Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 43


__ADS_3

Elvano menghidupkan mesin mobilnya, lalu bersiap hendak menjalankan mobilnya, tapi Mita mencegahnya.


"Kita bicara disini saja. Aku tidak ingin kemana - mana. Lagipula ini masih jam kerjaku. Atasanku hanya memberimu waktu tidak lebih dari lima menit. Lebih dari itu, aku akan dipecat. Cari pekerjaan di jaman sekarang itu susah." Ucap Mita ketus.


Elvano tersenyum tipis, kemudian menurunkan kembali tangannya yang sudah bersiap di setir mobil.


Anjas pasti sengaja hanya memberinya waktu lima menit. Tapi tak apalah. Mana mungkin juga Anjas akan memecat Mita. Elvano tahu betul seperti apa sahabatnya itu.


"Tapi ini di parkiran. Kita cari tempat yang lain saja." Elvano beralasan.


"Nanti waktu lima menitnya terbuang percuma."


"Oke."


"Lima menit cukup untuk menjelaskan semuanya. Dimulai dari sekarang." Mita menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya pada Elvano. Tetapi pandangan mata Elvano justru serius menatap Mita dalam - dalam.


"Aku minta maaf." Ucap Elvano lirih.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan."


"Maaf aku tidak memberitahu kamu soal Liza. Sebenarnya antara aku dan Liza sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi. Kami sudah lama putus. Tapi Liza tidak bisa menerimanya." Elvano mencoba memberi penjelasan pada Mita. Semoga saja Mita bisa mengerti apa yang coba disampaikannya.


"Untuk apa memberitahu aku soal mantan kamu itu. Lagipula, kamu mendekati aku karna ada maksud tertentu. Aku sudah tertipu. Tapi untung saja, aku belum tertipu terlalu jauh."


"Tolong jangan bilang begitu. Aku tidak bermaksud menipu kamu."


"Mungkin aku saja yang bodoh. Saking bodohnya, sampai - sampai aku mempercayai penipu seperti kamu."


Perlahan Elvano meraih jemari Mita dan menggenggamnya erat. Sembari menatap Mita sayu.


Mita mencoba menarik jemarinya dari genggaman Elvano. Tapi Elvano malah semakin mempererat genggamannya.


"Bagaimana caranya agar kamu percaya kalau aku benar - benar sayang sama kamu?"


"Tidak ada. Tidak ada yang perlu kamu lakukan. Kamu_" ucapan Mita terhenti. Sebab Mita merasakan tangan Elvano sedikit gemetaran. Dan wajahnya pun semakin pucat. Hingga akhirnya genggaman Elvano pun terlepas.


Elvano mulai menggigil. Lalu menyilangkan kedua tangannya, mendekap tubuhnya sendiri. Dan hal itu pun membuat Mita cemas.


"Van ... Kamu kenapa?" Tanya Mita cemas.


Elvano menggeleng, "aku tidak apa - apa."


Elvano sakit. Jelas dia sakit. Mita jadi merasa tidak enak hati, atau mungkin juga merasa bersalah. Tadi pagi dia kena omelan mamanya gara - gara semalam dia mengusir Elvano dalam keadaan basah kuyup. Lalu, apakah Elvano sakit gara - gara dirinya?


Oh, came on ... Lagipula siapa yang menyuruh Elvano hujan - hujanan di tengah malam buta. Elvano bukan anak kecil lagi. Salah sendiri.


Tapi eh tapi ... Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Elvano. Apa Mita harus bertanggung jawab?


Please deh! Hidup Mita sudah susah. Tolong jangan dibuat semakin susah.


"Lima menitnya sudah berlalu. Kamu boleh pergi." Ucap Elvano sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil. Kemudian memejamkan matanya.


Oh astaga. Ternyata Elvano benar - benar sakit. Sangat jelas terlihat dari wajahnya. Pantas saja hari ini dia terlihat berbeda. Bahkan dia mengenakan jaket tebal.


