Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 30


__ADS_3

Entah kenapa makanan yang begitu nikmat ini jadi terasa hambar bagi Mita. Mendadak tenggorokannya jadi kesulitan menelan makanan itu. Seakan makanan itu seperti bongkahan batu yang melewati kerongkongannya. Ugh, terasa susah di telan.


Seakan Mita pun tengah menikmati makanan itu. Sejak tadi kepalanya terus menunduk. Hanya tangannya yang bergerak naik turun, menyendok makanan itu lalu melahapnya.


Sementara Anjas, sesekali matanya melirik ke arah Mita. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya Kapan lagi Anjas bisa berduaan begini dengan Mita kalau bukan sekarang. Seketika ruangan Anjas pun menjadi resto dadakan.


Di tengah sarapan yang terkesan khidmat itu, karena sejak tadi keduanya saling diam, tiba - tiba ponsel Mita berdering. Mita pun menghentikan sarapannya lalu merogoh kantongnya.


Sebuah senyuman terbit di wajah Mita saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya itu.


Elvano.


Mita hendak menjawab panggilan itu. Tetapi Anjas menatapnya tajam. Hingga panggilan itu pun berakhir dengan panggilan tak terjawab. Mita pun cemberut. Sambil mulutnya komat - kamit tak karuan. Mita pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantongnya.


"Hari ini kamu aku antar pulang." Tawar Anjas.


"Tidak perlu. Palingan Vano yang akan menjemput."


Bukkk !


Anjas menepuk meja. Mita pun tersentak kaget. Ikh, Anjas kenapa ya? Apa Mita salah ngomong tadi? Anjas kalau marah serem juga ya?


"Bisa tidak, kalau kita lagi berdua, jangan sebut nama Vano." Ucap Anjas setengah membentak. Lalu kembali menikmati sarapannya.


"Maaf ..." Mita kembali menundukkan wajahnya. Dan Anjas kembali menikmati sarapannya.


"Tapi dia kan pacarku? Jadi aku boleh dong menyebut namanya kapan pun aku mau." Protes Mita kemudian.


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Anjas pun tersedak makanannya.


Dengan cepat Mita mengambil segelas air minum di depannya dan menyodorkannya pada Anjas.


"Ini, minum dulu."


Anjas pun meraih gelas itu. Lalu mulai meneguknya.


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Masih saja bandel. Air yang di minumnya tidak bisa meredakan batuknya.


Mita pun bangun dari duduknya dan menghampiri Anjas. Di ulurkannya tangannya dan mengelus - elus lembut punggung Anjas.


"Skarang gimana? Udah mendingan?" tanya Mita.


Anjas menggeleng dan kembali terbatuk - batuk.


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..."


"Ya ampuuun ... kok bisa begini sih?" Kemudian tangan Mita berpindah ke dada Anjas dan mulai mengusap - usap dada bidang itu dengan lembut.


Anjas masih terbatuk - batuk. Namun sambil menahan tawa. Anjas mencurigakan. Jangan - jangan dia sengaja mau mengerjai Mita.


"Nah, skarang gimana? Udah mendingan?" tanya Mita lagi dan mulai menarik kembali tangannya. Tapi tiba - tiba saja Anjas menahan pergelangan tangannya. Dan Menariknya hingga Mita pun terjatuh dan mendekap di dada bidang Anjas.


Dug ... Dug ... Dug ...


Bunyi gaduh detak jantung Mita saat menatap mata Anjas yang menatapnya lekat. Dan nyaris tanpa jarak.


Akh ya ampun. Sudah lama Mita tidak sedekat ini dengan Anjas. Wajar kalau sekarang Mita gugup.


Mungkin karena terbawa suasana, hingga perlahan Anjas pun mulai memajukan wajahnya. Dan bibirnya sudah hampir menyentuh bibir Mita. Sampai tiba - tiba ...


Cklek ...

