Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 49


__ADS_3

Siapa yang menyangka, dunia yang begitu luas akan terasa sempit jika Tuhan menghendaki untuk selalu mempertemukan dua insan yang terpisah. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Anjas dan Mita.


Sore hari menjelang.


Di kediaman winata. Setelah memandikan Nara dan membantunya berpakaian, Mita menemaninya menonton TV di ruang tengah rumah itu. Oma Lidya sudah berpesan agar memandikan Nara di sore hari. Apalagi sebentar malam mereka mau makan malam di rumah keluarga Sandy Abraham.


Sebenarnya dengan adanya Anjas dan Anjani di rumah, Mita sudah boleh pulang. Tapi dia harus tetap profesional. Ceileh ... lagaknya, sok profesional. Yang mempekerjakannya adalah Oma Lidya, jadi dia harus menunggu Oma Lidya pulang dulu. Paling tidak, dia harus bekerja sampai jam lima sore.


Tayangan favorit Nara sedang tayang saat ini. Tayangan yang disukai setiap anak kecil, Masha and The Bear. Mita dan Nara tertawa - tawa melihat kegaduhan dua sahabat itu, Masha dan sang beruang. Saking asiknya mereka menonton tayangan itu, sampai - sampai Mita tidak menyadari Anjas datang dan mengambil duduk di sebelah Mita.


"Aku mau bicara sebentar. Kita ke belakang yuk." Bisik Anjas di telinga Mita. Hingga Mita tersentak kaget.


"Aku tidak mau." Balas Mita dengan berbisik pula.


"Aku masih menunggu jawaban kamu."


"Aku sudah memberikan jawabannya. Tidak!"


"Aku tidak percaya. Aku tau, kamu__"


"Nara, kita ke kamarnya Nara yuk. Kita main boneka aja, gimana?" Ajak Mita pada Nara untuk menghindari Anjas.


Nara pun menoleh. Dan melihat ada Anjas di sebelah Mita.


"Eh, ada Daddy ya ..." Sapa Nara. Anjas menyunggingkan senyumnya.


"Nara main dulu dengan Aunty. Kasihan Bundanya, mungkin capek."


"Tidak, Bunda tidak capek kok." Sela Mita. Kemudian memberikan lirikan mematikan ke arah Anjas. Anjas malah membalasnya dengan senyuman.


"Benar Bunda tidak capek?" Nara memastikan.


Mita pun mengangguk cepat.


"Daddy, ikut yuk ke kamar Nara. Kita main boneka sama Bunda." Lah kok Nara malah mengajak Daddy nya serta. Jelas Daddy nya jadi senang bukan kepalang.


"Boleh, boleh." Anjas pun seketika bangkit dari duduknya. Dengan wajah sumringah.


Sedangkan Mita malah memelototinya. Anjas pasti merasa ini adalah kesempatan yang bagus buatnya.


"Aku Daddy nya, jadi aku boleh dong ke kamarnya Nara." Anjas kembali mengulum senyumnya. Seakan tengah meledek Mita.


Duh, gimana ini? Mita harus membuat alasan apa lagi untuk mencegah Anjas ikut ke kamarnya Nara. Mita memaksa otaknya bekerja, mencari alasan untuk menghindari si macan tutul itu.


Mungkin kali ini nasib baik berpihak pada Mita. Dari depan terdengar suara lembut ibu - ibu memanggil Memey, ART rumah ini. Siapa lagi ibu - ibu itu kalau bukan Oma Lidya. Melihat Oma Lidya datang, rencana mereka mau main boneka pun gagal.


"Memey ..." Panggil Oma Lidya dengan nada keras.


Sekali saja dipanggil oleh ibu - ibu banyak gaya itu, Memey langsung datang menghampiri.


"Iya, Nyonya."


"Tolong siapkan air panas. Saya mau mandi air hangat." Titah Oma Lidya.


"Beres, Nyonya." Memey langsung mematuhi perintah majikannya tanpa membantah sedikitpun.


"Anjas? Kamu sudah pulang?" Oma Lidya kaget melihat Anjas sudah berada di rumah. Karena waktu baru menunjukkan pukul empat sore.


