
Sejak diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Elvano lebih sering berdiam diri di rumah. Dia tidak akan keluar rumah kecuali untuk urusan yang penting.
Dan kini, Elvano harus kembali ke rumah sakit setelah mendengar kabar tentang kecelakaan Sasha.
Di salah satu kamar VIP rumah sakit itu, Sasha sedang di rawat.
"Sasha koma. Tante tidak tahu harus berbuat apa lagi." Ucap Bu Ambar lesu. Sebab kesedihan yang teramat yang mendera hatinya saat ini. Melihat putri kesayangan dalam keadaan seperti itu, orang tua mana yang tidak akan merasa sedih.
Kecelakaan yang dialaminya mengakibatkan cedera parah di kepalanya. Hingga menyebabkan Sasha koma.
"Tante harus kuat. Yang sabar Tante. Aku yakin, Sasha mampu melewati semua ini." Hibur Elvano.
"Semua ini terjadi karena Anjas."
Elvano pun terhenyak. Lalu memalingkan wajahnya, menatap Bu Ambar yang tampak kecewa.
"Jangan menyalahkan Anjas atas kejadian ini, Tante. Ini terjadi karena Sasha sendiri. Aku sudah pernah bilang padanya, agar menyerah dan berhenti mengejar Anjas. Tapi Sasha tidak pernah mau mendengarkan aku. Jadi, tolong, berhenti menyalahkan Anjas."
Hebat juga Elvano, bisa membela sahabatnya seperti itu. Tapi memang benar juga sih. Anjas tidak ada kaitannya dengan kecelakaan yang dialami Sasha.
"Tante dengar kamu sudah mengembalikan aset Anjas. Apa kamu sudah berpikir panjang melakukan itu?" Tanya Bi Ambar kemudian.
"Tante tenang saja, aku sudah mendiskusikan hal itu dengan Papa. Aku akan mengganti uang Papa pelan-pelan. Aku mungkin akan menjual coffeshop, dan akan menerima tawaran Papa. Bekerja bersama Papa." Jawab Elvano dengan santainya.
Memang, konsekuensi yang harus diterimanya untuk meredakan amarah ayahnya adalah dengan menerima tawaran ayahnya sendiri. Yaitu bekerja di perusahaan property ayahnya.
Salut deh buat Elvano. Demi sahabat dia rela melepas kehidupan bebasnya. Dan memilih hidup dengan bekerja dibawah pengawasan ayahnya. Demi apalagi Elvano melakukan semua ini kalau bukan demi kebahagiaan Mita. Bukan hanya Mita saja, dia ingin melihat dua sahabatnya itu hidup bahagia. Tanpa mempersulitnya.
Setelah menjenguk Sasha, Elvano pun keluar dari ruangan itu. Dengan langkah perlahan sambil pandangannya tertunduk pada layar ponselnya, Elvano berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk sampai ke tempat parkir.
Namun, tanpa sengaja, tiba-tiba saja ...
Bugh!
"Awww!" Terdengar sebuah suara lembut seorang gadis, diiringi suara benda terjatuh.
"Maaf, maaf. Saya tidak sengaja." Ucap Elvano terburu-buru sambil pandangannya tertuju pada seorang suster yang tengah membungkuk. Memunguti berkas-berkas yang jatuh berserakan di lantai.
Melihat hal itu, spontan Elvano pun membungkukkan badannya membantu suster itu mengumpulkan berkas-berkas pasien yang berserakan.
"Biar saya bantu." Ucap Elvano sambil tangannya mulai sibuk memungut berkas-berkas itu.
"Tidak perlu." Ucap gadis itu datar.
Elvano pun mengangkat pandangannya, menatap suster itu. Suaranya tampak tak asing lagi di telinganya.
"Hai!" Sapa Elvano dengan wajah sumringah sembari mengulum senyum manisnya.
Spontan suster itu pun mengangkat pandangannya.