__ADS_1


Bunyi decitan pintu terbuka itu pun membuat keduanya gelagapan. Mita langsung bangun dari dekapan Anjas. Dan kembali ke tempatnya semula. Bukan untuk melanjutkan sarapannya melainkan menyimpan kembali makanan itu ke dalam paper bag dan hendak membawanya keluar.


Hampir saja. Untung Sasha datang tepat waktu. Kalau tidak Anjas pasti sudah berhasil mencium Mita tadi. Duh, kenapa juga Mita seakan tidak bisa berbuat apa - apa ya saat berada dekat dengan Anjas. Seakan Mita pun tengah menanti ciuman itu.


Yeaaaah ... Sadar dong Mit. Kamu kan sudah punya Elvano. Lagipula Anjas itu kan musuh abadimu? Sebisa mungkin hindari berciuman dengan Anjas.


Uuugh ... Tapi apa Mita bisa ya? Lagian Anjas kok makin lama makin keren ya? Sebelas dua belas sama Lee Min Ho.


Apa? Siapa? Lee Min Ho?


Iyuuuuuuh ... Pasti bakalan ge-er tuh si Anjas. Kalau Mita mengatakan itu di depannya. PD nya pasti bakalan naik beberapa tingkat. Oh no (tidak) Mita. Kerenan Elvano juga. Imut dan manis.


Dari pintu itu, terlihat Sasha tengah berjalan menghampiri dengan raut wajah masam. Sekaligus kaget karena melihat Anjas dan Mita sedang makan berdua.


"Maaf, Pak. Saya permisi dulu." Mita bergegas keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan Sasha yang menatapnya kurang suka.


"Aku membawakan kamu sarapan. Kata Tante Lidya, kamu belum sarapan." Ucap Sasha sembari menaruh paper bag yang dibawanya itu ke meja Anjas.


"Tapi rupanya aku salah." Sasha kecewa. Padahal dia datang membawakan Anjas sarapan agar dia juga bisa sarapan bersama Anjas. Tapi lagi - lagi dia harus kecewa.


"Makasih. Tapi aku sudah sarapan." Ucap Anjas cuek.


"Anjas, orang tuaku mengundang kamu makan malam di rumah. Kamu ada waktu kan?" tanya Sasha.


Sasha mulai menyebut nama orang tuanya. Seakan tengah menyindir Anjas. Sasha pasti sengaja menyebut orang tuanya agar Anjas teringat kembali akan jasa orang tuanya yang telah memberikan suntikan dana pada perusahaannya Anjas. Dan Anjas seakan dituntut untuk berbalas budi.


"Kita lihat saja nanti. Tapi aku tidak janji."


"Papaku ingin skali bicara dengan kamu."


Sasha sengaja nih menyebut Papanya. Biar Anjas makin tahu diri. Dan tidak mungkin menolak jika ayahnya Sasha yang meminta ingin bertemu.


"Baiklah." Terpaksa Anjas menyetujui.


.


.


"Hai Mit ..."


sebuah suara lembut menyapa Mita. Mita pun mendongak dan menatap Sasha yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan mejanya.


"Kayaknya kamu sibuk ya ..." sindir Sasha sambil melirik ponsel Mita sembari mengulum senyum.


Mita pun mematikan layar ponselnya dan meletakkan ponsel itu di mejanya. Mita sadar, pekerjaannya bukan hanya main ponsel saja. Mita di gaji bukan untuk itu.


"Oh ya, nanti malam aku mengundang Vano makan malam di rumahku. Kamu datang bersama Vano ya?" pinta Sasha.


Kalau Sasha mengadakan jamuan makan di rumahnya, sudah pasti Anjas juga di undang. Malas akh, mendingan Mita makan di rumahnya sendiri. Lagipula masakan Mama Retno enaknya ngalah - ngalahin makanan resto berbintang. Kadang keasinan, kadang tawar, kadang asem, kadang pula pahit saking gosongnya. Peace Mama Retno. Jangan marahi Mita ya.


"Maaf ya, mungkin aku tidak bisa. Aku ada janji dengan Nayla sahabatku." Tolak Mita halus.