"Aku hanya merasa kurang enak badan."


"Oh ya? Trus gimana keadaan kamu sekarang?" Sembari berjalan menghampiri.

__ADS_1


"Sudah agak mendingan."


"Oh ya Mita. Kamu sudah boleh pulang skarang. Besok, kamu datang lagi ya?" Oma Lidya beralih memandangi Mita.


"Jangan dulu dong Bunda. Jangan pulang dulu. Nara kan masih mau main dengan Bunda." Rengek Nara.


Aduuuh anak kecil ini. Padahal Mita sudah ingin pulang.


"Eh ... Nara, besok kan Bunda Mita datang lagi. Skarang Bunda Mita pulang dulu. Biar Bunda istirahat dulu di rumah. Nara juga harus istirahat sebentar. Nanti malam kan kita mau ke rumah Mommy nya Nara."


"Tidak apa - apa kok Tante. Saya masih bisa menemani Nara sebentar." Mita tak tega melihat anak kecil itu merengek dengan wajah cemberut.


"Benar tidak apa - apa?"


"Iya, Tante. Tidak apa - apa."


"Asiiiiik ..." Nara kegirangan.


"Ya sudah. Tolong kamu temani dia sebentar ya?"


Mita mengulas senyum sembari mengangguk. Kemudian menggandeng lengan Nara, mengajak anak itu ke kamarnya.


YES!


Anjas tersenyum senang sambil memandangi punggung Mita yang semakin menjauh. Tingkahnya itu tertangkap basah pandangan mata Oma Lidya.


"Kenapa senyum - senyum sendiri?" Selidik Oma Lidya sambil mengamati wajah Anjas.


"Siapa yang senyum - senyum. Mama salah lihat."


"Dia itu pacarnya Vano, sepupunya Sasha. Kamu tau kan?"


"Ma ..."


"Mama dengar dari Sasha, Vano akan segera melamarnya. Mereka berdua terlihat cocok. Sudah sepantasnya mereka menikah."


"Ma, ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama. Aku minta waktu Mama sebentar."


"Kamu mau bicara soal apa?" Sembari memperhatikan raut wajah Anjas yang tampak serius.


"Aku sudah pernah memberitahukan ini, kalau aku mencintai orang lain. Dan orang itu adalah ..."


"Nyonya ... Air panasnya sudah siap." Tiba - tiba Memey datang.


"Ya sudah, Mama mau mandi dulu. Nanti saja kita bicara ya?" Oma Lidya pun melenggang meninggalkan Anjas yang menahan kekesalan.


"Oh ya, kamu tidak lupa kan nanti malam kita ke rumahnya Sasha?" Oma Lidya kembali mengingatkan Anjas, sebelum akhirnya masuk ke kamarnya yang tidak jauh dari ruang tengah itu.


Anjas menghembuskan napasnya panjang. Mencoba meredakan kekesalan di hatinya. Padahal dia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk mengakui siapa wanita yang dicintainya. Dia sudah siap, walau apapun yang akan terjadi nantinya. Tapi malah gagal.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat.


Mita baru bisa pulang setelah membantu mendandani Nara untuk menghadiri makan malam di keluarganya Sasha.


Mita mulai menuruni anak tangga bersama Nara yang tampak cantik dengan gaun pink berendanya.

__ADS_1


"Bunda besok datang lagi kan?" Tanya Nara sembari mereka menuruni anak tangga.


"Iya, besok Bunda datang lagi. Kalau untuk Nara, kenapa tidak?"


"Bunda, menikah itu apa sih?"


"Menikah?" Langkah Mita terhenti. Begitu pun Nara. Sedikit terkejut mendengar anak kecil menanyakan hal itu.


"Menikah itu ... Eum ..." Mita bingung harus menjawab apa.


"Kata Oma, Mommy dan Daddy akan menikah. Trus, kata Memey, kalau Mommy dan Daddy menikah bakal punya dede bayi. Nara senaaang banget kalau Mommy dan Daddy menikah. Biar Nara punya adek. jadi Nara bakal punya teman di rumah." Ucap Nara dengan wajah bahagianya.


