Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 62


__ADS_3

Sore hari menjelang. Anjas baru saja selesai dengan pekerjaannya. Hari ini dia berangkat kerja dengan menggunakan jasa taksi online. Anjas tengah berdiri di seberang jalan, sambil pandangannya tertunduk menatap layar ponselnya, hendak memesan taksi online melalui aplikasi. Saat tiba - tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama Elvano.


Awalnya, Anjas mengabaikannya. Tapi untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Anjas pun menjawab panggilan Elvano yang memintanya bertemu di Winata Group.


.


Di sore yang sama, Mita sudah berpakaian rapi, hendak menemui Anjas. Mita baru saja keluar dari kamarnya saat tiba - tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama Elvano. Sama halnya kepada Anjas, Elvano pun meminta untuk bertemu dengan Mita di Winata Group sore itu juga. Entah ada hal penting apa yang ingin dibicarakan Elvano.


Dan kini Mita sudah berada di ruangan Elvano, yang dulunya adalah ruangannya Anjas. Rupanya Mita sampai lebih dulu sebelum Anjas.


Melihat kedatangan Mita, Elvano pun bangun dari duduknya dan menghampiri Mita perlahan.


"Maaf, aku memintamu datang kemari." Ucap Elvano.


"Langsung saja, ada apa?" Tanya Mita datar.


"Kamu pernah memintaku mengembalikan milik Anjas. Dan aku mungkin akan melakukan itu."


"Baguslah kamu sadar kalau perbuatan kamu itu salah. Sebagai teman, harusnya kamu membantunya saat dia dalam kesulitan. Bukannya malah membuatnya semakin sulit."


"Aku tau. Aku dan Anjas memang sudah lama berteman. Makasih sudah mengingatkan aku."


"Mit ..." Perlahan Elvano meraih jemari Mita dan menggenggamnya erat.


"Maaf, Van. Aku harus pergi. Aku tidak bisa lama - lama." Sembari menarik tangannya dari genggaman erat Elvano.


Tangannya memang terlepas dari genggaman Elvano. Namun Elvano malah memeluknya dengan cepat. Hingga Mita pun tak sempat menghindar.


"Van, apa - apaan sih kamu Van. Lepaskan aku." Pinta Minta sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan Elvano. Namun Elvano malah semakin mempererat pelukannya.


Waduh ... Apa Elvano sengaja nih. Dia juga meminta Anjas untuk datang menemuinya di tempat dan waktu yang sama. Bagaimana kalau tiba - tiba Anjas datang dan melihat Elvano tengah memeluk kekasihnya. Apa yang akan terjadi nanti?


"Sebentar saja Mit. Biarkan aku memelukmu sebentar saja." Lirih Elvano meminta.


Meski Elvano meminta dengan sepenuh hatinya, namun perasaan Mita tetap merasa tak enak. Entah kenapa seakan hatinya gundah.


Dan di waktu yang bersamaan pula, tiba - tiba saja ...


Ceklek


Pintu terbuka. Dari pintu itu tampak Anjas yang datang menghampiri perlahan. Dengan raut wajah yang mulai sulit diartikan.


Terkejut saat melihat Elvano tengah memeluk Mita, serta kecewa melihat Mita membiarkan Elvano memeluknya. Jujur, Anjas tidak suka melihat pemandangan itu. Anjas marah, dan kecewa.


Melihat kedatangan Anjas, Elvano pun melepaskan pelukannya dari Mita. Sembari mengulum senyumnya, tatapan Elvano terhadap Anjas seakan tengah mengejeknya.


"Sorry Anjas, aku memintamu datang kemari." Ucap Elvano.


Seketika itu juga Mita terkaget. Refleks, Mita pun memutar tubuhnya dan mendapati Anjas tengah menatapnya tak suka.


"Anjas?" Mita hendak menghampiri Anjas. Namun Anjas malah mengangkat tangannya, menghentikan langkah Mita.


Apa ini? Anjas marah?


