
Di meja makan itu hanya ada mereka berempat, makan dengan perasaan canggung. Di temani cahaya yang temaram di taman belakang rumah itu.
Mungkin hanya Mita yang canggung saat ini. Sementara Anjas, Elvano, dan Sasha terlihat tenang dan khusyu menikmati santapannya.
Sesekali Mita melirik Anjas. Perasaan aneh itu datang lagi. Sejak Mita tahu kebenaran Anjas, entah kenapa perasaannya jadi tak karuan. Ada rasa bersalah dan tak enak hati sudah membenci pria itu tanpa alasan selama empat tahun.
Eits, jangan salah. Mita punya alasan. Yaitu karena Anjas membatalkan pernikahan mereka secara sepihak. Dan memutus hubungan mereka sadis. Alasan itu cukup dong buat Mita marah terhadap Anjas.
Tapi, sebenarnya kasihan Anjas juga. Anjas pasti sangat bimbang saat itu. Dia harus memilih antara cintanya atau keluarganya saat itu. Anjas pasti sangat sulit saat itu ketika terdesak oleh keadaan. Wajar kalau dia lebih memilih keluarganya.
Hiks! Kasihan Anjas.
Eh, Kok Mita jadi kasihan gitu sama Anjas? Meski Mita sudah meminta maaf, tapi gak gini juga kali. Kalau Anjas tau Mita kasihan padanya, bisa - bisa pria itu akan memanfaatkan keadaan itu untuk bisa kembali padanya. Lalu, gimana dengan Elvano dan Sasha?
Bukan hanya Mita, Anjas pun sesekali melirik Mita. Dan lirikan Anjas itu sempat tertangkap mata oleh Sasha. Dalam sekejap paras cantik Sasha jadi tak begitu indah di pandang mata. Tersirat amarah dan cemburu dari raut wajah itu
Sementara Elvano, dengan santainya menyantap makanannya. Bahkan kini dia mencoba menyuapi Mita.
"Sayang aa ... cobain, ini enak." Elvano sudah bersiap menyuapi Mita.
Mita terlihat canggung, apalagi Anjas menatapnya tak suka. Tapi akhirnya Mita pun menerima suapan dari Elvano.
Hmm ... Elvano pasti sengaja nih mau bikin Anjas cemburu. Padahal makanan yang mereka makan kan sama.
"Enak kan? Mau aku suapin lagi?" Elvano mulai lagi nih.
"Tidak usah ... Aku bisa makan sendiri kok." Tolak Mita.
Namun kemudian Elvano mengambil tisu dan mulai mengelap bibir Mita.
"Kok jadi belepotan begini sih sayang ..." yaelah, padahal bibir Mita bersih. Gak belepotan.
"Van, jangan gini dong. Aku malu." Ucap Mita setengah berbisik. Sembari menurunkan tangan Elvano dari bibirnya.
"Kenapa harus malu. Kamu kan pacarku?"
"Iya, tapi__"
Brakkk !
Anjas menepuk meja makan itu hingga mereka tersentak kaget. Lalu menatap heran Anjas.
Sumpah, Anjas sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan Elvano. Pasti dia sengaja mau bikin Anjas gedek. Bisa - bisa gondokan nih si Anjas. Wajah tampannya saja sudah merah padam gitu. Persis seperti habis kena siraman air cabe.
"Aku sudah kenyang." Ucap Anjas singkat kemudian berdiri dan mulai meninggalkan meja makan itu.
"Anjas ..." panggil Sasha sembari bangkit dan menyusul Anjas.
Sementara Elvano dan Mita saling menatap heran. Mita tahu, Anjas pasti tidak suka melihat kemesraan mereka. Sedangkan Elvano, mau senang tapi tak enak hati pada Anjas. Walau bagaimanapun Anjas adalah sahabatnya.
"Van, kayaknya aku udah kenyang."
__ADS_1
"Ya udah. Kita kesana yuk." Sambil menunjuk sebuah bangku panjang di pinggiran kolam renang
Mita hanya mengangguk. Kemudian bersama - sama mereka berjalan menuju bangku kecil di pinggiran kolam renang itu.
Sementara Sasha masih berusaha menyusul langkah Anjas yang sudah memasuki rumah.
"Anjas, tunggu ..." panggil Sasha sembari melangkah panjang menyusul langkah Anjas.
"Anjas kamu kenapa sih?" tanya Sasha masih berusaha menyusul Anjas.
Akhirnya, Anjas pun menghentikan langkahnya. Lalu memutar tubuhnya menghadap Sasha.
"Kamu kenapa sih?" Sasha mengulang pertanyaanya.
"Makan malam ini kita sudahi saja. Aku mau pulang skarang."
"Kamu serius mau pulang? Vano dan Mita masih__"
Tiba - tiba Anjas melangkahkan kembali kakinya menuju ke taman belakang. Hampir saja dia lupa, Mita masih bersama Elvano. Kalau tidak diawasi, bisa berbuat yang macam - macam nanti playboy karatan itu. Dan Sasha, setengah berlari menyusul langkah panjang Anjas.
Dan benar saja, di bangku yang ada di pinggiran kolam itu, Mita dan Elvano sedang duduk berdua. Tangan Elvano merangkul mesra pundak Mita. Dan perlahan pria itu mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Mita. Buru - buru Anjas melangkahkan kakinya lebih mendekat.
"Ehem ... Ehem ..."
Suara deheman Anjas pun mengagetkan Elvano dan Mita. Otomatis, aksi Elvano pun gatot. Alias gagal total.
"Eh, Anjas?" Elvano terkaget melihat Anjas sudah berdiri di sampingnya.
