
Merasa sudah tidak ada lagi yang ingin dibahas, Sasha memutuskan meninggalkan Elvano.
Dan kini, Elvano tengah sibuk memandangi Lyra yang sedang menyiapkan obat untuk diminumnya.
Lyra mengambil duduk di tepian tempat tidur, dengan segelas air minum dan beberapa butir obat ditangannya. Dengan wajah datarnya, disodorkannya obat itu ke tangan Elvano. Yang disambut dengan senyum tipis di wajah Elvano. Menyusul segelas air minum setelahnya.
Elvano pun meminum obatnya di depan Lyra. Lalu memberikan kembali gelas yang telah kosong ke tangan Lyra. Yang disambut Lyra masih dengan wajah datarnya.
Lyra pun bangun dari duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun langkahnya harus terhenti sesaat.
"Awww!" Terdengar suara rintihan Elvano.
Sontak, Lyra memutar tubuhnya. Dengan wajah cemas memandangi Elvano. Yang tengah meringis sambil memegangi perutnya.
"Awww!" Elvano kembali merintih.
Tak ingin terkena masalah, sekaligus atas dasar tanggung jawab, Lyra pun kembali menghampiri Elvano.
"Kamu kenapa?" Tanya Lyra dengan wajah cemasnya.
"Kenapa perutku sakit setelah minum obat yang kamu berikan? Memangnya obat apa yang kamu berikan padaku?" Kesal Elvano bertanya. Masih dengan wajah meringis sambil memegangi perutnya.
"Tentu saja obat yang di berikan dokter." Jawab Lyra yakin.
"Sekarang, kepalaku yang sakit. Apa kamu memberiku obat yang salah?" Sambil memegangi kepalanya.
"Itu obat yang diberikan dokter. Mana mungkin aku salah."
"Kamu mau meracuniku kan? Hei, buah apel. Jika terjadi apa-apa padaku, kamu harus bertanggung jawab."
"Berhenti memanggilku buah apel." Lyra kini terlihat kesal.
"Awww!" Elvano kembali merintih sambil memegangi kepalanya.
Sontak, Lyra pun semakin mendekat. Lyra mengambil duduk di tepian tempat tidur.
"Kamu tidak apa-apa kan? Sakit sekali ya? Mau aku panggilkan dokter?" Tawar Lyra. Walau bagaimanapun dia harus bertanggung jawab. Sebab Elvano adalah pasien yang dirawatnya. Dia hanya tidak terkena masalah jika terjadi apa-apa dengan pasiennya.
"Tidak perlu. Tolong berikan aku obat yang lain."
"Obat yang mana? Obat yang diberikan dokter sudah kamu minum semua."
"Bukan obat yang itu." Apa maksud Elvano ya? Apa dia hanya mengerjai Lyra?
"Terus, obat yang mana? Apa aku panggilkan dokter saja?"
"Awww!" Sekali lagi Elvano meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Jelas Lyra semakin cemas dibuatnya. Bagaimana jika ternyata dia memang salah memberikan obat. Apalagi kepala Elvano memang terluka dan masih memakai perban. Jika benar dia salah memberikan obat, bisa-bisa dia akan dipecat dari pekerjaannya.
"Sakit sekali ya? Kalau begitu aku panggil dokter saja. Tunggu sebentar ya?"
Lyra pun bangun dari duduknya dan hendak melangkah. Namun, belum sempat kakinya melangkah, Elvano telah lebih dulu menahan pergelangan tangannya. Lyra pun memutar tubuhnya, kembali menghadap Elvano.
"Tidak perlu memanggil dokter. Aku hanya minta kamu memberiku obat yang lain." Ucap Elvano sambil menatap Lyra.
"Obat apa? Nanti akan aku ambilkan."
"Teman."
__ADS_1
Lyra terdiam. Sambil menatap Elvano dengan seksama.
Waduh, waduh, waduuuh. Jiwa playboy Elvano kambuh lagi nih. Tuh, lihat saja gayanya. Persis seperti orang yang akan melancarkan rayuan mautnya. Suster cantik itu dalam sekejap sudah mampu membuat jiwa playboy Elvano meronta-ronta. Laki-laki mana yang tidak akan kepincut dengan wanita secantik itu. Coba bayangkan, ada Park Shin Hye jadi suster. Dan sekarang dia sedang berdiri di depanmu.
Lyra memicingkan matanya, nanar menatap Elvano yang kini menyunggingkan senyum manisnya.
Dan Lyra, otomatis tertegun. Untuk sesaat Lyra terpana melihat paras tampan yang sedang tersenyum menatapnya. Hatinya seakan berdesir kala menatap sorot matanya.
"Aku mau berteman denganmu. Itu obatnya. Itu obat paling mujarab dari obat dokter yang kamu berikan." Ucap Elvano tanpa basa-basi. Apalagi malu-malu.
Ya iyalaaah ... Elvano gitu loh. Pria paket komplit, tertampan sejagad raya. Rayuan gombal seperti ini kecil baginya. Mudah, mengalir seperti air. Meski sederhana, tapi mampu memikat hati setiap wanita.
Buktinya, lihat saja ekspresinya Lyra sekarang. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di paras cantiknya. Meski tipis, setidaknya bisa menunjukkan seperti apa susana hatinya saat ini.
"Kamu mau kan jadi temanku?" Tanya Elvano kemudian.
Lyra tampak diam sejenak. Sedetik kemudian, ditariknya kembali tangannya dari genggaman Elvano.
"Aku pikir-pikir dulu." Jawabnya singkat.
Elvano terkekeh. Lucu juga tuh cewek. Mau berteman saja harus dipikir-pikir dulu.
"Kamu sangat mirip dengan Mita. Lucu, kadang jutek, galak, dan menggemaskan. Tapi aku suka."
