Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 46


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Mita yang tengah menonton TV sambil ngemil, dikagetkan dengan kedatangan Nayla yang berteriak - teriak memanggil namanya.


"Mit ... Mita ..." Panggil Nayla dengan suara keras sembari mengambil duduk disebelah Mita. Lalu merebut cemilan yang dimakan Mita.


"Udah kayak dikejar satpam aja kamu." Seloroh Mita.


"Ada apa?" Tanya Mita kemudian.


"Ya ampun Nayla ... Pagi - pagi begini ada apa teriak - teriak? Kuping Tante ampe budeg nih." Kesal Mama Retno muncul dari arah dapur, sebelum Nayla sempat menjawab pertanyaan Mita.


Seperti biasa, pagi - pagi begini Mama Retno sedang memasak. Setelah itu bersiap - siap di toko kuenya yang letaknya hanya di depan rumah.


"Maaf Tan. Ada urusan penting dengan Mita."


"Loh, hari ini kamu tidak berangkat kerja Mita? Kenapa muka kamu masih bau bantal begitu?" Mama Retno balik bertanya pada Mita sembari memperhatikan tampilan putrinya yang mirip dengan emak - emak habis dicakar kucing. Berantakan, rambut acak - acakan, wajah kusam, dan masih bau asem.


"Malas akh Ma." Sahut Mita santai. Mama Retno belum tahu kalau Mita sudah dipecat dari pekerjaannya.


"Ya sudah. Lebih baik kamu berhenti. Daripada setiap hari kamu bertemu dengan Anjas." Tukas Mama Retno kemudian melenggang kembali ke dapur, dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Oh ya, tadi kamu bilang apa?" Tanya Mita mengingatkan.


"Oh iya, sampai lupa. Ini nih Mit, aku sudah menemukan pekerjaan baru buat kamu."


"Serius? Secepat itu?" Mita terlonjak. Netra matanya serius menatap Nayla.


Nayla mengangguk sambil mengunyah cemilan. Wajahnya pun berubah cemberut saat Mita merebut cemilan itu kembali dari tangannya.


"Pekerjaan apa? Dimana? Gajinya berapa?" Mita tidak sabar ingin tahu pekerjaan apa yang didapat Nayla untuknya. Maklum, sahabatnya yang satu ini kecepatan dan kecekatannya melebihi jaringan 4G.


"Sabar dulu. Satu - satu dong pertanyaannya." Sembari mengambil jus yang terletak di meja, di depan Mita dan meneguknya hingga habis tak bersisa.


"Pekerjaannya bukan yang aneh - aneh kan?"


"Bukan. Aku sudah mendaftarkan nama kamu. Dan kamu diterima."


"Oh ya? Kerja apa? Dimana? Trus, kapan aku bisa mulai bekerja."


"Sabar sis ..." Nayla merogoh tas kecilnya dan mengambil ponselnya dari dalam tas itu.


"Nih, aku chat alamatnya. Kamu bisa langsung ke sana skarang. Pekerjaannya gampang. Cuma mengasuh seorang anak kecil."


"Apa? Mengasuh anak kecil? Baby sitter gitu?" Mita kaget bukan kepalang.


"Hanya untuk sebulan."


"Gila kamu ya? Mana ada anak perawan bisa mengurus bayi. Nayla, kamu ikh ..." Kesal Mita sembari menyandarkan punggungnya dengan wajah masam.


"Cuma sebulan Mit ... Lagian bukan bayi kok. Anak kecil, usianya sekitar empat atau lima tahun. Kamu kan berpengalaman dengan anak usia segitu. Aku tau kamu pasti bisa."


"Aku tidak mau." Tegas Mita dengan raut wajah semakin dibuat masam.


"Ya sudah kalau kamu mau dibilang pengangguran. Udah perawan tua, belum laku - laku, pengangguran lagi. Apa kata orang - orang sekompleks ya?" Nayla sengaja menyindir Mita agar Mita mau menerima pekerjaannya.


Lagipula Mita pernah menjadi guru TK. Hanya mengasuh anak usia empat tahun Mita pasti bisa.


Mita tampak berpikir sejenak.


Hanya sebulan Mita. Kamu pasti bisa. Daripada jamuran di rumah, lebih baik punya kesibukan. Mita mencoba menyemangati dirinya sendiri.


"Ya sudah. Kapan aku bisa mulai bekerja?" Mita akhirnya pasrah.


Nayla tersenyum lebar.


"Nah, gitu dong Markonah ... Ayo skarang kamu mandi sana. Dan langsung saja ke alamat itu. Kamu sedang ditunggu skarang. Soalnya orang tuanya sibuk. Dan kebetulan anak itu sedang libur sekolah. Aku pergi dulu, banyak orderan yang harus aku antar. Sorry ya, aku tidak bisa mengantar kamu ke alamat itu. Bye Mit ..."


Nayla pun pergi meninggalkan Mita yang tampak masih ragu dengan keputusannya sendiri.


