiba Elvano menangis. Kini tangisnya semakin terisak.


"Vano ..." Panggil Mama Maria lirih sambil menggoyang tubuh Elvano yang terbaring diatas tempat tidurnya tak berdaya.


"Vano, kamu kenapa Nak?" Tanya Mama Maria.


"Mita ... Kamu jahat. Kamu jahat." Racau Elvano.


Dengan melihat keadaan Elvano saja, Mama Maria sudah bisa menebak penyebab Elvano pulang dalam keadaan mabuk. Apalagi kalau bukan soal asmaranya.


Mama Maria pun mengambil ponsel Elvano dan mencari nama Mita dalam daftar kontaknya. Lalu mulai menghubunginya. Namun ponsel Mita malah nonaktif.


Sementara di dalam mobilnya yang masih terparkir di depan rumah Elvano, tampak Sasha sedang menghubungi seseorang.


"Halo ... Aku butuh bantuan kamu ... Akan aku beri imbalan yang cukup jika kamu juga bisa merahasiakan hal ini dari siapapun." Ucap Sasha sinis.


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2