
Anjani memberikan pakaian ganti untuk Mita. Sebenarnya Mita malu dan agak risih di depan Anjani. Tapi mau bagaimana lagi, Mita sudah kedinginan. Mau tidak mau Mita pun menerima pakaian yang disodorkan Anjani padanya.
"Tidak usah sungkan. Aku tau kok siapa kamu." Ucap Anjani disertai senyum manisnya.
"Maksud kamu?"
"Aku tau kamu dan Kak Anjas dulu pernah punya hubungan."
Mita tertegun. Kemudian menelan salivanya dengan tatapan masih terfokus pada Anjani.
"Kak Anjas itu adalah kakak kesayanganku. Dia adalah kakak yang paling baik di dunia. Dia bahkan rela mengorbankan kebahagiaannya demi keluarganya. Jadi, apapun yang bisa membuat Kak Anjas bahagia, aku mendukungnya."
Anjani kembali mengulum senyum.
"Oh ya, silahkan kamu ganti baju dulu. Itu kamar mandinya. Kamu pasti sudah kedinginan kan?" Anjani menunjuk kamar mandi di sudut kamarnya.
Meski risih, Mita pun menuruti ucapan Anjani. Memang benar dia sudah kedinginan.
KLEK
Terdengar suara pintu di kunci. Mita mengunci pintu kamar mandinya, lalu mulai menanggalkan satu per satu pakaiannya yang basah kuyup.
Di luar kamar mandi, di dalam kamar itu, Anjani dikagetkan oleh suara berat seorang pria berbisik di telinganya.
"Keluar sebentar. Kakak butuh privasi." Bisik seorang pria yang tidak lain adalah Anjas.
Anjani pun menoleh. Anjas menatapnya serius. Lalu memberi kode dengan kerlingan matanya agar Anjani keluar dari kamarnya.
"Kakak mau ngapain?" Tanya Anjani setengah berbisik. Takut kalau terdengar oleh Mita.
"Cuma mau ngobrol sebentar. Tidak akan lama."
"Di luar kan bisa kalau cuma ngobrol."
"Pengertian dikit kenapa sih? Penting soalnya."
"Awas, jangan macam - macam loh ya?" Sembari berlalu Anjani memperingatkan kakaknya. Anjas hanya tersenyum. Masih dengan kode matanya Anjas meminta Anjani menutup pintu kamarnya.
Setelah Anjani keluar, Anjas berjalan mendekat ke arah kamar mandi yang masih terkunci rapat. Anjas berdiri di depan kamar mandi itu sambil menyandarkan punggungnya di dinding dengan bersidekap dada. Menunggu Mita keluar dengan hati berdebar - debar.
Tak berapa lama, Mita pun keluar dari kamar mandi. Alangkah terkejutnya Mita saat mendapati Anjas berada di dalam kamar itu. Menatapnya dengan tatapan berbeda.
Panik? Oh jelas dong. Siapa yang tidak panik jika macan yang siap menerkam sudah berada di depan mata seperti ini.
"Se_sedang apa kamu? Mana adik kamu?" Mita gugup.
__ADS_1
"Di luar." Anjas malah terlihat santai. Kemudian perlahan mulai mendekat.
"Ma_mau apa kamu?" Saking gugupnya Mita, sampai - sampai handuk ditangannya pun jatuh ke lantai.
"Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di rumahku?" Anjas menatap Mita dengan seksama. Dia penasaran, apa yang dilakukan Mita di rumahnya. Atau jangan - jangan, pengasuh yang dimaksud Anjani dan Memey itu adalah Mita.
"A_aku ..." Duh, Mita harus jawab apa ya? Masa iya, dia harus jujur. Sebenarnya kan Mita malu ketahuan bekerja di rumahnya Anjas sebagai pengasuh.
Akan tetapi, meski di sembunyikan pun, Anjas pasti akan tahu juga.
"Ya kerjalah ... Kamu kan sudah memecatku, jadi aku harus cari pekerjaan lain dong. Aku juga butuh makan kali." Jawab Mita ketus.
Anjas tersenyum, lalu terkekeh.
"Siapa yang memecat kamu?"
"Kamu sendiri yang memecatku. Pura - pura lupa lagi."
"Aku tidak serius. Kan sudah aku bilang, aku hanya terbawa emosi. Aku tidak serius mengatakan itu. Kamu bisa kembali bekerja kapanpun kamu mau."
"Tidak perlu, makasih."
Dengan cepat Mita berbalik hendak keluar dari kamar itu. Tapi secepat kilat tangan Anjas menarik pergelangan tangannya. Kemudian merangkul pinggangnya. Alhasil, Mita pun kini berada dalam rangkulannya. Berada dekat dengannya.
"Apa yang kamu inginkan dariku? Jangan macam - macam ya, aku bi__" Ucapan Mita terhenti saat jari telunjuk Anjas menempel di bibirnya.
Deg ... Deg ... Deg ...
Mulai lagi deh. Jantung Mita kembali gaduh. Berdetak tak karuan. Semakin tak karuan lagi saat Anjas menatapnya begitu dalam. Menelisik setiap lekuk parasnya, sembari tangan kanannya mulai mengusap lembut wajahnya.
