
Bak perangko, Anjas dan Mita seakan tak ingin terpisahkan. Kemana-mana selalu berdua. Bahkan saat pulang kantor pun keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Hingga membuat iri setiap pasang mata yang melihatnya.
Sampai di parkiran, dengan sigap Anjas membukakan pintu mobil untuk Mita, calon istri tercintanya. Mita pun bergegas naik sembari melempar senyum hangatnya.
Bahkan dalam perjalanan pulang pun, mereka masih saja bergandengan tangan. Alhasil, Anjas menyetir dengan menggunakan satu tangannya saja.
Namun tanpa mereka sadari, sebuah mobil tidak dikenal tengah mengikuti mereka secara diam-diam sejak keluar dari pelataran parkir. Entah siapa pengemudinya, tapi mobil hitam itu terus mengikuti mereka.
"Chatingan terus. Siapa sih?" Tanya Anjas penasaran. Sebab sejak tadi pandangan Mita tertunduk pada layar ponselnya itu.
"Sepupuku. Katanya dia baru pindah ke kota ini dua minggu lalu. Dan skarang dia sedang mencari pekerjaan." Mita pun menutup ponselnya dan menaruhnya kembali ke dalam tasnya.
"Sepupu kamu? Perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan. Namanya Lyra."
"Kalau dia mau, dia bisa bekerja di kantorku."
"Mana bisa? Dia itu seorang perawat. Dia sudah memasukkan lamaran ke beberapa rumah sakit. Siapa tau saja ada rumah sakit yang mau mempekerjakan dia."
"Semoga saja."
"Orangnya cantik loh."
"Oh ya? Tapi tidak akan lebih cantik dari bidadariku ini. Mmuachh ..." Sembari mengecup punggung jemari Mita yang digenggamnya.
"Gombal." Mita sampai tersipu malu dengan gombalan receh Anjas.
Anjas tersenyum dan kembali mengecup punggung jemari Mita, bahkan sampai berulang-ulang kali. Alhasil, konsentrasinya pada jalanan jadi sedikit terusik. Hingga Mita pun harus mengingatkannya.
"Anjas, hati-hati dong."
"Aku ini supir yang handal. Jangan cemas." Anjas malah bercanda.
Sementara di belakang mobil hitam itu masih mengikuti. Entah sudah berapa lama, hingga akhirnya, Anjas pun menyadarinya. Sesekali diliriknya kaca spion di sisi kanan mobil. Mobil itu tengah berusaha untuk menyalip.
"Ada apa?" Tanya Mita begitu menyadari gelagat Anjas yang mulai tampak cemas. Bahkan harus menambah kecepatan. Mita pun menarik kembali jemarinya dari genggaman Anjas. Sebab Anjas harus berkonsentrasi penuh pada jalanan. Ditambah lagi kecepatan mobilnya sudah melebihi batas kecepatan yang dianjurkan untuk keselamatan.
"Anjas, hati-hati." Cemas Mita.
Di belakang, mobil itu masih saja terus mengikuti. Membuat Anjas harus mencari cara untuk menghindarinya.
"Ada mobil yang mengikuti kita." Ujar Anjas.
"Benarkah?" Lalu menoleh ke belakang. Memang benar, ada mobil yang mengikuti mereka. Entah siapa pula pengemudinya. Tapi yang pasti mobil itu terus mengikuti, bahkan juga ikut menambah kecepatannya. Alhasil, Mita pun panik.
__ADS_1
"Duduk saja yang tenang. Jangan panik begitu." Titah Anjas saat melihat Mita panik dan cemas luar biasa. Namun otaknya berpikir, siapa kira-kira yang diam-diam mengikutinya. Setahunya, selama ini dia tidak mempunyai musuh. Lantas siapa orang yang ingin mencelakainya?
Tak jauh di depan, ada perempatan. Beberapa detik lagi lampu lalu lintas akan berganti merah. Anjas pun semakin menambah laju mobilnya sebelum lampunya berganti. Beruntung Anjas bisa mencapai batas waktunya. Hingga saat lampu lalu lintas berganti merah, mobil Anjas sudah berada di seberang. Sedangkan mobil hitam itu terhenti tepat di depan lampu merah.
Anjas pun bisa bernapas lega. Lalu menurunkan kembali kecepatan mobilnya.
"Itu mobil siapa sih? Kamu kenal?" Tanya Mita.
"Entahlah. Aku tidak tahu." Mungkin Anjas harus mencari tahu.
.
.
.
Elvano baru saja keluar dari coffeshop. Beberapa minggu terakhir ini dia jarang lagi datang ke coffeshop miliknya yang terletak di tengah kota itu. Elvano hanya memantau perkembangan coffeshop itu dari pegawai kepercayaannya saja. Setelah bisa kembali berdamai dengan hatinya, akhirnya malam ini pun Elvano bisa datang ke tempat itu.