"Nayla ... Nayla ... Kamu selalu saja menjerumuskan aku ke lubang buaya. Dulu jadi sekertarisnya Anjas. Dan skarang, jadi pengasuh? Entah anak siapa lagi. Awwas kamu ya ..." Mita geram sendiri dibuatnya. Dengan perasaan malas, Mita pun bangkit dari duduknya. Kemudian bergegas ke kamarnya untuk bersiap - siap menjalani aktifitas baru.


.


.


.

__ADS_1


Pagi yang sama di satu sudut kota.


"Daddy berangkat kerja dulu. Nara baik - baik ya di rumah sama Aunty Jani." Anjas berjongkok di depan Nara sambil mengusap lembut pipi gembul anak itu.


Nara tersenyum ceria sembari mengacungkan jempolnya, "Oke Daddy."


Anjas pun berdiri setelah memberi kecupan di pipi gembul itu.


"Kakak titip Nara. Kalau kamu ke kampus, antar saja dia ke butik Mama. Kalau perlu kamu ajak Memey juga." Ucap Anjas pada Anjani yang sedang berdiri di samping Nara.


"Beres Kak." Anjani pun mengacungkan jempolnya.


Setelah berpamitan, kemudian Anjas bergegas menuju ke mobilnya yang terparkir di depan rumah. Sejurus kemudian, mobil itu pun mulai bergerak keluar dari halaman rumah.


"Nara ... Gimana kalau hari ini Nara ikut Oma aja ke butik. Aunty masih banyak tugas kampus yang harus Aunty selesaikan. Gimana?" Tawar Anjani pada Nara.


Anak kecil itu terlihat cemberut.


"Nara malas ke butiknya Oma."


"Begitu tugas Aunty selesai, Aunty janji, Aunty akan menjemput Nara. Setelah itu kita beli es krim. Gimana? Mau ya?" Anjani berusaha membujuk Nara.


Memang akhir - akhir ini, Anjani sering disibukkan dengan tugas kuliahnya yang menumpuk. Bahkan terkadang dia pulang hampir larut malam dari tugas kelompoknya. Alhasil, dia tidak bisa selalu menemani Nara di rumah. Sementara Memey, ART kepo itu, tidak bisa diharapkan sama sekali. Kadang dia lupa dengan Nara jika sudah disibukkan dengan pekerjaannya di dapur.


"Kamu belum ke kampus Anjani?" Oma Lidya datang sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya memang sudah rapi.


"Trus Nara gimana Ma? Hari ini aku banyak tugas yang harus diselesaikan. Nara ikut Mama saja ya ke butik?"


"Mama juga lagi sibuk. Butik Mama akan mengeluarkan mode terbaru. Akhir - akhir ini butik Mama lagi sepi. Jadi Mama harus buat strategi baru. Mama benar - benar sibuk."


"Trus Nara gimana dong Ma. Masa aku bawa - bawa anak kecil ke kampus."


"Soal itu tenang saja. Mama sudah menemukan seseorang yang akan menemani Nara di rumah. Skarang Mama lagi menunggu orang itu datang."


"Oh ya? Kalau gitu aku mandi dulu akh Ma. Aku harus ke kampus." Anjani bergegas ke kamarnya.


.


.


.


"Cari siapa Non?" Tanya seorang satpam yang sedang berjaga di pintu gerbang saat melihat Mita memperhatikan rumah majikannya.


"Saya pengasuh baru Pak. Nama saya Mita." Ucap Mita


"Oh ... Mari Non, silahkan masuk. Nyonya sudah memberitahu saya." Kata satpam itu kemudian membuka gerbang.


Mita pun mulai melenggang memasuki pekarangan rumah itu yang terlihat cukup besar.


"Langsung masuk saja Non. Nyonya sudah menunggu di dalam." Kata satpam itu lagi.


"Iya, Pak. Makasih."


Jujur, Mita deg - degan. Entah kenapa, Mita tidak tahu pasti. Jantungnya berdetak kencang saat pertama kali memasuki rumah itu. Hatinya berdebar - debar seolah dia akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama dirindukannya.


Baru beberapa langkah Mita memasuki rumah itu, tiba - tiba terdengar suara teriakan seorang anak kecil memanggil namanya.


"Bunda Mita ..." Anak kecil itu berlari ke arahnya.


Kaget? Sudah pasti. Bahkan jantung Mita rasanya mau copot saat melihat siapa anak kecil yang memangil namanya sambil berlari ke arahnya.


"Nara?" Asli, kedua bola mata indah Mita melotot. Sembari setengah membungkuk Mita menyambut anak kecil itu ke dalam pelukannya.


Nara memeluk Mita, "Nara kangen sama Bunda." Kemudian melepas pelukannya.


"Bunda kok bisa disini?" Tanya Nara.


Hah? Iya juga ya? Kenapa Mita bisa ada disini? Apakah ini mimpi, halusinasi? Lalu darimana datangnya Nara? Tampang Mita mirip orang bego sekarang.