Wajar jika Anjas marah. Datang - datang ekh malah menyaksikan kekasihnya peluk - pelukan dengan laki - laki lain. Siapa yang tidak akan curiga dan marah saat menyaksikan pemandangan seperti itu.


"Jadi, kamu memintaku datang kemari hanya untuk menyaksikan ini?" Sinis Anjas.


"Jangan salah paham dulu. Aku memintamu datang kemari karena tempat ini memang milikmu." Ucap Elvano.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


Elvano beranjak ke meja dan mengambil sebuah berkas. Lalu memberikannya pada Anjas.


Anjas pun menerimanya penuh tanda tanya. Kemudian mulai membuka berkas itu halaman demi halaman.


Kini Anjas mengerti kenapa Elvano memintanya datang dan menyaksikan kemesraannya bersama Mita. Rupanya karena hal ini. Elvano memilih mengembalikan semua aset milik Anjas. Kini semua sudah beralih kembali atas namanya. Tapi kenapa Elvano melakukan ini?


Dan Mita?


Tentu saja dengan imbalan Mita harus jatuh ke pelukannya. Apakah Mita melakukan ini karena kasihan pada Anjas karena sekarang dia tidak punya apa - apa lagi?


"Kamu tidak perlu melakukan ini." Sembari menyodorkan kembali berkas itu kepada Elvano.


Elvano menerimanya dan meletakkannya kembali di meja itu.


"Aku tidak membutuhkannya lagi. Tidak perlu repot - repot mengasihaniku." Ucap Anjas kemudian melirik Mita.


"Anjas ... Kita berteman sudah lama. Sebagai teman, aku hanya ingin membantu."


Anjas tersenyum tipis nan sinis, tak percaya dengan ucapan Elvano.


"Yang kamu lihat tadi itu, tidak ada kaitannya dengan ini. Aku hanya berterima kasih pada Mita, yang sudah mengingatkan aku akan arti persahabatan. Aku melakukan ini karena kamu adalah sahabatku."


"Kamu berharap aku mempercayaimu?" Anjas kembali melirik Mita.


Melihat gelagat Anjas, Elvano pun mengerti. Sulit membuat Anjas percaya. Apalagi saat kedua matanya menyaksikan pemandangan yang jelas - jelas menyulut amarahnya.


"Aku rasa kalian perlu bicara. Tolong jangan salah mengartikan situasi ini. Jangan menyalahkan dia." Ucap Elvano sembari melirik Mita sejenak. Kemudian memilih keluar dari ruangan itu.


"Anjas, ada yang ingin aku__" Ucapan Mita terhenti.


"Maksud kamu? Kamu sudah tau apa yang ingin aku beritahu?"


"Karena aku sudah tidak punya apa - apa lagi, jadi kamu memilih kembali pada Vano. Aku benar kan? Vano bukan dari keluarga sembarangan, aku rasa kamu sudah tau itu. Makanya kamu__"


"Cukup!" Sela Mita lantang. Kini Mita yang tersulut emosinya.


Tuh kan? Dugaan Mita benar. Anjas mulai meragukannya.


"Serendah itu kamu menilaiku?" Mita terlihat mulai berkaca - kaca. Tampak buliran air bening mulai membendung di pelupuk matanya.


"Tadinya aku mau menemui kamu hanya untuk memberitahu kalau Mama sudah merestui hubungan kita. Lalu tiba - tiba saja Vano menelponku dan memintaku datang kemari. Mungkin seharusnya aku tidak datang jika aku hanya akan mendapatkan hinaan seperti ini darimu." Akhirnya buliran air bening itu pun tak terbendung lagi. Berjatuhan bebas membasahi wajahnya.


Mita kemudian beranjak meninggalkan Anjas. Dengan perasaan sakit, perih, atas hinaan yang diterimanya dari orang yang paling dekat dihatinya. Rasanya seperti hatinya diremas - remas. Perih seperti tersayat sembilu.


"Mita ..." Panggil Anjas.


Namun Mita tak menghiraukan. Hatinya terlanjur sakit. Dia hanya ingin menjauh sejenak dari Anjas.


