
Mita menghempaskan tubuhnya di sofa sambil mengembuskan napas panjang. Hari ini seperti terasa berat baginya.
"Nay ... kayaknya aku harus cari kerjaan lain deh." Ucap Mita sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Nayla yang tengah asik mengunyah kue sambil menonton TV itu pun terkaget. Mita kesambet setan apa sampai punya pikiran seperti itu. Dikira cari pekerjaan di jaman sekarang tidak susah apa.
"Mau cari kerjaan kemana? Enakan kerjaan kamu yang sekarang. Udahlah, tidak usah macam - macam Mit. Jangan suka aneh - aneh deh." Sungut Nayla. Lalu kembali mengunyah potongan kue di tangannya.
"Aku serius Nay. Aku sudah mempertimbangkan ini."
"Gara - gara Anjas lagi kan?" Nayla memiringkan tubuhnya, menatap tajam Mita yang duduk di sampingnya.
"Jangan bilang dugaanku benar. Apa karena Anjas?" tanya Nayla memperjelas.
Mita mengangguk pelan, "Aku malas saja harus ketemu dia terus."
"Trus kamu mau kerja apa? Nyari pekerjaan sekarang itu susahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami Mit. Susah. Udah, sabar aja. Anggap saja dia itu hantu atau apalah gitu. Atau memang udah jodohnya kali, kalian selalu saja di pertemukan."
"Aku bantu - bantu Mama aja di toko kuenya. Atau aku bisa join sama kamu, ikutan jualan online."
"Terserah kamu deh Mit." Nayla pun menyandarkan punggungnya. Lalu meraih ponselnya dari saku celananya.
Beberapa menit berselancar di dunia maya, Nayla pun mendapati informasi lowongan pekerjaan dari situs berita online dan memberitahukannya pada Mita.
"Eh Mit Mit. Ini ada lowongan pekerjaan. Kayaknya kamu cocok deh."
"Pekerjaan apa?"
"Sekretaris."
Mita meninggikan alisnya. Kelihatannya pekerjaan itu cocok untuknya. Mencoba pengalaman baru apa salahnya.
__
Di sudut lain kota, seorang pria tengah sibuk dengan setumpuk berkas di depannya. Tangannya dengan lincah membubuhkan tanda tangan di setiap berkas yang habis di bacanya.
Anjas.
Kegiatannya terhenti saat seseorang datang menghampirinya.
"Kami sudah memasang iklan di situs berita online. Mungkin satu dua hari ini banyak pelamar yang akan datang mengajukan lamarannya." Ujar Chandra, asisten Anjas.
"Lebih cepat lebih baik."
"Tadi ibunya Pak Anjas menelfon. Katanya, Pak Anjas harus cepat pulang. Ada urusan keluarga yang sangat penting."
__ADS_1
Anjas mengangguk kecil. Urusan keluarga yang sangat penting ? Apa lagi kali ini. Jangan bilang kalau mamanya punya rencana aneh lagi.
Anjas memijit keningnya sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Berkali - kali dia mengembuskan napas yang terasa berat.
Anjas bisa apa kalau mamanya meminta sesuatu darinya. Anjas bukan termasuk anak yang suka membantah orang tua. Apalagi setelah kepergian ayah dan kakaknya tercinta. Mamanya satu - satunya orang tua yang dimilikinya. Anjas tidak ingin menyakiti mamanya dengan membangkang dan membantah keinginan mamanya.
_
Anjas melangkah panjang memasuki rumahnya. Di ruang makan terlihat si Memey, asisten rumah tangga, dan Oma Lidya tengah sibuk menata meja makan dengan berbagai hidangan istimewa.
"Mey, yang itu, pindahin ke sini. Itu makanan favoritnya Anjas. Dan yang itu pindahin ke sini. Itu makanan favoritnya Sasha." Titah Oma Lidya.
"Baik nyonya."
Si Memey pun segera melaksanakan titah majikannya yang kece badai itu. Oma satu cucu yang penampilannya ngalah ngalahin kawula muda. Bisa di bilang begitu. Karena di setiap penampilannya selalu terlihat kece dan up to date. Tidak pernah ketinggalan mode.
Dan si Memey pun jadi ikut - ikutan dengan gaya majikannya yang kece badai itu. Lihat saja gayanya, hanya menata meja makan saja gayanya udah ngalah ngalahin majikannya. Dengan kacamata hitam yang bertengger di puncak kepalanya.
"Anjas ..." seru Oma Lidya saat pandangan matanya menangkap sosok Anjas yang sudah bersiap menapakkan kakinya menaiki anak tangga.
Oma Lidya datang menghampiri. Anjas menurunkan kembali satu kakinya yang sudah berpijak di anak tangga.
"Kamu cepetan mandi dan ganti baju yang rapi. Sebentar lagi Sasha datang. Kita makan malam di rumah aja ya?" ucap Oma Lidya dengan sorot mata berbinar.
