
"Iya Bu Ambar. Lebih cepat lebih baik. Jangan di tunda - tunda lagi. Anak - anak kita kan sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Tidak baik terus menunda waktu. Takutnya malah makin banyak godaannya." Oma Lidya terlihat sumringah saat telfon - telfonan dengan calon besannya itu.
"Tenang saja Bu Ambar. Kalau soal itu serahkan pada saya. Saya pasti ak__" Obrolan Oma Lidya via telepon seluler itu pun terhenti begitu saja. Sebab dengan cepat Anjas merebut ponselnya. Lalu memutuskan sambungannya.
"Anjas ... Apa - apaan sih kamu?" Oma Lidya menatap garang Anjas. Kesal dengan apa yang dilakukan putranya itu.
"Harusnya aku yang bilang begitu. Mama apa - apaan? Seenaknya saja mau menjerumuskan anaknya ke dalam hubungan tanpa cinta." Kesal Anjas.
"Urusan cinta belakangan. Kalau kalian sudah bersama, lama - kelamaan pasti bakalan cinta juga. Sini, berikan henfon Mama." Sambil mengulurkan tangannya. Meminta kembali ponselnya yang telah direbut Anjas.
Anjas pun menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan mamanya. Dengan raut wajah masam.
"Batalkan rencana Mama." Tegas Anjas.
"Apa? Membatalkan pertunangannya?"
Anjas mengangguk cepat.
"Apa kamu sudah gila? Apa kamu lupa siapa yang sudah menyelematkan perusahaan Kakak kamu?" Oma Lidya seakan membuat Anjas mati kutu. Dengan mengingatkan kembali jasa orang tua Sasha yang telah menyelamatkan Winata Group dari kebangkrutan yang hampir saja terjadi kala itu. Lalu apalagi yang bisa Anjas lakukan. Kenyataan itu seakan membungkamnya. Membuatnya tidak bisa berbuat apa - apa. Kasihan Anjas.
Anjas pun hanya bisa mendengus kesal. Kemudian berlalu meninggalkan Oma Lidya sembari berkata, "Pokoknya batalkan saja. Aku tidak peduli meski mereka menarik kembali saham mereka."
"Kamu mau kita bangkrut?" Kesal Oma Lidya.
Anjas hanya mengendikkan bahunya. Sembari berlalu. Tanpa menoleh sedikitpun. Mungkin sudah cukup rasanya Anjas selalu menuruti permintaan mamanya. Sudah saatnya Anjas menentukan sikap. Terlebih soal masa depannya.
.
.
Sementara itu, masih di malam yang sama. Di tempat yang berbeda.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu keras. Bahkan terkadang seseorang menggedor - gedor pintu rumah itu.
"Iya, tunggu sebentar." Teriak Liza sembari berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
Saat pintu terbuka. Tampak Elvano berdiri dengan wajah penuh amarah di depan pintu itu.
Setelah mengantarkan Mita pulang, Elvano memutuskan mampir sebentar ke rumah Liza. Untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi diantara mereka.
Liza tersenyum sinis memandangi Elvano.
"Sudah aku duga. Kamu pasti akan datang padaku."
"Rupanya kamu senang mencari gara - gara. Dengar, apa yang kamu lakukan tadi, tidak bisa aku terima. Aku akan buat perhitungan denganmu."
"Van ... Perempuan murahan itu sangat tidak pantas untukmu. Lupakan saja dia." Kemudian maju dua langkah lebih mendekat ke Elvano. Sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Elvano.
"Perempuan kampungan itu tidak akan bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Selain aku tidak ada yang bisa memberimu kepuasan." Sambil memainkan telunjuknya menyusuri paras tampan Elvano.
Elvano pun mengulas senyum. Sembari menurunkan kedua tangan Liza. Kemudian dengan cepat Elvano memutar sebelah tangan Liza. Hingga membuat Liza memekik kesakitan.
__ADS_1
"Aww ... Van, lepaskan."
"Jangan sampai aku berbuat hal yang lebih jauh lagi padamu. Dengar ya, jangan coba - coba mendekati Mita. Kalau sampai kamu berbuat macam - macam terhadap Mita. Aku pastikan, kamu akan menerima balasan yang setimpal dariku. Ingat itu." Kemudian Elvano bergegas pergi setelah menghempas kasar tangan Liza
Elvano tahu betul seperti apa kelakuan Liza. Untuk itu dia datang hanya sekedar untuk memberinya peringatan.