"Ya sudah, tidak apa - apa. Kalau begitu, aku pergi dulu." Kemudian Sasha beranjak pergi meninggalkan Mita.


Di mobilnya, Sasha terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Hai Van ..." sapa Sasha pada seseorang di seberang. Siapa lagi kalau bukan Elvano, sepupunya.


"Ada apa? Tumben kamu menelfonku." Sahut Elvano dari seberang.


"Nanti malam kamu ajak pacar kamu ke rumah ya? Mama mengundang kamu makan malam di rumah. Jangan lupa datang ya?"

__ADS_1


"Akan aku usahakan. Tapi aku tidak janji. Kamu tau kan Mita orangnya seperti apa ... Mungkin dia akan menolak." Sahut Elvano lagi dari seberang.


"Di usahakan dong Van. Jangan sampe kamu tidak datang. Ini juga untuk kelangsungan hubungan kamu dengan Mita. Ya sudah, aku tutup dulu telponnya."


Sasha langsung memutus sambungan telepon itu. Sebuah senyum sinis terbit di wajah cantiknya. Apa yang di rencanakan Sasha kali ini? Semoga saja tidak ada sangkut pautnya dengan Mita.


.


.


Malam hari pun tiba.


Mita hendak merebahkan diri di kasur empuknya. Meskipun tidak seempuk itu, yaaah paling tidak masih nyaman buat dipake tidur. Sampai tiba - tiba terdengar suara Mama Retno memanggil.


"Mita ... ada Vano tuh di depan. Ayo cepetan, kasihan Vano kalo sampe harus nunggu lama." Teriak Mama Retno dari depan pintu kamarnya.


Ya elaaah ... Suara cempreng itu terasa sangat mengganggu. Padahal Mita sudah akan memulai perjalanannya menjelajahi dunia kapuk. Eh, suara cempreng itu malah menggagalkan semuanya.


Dengan berat hati, Mita pun keluar dari kamarnya dan menemui Elvano di ruang tamu.


Elvano terlihat rapi malam ini. Penampilannya tidak seperti biasanya. Kalau biasanya dia sering mengenakan jeans dan t-shirt, kali ini dia tampil berbeda. Baru kali ini Mita melihat Elvano memakai kemeja. Pokoknya tampilannya rapi plus ganteng maksimal.


"Hai Mit." Sapa Elvano.


"Rapi banget. Mau kemana?" Mita pura - pura tidak tahu. Elvano pasti akan mengajaknya ke rumah Sasha.


"Aku tunggu kamu siap - siap. Kita akan ke suatu tempat."


"Tap_tapi aku ..."


"Aku sudah minta ijin Mama kamu."


"Ooh ... gitu ya? ya sudah, aku ganti baju dulu." Kemudian pergi ke kamarnya.


Tak berapa lama, Mita kembali dengan tampilan yang sederhana. Elvano memperhatikannya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Dan Mita jadi kikuk di perhatikan seperti itu.


Apa penampilanku jelek ya? Tapi cuma ini gaun terbaik yang aku punya. Batin Mita.


"Ayo kita berangkat." Elvano langsung menarik pergelangan Mita, membawanya keluar, lalu mendesaknya masuk ke mobil.


Sejurus kemudian mobil Elvano mulai melaju meninggalkan rumah Mita. Dan beberapa menit kemudian, Elvano menghentikan mobilnya di depan sebuah butik. Yang bertuliskan Lidya Collection.


"Mau ngapain kita disini?" tanya Mita keheranan.


Dan Elvano hanya tersenyum menatap Mita.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Mohon maaf telat² update 🙏


Maklum, bu ibu rempong dengan buntut yang masih kecil dan lagi aktif²nya. Ditambah lagi dengan pekerjaan RT yang menuntut untuk di selesaikan. Jadi mohon pengertiannya.


But so thankyou udah mau baca cerita recehan ini.


Always saranghae readers ❤️

__ADS_1


Salam Hangat 🤗


🌺Otor Kawe🌺


__ADS_2