Baru saja Elvano hendak membuka pintu mobil, tak jauh di seberang, lagi-lagi, pandangannya menangkap sesosok yang familiar tengah mengobrol dengan seorang pria bertampang preman. Tak berapa lama preman itu pun bergegas pergi.
Elvano mengernyit. Di motivasi oleh rasa keingintahuannya, Elvano pun menghampiri sosok yang familiar itu. Yang tidak lain adalah sepupunya sendiri, Sasha.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Elvano mengagetkan Sasha.
Sasha pun tersentak. Lalu mendadak salah tingkah. Elvano memperhatikan tingkahnya dengan raut penuh kecurigaan.
"Oh ya? Yang aku tahu kamu tidak pernah datang ke coffeshop ku. Kecuali bersama Anjas. Kok tumben?"
"Memangnya tidak boleh aku datang sendiri? Lagipula, sekarang aku tidak punya teman."
"Siapa orang itu?"
"Apa maksud kamu? Orang yang mana?" Asli, Sasha makin terlihat salah tingkah. Gelagatnya itu benar-benar membuat Elvano curiga. Dia tahu betul seperti apa Sasha. Bahkan belum lama ini dia berencana buruk terhadap Mita. Jangan bilang kalau saat ini dia sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai Mita lagi.
No No No! Elvano tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Ini bukan yan pertama kalinya aku melihat kamu bicara dengan orang itu. Jangan bilang kalau skarang kamu ..."
"Jangan suka menuduh sembarangan. Aku memang tidak kenal orang itu."
"Dengar ya Sha, aku tidak mau terjadi sesuatu pada Mita. Kalau sampai itu terjadi, aku yakin, itu adalah perbuatan kamu. Dan aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan denganmu."
"Terserah kamu deh Van. Aku memang tidak kenal dengan orang itu. Dan yang jelas, aku tidak punya niatan apapun. Apalagi sampai mau mencelakai Mita." Sasha mendengus kesal. Kemudian melenggang dengan angkuhnya meninggalkan Elvano.
Sasha membanting kasar pintu mobilnya. Sedetik kemudian mobilnya melaju kencang meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Apa omongan Sasha bisa dipercaya? Elvano meragukannya.
Sembari membuang napas kasar, Elvano pun berbalik dengan cepat. Namun tiba - tiba saja ...
Bugh!
"Aww!" Pekikan seorang gadis terdengar jelas dalam indera pendengaran Elvano. Tanpa sengaja gadis itu menabrak dada bidang Elvano. Hingga gadis itu pun meringis sambil mengusap-usap keningnya.
"Sorry ..." Ucap Elvano.
Gadis itu pun menaikkan pandangannya, menatap kesal Elvano.
Seketika itu juga, Elvano tertegun menatap gadis itu.
Tunggu ... Tunggu.
Gadis itu. Gadis manis yang bertemu dengannya di sebuah minimarket tempo hari. Gadis yang sempat berdebat dengannya saat tanpa sengaja Elvano menabraknya. Hingga minuman yang tengah diteguknya pun tumpah.
"Kamu?" Seru Elvano sembari mengacungkan telunjuknya ke wajah gadis itu.
"Si buah apel itu?" Tambahnya.
"Kalau jalan bisa tidak matanya dipake. Kalau kepalaku ini sampai benjol gimana?" Kesal gadis itu dengan tampang masam.
"Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu sendiri yang menabrak ku. Kenapa harus aku yang disalahkan?"
"Sudah salah, tidak mau minta meminta maaf pula. Dasar ya, cowok tidak punya etika."
"Apa? Aku tidak punya etika?" Elvano membelalakkan matanya. Gadis itu pun masih menatapnya garang.
"Heh! Buah apel, dengar ya ... Aku ini ad_" ucapan Elvano terhenti. Sebab gadis itu malah pergi meninggalkan Elvano begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Elvano pun jadi kesal dibuatnya.
"Dasar cewek aneh. Darimana datangnya cewek aneh itu? Apa dia tidak mengenalku? Aku Elvano Abraham, pria tampan limited edition."
Elvano pun terkekeh. Dan tanpa sadar, dia malah tersenyum memandangi kepergian gadis itu.
Sebenarnya, kalau diperhatikan, gadis itu cukup manis. Apa Elvano baru menyadarinya? Ataukah jiwa playboy nya kembali bergejolak?
Elvano, Elvano ... Katanya sudah insaf. Mana buktinya?
Eh tapi, gadis itu siapa ya? Kok juteknya sama seperti Mita.
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...