"Van ... Vano ... Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja? Mau aku panggilkan taksi?" Tawar Mita. Walau bagaimanapun Mita khawatir dengan keadaan Elvano. Mita bukan manusia yang tidak punya hati. Hinga tidak peduli sesama. Kasihan juga melihat Elvano kedinginan seperti itu.


"Pergilah. Apa kamu mau dipecat?"


"Tapi_"


"Aku tidak apa - apa."


Mulut Elvano berkata tidak apa - apa. Tapi kenyataannya tidak seperti apa yang dikatakannya. Elvano malah semakin menggigil parah.


Tiba - tiba Mita teringat seseorang yang bisa membantunya. Mita pun hendak menghubungi orang itu, tapi ponselnya malah ketinggalan.


Di dashboard mobil itu, tergeletak ponsel Elvano. Dengan cepat Mita menyambarnya tanpa meminta ijin Elvano terlebih dahulu. Anggap saja situasinya darurat. Tapi sial, ponselnya malah terkunci. Dan memerlukan password untuk membukanya.


"Pas_"


"Tanggal lahir kamu." Sela Elvano tanpa menoleh.


Mita malah tertegun mendengarnya. Darimana Elvano tahu tanggal lahirnya? Dan kenapa pula dia sembarangan menggunakan tanggal lahirnya.


Memang sengaja Elvano menggunakan tanggal lahir Mita. Agar dia selalu ingat dengan ulang tahun Mita. Alasan yang simpel kan?


Dan satu lagi, Elvano tidak ingin Anjas mendahuluinya memberikan ucapan selamat, saat hari spesial itu tiba. Tapi kalau dilihat - lihat, sepertinya hari spesial itu tidak akan lama lagi.


Yah ... Whatever! Terserah Elvano. Lagipula, hubungan mereka sudah berakhir. Terkadang Mita merasa kalau Elvano adalah pria yang terlalu banyak menyimpan rahasia. Dari awal mereka kenal, sampai saat ini, belum pernah sekalipun Elvano bercerita tentang dirinya.


Tapi, yah sudahlah. Untuk apalagi Mita mempermasalahkan soal Elvano. Lagipula mereka sudah putus.


.

__ADS_1


.


.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya orang yang Mita hubungi tiba dengan menggunakan ojek online.


"Nay ... Disini ..." Panggil Mita pada Nayla, sahabatnya.


Nayla pun bergegas menghampiri Mita yang sedang berdiri disamping sebuah mobil. Untung saja Elvano parkir di depan gedung, jadi Nayla bisa dengan mudah menemukan mereka.


"Ada apa lagi sih?" Tanya Nayla.


"Aku boleh minta tolong kamu kan?"


"Kamu kan sahabatku, sudah pasti aku akan menolong kamu. Mau minta tolong apa?"


Mita membuka pintu mobil. Tampak Elvano yang meringkuk di jok tengah. Mita meminta Elvano pindah ke belakang, karena dia berencana meminta tolong Nayla untuk mengantarkan Elvano pulang.


"Loh, itu kan ..." Nayla terkejut melihat Elvano tengah meringkuk seperti orang yang sedang kesakitan.


"Aku minta tolong kamu anterin dia pulang. Boleh ya? Nanti aku kasih alamatnya." Mita memelas.


"Apa? Aku? Trus kamu?"


"Aku takut di pecat. Ini masih jam kerjaku. Boleh ya Nay ... Kamu kan sahabat terbaikku."


"Memangnya Elvano kenapa?"


"Dia sakit."


"Kalau gitu, sorry Mit, aku tidak bisa." Tolak Nayla terang - terangan. Enak saja dia harus mengantarkan orang yang sakit. Mana Mita tidak ikut lagi.


"Nay please dong ... Ya? Mau ya?" Bujuk Mita dengan wajah memelas.


"Boleh, tapi kamu harus ikut."


"Tapi Anjas_"


"Anjas lagi, Anjas lagi. Memangnya kamu tidak kasihan sama Vano? Sudah ... Urusan pecat memecat, itu belakangan. Yang penting skarang, noh, tolongin dulu nyawa orang. Lagian mana mungkin Anjas akan memecat kamu. Ya sudah, ayo naik." Nayla ada benarnya juga.