"Hai ..." Sapa suster itu ragu-ragu.
Bersama-sama keduanya pun bangkit berdiri. Sembari dengan tatapan yang saling beradu.
"Maaf ya, aku tidak sengaja." Ucap Elvano kemudian. Masih dengan wajah tersenyum manis.
Suster itu, Lyra, membalas senyum manis Elvano dengan senyum yang tak kalah manisnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak memperhatikan jalan, dan akhirnya malah menabrak kamu."
"Aku sampai lupa kalau kamu bekerja di rumah sakit ini." Elvano kembali tersenyum.
"Oh ya, apa jadwal kerja kamu padat hari ini? Maksud aku, mungkin kamu lembur atau mungkin saja ..."
"Tidak juga. Malam nanti jadwalku kosong. Memangnya kenapa?" Sela Lyra saat Elvano masih berpikir apa yang akan diutarakan selanjutnya.
Mendengar jawaban Lyra sekaligus pertanyaannya, Elvano pun semakin tersenyum lebar. Ini seperti umpannya termakan mangsa tanpa sadar. Elvano dilawan. Ciyeee ... Dapat mangsa. Gas pol Elvano.
"Kira-kira alamat kamu dimana?" Tanya Elvano kemudian.
Lyra terkekeh, "Untuk apa kamu tahu alamatku?"
"Mungkin seseorang malam ini akan datang ke rumah kamu."
"Oh ya? Siapa?"
"Aku."
Lyra terdiam sejenak, tertegun menatap paras tampan Elvano. Tapi kemudian kembali tersenyum malu-malu.
"Boleh kan aku ajak kamu jalan malam ini? Yah, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah merawat aku selama di rumah sakit ini."
Aciye, ciyeee ... Elvano bisa aja. Lihat tuh, Lyra sampai malu-malu kucing begitu. Pipi putihnya bahkan bersemu merah seperti blush on ketebalan. Elvano gitu loh.
"Eemmm ... Gimana ya ..." Lyra tampak berpikir. Sambil melirik-lirik Elvano malu-malu.
"Makasih ya?" Ucap Elvano tiba-tiba, hingga membuat Lyra kaget.
"Makasih? Untuk apa?"
"Memangnya aku sudah bilang iya?" Tantang Lyra, sejauh mana Elvano bisa melancarkan rayuan gombalnya.
"Hati kamu yang bilang. Aku bisa mendengar kata hati orang."
"Ha ... Ha ... Ha ..." Lyra pun tergelak. Tak bisa lagi menahan tawanya. Namun hatinya berbunga-bunga. Elvano memang bisa aja membuat rayuan gombal seperti itu.
Elvano dilawan!
Hati-hati Lyra. Bisa-bisa kamu kepincut tuh. Sekarang saja kamu sudah dibuat baper oleh rayuan gombalnya. Tapi, kalau dilihat-lihat, kalian cocok juga. Kalian tampak serasi jika dipasangkan. Semoga saja ya?
.
.
.
Sementara di tempat lain, Anjas tengah mengadakan rapat dadakan. Membahas tentang perkembangan produksi, perkembangan pasar, dan hal-hal lainnya yang sempat tertunda pembahasannya.
Rencananya, dalam minggu ini Anjas dan Mita akan pergi berbulan madu. Untuk itu, dia harus memastikan perusahaan dalam keadaan stabil sebelum ditinggalkan.
Setelah rapatnya selesai, kini Anjas tengah berada di ruangannya bersama Chandra. Dikarenakan Mita kini sudah menjadi Nyonya Anjas, jadi pekerjaannya di kantor telah digantikan orang lain.
"Ndra, aku boleh minta tolong kamu?" Tanya Anjas.
"Dengan senang hati saya akan membantu Pak Anjas."
__ADS_1
"Begini ..." Anjas pun mengutarakan niatnya. Yang tentunya merupakan satu kejutan kecil yang akan diberikannya pada isteri tercintanya itu nanti.
