
Sinar mentari pagi yang menyembul dan menerobos melalui jendela kamar, membangunkan Mita dari mimpi indahnya.
Matanya nanar menatap jam yang menggantung di dinding kamarnya. Entah kenapa pagi ini Mita merasa sangat malas untuk bangun dari tempat tidurnya.
Udara pagi yang sejuk itu pun membuat Mita ingin kembali bersembunyi di balik selimut hangatnya. Namun suara nyaring yang terdengar memanggil namanya dari luar membuat Mita harus kembali membuka matanya.
"Mita ... Apa kamu tidak berangkat kerja hari ini?" Seru Mama Retno dari balik pintu kamar Mita. Suara cemprengnya terdengar menggema di seisi rumah kecil nan sederhana yang hanya dihuni oleh ibu dan anak itu.
"Malas akh Ma." Sahut Mita sembari menimpa wajahnya dengan bantal.
Mita memang malas berangkat ke kantor hari ini. Mengingat atasannya itu adalah orang yang paling dibencinya. Orang yang menyebalkan.
"Kamu yakin? Kamu tidak takut di pecat?" seru Mama Retno lagi.
Takut di pecat? Tidak akan. Mita bahkan mengharapkan itu terjadi.
Mita kembali menarik selimutnya. Semakin menimbun wajahnya dengan bantal kepala. Namun apa yang terjadi? Mita terbangun bagai orang yang bermimpi buruk. Mata nyalang, dan mulut menganga.
"Astaga ..." mendadak Mita teringat sesuatu.
"Sial." Mita menggerutu sembari buru - buru turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
Apalagi yang membuat Mita jadi seperti itu kalau bukan karena masalah kontrak yang sudah terlanjur di tanda tanganinya itu. Mita mana punya uang untuk membayar ganti rugi jika dia memutuskan berhenti bekerja.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, serta tidak lupa pula riasan tipis diwajahnya. Mita buru - buru berlari keluar kamar, lalu keluar rumah. Namun langkahnya mendadak terhenti.
Di depan gerbang rumahnya, Elvano sudah menunggu. Berdiri sambil menyandar di sisi mobilnya. Senyum manisnya pun mengembang begitu melihat Mita berlari keluar rumah.
"Pagi pacarku ..." sapa Elvano dengan manisnya.
"Van ... kamu__" Mita malah keheranan.
"Mau menjemput pacarku. Ayo, nanti kamu telat loh." Sembari membukakan pintu mobil untuk Mita.
Mita pun tersenyum lembut. Si Elvano ini, selalu bisa menyenangkan hatinya. Mita pun segera naik. Di ikuti oleh Elvano. Yang kemudian bergegas memacu mobilnya menuju tempat tujuan.
Sesampainya di tujuan, Winata Group. Mita segera turun dari mobil. Namun sebelum melangkah memasuki gedung itu, Mita terlebih dulu berterima kasih pada Elvano. Yang dengan senang hati sudah mau mengantarnya pagi ini.
"Makasih ya Van ..." ucap Mita dengan senyum manis terkembang.
Elvano membalas senyuman Mita seraya berjalan menghampiri. Lebih mendekat ke Mita.
"Kalau kamu mau, aku bisa menjemput kamu saat pulang nanti."
"Tidak perlu. Yang ada aku malah merepotkan kamu."
"Sama pacar sendiri aku tidak merasa direpotkan kok. Malah aku dengan sangat senang hati."
"Pacar? Ge - er kamu ah."
"Kamu kelamaan memberi aku jawaban. Jadi aku sudah mengambil kesimpulan, bahwa jawaban kamu IYA."
"Kesimpulan macam apa itu?"
"Yang jelas, skarang kita pacaran. Kamu pacar aku."
Mita hanya tersenyum melihat tingkat kepercayaan diri Elvano yang begitu tinggi.
"Tuh kan? Senyum? Ya sudah, skarang kita pacaran ya? Resmi!"
__ADS_1
"Terserah kamu deh."
Dengan cepat Elvano mendaratkan satu ciuman di pipi mulus Mita. Hingga membuat wajah Mita bersemu merah seketika.
Astaga. Si Elvano ini. Kenapa hati Mita jadi berbunga - bunga begini sih? Jangan bilang Mita baper. Akh, Elvano. Memang paling bisa merayu. Komplit deh dengan tampangnya yang limited edition itu.
Dan saat Elvano mengecup pipi Mita, Anjas baru saja tiba. Dan tanpa sengaja menyaksikan pemandangan itu. Hatinya pun mencelos seketika. Ambyar. Hancur berkeping - keping. Kepingannya telah berhamburan entah kemana.