Jika ini bukan mimpi atau halusinasi, apa Mita salah alamat? Kalau di rumah ini ada Nara, berarti ini rumahnya ...


Oh my God!


Dasar Nayla kutu kupret.


Mita menggerutu dalam hatinya. Saking kesalnya pada sahabatnya itu. Ini jelas bukan lubang buaya lagi, tapi sarang macan.

__ADS_1


Kenapa Nayla tidak memberitahunya kalau alamat rumah yang dia berikan itu adalah alamat rumahnya Anjas, si macan tutul.


Tunggu dulu!


Kata Nayla, anak yang akan diasuhnya itu berusia sekitar empat atau lima tahun. Sementara Nara berusia diantara itu. Atau jangan - jangan anak yang akan diasuhnya itu adalah Nara?


Ya Allah Ya Rabbi ...


Lelucon apa lagi ini?


"Bunda?" panggil Nara.


Mita terhenyak. "Eh, Na-Nara?" Kenapa Mita jadi gugup ya?


"Kamu sudah datang?" Terdengar suara Oma Lidya.


Asli, Mita terbengong - bengong sendiri. Melihat Oma Lidya datang menghampirinya, Mita tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Loh, bukannya kamu ..." Oma Lidya mengingat - ingat, merasa pernah bertemu Mita sebelumnya.


Mita tersenyum kikuk, "Saya Mita Tante." Ucap Mita sopan.


"Ini Bunda Mita Oma. Pacarnya Om Vano." Kata Nara menimpali.


"Oh ... Iya, benar. Pacarnya Vano. Tapi bukannya kamu bekerja dengan Anjas?"


"Saya sudah berhenti Tante."


"Oh, gitu ya? Apa kamu yang melamar menjadi pengasuhnya Nara?"


"Iya, Tante."


"Waaah ... Bagus dong. Tapi, kamu yakin mau jadi pengasuhnya Nara? Sebenarnya tidak lama kok. Palingan sebulan. Soalnya, kami semua sibuk. Jadi, tidak ada orang yang bisa Tante percaya untuk menemani Nara di rumah. Sebenarnya sih, Tante bisa meminta pembantu menjaga Nara. Tapi, yah, kadang mereka suka lalai. Dan Anjas paling tidak suka kalau sesuatu terjadi pada Nara." Ujar Oma Lidya panjang lebar dengan gaya khas gemulainya. Taulah ya, ibu - ibu sosialita.


Mita menyunggingkan senyumnya. Sial benar hari ini nasib Mita.


"Kamu yakin bisa?" Tanya Oma Lidya memastikan.


Bagaimana ini? Apa Mita tolak saja ya?


"Maaf Tante, saya ti__" ucapan Mita terpotong sebab Nara menyelanya cepat.


"Boleh ya Bunda ... Please ... Nara senang kalau ada Bunda disini."


"Nara, Bunda kayaknya tidak bi__" Ucapan Mita terhenti lagi. Bukan karena Nara menyelanya. Akan tetapi karena dilihatnya anak itu tengah cemberut. Raut wajahnya terlihat kecewa. Mita pun merasa iba.


"Iya deh, Bunda mau." Mita pun pasrah.


"Asiiik ..." Nara kegirangan.


"Jadi kamu bisa?" Tanya Oma Lidya sekali lagi.


"Bisa, Tante." Apa boleh buat. Sekali sudah masuk ke sarang macan, tidak akan bisa keluar hidup - hidup. Pasrah sajalah dengan keadaan. Mudah - mudahan saja dia bisa bertahan sampai sebulan.


"Ma ... Aku ke kampus dulu ya? Pengasuhnya Nara sudah datang?" Tanya Anjani sembari berjalan menghampiri.


"Loh, Mita?" Sapa Anjani begitu melihat Mita.


Mita menyunggingkan senyumnya.


"Mita ini yang akan menjaga Nara. Mama senang, Mama jadi tidak khawatir meninggalkan Nara di rumah. Mita ini kan pacarnya Vano, sepupunya Sasha." Ujar Oma Lidya. Hingga membuat Anjani terkejut.


"Jadi kamu__" Anjani hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Apa Kak Anjas tau tentang ini? Batin Anjani.


Mita kembali menyunggingkan senyumnya. Begitu pun Anjani.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Entah ini takdir atau hanyalah sebuah kebetulan semata. Tapi, semakin Mita menjauh dari Anjas, keadaan justru mempertemukan mereka kembali.


Sekarang, Mita sudah berada di sarang macan. Apa boleh buat. Yang harus dilakukannya hanyalah menghindari macan itu. Dia tidak boleh bertemu dengan macan itu di rumah ini. Mudah - mudahan saja jam kerjanya berakhir sebelum macan itu pulang. Dan dia akan datang setelah macan itu berangkat ke kantor.


Ya. Hanya itu yang perlu Mita lakukan. Agar mereka tidak akan bertemu satu sama lain. Semoga saja rencananya berhasil ya Mita.


.......


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung...


__ADS_2