Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 12


__ADS_3

Seperti biasanya, Nara selalu menjadi murid yang paling terakhir mendapat jemputan dari orang tuanya. Saat datang dia hanya di antar oleh supir Oma nya.


"Nara ... kok cemberut sih?" tanya Mita. Sebab mendapati anak itu tengah duduk dengan wajah cemberut.


"Bunda tahu kenapa Nara cemberut. Karena daddy belum juga datang menjemput Nara kan?" tambah Mita. Sebab dia sudah bisa menebak penyebab anak itu cemberut.


Nara mengangguk kecil. Masih dengan wajah yang cemberut.


"Bunda punya cokelat, mau tidak?" tawar Mita untuk mengembalikan mood anak itu.


"Nara takut di marahi daddy."


"Nanti biar Bunda yang ngomong sama daddy. Kalau daddy nya marah, Bunda yang tanggung jawab. Hm, gimana?"


Nara terlihat seperti sedang berpikir sejenak. Namun sejurus kemudian, dia tersenyum.


"Boleh." Sahut Nara kegirangan.


Mita pun segera mengeluarkan cokelat batangan dari dalam tas nya. Lalu memberikannya pada Nara setelah membuka bungkusnya.


Bersama - sama mereka menikmati cokelat itu. Sambil Mita menceritakan beberapa cerita - cerita lucu. Hingga membuat Nara tertawa bahagia.


Saking mereka keasikan dengan cerita - cerita lucunya, hingga mereka tidak menyadari kehadiran Anjas disana.


"Siapa yang bolehin Nara makan cokelat?" tanya Anjas menghentikan tawa keduanya.


Mita dan Nara pun serentak menoleh ke arah sumber suara.


Melihat ekspresi Anjas, Nara refleks menyembunyikan cokelat itu di balik punggungnya.


Sementara Mita, refleks bangun berdiri dan berhadapan dengan Anjas.


Mita hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Saat melihat ekspresi Anjas yang seakan ingin menelannya bulat - bulat.


Gila. Hanya karena cokelat, ekspresinya bisa seperti seekor singa lapar.


Mita kembali menelan ludah melihat tatapan Anjas yang begitu tajam terhadapnya.


"Hmm ... tadi Nara terlihat sedih. Aku hanya ingin menghiburnya saja. Karena kebetulan aku bawa cokelat, jadi__" Mita gugup memberi penjelasan. Sambil menggaruk tengkuknya yang entah sejak kapan mulai terasa gatal.


"Kebiasaan kamu belum berubah."


Anjas masih ingat saja kebiasaan Mita yang kemana - mana selalu membawa cokelat.


"Maaf, aku__"


"Tidak apa - apa."


"Hah?" Mita terkejut mendengar kalimat yang di ucapkan Anjas.


"Daddy tidak marah?" tanya Nara keheranan.


"Untuk hari ini. Lain kali tidak boleh." Ucap Anjas namun pandangannya tertuju pada Mita.


"Asiiik ... makasih ya daddy?" Nara kegirangan.


Melihat Nara begitu senang, Mita pun tidak bisa menahan senyum nya melihat anak itu. Tidak peduli jika Anjas kini tengah menatapnya.


Mita hanya ingin menghindari tatapan Anjas dengan mengalihkan pandangannya pada Nara.


Sementara Anjas, tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Mita. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan. Perasaan yang Anjas rasakan selama empat tahun terakhir. Saat Anjas membatalkan pernikahan mereka.

__ADS_1


Ada rasa bersalah dan penyesalan yang terdalam. Namun tidak bisa di pungkiri, masih ada cinta untuk Mita di sudut hatinya yang terdalam.


Namun Mita, sudah terlanjur membencinya. Mungkin sudah terlambat bagi Anjas untuk menjelaskan semuanya pada Mita. Alasan penyebab di balik gagalnya pernikahan mereka dulu.


"Nara sangat lucu ya? Dia juga cantik, sama seperti mommy nya." Ucap Mita, entah tanpa sadar atau hanya untuk menyindir Anjas.


"Oh ya? Menurut kamu begitu?"


Mita mengangguk mantap, "Sasha itu wanita yang cantik, baik, dan sangat anggun."


Eh, itu apa maksudnya ya Mita ngomong seperti itu? Apa dia mau menyindir Anjas, bahwa alasan Anjas meninggalkannya dulu adalah Sasha?


Wajar jika Mita berpikir seperti itu. Anjas tidak memberi Mita penjelasan penyebab gagalnya hubungan mereka.


"Kamu sangat beruntung bisa memiliki wanita seperti Sasha. Sudah cantik, baik, ramah, keibuan, peng__"


"Kenapa kita jadi membicarakan Sasha ya?" sela Anjas membuat kalimat Mita terpotong.


Ups ! Iya juga ya ?


Arah - arah omongannya Mita kemana ya?


Mita sedang membicarakan Sasha, atau sedang menyindir Anjas ?


"Daddy, apa kita sudah boleh pulang?" tanya Nara kemudian.


"Tentu saja Nara sudah boleh pulang. Kan sudah di jemput sama daddy nya." Malah Mita yang menyahuti pertanyaan Nara.


Kalau sudah begini Anjas bisa apa lagi. Secara tidak langsung Mita sudah mengusirnya.


"Ya sudah, kita pulang yuk Nara." Ajak Anjas sambil mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Nara.


Namun saat di depan pintu kelas, langkah mereka terhenti.


Di depan mereka terlihat sesosok yang familiar tengah berjalan menghampiri.


Elvano.


Untuk apa lagi kedatangan pria itu kalau bukan untuk menemui Mita.