Mita tersenyum hambar mendengarnya. Entah kenapa terasa aneh di telinganya. Serasa ada yang sesak di dadanya.


Mommy dan Daddy menikah ...


Itukah yang membuat dadanya terasa sesak? Lalu perasaan apa itu? Cemburu?


Tidak! Tidak! Kamu tidak cemburu Mita. Kalimat itu hanya terasa aneh saja.


Mita meyakinkan dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang aneh dengan perasaannya.


"Nara ..." Mita hendak mengatakan sesuatu, akan tetapi harus terhenti. Sebab di lantai bawah terdengar sedikit keributan.


"Anjas, kamu mau kemana? Sebentar lagi kita harus ke rumahnya Sasha lho. Bu Ambar sudah menelpon Mama dan menanyakan apakah kita bisa datang malam ini." Ujar Oma Lidya dengan suara keras sambil menyusul langkah Anjas.


Anjas terus melenggang tanpa menghiraukan ucapan mamanya.


"Anjas, tolong jangan buat Mama kecewa. Kamu tau apa yang bisa Mama lakukan jika kamu mengecewakan Mama. Anjas ..." Ujar Oma Lidya lagi sambil terus mengikuti langkah Anjas.


Sampai di depan tangga, langkah Anjas pun terhenti. Lalu menengadah, memandangi Mita. Yang menatapnya dengan raut penuh tanda tanya.


"Apa untungnya buat kamu jika kamu menolak pertunangan ini. Apa wanita masa lalu kamu itu akan kembali? Mungkin saja dia sudah punya pria lain. Atau mungkin saja dia sudah menikah. Pakai akal sehat kamu. Mungkin saja dia sudah tidak mencintai kamu lagi." Ujar Oma Lidya lagi dengan nada suara meninggi.


Pertengkaran seperti ini belum pernah terjadi di rumah ini. Dan hal itu terasa aneh bagi Nara. Anak itu memandangi Oma dan Daddy nya bergantian dengan ekspresi ketakutan. Baru kali ini anak itu melihat Oma nya marah - marah.


"Ma, tolong jangan bahas soal ini lagi. Aku sudah memberikan keputusanku, aku tidak bisa bertunangan dengan Sasha. Apalagi menikah. Aku tidak mencintainya. Aku tidak akan pernah bahagia hidup bersama dengan orang yang tidak aku cintai." Anjas kembali menadahkan pandangannya. Memandangi Mita yang terlihat jadi serba salah.


Mita tahu, Anjas seperti itu karena dirinya. Bagaimana jika Oma Lidya tahu kalau wanita masa lalu Anjas itu adalah dirinya? Dari kenyataan yang ada di depan matanya saat ini saja, sudah bisa ditebaknya kalau Oma Lidya tidak akan menyetujui hubungannya dengan Anjas. Jadi untuk apa Mita membuka kembali hatinya untuk pria itu.


"Cinta? Bahagia? Apa kamu akan bahagia jika keluarga kita hidup di jalanan nanti? Bagaimana jika ayahnya Sasha menarik kembali semua saham dan investasinya. Apa kamu mau melihat keluarga kita hidup menderita?"


Mita pun terhenyak mendengar ucapan Oma Lidya. Jadi ini alasannya kenapa Anjas tidak bisa menolak Sasha? Kenapa baru sekarang Mita mengetahuinya. Anjas benar - benar berada dalam posisi yang sulit.


"Mama, Kak Anjas ... Tolong hentikan. Nara jadi ketakutan." Anjani datang karena mendengar keributan itu.


"Nara, ikut Aunty yuk. Kita main di taman belakang ya?" Ajak Anjani.


Nara dan Mita pun menuruni anak tangga. Lalu bersama Anjani mereka ke taman belakang.


Hadeeeh, kalau begini jadinya, bisa - bisa tengah malam Mita baru bisa pulang ke rumahnya. Padahal dia sudah begitu merindukan gulingnya. Ingin sekali segera merebahkan tubuh yang terasa lelah ini.


.......


.......


.......


...***Bersambung...


Baru bisa up gara² jaringan wifi nya ngadat mulu*** ...

__ADS_1


__ADS_2