
Mita pun turun dari mobil begitu sampai di depan rumahnya.
Dengan cepat Elvano turun dari mobilnya dan menyusul langkah Mita yang hendak memasuki rumahnya. Elvano menahan lengan Mita hingga Mita pun menghentikan langkahnya. Dan berbalik, menatap Elvano heran.
"Ada apa lagi? Oh iya, aku lupa. Makasih ya, sudah mengantarkan aku pulang." Ucap Mita asal.
Padahal Mita sendiri tahu, bukan kalimat itu yang di harapkan Elvano. Tapi jawaban. Jawaban atas pernyataan cinta Elvano terhadapnya.
"Tolong, pikirkan sekali lagi." Elvano menatap sendu.
Mita jadi tidak enak hati saat melihat sorot mata Elvano yang terlihat sangat mengharapkan jawaban dari Mita.
"Butuh waktu berapa lagi?" Elvano benar - benar terlihat serius.
"Van ... Aku tidak mau menjalin hubungan karena keterpaksaan."
"Apa kamu masih belum bisa melupakan Anjas?"
"Tolong, jangan bawa - bawa nama Anjas. Orang itu, tidak lebih dari orang asing bagiku skarang."
"Lalu kenapa kamu belum memberikan aku jawaban?"
Mita terdiam. Masa secepat itu dia menerima Elvano dalam hidupnya. Cinta saja belum. Tapi, kalau di lihat - lihat, Elvano ini lumayan juga. So cute, kalau di lihat dari tampangnya. Limited edition. Ada benarnya juga.
Akh, seperti apapun tampangmu itu, tapi ini masalah hati. Cinta itu datang dengan sendirinya. Tidak bisa di paksakan.
"Van ... Aku butuh waktu."
"Okey ... Berapa lama lagi?"
Mita menggeleng, "aku tidak tahu."
"Baiklah. Dan aku akan tetap menunggu. Sampai kapanpun."
Mita menatap datar Elvano yang menatapnya sendu.
Ada apa ini? Kenapa Mita merasakan ada yang aneh saat menatap Elvano seperti ini. Apa iya, Elvano bisa jatuh cinta secepat itu? Apakah Elvano hanya mempermainkannya atau bahkan dia tidak bersungguh - sungguh dengan perasaannya?
Mengingat mereka belum lama saling mengenal. Ditambah lagi Mita tidak tahu menahu tentang Elvano. Siapa Elvano, keluarganya, latar belakangnya, semuanya tentang Elvano. Mita tidak tahu.
Pertemuan tiba - tiba, yang membuat Mita berpura - pura menjadi pacar Elvano tempo hari menjadi awal perkenalan mereka. Lalu bagaimana bisa, Elvano bisa secepat itu menaruh hati padanya.
"Aku harap, kamu tidak akan terlalu lama memberi jawaban."
__ADS_1
Mita hanya tersenyum tipis.
Bagaimana ini? Sepertinya Elvano sungguh - sungguh. Masa Mita main terima begitu saja. Sementara mereka baru saja kenal. Mita tidak mau kecewa lagi. Seperti yang pernah di lakukan Anjas dulu terhadapnya. Sudah cukup memberi Mita pengalaman. Pengalaman buruk dalam menilai pria.
___
Sebelum dinner di luar, Anjas meminta untuk pulang ke rumah sebentar. Karena dia ingin berganti pakaian dengan pakaian yang terlihat lebih santai.
Anjas terlihat menuruni anak tangga. Tampilannya rapi meski dengan gaya kasual. Jeans abu - abu berpadu dengan kaus putih oblong dan jaket biru dongker, serta sneaker. Tampilan yang jauh berbeda. Tidak terlihat seperti orang yang akan makan malam di luar bersama pasangan. Terlalu santai. Terlalu cuek.
Tapi seperti apa pun itu, Sasha akan tetap bersabar. Meski kadang terkesan Anjas seakan tidak menghargai kehadirannya.
Di ruang tengah itu, sedang duduk Sasha, Nara dan Oma Lidya yang tetap kece badai meski sedang berada di rumah.
Anjas pun mengambil duduk di samping Oma Lidya.
"Loh, kok kamu bajunya kayak gitu sih? Bukannya kalian mau makan malam di luar? Ayo ganti bajunya. Kasihan loh, Sasha udah dari tadi nungguin." Tegur Oma Lidya.
Namun Anjas terlihat seakan enggan menanggapi.
"Tidak apa - apa kok Tan. Mungkin maksud Anjas, biar dia tidak kegerahan. Benar kan Anjas?" Sasha mencoba mengembalikan mood Anjas yang mendadak memburuk. Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya.