Dan Anjas, merasa iba dan merasa bersalah telah menyakiti perasaan Mita. Dengan cepat menyusul langkah Mita sebelum Mita keluar dari ruangan itu.


Sedikit kasar, Anjas mencekal lengan Mita.


"Dengarkan aku dulu." Pinta Anjas begitu langkah Mita terhenti.


"Lain kali saja kita bicara." Sambil menepis tangan Anjas yang mencekal lengannya.


Namun apa yang terjadi? Anjas justru menariknya lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Maafkan aku." Lirih Anjas sembari mempererat pelukannya.


"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tidak suka melihat Vano memelukmu."


"Kamu meragukan aku?"


Anjas pun melepaskan pelukannya. Menatap Mita sendu sembari mengulum senyum. Serta membawa jemarinya menghapus air mata di wajah Mita.


"Siapa yang meragukan kamu? Aku percaya kamu mencintaiku."


Mita pun mulai cemberut, "Memang seharusnya seperti itu. Aku kesal, ucapan kamu itu membuat aku tersinggung. Memangnya aku cewek apaan?"


"Hei, jangan cemberut."


"Aku kesal tau." Mita malah semakin cemberut hingga membuat Anjas gemas dengan tingkahnya yang mirip bocah.


Saking gemasnya, tanpa aba - aba, dengan cepat Anjas mendaratkan bibirnya. Memagut lembut dan mesra bibir ranum Mita. Yang selalu membuatnya tergoda, seakan itu adalah candu baginya.


Dan Mita pun melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Anjas. Membalas setiap lum*atan lembut yang Anjas berikan. Mita memang tak bisa menolak sentuhan lembut Anjas. Sentuhan itu seakan membuatnya melayang dan ingin hanyut bersamanya.


Memang tidak bisa dipungkiri, Mita masih sangat mencintai Anjas. Meski selama empat tahun lamanya Mita memendam kebencian untuk pria itu. Namun kebencian itupun sirna saat Mita tahu kebenaran Anjas. Seperti kemarau panjang yang terhapus oleh hujan sehari. Seperti itulah perasaan Mita untuk Anjas. Sedangkan Anjas sendiri, hingga detik ini, tak pernah sekalipun berpaling dari Mita. Meski selama empat tahun mereka tidak saling bertemu, selama itu pula Anjas tetap menjaga hatinya untuk Mita. Karena baginya, Mita adalah satu - satunya. Sekarang dan selamanya.


.


.


.


Malam harinya.


Anjas memberanikan diri membawa Mita ke rumahnya. Bermaksud ingin memperkenalkan Mita sebagai calon isterinya kepada keluarganya. Sebenarnya, Anjas tidak terlalu membutuhkan restu mamanya. Tapi sebagai anak yang baik, Anjas tetap butuh restu mamanya. Sebab rumah tangga yang bahagia membutuhkan restu orang tua.


Di rumah itu, Anjas mendapati mamanya, Anjani adiknya, serta Nara sedang mengobrol santai di ruang tengah sekaligus ruang keluarga. Obrolan mereka pun terhenti dengan kedatangan Anjas dan Mita.


"Aku minta waktu kalian sebentar." Ucap Anjas sembari memandangi keluarganya satu per satu.


Sementara Mita menundukkan wajahnya. Dari ekspresi Oma Lidya, sangat jelas terlihat, wanita paruh baya itu tidak menyukainya.


"Bunda ..." Seru Nara sembari bangun dari duduknya dan menghampiri Mita.


"Hai Nara ..." Sapa Mita manis sembari mengulas senyum menatap anak kecil itu.


"Bunda kok jarang lagi datang kesinj? Nara kan kangen main sama Bunda." Ucap Nara dengan polosnya.


"Nara ..." Anjas berjongkok, menatap Nara dengan senyuman.


"Nara mau tidak, kalau Bunda Mita jadi Mommy nya Nara?" Tanya Anjas.


Nara terdiam. Sembari memandangi Anjas dan Mita bergantian dengan wajah kebingungan.


Kira - kira apa jawaban anak kecil itu? Anjas dengan sabar menunggunya.


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2