Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 18


__ADS_3

Pening rasanya kepala Mita memeriksa dan menemukan kesalahan dalam laporan itu. Sudah hampir dua jam dia berada di ruangan Anjas. Menuruti perintah Anjas yang aneh dan menyebalkan itu.


Huaaaaaam ...


Memeriksa deretan huruf - huruf itu, menemukan kesalahan pengetikan, ejaan, atau apapun itu, membuat kedua bola mata Mita tidak bisa diajak berkompromi. Rasanya Mita mulai mengantuk. Matanya terasa berat sekali. Sampai akhirnya, Mita pun tertidur di sofa itu.


Anjas yang baru saja kembali dari urusannya yang mendadak, mendapati Mita tengah tertidur lelap di sofa ruangannya.


Perlahan Anjas melangkahkan kakinya menghampiri. Senyum di bibirnya terbit seketika melihat keadaan polos Mita yang tengah tertidur pulas.


Anjas menatap wajah polos Mita untuk beberapa menit lamanya. Memuaskan rasa rindunya yang mendalam pada gadis yang masih mengisi relung hatinya itu hingga kini. Namun kebencian di hati gadis itu membuat Anjas sedikit kesulitan untuk kembali mendekatinya. Ditambah lagi dengan kehadiran Elvano diantara mereka.


Elvano. Pria itu. Panjang umur. Baru saja Anjas memikirkannya, tiba - tiba ponsel Mita yang tergeletak di meja sofa berdering. Dan menampilkan nama Elvano di layar ponsel itu.


Anjas mengembuskan napasnya kasar. Lalu memijit lembut keningnya. Playboy itu, jika sudah mendapatkan mangsa yang empuk, dia tidak akan menyerah mendapatkannya. Jujur, hal itu membuat Anjas sedikit terganggu. Oh maaf, bukan sedikit, tapi justru sangat mengganggu.


Di saat yang bersamaan pula, ponsel Anjas pun berdering. Anjas merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya yang menampilkan nama Sasha disana.


Hah ... kedua saudara sepupu itu seakan ingin mengingatkan Anjas tentang aral yang melintang di depannya saat ini. Aral yang harus dilewatinya untuk mendapatkan kembali cintanya.


"Hmm ..." Mita menggeliat, terbangun dari tidurnya. Dering ponselnya membuat tidurnya sedikit terganggu.


Mita meraih ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Elvano. Namun panggilan itu sudah berakhir sebelum dia sempat menjawabnya.


Sama seperti Anjas. Panggilan Sasha pun berakhir karena Anjas enggan menjawabnya. Dan mengabaikan panggilan itu tanpa menghiraukannya sama sekali.


Mita pun tersadar, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Anjas yang berdiri di depannya, di seberang meja sofa itu. Dengan mode yang sama, keduanya saling menatap sambil memegang ponsel.


"Maaf, aku ketiduran." Mita membenahi rambut dan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan.


"Tapi aku sudah menyelesaikan tugasku. Tidak ada yang salah dengan semua laporan - laporan ini. Typo, ejaan, warna tinta, tidak ada yang salah. Kalau begitu, aku permisi. Tugasku sudah selesai kan?"


Mita pun bangun dari duduknya dan mulai melenggang. Melewati Anjas, berlalu begitu saja. Tanpa sekalipun menoleh. Namun langkah kaki Mita justru menggantung di udara. Dengan cepat tangan kekar Anjas meraih pergelangan tangannya. Hingga membuat langkah Mita pun terhenti.


"Pak, tolong lepaskan tanganku." Pinta Mita sedikit ketus.


Namun Anjas malah semakin mengeratkan genggamannya. Tak ingin Mita terlepas darinya.


Mita pun berbalik dan menatap tajam Anjas. Pria yang dibencinya sejak dulu hingga detik ini.


"Aku sangat merindukanmu." Ucap Anjas lirih. Dengan tatapan sendu.


Entah mengapa, meski Mita membencinya, tapi tatapan itu masih saja membuatnya berdebar. Seakan menghadirkan kembali rasa yang dulu pernah ada di hatinya.

__ADS_1


Bukan salah Mita jika kini Mita membenci Anjas. Mita tidak tahu menahu tentang pria itu. Anjas yang dulu dicintainya adalah Anjas yang sederhana. Bukan Anjas yang tampak di depan matanya saat ini.


"Pak Anjas, di antara kita sudah tidak ada apa - apa lagi. Hubungan di antara kita sekarang tidak lebih dari atasan dan bawahan. Itu saja."


"Tolong lepaskan tanganku." Pintanya sekali lagi.


Anjas pun melepaskan genggamannya. Namun masih menatap Mita lekat.


"Aku tahu kamu sangat membenciku. Tapi, aku punya alasan kenapa aku melakukannya dulu. Dan aku minta maaf, karna aku tidak memberimu penjelasan apapun."


Mita tersenyum kecut.


Alasan? Alasan apa lagi. Sudah jelas alasan Anjas mencampakkannya dulu itu karena wanita lain. Lalu alasan apa lagi?


"Anjas yang aku kenal, sudah pergi meninggalkan aku. Dan Anjas yang berdiri di depanku saat ini, tidak lebih dari orang asing."