Eits, tunggu dulu. Apa maksudnya itu?
Elvano semakin mempermanis senyumnya kala menatap Lyra. Membuat Lyra terpana. Jantung dag dig dug, entah kenapa.
Cklek
Terdengar bunyi decitan di buka seseorang dari luar. Serentak Elvano dan Lyra pun menoleh, mengalihkan pandangan ke arah pintu.
"Van ... Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Mama Maria sembari menaruh keranjang buah itu di meja kecil di samping tempat tidur.
"Sudah lebih baik, Ma. Berkat suster ini." Jawab Elvano sambil melirik Lyra. Lyra pun jadi salah tingkah dibuatnya.
Mama Maria mengambil duduk di tepian tempat tidur. Menatap Elvano dengan wajah cemas.
"Mama heran deh sama kamu. Kenapa bisa sampai kecelakaan sih Van? Apa kamu masih suka mabuk-mabukan?" Cemas Mama Maria.
"Duh, anak Mama yang manis ini selalu saja bikin Mama cemas." Tambahnya, sembari mengulurkan tangannya, hendak menyentuh kepala Elvano yang diperban. Secepat kilat Elvano menepis halus tangan mamanya.
"Ma ... Aku bukan anak kecil lagi." Sembari melirik Lyra dengan ekor matanya.
"Buat Mama, kamu itu akan selalu menjadi anak manis Mama. Anak Mama yang paling tampan. Anak Mama yang paling hebat."
"Maaa ..." Elvano memelototi mamanya. Agar mamanya berhenti memperlakukannya layaknya anak kecil. Apalagi di ruangan itu ada Lyra, yang tengah memperhatikan keakraban ibu dan anak itu.
"Ikh, kamu kenapa sih? Mama cuma mengekspresikan kasih sayang Mama terhadap anak kesayangan Mama. Apa tidak boleh?"
"Boleh-boleh saja Mamaku yang cantik. Tapi lihat dulu situasinya dong." Kembali melirik Lyra dengan ekor matanya.
Lyra yang masih berdiri di sebelah tempat tidur itu tersenyum-senyum sendiri. Bahkan tampak seperti sedang menahan tawa.
Melihat gelagat Elvano, akhirnya Mama Maria pun menoleh, menadahkan pandangannya kemudian. Menatap Lyra yang tampak malu-malu kala Mama Maria memandanginya.
"Eh, ada suster ya? Oh ya, makasih ya suster sudah merawat anak saya dengan baik." Ucap Mama Maria dengan senyum terukir manis diwajahnya.
"Sama-sama Bu. Maaf, kalau begitu, saya permisi." Lyra pun mulai melenggang hendak keluar dari ruangan itu. Namun saat tiba di depan pintu, belum sempat tangannya mendorong daun pintu itu, tiba-tiba raut wajahnya berubah. Seakan baru menyadari sesuatu.
__ADS_1
Sembari memutar tubuhnya, lalu memandangi Mama Maria. Lyra mencoba memastikan sesuatu, "Tante Maria?"
Sontak Mama Maria menoleh ke belakang kala mendengar namanya disebut.
"Iya, ada apa suster?"
"Ya ampun. Ternyata benar, ini Tante Maria." Sembari perlahan Lyra menghampiri.
"Suster kenal saya?" Mama Maria memicingkan matanya, nanar menatap Lyra yang ternyata mengenalnya. Penasaran juga, gimana ceritanya kok suster cantik itu mengenalnya.
"Saya Lyra Tante. Ponakannya Tante Lastri. Oh, Tante Retno maksud saya."
"Ponakannya Retno?"
Mama Maria pun bangun dari duduknya dan lebih mendekat ke arah Lyra yang berdiri di samping tempat tidur.
Kaget?
Ya iyalah!
Apalagi Elvano. Bukan hanya kaget, bahkan Elvano penasaran jadinya.
"Saya Lyra Tante." Ucap Lyra sekali lagi menyebut namanya.
"Lyly? Kamu anak kecil yang sering main ke rumahnya Retno kan? Yang sering bermain dengan Mita?" Tebak Mama Maria. Wajahnya pun tampak sumringah.
"Iya, Tante. Tante sering memanggil saya dengan nama Lyly. Waktu itu Tante juga sering kesal kalau saya memanggil Tante dengan nama Tante Marni."
"Ya ampuuun ... Jadi kamu Lyly? Waaah ... Tante sampai pangling melihat kamu. Kamu sudah sebesar ini, cantik lagi. Oh ya, kamu bekerja di rumah sakit ini?"
"Iya, Tante."
"Kamu yang merawat anak Tante?"
Lyra kembali tersenyum kikuk, malu-malu kucing.
"Oh ya, sudah kenalan belum dengan anak Tante? Ayo, sini, Tante kenalin dengan anak Tante." Sembari menarik pergelangan tangan Lyra. Mengajaknya menghampiri Elvano.
"Lyly, ini anak Tante. Namanya Elvano. Panggil saja Vano. Dan Vano, kenalkan, ini Lyly. Sepupunya Mita." Ujar Tante Maria.
Elvano semakin tersenyum lebar menatap Lyra. Ternyata, dunia ini sungguh tak selebar daun kelor.
"Sudah kenal, Ma." Ujar Elvano.
"Oh ya?" Mama Maria terkejut.
"Mita yang mengenalkan kami. Iya kan?" Elvano kembali menatap Lyra.
Lyra menyunggingkan senyum tipisnya. Ternyata Elvano ini lumayan juga. Cukup humoris. Dan itu tuh, gombalannya. Gombalan receh begitu, tetap saja tidak mengurangi rasa percaya dirinya yang tinggi.
Elvano gitu loh!
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1