Eh, tapi, dari mana Elvano tahu tempat Mita mengais rejeki. Perasaan, Mita tidak memberitahu Elvano apa pun mengenai dirinya. Ini pasti ulahnya Nayla nih. Tapi tidak apa - apa. Setidaknya, dengan kedatangan Elvano, Mita bisa membuktikan pada Anjas bahwa dia sudah bisa move on. Dan bisa menemukan pengganti Anjas yang jauh lebih baik. Yah, meskipun hubungan mereka hanya sekedar sandiwara.


"Hai Anjas." Sapa Elvano saat pandangan matanya menangkap sosok Anjas.


"Hai Van. Kok kamu bisa ada di sini?"


Elvano tersenyum sambil menghampiri Mita yang berdiri di ambang pintu.


"Biasa, mau menjemput pacar." Ucap Elvano tanpa basa - basi.


Mita pun memaksakan senyumnya meski terlihat aneh. Sandiwara pun di mulai. Walaupun sebenarnya Mita sudah merasa tidak nyaman terus bersandiwara seperti ini. Lama - lama si Elvano ini malah semakin menjadi. Seolah - olah mereka benar - benar sedang pacaran.


Tapi apa boleh buat. Permainan ini, Mita sendiri yang memulainya. Mau tidak mau, Mita harus menjalaninya. Selama dia dan Anjas masih sering berjumpa.


Ngomong - ngomong soal jumpa, apa tidak sebaiknya Mita mencari cara lain saja ya, agar dia dan Anjas tidak akan berjumpa lagi. Dan sandiwaranya dengan Elvano pun bisa di akhiri. Tapi, bagaimana caranya ya?


"Hai sayang, maaf ya sudah membuat kamu menunggu." Ucap Elvano dengan manisnya sambil menatap mesra Mita.


Mau tidak mau, Mita pun menyunggingkan senyumnya. Meski sedikit di paksakan.


Si Elvano ini, apa maksudnya dia datang kemari.

__ADS_1


Mita hanya bisa mendengus dalam hatinya.


"It's okey sayang."


Otomatis, hati Anjas terasa ngilu melihat pemandangan itu.


Anjas mengulum senyum kecutnya. Sambil tatapannya tertuju pada Mita. Namun Mita malah menatap manis Elvano.


Sekilas pasangan itu terlihat cocok. Cocok dalam bersandiwara. Dan sukses membuat perasaan Anjas mendadak tak karuan. Antara cemas dan cemburu.


"Hai Nara ... Nara sekolah di sini ya?" tanya Elvano.


"Iya Om Vano. Oh ya, Om Vano kenapa tidak pernah lagi main - main ke rumah. Kan Nara dan aunty Jani kangen sama Om Vano."


"Maaf ya, akhir - akhir ini Om Vano jadi makin sibuk. Tapi kapan - kapan, Om Vano pasti main - main lagi ke rumah Nara. Om Vano boleh kan bawa pacar Om Vano yang cantik ini ke rumah Nara?"


"Boleh, Bunda Mita kan Bundanya Nara."


"Tos dulu kawan ..." Elvano mengangkat telapak tangannya dan di sambut oleh Nara dengan menepuk telapak tangan Elvano.


Seperti itulah Elvano. Biar dikata playboy, tapi dia orangnya ramah dan mudah bergaul. Mungkin itu salah satu caranya dalam menggaet para wanita. Melalui keramahannya. Modal ganteng saja tidak akan cukup.


Anjas dan Elvano sudah berteman sejak keduanya berstatus mahasiswa. Jadi sedikit banyak, Anjas tahu betul seperti apa Elvano.


"Aku duluan ya Van." Pamit Anjas kemudian menggandeng tangan Nara. Mereka berjalan menuju mobil Anjas yang terparkir di luar gerbang sekolah. Lalu mobil itu melaju meninggalkan sekolahan.


Sepeninggal Anjas, barulah Mita bisa bernapas lega. Sandiwara pun berakhir.


Kini Mita memasang tampang jutek. Membuat Elvano gemas jadinya.


"Jadi cewek jangan suka ngambek. Nanti cepat tua loh." Goda Elvano sambil menatap genit Mita.


"Tau dari mana aku disini ? Kamu ini rupanya seorang penguntit ya ?"


"Ish ... jangan gitu dong. Aku kesini karna aku ingin ketemu kamu. Tidak tau kenapa, aku rindu kamu."


"Omongan hidung belang emang kayak gitu tuh. Kayak omongan kamu barusan. Sok merayu."


"Eh, aku serius. Suer deh, aku serius."


"Kita ini cuma bersandiwara. Itu pun hanya di depan Anjas. Tapi makasih, kamu selalu ada di saat yang tepat."


"Itu namanya jodoh."


"Ikh, enak aja. Jodoh dari Hongkong."


Elvano hanya tersenyum - senyum melihat tingkah Mita yang jutek seperti itu. Baginya justru terlihat menggemaskan. Sepanjang sejarahnya dalam mendekati wanita, belum pernah ada wanita yang terang - terangan menolaknya. Bahkan pada pertemuan pertama. Dan Mita, adalah wanita pertama yang tidak terpikat oleh pesonanya. Itu adalah tantangan bagi seorang Elvano.


"Oh ya, kalau boleh aku tau, ada hubungan apa antara kamu dan Anjas. Kenapa kamu selalu menghindar darinya. Apa Anjas adalah pria yang pernah mengisi hati kamu?"


"Jika kamu mengijinkan, aku ingin menggantikan Anjas di hati kamu."


Mita terpaku menatap Elvano. Yang menatapnya serius.


...*...


...*...


...*...


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2