Nayla pun naik ke mobil dan sudah bersiap dibalik setir mobil.


"Mit, ayo, cepat naik." Titah Nayla dengan suara lantang. Sebab dilihatnya Mita tampak masih ragu - ragu.


"Kalau sampai ada apa - apa dengan Vano, kamu yang tanggung jawab ya?"


"Ya sudah, aku ikut." Kemudian bergegas naik ke mobil.


"Pindah ke belakang." Titah Nayla lagi karena Mita malah mengambil duduk di depan.


"Apaan sih Nay ..." sungut Mita kesal.


"Kalau ada apa - apa kamu yang ta_"


"Iya, iya, bawel." Akhirnya Mita pun turun dari mobil. Kemudian pindah ke jok tengah.


Nayla mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dalam perjalanan, Mita tampak cemas. Masalahnya, Anjas hanya memberinya waktu lima menit bicara dengan Elvano. Tapi ini sudah lebih dari lima menit. Bagaiman kalau Anjas serius akan memecatnya. Harus cari pekerjaan kemana lagi? Masa iya dia kembali kembali ke TK tempatnya mengajar dulu.


Kalau benar Anjas serius, tambah repot nih urusannya. Udah perawan tua, pengangguran lagi. Mita oh Mita ... Malang benar nasibmu.


"Eh, Van?" Lamunan Mita seketika buyar gara - gara Elvano tiba - tiba saja berbaring di pahanya.


Sementara di depan, Nayla memperhatikan keduanya dari kaca spion. Sambil tersenyum - senyum sendiri.


"Kamu yang tanggung jawab loh ya ..." Ledek Nayla dengan senyum usilnya menggoda sahabatnya itu. Dan Mita pun cemberut dibuatnya.


Kalau bukan karena Elvano sedang sakit saat ini, mungkin Mita sudah menjitak habis kepalanya. Anggap saja Mita sedang berbaik hati saat ini. Enak saja, sembarangan menjadikan paha orang sebagai bantalnya.


Sementara Mita cemberut, Elvano malah tersenyum tipis. Momen seperti ini tidak akan terulang lagi.


.


.


.


Dengan bantuan Jono, bodyguardnya Mama Maria, Elvano di bawa ke kamarnya. Dokter keluarga Mama Maria dengan cepat datang begitu Mama Maria menghubunginya.


Setelah memeriksa keadaan Elvano dan memberinya obat, dokter itupun kemudian pamit pulang.


Kini Elvano tengah beristirahat. Sudah waktunya Mita dan Nayla juga pamit pulang.

__ADS_1


"Kami pamit pulang dulu ya Tante ..." Pamit Mita sopan saat Mama Maria mengantar mereka sampai ke pintu depan.


"Makasih ya sudah mengantarkan Vano pulang. Maaf sudah merepotkan kalian." Ucap Tante Maria.


"Tidak apa - apa Tante. Sama sekali tidak merepotkan kok." Ucap Nayla.


"Sebenarnya Tante masih ingin mengobrol dengan kalian. Tapi sepertinya, kalian sedang terburu - buru."


"Tid__aw." Ucapan Nayla terhenti karena mendapat cubitan keras Mita di pinggangnya.


"Iya, Tante. Maaf kami harus pamit pulang. Saya masih harus ke kantor." Ucap Mita sopan.


"Ya sudah. Lain kali saja ya kalau kalian punya waktu."


"Iya, Tante. Pasti!" Malah Nayla yang menyahut mantap.


"Oh ya, kalian pulang naik apa nanti. Biar supir Tante saja yang mengantar kalian pulang. Jangan menolak ya, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih Tante."


"Tidak usah Tante. Kami bisa pulang pakai taksi atau angkot. Nanti malah merepotkan Tante." Tolak Mita halus.


"Tidak apa - apa. ya udah, Tante ke belakang dulu. Kalian tinggu sebentar, biar Tante panggil supir Tante dulu." Mama Maria pun bergegas ke belakang hendak memanggil supirnya.