"Tentang Nara ... Anak itu sebenarnya ad__"


"Tidak perlu melibatkan Nara. Anak itu tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi di antara kita." Sela Mita cepat.


"Tapi menurutku ada hubungannya. Salah satu alasan aku meninggalkanmu dulu juga karena Nara." Anjas merasa Mita harus tahu siapa Nara sebenarnya. Mungkin saat ini Mita berpikir bahwa Nara adalah anaknya dan Sasha.


"Sudahlah. Sebaiknya kamu memikirkan masa depan anak kamu. Dan secepatnya rujuk kembali dengan Sasha."


Hah ... apa yang aneh dengan dirimu Mita? Bukankah dia ini pria yang kamu benci? Musuh abadi?


"Mita ..." perlahan Anjas mulai melangkahkan kakinya. Hendak lebih mendekat pada Mita. Namun ...


Cklek !


Suara decitan pintu terbuka membuat langkah Anjas terhenti. Dari pintu itu, masuklah seorang wanita anggun berparas cantik. Sasha.


Serentak Anjas dan Mita memalingkan wajahnya. Menatap Sasha yang tengah berjalan menghampiri. Dengan raut wajah kebingungan dan penuh tanda tanya.


"Kamu?" Sasha keheranan melihat Mita ada di ruangannya Anjas.


"Loh, bukannya kamu harusnya ada di sekolahan Nara? Sedang apa kamu disini?" tanya Sasha begitu penasaran.


Mita tersenyum tipis, "Aku sudah berhenti dari sekolah. Dan skarang, aku __" kalimat Mita terpotong.


"Dia kerja di sini skarang. Dia sekretaris ku yang baru." Sela Anjas cepat.


Sasha sedikit terkejut mendengarnya. Sambil menatap Anjas dan Mita bergantian. Entah kenapa, Sasha merasakan ada yang aneh dengan tatapan Anjas. Ada yang aneh dengan cara Anjas menatap Mita. Terlihat berbeda. Sangat berbeda dengan cara Anjas menatapnya.

__ADS_1


Kedatangan Sasha kemari hanya ingin mengetahui siapa sekretaris Anjas yang baru. Mengingat, dulu, pernah ada sekretaris lama Anjas menaruh hati dan tergila - gila pada Anjas. Dan Sasha tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Untuk itu, dia hanya ingin memastikan sendiri seperti apa tampang sekretaris baru itu. Dan ternyata, satu kejutan, atau mungkin kabar buruk. Karena sekretaris baru itu tidak kalah cantik darinya. Dan mungkin, Anjas sudah mengenalnya jauh sebelumnya.


"Iya, benar." Mita membenarkan ucapan Anjas sambil tersenyum hampa.


Kehadiran Sasha membuat Mita sadar, bahwa Anjas memang sudah berpaling darinya. Sasha wanita yang cantik. Bukan tidak mungkin jika Anjas jatuh hati padanya.


"Oh ya, aku tadi bertemu Vano. Kami baru saja membicarakan kamu." Ucap Sasha mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya?"


"Iya, katanya dia sangat menyukaimu. Kamu satu - satunya wanita yang mampu membuat Vano jatuh cinta. Selama ini, dia tidak pernah serius dalam menjalin hubungan. Tapi setelah bertemu kamu, dia menjadi orang yang berbeda skarang."


"Benarkah? Aku jadi tersanjung." Mita tersipu malu. Membuat Anjas sedikit kesal jadinya. Elvano lagi, Elvano lagi.


"Kamu pasti belum tau kan? Vano itu saudara sepupuku. Jadi sedikit banyak, aku kenal Vano. Dia itu pria yang baik. Dari yang aku lihat, kalian berdua ini sangat cocok. Vano sangat beruntung memiliki kamu."


Mita hanya tersenyum. Lalu melirik Anjas dengan ekor matanya. Meski sekilas, Mita bisa melihat raut wajah Anjas yang berbeda. Saat Sasha menyebut nama Elvano.


Apa arti dari air muka Anjas saat ini? Kenapa Anjas sepertinya tidak senang mendengar nama Elvano di sebut?


"Oh ya Anjas, aku dan Nara berencana mengajak kamu makan malam di luar. Sebenarnya ini idenya Nara. Gimana, kamu bisa kan?" tanya Sasha.


Anjas malah melirik ke arah Mita. Yang terlihat menundukkan wajahnya. Jujur, Anjas ingin menolaknya. Tapi karena ini keinginan Nara, Anjas pun tak kuasa menolaknya.


"Baiklah."


Mita kini mengangkat wajahnya dan menatap mereka lurus. Namun satu kata terlintas di benaknya. Serasi. Anjas dan Sasha terlihat serasi sebagai pasangan.


...*...


...*...


...*...


...-Bersambung-...


***Mohon maaf slow update


Mohon maaf jika otor kawe ini belum sempat balas komen dan belum sempat mampir ke karya otor² kece, karena di bulan ramadhan, otor kawe ini benar - benar sibuk 🙏


Kalau sempat otor kawe usahakan mampir di karya kalian


Salam ...

__ADS_1


Otor Kawe*** 🤗


__ADS_2