Nah, kan? Jangan - jangan otaknya Anjas mulai ngeres nih. Benar - benar sudah kerasukan setan cabul.
Mita mulai gemetaran. Susah payah dia menelan salivanya dalam - dalam. Keadaan mulai hening. Yang terdengar hanyalah degup jantung Mita yang semakin gaduh. Dan hembusan napas Anjas yang mulai terasa berat dan memburu.
Perlahan Anjas pun mulai mendekatkan wajahnya. Hembusan napasnya terasa hangat menyapu permukaan wajah Mita. Semakin lama semakin dekat.
Sementara Mita, seakan tersihir oleh tatapan Anjas yang menghanyutkan. Tanpa sadar, Mita pun memejamkan matanya. Seakan tengah menanti, memberi Anjas peluang untuk lebih dekat dengannya.
Melihat sikap refleks Mita, Anjas pun tersenyum. Dan ...
CUP
Anjas mengecup kening Mita. Membuat Mita refleks membuka matanya. Raut wajah Mita seakan terlihat kecewa. Padahal dia sempat berpikir kalau Anjas akan ...
Oh astaga! Apa Mita menanti Anjas menciumnya?
__ADS_1
Oh came on! Apa yang terjadi padamu Mita? Masihkah kamu membohongi dirimu sendiri? Apa memang benar perasaanmu terhadap Anjas sudah berubah?
"Aku mencintaimu." Ucap Anjas lirih. Membuat napas Mita terhenti detik itu juga.
Tak ingin Anjas melihat raut kekecewaannya, Mita pun melepas rangkulan Anjas. Dan hendak meninggalkan Anjas. Namun tiba - tiba saja, Anjas meraih tengkuknya.
Dengan cepat sebuah ciuman lembut mendarat di bibirnya. Mita pun tersentak. Namun ciuman Anjas yang begitu lembut, membuat Mita tak kuasa menolaknya. Dipejamkannya kembali matanya. Menerima sapuan hangat nan lembut permainan bibir Anjas.
Jika Mita boleh jujur, perasaan yang dulu pernah ada dihatinya untuk Anjas, kembali mulai mengisi relung hatinya. Entah sejak kapan. Tapi itulah yang kini mulai terasa.
Namun Mita, masih saja terus mengelak. Masih berusaha membohongi dirinya sendiri. Masih saja membantah kata hatinya.
Tanpa sadar, kedua tangan Mita yang masih menggantung di udara, perlahan mulai naik, melingkar bebas di leher kokoh Anjas. Seakan Mita pun menginginkannya. Sementara kedua tangan Anjas merangkul erat pinggang ramping Mita.
Ciuman lembut itu pun saling berbalas. Keduanya semakin terbawa perasaan. Perasaan diantara kedua insan yang masih saling mencintai.
Namun perlahan, ciuman yang semula lembut itu mulai berubah menjadi ciuman yang rakus dan seakan menuntut lebih. Bagai hilang kendali, Anjas pun mulai beringas. Menyesap bibir Mita dalam - dalam. Hingga membuat Mita sedikit kesulitan bernapas.
Tak ingin lepas kendali, Mita pun akhirnya mendorong pelan tubuh Anjas. Dan mengakhirinya lebih dulu.
"Kamu masih mencintaiku. Aku benar kan?" Tanya Anjas di sela napasnya yang masih memburu. Hasratnya ingin memiliki Mita semakin kuat. Andai saja dulu dia tidak mengambil keputusan yang salah. Pasti sekarang mereka sudah hidup bahagia. Bahagia sebagai pasangan.
"Aku tau, kamu masih mencintaiku Mit. Aku bisa merasakan itu." Ucap Anjas lirih dengan tatapan yang semakin sendu.
Mita menggeleng, "Tidak. Tidak. Kamu salah. Aku membencimu."
Dengan cepat Mita berbalik lalu bergegas hendak keluar dari kamar itu. Belum sempat Mita memutar handel pintu, Anjas kembali menariknya. Kembali merangkul pinggangnya.
"Anjas, tolong lepaskan. Aku tidak ingin membuat kekacauan di rumah ini." Pinta Mita. Namun Anjas tidak menghiraukannya.
"Tolong kamu jujur dengan perasaan kamu sendiri. Kita masih memiliki perasaan yang sama. Jadi, mari kita mulai lagi semuanya dari awal. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku janji." Ucap Anjas bersungguh - sungguh.
"Tidak. Tidak bisa." Sembari menurunkan tangan Anjas dari pinggangnya. Kemudian Mita berbalik dan bergegas keluar dari kamar itu.
Anjas hanya bisa bernapas panjang. Mita masih saja keras kepala. Jelas - jelas tadi Anjas bisa merasakan Mita masih memiliki perasaan yang sama padanya. Tapi kenapa Mita masih saja mengelak. Apa Anjas harus berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan Mita tentang perasaannya? Sesulit itukah membuat Mita membuka kembali hatinya?
Mungkin Mita masih butuh waktu. Tapi Anjas tidak akan menyerah. Cukup sekali kesalahan yang pernah dibuatnya. Dan itu tidak akan terulang kembali.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1