"Ya udah, aku masuk dulu ya?" pamit Mita
"Nanti aku jemput ya? Boleh kan?"
"Hmmm ... gimana ya? Nanti malah merepotkan kamu." Mita tampak berpikir.
"Sama pacar sendiri kok repot. Dengan senang hati sayang."
"Ya sudah, boleh. Aku masuk ya, bye ..." berlalu sambil melambaikan tangan.
Elvano pun membalas lambaian tangan itu dengan senyuman manis. Sampai Mita menghilang di balik dinding ruangan yang di masukinya.
Memang begini ya rasanya jatuh cinta. Rasanya hati ini seperti sedang menari - nari indah. Berbunga - bunga, serasa melayang - layang. Akh, Elvano sungguh bahagia. Sambil bersiul - siul merdu, Elvano pun bergegas masuk ke mobilnya. Lalu melaju meninggalkan tempat itu.
Sementara Anjas yang berdiri di seberang melihat kepergian Elvano, hanya bisa menahan sakit hatinya. Menerima kenyataan itu memang sulit. Kenyataan bahwa Mita benar - benar sudah melupakannya.
___
Tululut Tululut ... Tululut Tululut ...
Bunyi dering telepon paralel di meja Mita.
Huffft !
Dua kali, masih saja berdering.
Dan yang ketiga kalinya. Tak bisa lagi Mita abaikan. Sebab deringnya begitu mengganggu. Dengan hati menahan jengkel, Mita pun bergegas ke ruangan Anjas.
Di ruangannya, Anjas terlihat sedang memeriksa beberapa berkas. Melihat itu, mendadak Mita merasa curiga. Jangan - jangan, Anjas akan memintanya memeriksa berkas itu lagi. Menemukan typo, ejaan yang salah, dan entah apa lagi. Atasan yang aneh.
"Duduk." Titah Anjas tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas itu.
Mita pun mengambil duduk di depan Anjas. Menatapnya dengan wajah cemberut.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Mita hati - hati.
"Temani aku meeting di luar."
"Sekarang?"
"Memangnya kapan lagi?"
"Kenapa bukan sama asisten bapak saja?"
"Dia ada pekerjaan lain."
"Kok bisa?" Mita mengernyit heran.
"Bisalah ... kan aku atasannya. Sudah, cepetan sana siap - siap."
Huh, pasti dia sengaja memberikan pekerjaan lain untuk asistennya. Pikir Mita kesal.
__ADS_1
Mita pun bangkit dari duduknya dan melenggang keluar dengan wajah cemberut menahan kesal.
Sedangkan Anjas sejak tadi berusaha menahan tawanya melihat tingkah Mita. Menggemaskan di mata Anjas.
___
Mita dan Anjas kini sudah berada di sebuah restoran berbintang. Menunggu klien datang. Namun setelah beberapa menit menunggu, klien yang akan meeting bersama Anjas tak jua menampakkan batang hidungnya.
Sekarang, sudah hampir tiga puluh menit. Namun klien bekum juga datang. Mita sampai jengah menunggu. Sedangkan Anjas terlihat santai sambil memusatkan pandangannya pada layar ponselnya.
"Ini meeting nya jadi, atau kita tunda saja dulu?" usul Mita.
Namun Anjas hanya tersenyum.
"Klien nya belum juga datang." Tambah Mita.
"Klien yang mana?" Anjas malah bertanya dengan santainya.
"Klien lah. Katanya ada meeting." Mita tampak kesal.
"Siapa yang bilang ada meeting."
"Kamu sendiri yang bilang__" fix, Mita curiga. Jangan - jangan ini akal - akalannya Anjas saja. Huh, Mita makin kesal jadinya. Rasanya ingin melempar muka Anjas pake sendal jepit.
"Memang benar ada meeting. Tapi bukan dengan klien." Ucap Anjas
"Maksud kamu?"
"Meetingnya sama kamu."
Hebat. Anjas memang paling pintar berbohong. Bisa - bisanya dia membohongi Mita seperti ini. Kalau saja Mita tidak ingat dengan isi kontrak itu, Mita pastikan, saat itu juga dia akan mengundurkan diri.
Akhirnya, Mita pun bangun dari duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun secepat kilat tangan Anjas menahan pergelangan tangannya.
"Aku mau bicara sama kamu." Ucap Anjas
"Anjas, lepaskan."
"Mita, please ..."
Anjas sedikit memelas. Hingga Mita pun jadi tak tega.
...*...
...*...
...*...
...-Bersambung-...
**Lama baru bisa up 🤗
Kabar baik kan readers 🤗
Jangan lupa jaga kesehatan ya ...
Saranghae ❤️
Otor Kawe**
__ADS_1