Setelah menerima titah dari atasannya, Chandra pun bergegas keluar dari ruangan itu untuk segera menyiapkan apa yang diminta atasannya.
Setelah Chandra menghilang dibalik pintu, Anjas pun meraih ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya dan mulai menghubungi seseorang.
"Anjani ... Kakak boleh minta tolong kamu tidak?" Tanya Anjas.
"Boleh dong Kak. Memangnya Kakak mau minta tolong apa?" Sahut Anjani dari seberang, melalui sambungan telepon.
"Tolong kamu kasih tau Mama juga ya? Kakak cuma mau minta tolong ..." Anjas pun mengutarakan hal yang sama pada Anjani, adiknya.
Anjas pun tersenyum puas setelah mengutarakan niatnya. Meskipun hanya kejutan kecil, tapi Anjas berharap hal itu bisa membuat Mita bahagia.
Dan kini, Anjas pun harus menyiapkan bagiannya. Anjas bergegas bangun dari duduknya. Keluar dari ruangannya dengan langkah terburu-buru. Semoga saja Mita senang dengan kejutan kecilnya.
Tiba di tempat parkir, terburu-buru Anjas hendak membuka pintu mobil. Saat tiba-tiba terdengar dering ponselnya.
Anjas pun merogoh saku celananya, mengambil ponsel dari dalam sana.
"Halo ..." Sapa Anjas.
Sedetik kemudian, wajahnya tampak tegang setelah mendengar apa yang disampaikan oleh si penelepon.
Beberapa menit setelahnya, Anjas kini tengah berada di sebuah ruang rawat VIP. Menatap dingin sosok yang terbaring koma di tempat tidur itu.
Sejujurnya, Anjas enggan datang menjenguk Sasha. Namun, karena Elvano yang meminta, Anjas pun tidak bisa menolaknya. Meski dengan berat hati. Walau bagaimanapun, Elvano adalah orang yang sangat berjasa atas kehidupannya saat ini. Berkat kebesaran hati Elvano, kini Anjas bisa hidup berbahagia dengan wanita yang dicintainya.
"Sorry, Jas. Aku memintamu datang kemari. Sebenarnya, Om Sandy dan Tante Ambar tidak ingin kamu datang menjenguknya. Tapi, sebagai saudara, aku rasa aku harus memintamu datang." Ucap Elvano yang tengah berdiri di samping Anjas. Sembari pandangan keduanya tertuju pada Sasha yang terbaring koma.
"Jujur, aku sangat terkejut mendengar kabar ini. Aku hanya tidak percaya, kenapa Sasha bisa sampai kecelakaan seperti ini."
"Mungkin ini hukuman untuknya. Setelah dia berencana untuk menghabisimu."
"Untuk masalah itu, aku sudah memaafkannya."
"Padahal aku baru mau mengatakan itu. Tapi, tetap saja aku harus mengatakannya. Mewakili keluarga Abraham, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu. Tolong maafkan saudaraku yang sempat berniat buruk padamu." Ucap Elvano sepenuh hati.
"Apaan sih kamu, Van. Kamu terlalu berlebihan. Tentu saja aku memberi maaf dengan setulus hatiku."
Spontan Elvano pun memeluk sahabatnya dengan penuh rasa haru.
"Thanks, Bro. Kamu memang sahabat yang terbaik."
"Kamulah yang terbaik, Van. Kamu adalah orang yang berhati besar. Aku beruntung memiliki sahabat seperti kamu."
Elvano pun melepas pelukannya.
"Oh ya, malam nanti kamu ada waktu kan?" Tanya Anjas kemudian.
"Untuk sahabatku, tentu akan selalu aku luangkan waktu. Oh ya, kalau boleh tahu, ada apa?"
Anjas pun mengutarakan maksud hatinya. Yang diangguki mantap oleh Elvano.
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...