
Anjas sedikit memelas. Hingga Mita pun jadi tak tega.
Mita kembali mendudukkan dirinya di kursi itu dengan wajah tertunduk. Masih diam seribu bahasa, menunggu kalimat apa yang akan terlontar dari mulut Anjas selanjutnya.
Anjas tampak menarik napas panjang. Dan menghembuskannya perlahan. Mulai memilih kata yang tepat untuk mencerahkan kesalahpahaman di antara mereka hingga empat tahun lamanya.
"Untuk empat tahun yang lalu, aku minta maaf. Aku dalam keadaan terdesak saat itu. Hingga aku terpaksa melakukannya." Ucap Anjas memulai penjelasannya.
Mita masih diam. Dengan wajah tertunduk.
"Saat itu, kakak dan kakak iparku mengalami kecelakaan hebat. Hingga merenggut nyawa. Saat itu, Nara masih sangat kecil."
Mita akhirnya mengangkat wajahnya. Dan menatap Anjas.
"Anjas, itu sudah berlalu. Dan skarang aku sudah memaafkan kamu. Aku harap, kamu tidak akan lagi mengungkit - ungkit masa lalu. Skarang kamu sudah punya Sasha dan Nara. Pikirkan tentang masa depan mereka."
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu salah paham Mit."
Mita mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan Anjas yang mungkin bisa meruntuhkan bentengnya. Benteng kebencian. Agar tidak mudah kembali membuka hati untuk pria itu.
"Kamu harus tau ... aku masih sayang sama kamu." Ucap Anjas mantap namun tidak mendapat tanggapan sama sekali dari Mita.
"Anjas, tolong berikan aku kenyamanan di lingkungan pekerjaan aku. Kalau kamu begini, jujur, aku kurang nyaman. Seandainya saja aku punya uang yang banyak buat bayar ganti rugi, aku pastikan, aku akan mengundurkan diri detik ini juga."
"Kamu sungguh sangat membenciku?"
Mita mengangguk mantap.
"Baiklah. Akan aku terima kebencianmu. Tapi aku punya satu pertanyaan. Jawab yang jujur. Apa kamu mencintai Vano?"
Mita kembali mengangguk mantap.
"Itu bukan jawaban."
"Iya. Aku cinta sama Vano. Puas?" Mita merasa tertantang.
Anjas hanya tersenyum tipis. Dari cara Mita mengatakan itu, sangat jelas terlihat, jawaban itu tidak sesuai dengan isi hatinya. Seperti ada sebuah keterpaksaan yang mendorong Mita berkata seperti itu.
"Mit, jangan membohongi diri sendiri. Aku tau, jawaban kamu itu tidak sungguh - sungguh."
Mita menghembuskan napasnya kasar. Sambil menatap kesal Anjas. Rasanya Mita ingin mencekik leher Anjas saat ini juga. Kenapa Anjas selalu bisa menebak isi hatinya. Huh, rasanya Mita ingin mencongkel kedua bola mata Anjas biar Anjas buta sekalian.
Hiiiii ... bikin ngeri pikiran Mita saat ini. Kenapa Anjas nya tidak dimutilasi aja sekalian.
"Apa yang kamu harapkan dariku?" tanya Mita kesal.
"Aku ingin kita kembali seperti dulu."
__ADS_1
Mita tertawa hambar mendengar keinginan Anjas.
"Ha Ha Ha ... "
Dan Anjas menatap Mita kebingungan. Apa Mita menganggapnya bercanda? Apa ini hanya lelucon bagi Mita?
"Ehem ..." Mita berdehem sebentar sebelum berkata,
"Kamu skarang makin pintar bercanda ya?"
Nah kan? Mita menganggap ini candaan. Padahal Anjas sudah mempersiapkan hatinya sebelum mengatakan itu. Dan Anjas benar - benar serius.
"Aku serius Mit."
"Sudahlah Anjas. Semuanya sudah berakhir. Aku tidak ingin kembali ke masa lalu. Kamu jalani saja kehidupan kamu saat ini. Ada Sasha dan Nara dalam hidup kamu."
Waduh, makin salah paham nih si Mita. Belum tahu ya kalau Nara itu sebenarnya adalah ponakan Anjas. Harus di luruskan nih. Sebelum bengkok kemana - mana.
"Mit, Nara itu sebenarnya adalah ..."
"Daddy ..." terdengar seorang anak kecil memanggil Anjas.
Serentak Anjas dan Mita pun menoleh.
Tampak Nara, Sasha, dan Anjani tengah menghampiri.
"Daddy sama Bunda mau makan bareng Nara juga ya?" Nara ikut - ikutan bertanya.
Mita hanya tersenyum menatap Nara.
Sementara Anjani sibuk mengamati raut wajah kakaknya yang terlihat berbeda. Baru pertamakali ini Anjani melihat Mita. Dari ekspresinya Anjas, sangat jelas terlihat kalau Anjas seakan terganggu dengan kehadiran mereka. Meski sekilas, Anjani sempat melihat tatapan Anjas terhadap Mita jauh berbeda dengan cara Anjas menatap Sasha.