"Gila Mit, ternyata Vano bukan orang biasa. Rumahnya saja seperti istana. Coba bayangkan, seandainya kamu jadi menantu keluarga ini. Hidup kamu bakal senang Mit." Nayla mulai lagi dengan andai - andainya. Sembari berdecak kagum memperhatikan seisi rumah itu. Yang memang tampak mewah fan berkelas.


"Apaan sih kamu. Menantu apanya. Jangan ngawur deh."


"Elvano kan pacar kamu. Apalagi mamanya kayaknya suka sama kamu. Orangnya baik lagi."


"Kami sudah putus."


"What? Putus? Jangan bercanda akh Mit. Rugi loh kalau kamu putus dengan Vano. Ibarat kamu melepaskan tambang emas."


Mita malah menatap kesal Nayla yang suka ceplas - ceplos. Nayla tersenyum lebar.


"Jangan terlalu serius. Aku bercanda."


"Bercandanya kelewatan."


.


.


.


Sementara itu, di tempat berbeda, Anjas tampak cemas. Sudah lebih dari dua jam, Mita belum juga kembali. Berkali - kali Anjas menghubungi ponsel Mita, dan selalu berakhir dengan panggilan tak terjawab. Bahkan Anjas sudah meminta Chandra, asistennya, untuk mencari Mita. Tapi Mita bagai menghilang ditelan bumi.


Pikiran - pikiran buruk mulai berkecamuk dalam benaknya Anjas saat ini. Bagaimana kalau mereka kembali menjalin hubungan. Elvano sangat pandai merayu. Mita pasti sudah termakan bujuk rayunya.


Sekarang sudah hampir jam makan siang. Tapi Mita belum juga kembali. Anjas pun bangun dari duduknya dan hendak memastikan apakah Mita sudah kembali.


Namun meja kerja Mita tampak kosong tak berpenghuni. Anjas menghembuskan napas panjang. Jelas bukan cemas lagi yang dirasakannya saat ini. Tetapi juga cemburu.


IYA. CEMBURU!


Dan asal tahu saja, cemburu itu benar - benar menguras hati. Seperti saat ini yang terlihat dari raut wajah Anjas. Raut wajahnya sulit diartikan. Ada kekesalan, kecemasan, amarah, semua bercampur menjadi satu. Udah kayak gado - gado rasanya. Dalam benaknya, hanya ada satu pertanyaan saat ini. Apa yang dilakukan Mita dan Elvano?


Anjas pun berniat menghubungi Mita kembali. Panggilannya tersambung. Tapi kok bunyi dering ponselnya malah terdengar tidak jauh dari tempatnya Anjas berdiri? Apa Mita sudah kembali?


Perlahan Anjas mulai melangkahkan kakinya menghampiri meja kerja Mita. Sekali lagi Anjas menghubungi ponselnya. Dering ponselnya terdengar jelas. Bahkan dangat jelas. Karena dering ponsel itu berasal dari dalam tas Mita yang tergeletak di tempat duduknya.


"Hah ..." Anjas menghembuskan napasnya kasar. Kesal bukan main. Pantas saja, dari tadi selalu berakhir dengan panggilan tak terjawab. Rupanya Mita meninggalkan ponselnya.


"Dasar sekertaris tidak bertanggung jawab." Kesal Anjas.


"Anjas?" Tiba - tiba terdengar suara seorang wanita menyapanya.


Secepat kilat Anjas memalingkan wajahnya. Dengan senyum yang merekah.


"Mita?"


Namun senyum merekah itu harus layu seketika. Karena yang berdiri di hadapannya saat ini dengan senyum manis yang terkembang, bukan Mita. Melainkan Sasha.


Dan disaat yang bersamaan, akhirnya Mita pun menampakkan batang hidungnya. Langkah Mita terhenti tepat di belakang Sasha. Anjas menatapnya kesal.


Dan kini, dihadapan Anjas tengah berdiri dua wanita cantik. Apa yang akan dilakukan Anjas?


Dari raut wajahnya, Anjas terlihat kesal terhadap Mita karena rasa cemburunya. Apakah Anjas akan memanfaatkan Sasha untuk membuat Mita merasakan kekesalan yang sama?


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2