"Oh ya, Van. Kemarin tidak sengaja aku bertemu Liza. Kamu masih sering ke tempatnya Liza? soalnya kemarin dia terus menanyakan kamu." Anjas sengaja nih. Ingin balas dendam pada Elvano.
"Liza? Siapa dia?" Elvano pura - pura tidak tahu. Bisa gawat nih kalau Mita tahu siapa Liza. Mantan pacar Elvano yang setengah gila itu tidak pernah menyerah mendapatkan kembali Elvano ke dalam pelukannya. Bahkan dia rela menyerahkan tubuhnya untuk Elvano. Asalkan Elvano bisa kembali menjadi miliknya.
"Kamu lupa ya? Aku pikir kalian sudah pernah tidur bareng. Masa secepat itu kamu lupa." Waah, Anjas benar - benar mau balas dendam nih. Bisa hancur persahabatan mereka nanti. Jangan salahkan Anjas. Elvano yang lebih dulu memulai.
"Siapa Liza Van?" tanya Mita sambil menatap curiga Elvano.
"Bukan, bukan siapa - siapa. Aku tidak kenal siapa Liza sayang."
"Eum ... Anjas, kita ngobrol di dalam aja yuk." Ajak Sasha. Bisa gawat juga kalau nanti Elvano gagal menjauhkan Mita dari Anjas. Aduh, jangan sampe hubungan Mita dan Elvano kandas. Bisa gagal nih rencananya Sasha.
"Loh, Vano tidak memberitahu kamu siapa Liza? Liza itu adalah pa__" kalimat Anjas terpotong. Karena Elvano secepat kilat berdiri lalu mencengkeram kerahnya kuat. Dan memberinya tatapan tajam.
Hampir saja Anjas memberitahu Mita siapa Liza. Tidak mungkin juga Elvano memberitahu Mita, bahwa Liza itu hanyalah pemuas nafsunya semata. Elvano akan menemui Liza jika sedang butuh saja. Tidak lebih dari itu. Elvano tidak punya perasaan apa - apa terhadap Liza. Elvano hanya memanfaatkan tubuh Liza saja untuk memuaskan hasrat lelakinya.
Dan hal itulah yang Anjas takutkan dari hubungan mereka. Dia tidak ingin Elvano memperlakukan Mita seperti Elvano memperlakukan Liza.
"Aku tidak ingin mencari keributan. Please, jangan rusak persahabatan kita dengan cara seperti ini." Ucap Elvano setengah berbisik. Sambil menahan amarah.
"Van ..." panggil Mita yang mulai cemas melihat Elvano tengah mencengkeram kerah baju Anjas.
"Vano, tenang dulu. Please ... ini di rumahku loh ya. Aku tidak mau ada keributan di rumah ini." Pinta Sasha.
__ADS_1
Elvano pun melepaskan cengkeramannya.
"Aku tau apa yang kamu takutkan." Ucap Elvano sembari menatap sinis Anjas.
"Tapi tenang saja bro. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu padanya. Kenapa? karna aku tulus mencintainya." Sambung Elvano cepat.
Anjas pun tersenyum sinis. Rasanya dia kurang yakin jika Elvano bisa berubah secepat itu. Setahu Anjas, tidak ada cinta dalam kamus Elvano. Yang ada hanya nafsu semata.
"Cinta? Sejak kapan kamu mengenal kata cinta? Bukannya selama ini, buat kamu cewek itu hanya pemuas nafsu semata. Tidak pernah ada satupun cewek yang bisa membuat kamu jatuh cinta. Tidak terkecuali Mita. Iya kan?"
"Anjas. Udah ya ... mendingan kita ke dalam aja yuk." Bujuk Sasha pelan. Sepertinya Anjas sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia semakin terbakar api cemburu.
"Van ... ini ada apa sih? Kalian kenapa?" tanya Mita bingung.
Elvano memutar tubuhnya menghadap Mita.
"Tidak ada apa - apa sayang. Hanya sedikit kesalahpahaman saja." Sambil mengusap lembut sebelah pipi mulus Mita.
Anjas semakin geram melihat tingkah Elvano. Anjas hanya tidak suka melihat pria itu menyentuh Mita.
Tiba - tiba saja, Anjas menarik lengan Elvano. Hingga tangan Elvano yang menyentuh pipi Mita pun terlepas. Lalu Anjas menggeretnya kasar menjauhi Mita.
"Apaan sih bro." Elvano menghempaskan kasar lengannya dari cengkeraman Anjas.
"Jangan pernah menyentuhnya." Titah Anjas tegas dengan tatapan garang.
"What? Memangnya kamu siapa? Pacar bukan, suami apalagi. Terserah aku. Dia kan pacarku. Apa hak kamu melarangku."
"Mita bukan cewek sembarangan. Jadi, jangan pernah mempermainkan dia."
"Jangan khawatir. Aku mencintainya. Bila perlu, aku akan menikahinya."
Anjas tertawa sumbang mendengar kalimat Elvano.
"Ngaco kamu." Sambil menggeleng tak percaya.
"Aku minta kamu jauhi dia skarang juga." Pinta Anjas.
"Sorry bro. Kalau soal itu, aku tidak bisa." Kemudian berbalik hendak menjauhi Anjas. Tapi tiba - tiba saja ...
Bugh !!!
Sebuah pukulan keras dengan cepat melayang di wajah Elvano. Hingga Elvano terhuyung. Darah segar pun mulai mengalir dari sudut bibirnya.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1
Hadeeeh 🤦🤦🤦
Kok malah main tonjok²an sih ...