Perasaan Anjas mendadak jadi tidak enak dan cemas seketika. Ini pasti ada apa - apanya nih. Mamanya sedang merencanakan apa lagi sampai harus mengundang Sasha makan malam di rumahnya.
Di ruang tengah, sudah ada Sasha dan Nara yang duduk di pangkuannya Sasha. Oma Lidya dan Anjani adiknya.
Melihat kedatangan Anjas, Sasha menyunggingkan senyum manisnya dan pandangannya terus mengikuti sampai Anjas mengambil duduk di samping Anjani.
Sasha ini seperti tidak bosan - bosannya memandang Anjas. Seperti ada pemandangan indah saja di wajahnya Anjas.
Sedangkan Anjas, sebenarnya merasa risih setiap kali Sasha memandangnya. Rasanya tidak nyaman.
Sementara Anjani, tersenyum - senyum sendiri sembari memandangi Sasha dan kakaknya secara bergantian. Sasha dengan sorot matanya yang berbinar, dan Anjas dengan tampang dinginnya. Terlihat tenang meski sepasang bola mata Sasha senantiasa mengawasinya.
"Sudah ada Anjas kan, ya udah skarang kita langsung ke meja makan saja ya. Kebetulan Mama sudah sangat lapar." Seru Oma Lidya kemudian bangkit dari duduknya dan melenggang menuju ruang makan dan langsung menarik satu kursi dan duduk disana.
Anjas, Sasha, Anjani, dan Nara pun mengikuti Oma Lidya dan mengambil duduk masing - masing di meja makan itu.
Mereka pun memulai makan malamnya dengan tenang. Dengan di isi obrolan - obrolan ringan pada awalnya.
"Nara senang deh ada mommy di sini." Ujar Nara dengan polosnya.
"Oh ya? kalau gitu mommy akan sering - sering nengokin Nara. Biar Nara senang." Ucap Sasha menimpali ucapan Nara.
__ADS_1
"Asiiik ... kenapa mommy tidak tinggal di sini saja bareng Nara sama daddy."
Sasha tersenyum mendengar ucapan Nara. Lalu melirikkan pandangan matanya ke Anjas yang terlihat tenang menyantap makanannya. Sama sekali tidak terganggu dengan kalimat yang di ucapkan Nara. Cuek. Seperti itulah Anjas.
Nara ... Nara ... andai saja kamu tahu kalau uncle mu itu bukan ayahmu. Apa yang akan terjadi padamu nanti.
"Memangnya Nara pengen mommy tinggal di sini?" tanya Anjani memastikan.
Nara mengangguk mantap, "iya. Biar bisa nemenin Nara dan daddy tidur. Trus biar bisa bacain Nara dongeng setiap malam."
Anjani melirik dengan ekor matanya. Anjas yang duduk di sampingnya masih saja terlihat cuek. Dengan santainya menyantap makanannya seolah dia hanya makan sendiri di meja makan itu.
Melihat sikap Anjas, sedikit banyak Anjani tahu, kalau perasaan Anjas terhadap Sasha belum berubah. Masih menganggapnya sebagai teman. Tidak lebih. Sedangkan Sasha, sudah bertahun - tahun memendam perasaannya terhadap Anjas. Tapi tidak sedikitpun mendapat balasan dari pria itu.
"Nara ... keinginan Nara itu akan terkabul. Tidak lama lagi mommy akan tinggal disini bersama kita. Nara senang kan?" ucap Oma Lidya.
Dan kali ini Anjas terusik dengan kalimat mamanya. Anjas menghentikan makannya lalu menatap tajam Oma Lidya yang justru tersenyum menatapnya.
"Karena Anjas malu mengatakan ini, jadi terpaksa Mama sendiri yang akan mengatakannya."
Anjas semakin menatap tajam mamanya. Apa maksudnya ini ? Kenapa mamanya jadi emak - emak rempong seperti ini ?
Oma Lidya semakin tersenyum lebar sambil memandangi mereka satu per satu.
Sasha terlihat penasaran menunggu kalimat Oma Lidya selanjutnya. Sedangkan Anjani sudah tahu apa maksud mamanya mengadakan jamuan makan malam dadakan ini.
"Sasha ... sebenarnya Anjas sangat malu mengutarakan niatnya. Jadi Tante yang akan mengatakannya langsung. Tante harap kamu tidak tersinggung dan merasa keberatan." Ucap Oma Lidya membuat Sasha semakin penasaran.
"Tidak Tante. Aku tidak akan tersinggung. Dan tentu saja aku tidak keberatan jika Tante yang harus mengatakannya. Memangnya, apa yang ingin Tante katakan."
"Anjas ingin melamar kamu."
What ???
Anjas sukses terpaku menatap mamanya.
Apa - apaan ini ?
Kenapa mamanya tidak konfirmasi dulu. Kenapa mamanya tidak meminta persetujuannya dulu. Kalau sudah begini, Anjas bisa apa ?
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
...-Bersambung-...