"Hai ... Oh ya, kita belum kenalan nih. Aku Anjani, adiknya Kak Anjas." Anjani mengulurkan tangannya dan langsung di sambut Mita dengan senyum manisnya.
"Mita ..."
Anjani mengerutkan dahinya. Kok sepertinya pernah mendengar nama itu.
"Anamita?" Anjani memastikan tebakannya tidak salah.
"Iya, benar. Kok tau?" giliran Mita yang keheranan.
"He he he, cuma nebak aja. Eh ternyata benar." Anjani nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Mana mungkin dia memberitahu Mita kalau dia tahu Mita adalah masa lalu kakaknya. Karena dulu dia sering mendengar kakaknya sering menyebut nama Mita. Bukan Anjani namanya kalau tidak mengenal kakaknya.
"Ya udah, kita duduk disini saja. Boleh kan?" tanya Sasha seraya menatap Anjas dan Mita bergantian.
__ADS_1
"Boleh, boleh. Silahkan." Ucap Mita kemudian bangun dari duduknya. Lalu mengambil tas nya dan bersiap hendak pergi.
"Kalau begitu aku kembali ke kantor. Meeting nya sudah selesai. Permisi ..." Mita memutar tubuhnya, sudah bersiap hendak pergi. Namun urung karena terdengar suara Nara memanggilnya.
"Bunda ... jangan pergi dulu. Makan bareng kita aja." Seru Nara. Mita pun kembali memutar tubuhnya. Lalu tersenyum menatap Nara.
"Eum ... maaf ya Nara. Kayaknya Bunda udah kenyang. Lagipula Bunda masih banyak kerjaan di kantor. Lain kali aja ya, kalau Bunda ada waktu." Tolak Mita halus.
"Yaaah ... Bunda kok gitu sih? Ya udah, tapi janji ya? Kapan - kapan Bunda harus mau makan bareng Nara sama daddy dan mommy." Nara terlihat cemberut.
Mita mengangguk, "iya deh, Bunda janji." Lalu mengacungkan jempol.
"Nara, biarkan Bunda Mita kembali ke kantor. Dia masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan." Ucap Sasha yang seakan tak ingin dengan keberadaan Mita diantara mereka.
"Benar apa kata mommy Nara." Anjani ikut menimpali. Namun tatapannya tertuju pada Anjas.
Entah kenapa, Anjani merasa raut wajah kakaknya berubah drastis saat Mita pamit pulang. Terlihat berbeda. Seperti kesal, kecewa, berbaur jadi satu.
Akhirnya Mita pun pamit pulang. Berada diantara mereka sungguh bukan situasi yang nyaman bagi Mita. Dari pada canggung nantinya, mendingan Mita kembali saja ke kantor. Lagian Anjas sih, pake pura - pura ada meeting segala. Padahal mah pengen makan berdua bareng Mita di resto berbintang.
Tapi eh tapi, kok waktunya bisa pas gitu ya? Atau mungkin saja kebetulan Sasha, Nara, dan Anjani ingin makan di restoran itu. Akh, buat apa juga Mita memikirkan mereka. Harusnya dia senang bisa menjauh dari Anjas. Daripada harus meladeni pertanyaan Anjas yang makin ngawur. Apa - apaan itu? Seenaknya saja minta balikan. Dipikirnya hati Mita ini terminal apa. Singgah sebentar lalu pergi. Terus kembali lagi, mampir sebentar, lalu pergi lagi. Lama - lama Anjas udah kayak setrikaan. Bolak - balik mulu. Kan capek hati ini rasanya. Mendingan buka hati buat Elvano. Lagipula, Elvano ganteng. Tidak kalah jauh dari Anjas. Anjas, good bye (selamat tinggal).
Sementara Sasha tersenyum puas dalam hatinya. Untung saja dia dapat info dari Chandra kalau Anjas ada meeting di luar dan perginya bersama Mita. Dan untungnya Nara sudah pulang sekolah. Jadi dia punya alasan untuk mengawasi Anjas dengan membawa iserta Nara. Kalau ada Nara, Anjas tidak akan bisa berkutik.
"Aku ke toilet sebentar ya?" Anjas bergegas bangkit dan mempercepat langkahnya. Bukan ke toilet, tapi Anjas mencari jalan lain agar bisa menyusul Mita sebelum Mita benar - benar pergi.
Dan untungnya, Mita masih berdiri menunggu taksi yang akan di tumpanginya. Anjas langsung menghampirinya dan memegang tangannya.
"Mit, please jangan pergi dulu. Aku masih ingin bicara sama kamu." Pinta Anjas.
"Maaf Anjas. Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Mita menarik pelan tangannya dari genggaman Anjas.
Taksi yang Mita pesan sudah tiba. Mita hendak membuka pintu taksi itu. Namun tiba - tiba saja, Anjas menarik lengannya dan kemudian memeluk tubuhnya erat. Dan Mita terbelalak dengan sikap Anjas.
Di seberang, ada sepasang mata yang menyaksikan mereka. Dari sorot matanya, tampak ada kekesalan.
.......
.......
.......
...Bersambung...
**Maaf slow update 🙏
Saranghae readers ❤️
__ADS_1
Otor Kawe**