Memang jelas mood Anjas memburuk seketika. Anjas masih belum bisa mengalihkan pikirannya dari Mita. Kehadiran Mita di kantornya, sedikit banyak telah mengusik ketenangannya.
Anjas sangat senang karena dia bisa punya kesempatan lebih untuk kembali mendekati Mita. Namun kehadiran Elvano membuat Anjas sedikit kecewa. Kenapa harus ada Elvano di antara mereka.
Elvano memang seorang playboy. Itu karena dia belum menemukan seseorang yang pantas untuk dia cintai. Tapi kalau dia sudah jatuh cinta, Elvano tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintanya.
Tapi, apakah Mita orangnya? Orang yang sudah berhasil membuat Elvano jatuh cinta?
Anjas sedikit ragu. Pasalnya, Mita hanya wanita sederhana. Jauh dari kriteria wanita idaman Elvano. Anjas tahu benar itu. Elvano pernah memacari seorang model cantik, putri seorang pengusaha ternama, bahkan artis terkenal pun pernah dipacarinya.
Lalu Mita? Benarkah Elvano tulus mencintainya? Anjas jadi sedikit khawatir. Kalau Elvano hanya bermaksud mempermainkan Mita.
"Ya sudah, kalau begitu kalian pergi saja. Nara sama Oma aja ya?"
"Baik Oma."
"Loh, tadi katanya Nara yang punya rencana makan malam di luar?" Anjas sudah mengikuti keinginan Nara, lalu untuk apa dia pergi kalau tidak ada Nara.
"Tadinya. Tapi skarang tidak lagi." Sergah Oma Lidya cepat.
"Iya daddy. Nara udah ngantuk, mau tidur aja." Nara juga makin pintar bohongnya.
__ADS_1
Kok sepertinya ada bau - bau persekongkolan ya? Apa ini rencana Oma Lidya yang bekerja sama dengan Nara untuk lebih mendekatkan hubungan Anjas dan Sasha?
Oma Lidya sendiri tahu, kalau Anjas tidak akan sanggup menolak keinginan Nara. Ponakan kesayangannya.
Oma Lidya kok tega ya melibatkan anak kecil dalam rencananya. Dan Sasha sepertinya senang. Justru ini yang dia harapkan. Kehadiran Nara hanya akan merusak suasana. Kapan lagi dia bisa berduaan dengan Anjas. Tanpa gangguan dari Nara.
Namun dari raut wajahnya, sepertinya Anjas enggan pergi berdua dengan Sasha.
"Kalau gitu buat apa daddy makan di luar kalau Nara tidak ikut. Daddy udah kenyang."
Nah kan? Dugaan Sasha benar. Anjas tidak ingin pergi makan malam berdua dengan Sasha. Dan Sasha pun kecewa akhirnya. Padahal dia sudah sangat senang. Sekarang dia harus kembali kecewa dengan sikap Anjas.
"Loh Anjas, kok gitu sih? Kasihan Sasha sudah menunggu kamu sejak tadi loh."
Anjas beralih menatap Sasha. Yang balas menatapnya dengan seulas senyum.
Sasha sebenarnya orangnya baik. Tapi entah kenapa Anjas masih tidak bisa membuka hatinya untuk wanita itu. Padahal selama ini Sasha sudah banyak membantunya.
"Baiklah."
Akhirnya Anjas menyetujui. Meskipun dengan berat hati.
Dan Sasha pun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Memang inilah yang dia tunggu sejak tadi. Senyumnya semakin merekah. Membuat Anjas jadi tidak tega menyakiti hatinya.
Tidak ada yang salah dengan Sasha. Dia wanita yang cantik, anggun, penyayang, baik hati, dan pengertian. Sungguh beruntung pria yang bisa mendapatkan Sasha. Namun sayangnya, Anjas tidak ingin menjadi pria yang beruntung itu. Dalam hatinya masih ada Mita.
"Makasih ya Anjas." Ucap Sasha tulus.
Anjas hanya tersenyum tipis.
...*...
...*...
...*...
...-Bersambung-...
**Hai pembaca yang budiman dan Author Author kece 🤗 Ini karya keduaku. Mohon dukungannya ya...
Semoga cerita ini bisa menghibur para pembaca yang budiman.
Silahkan kalian bebas berpendapat. Asalkan itu maaih dalam taraf yang wajar dan sopan.
__ADS_1
So thank you very much 🙏
Salam hangat dari otor kawe 🤗**