"Kamu pasti akan jadi milikku Vano. Pewaris tunggal Abraham Group. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun mendapatkan kamu. Karna kamu dan seluruh harta kekayaanmu adalah milikku. Milik Liza seorang." Gumam Liza sembari tersenyum sinis memandangi kepergian Elvano.
.
.
Elvano melangkah panjang memasuki rumahnya. Kakinya sudah menapaki tangga hendak ke kamarnya. Saat tiba - tiba terdengar Mama Maria memanggil namanya. Elvano pun menurunkan kembali kakinya dari pijakan tangga.
"Van ... Kamu sama Mita tadi kenapa sih?" Tanya Mama Maria. Sembari menghampiri Elvano.
"Salah paham Ma. Gara - gara Liza. Lagian siapa yang memberi ijin Liza masuk ke rumah ini. Lain kali, jangan biarkan perempuan ****** itu masuk ke rumah ini." Kesal Elvano.
"Mama sudah memberitahu semua ART kita. Termasuk Jono. Pokoknya perempuan yang bernama Liza itu tidak boleh lagi masuk ke rumah ini."
"Baguslah. Aku ke kamar dulu Ma." Kemudian bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Meninggalkan Mama Maria yang terlihat masih ingin bertanya banyak hal pada putra semata wayangnya itu.
Di kamarnya, Elvano merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Sambil pikirannya mulai menerawang. Memikirkan tentang nasib hubungan asmaranya dengan Mita.
Jujur, Elvano jatuh cinta pada Mita. Benar - benar jatuh cinta. Tidak seperti hubungannya dengan wanita - wanita lain. Yang di pacarinya hanya sekedar main - main saja. Pada Mita, Elvano benar - benar tulus mencintainya. Bahkan Elvano berniat serius. Mita adalah satu - satunya wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
Haaah ... Memikirkan Mita membuat Elvano gelisah tak menentu. Terlebih memikirkan sikap Mita tadi, yang terkesan mulai menjauhinya. Membuat Elvano semakin tak tenang saja.
"Halo ..." Terdengar sapaan Mita dari seberang.
"Mit, aku minta maaf. Aku bisa menjelaskan semuanya. Kamu salah paham Mit." Elvano sedikit memelas.
"Van, mulai sekarang ... Kita tidak usah bertemu lagi. Kita putus." Tegas Mita.
"Ap_apa? Pu_putus?" Elvano tergagap saking terkejutnya mendengar keputusan Mita.
"Mit__"
Tuuut ...
Sambungan telepon terputus. Elvano tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Keputusan Mita tidak bisa Elvano terima begitu saja. Keputusan itu terdengar menyakitkan baginya. Seiring dengan suara kilat menyambar dan suara guntur yang bergemuruh. Terdengar gaduh. Sama gaduhnya dengan perasaan Elvano saat ini.
Di luar, hujan mulai turun dengan derasnya. Tanpa mempedulikan keadaan, Elvano memaksakan diri keluar rumah. Dalam pikirannya saat ini hanya ada Mita. Kesalahpahaman Mita harus diakhiri sekarang juga.
"Van ... Vano ... Kamu mau kemana sayang ..." Seru Mama Maria saat melihat Elvano terburu - buru keluar rumah. Lalu bergegas naik ke mobilnya. Sejurus kemudian, mobil Elvano mulai melaju di bawah guyuran hujan yang semakin deras saja.
.
.
Berkali - kali Elvano menghubungi ponsel Mita. Tapi malah nonaktif. Akhirnya Elvano turun dari mobil dan berdiri di depan pintu pagar rumah Mita yang sudah tergembok. Elvano berteriak memanggil Mita. Tetapi Mita sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya, justru Mama Retno yang datang menemuinya sambil membawa payung.
"Ya ampun Nak Vano. Malam - malam begini kenapa hujan - hujanan? Nanti kamu sakit loh." Cemas Mama Retno sambil membuka gembok. Kemudian memberikan payung yang satunya kepada Elvano.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu Mita Tante." Ujar Elvano sambil menggigil kedinginan.
"Ayo, masuk dulu. Kasihan kamu udah kedinginan."
Elvano pun mengikuti langkah Mama Retno sampai ke dalam rumahnya.
"Tunggu disini sebentar ya ... Tante ambilkan handuk dulu dan baju ganti. Nanti kamu sakit lagi." Kemudian Mama Retno meninggalkan Elvano di ruang tamu. Tak berapa lama, wanita paruh baya itu kembali dengan handuk dan pakaian ganti di tangannya.
"Ini, ganti baju dulu." Ucap Mama Retno sembari memberikan handuk dan pakaian ganti itu ke Elvano.
"Kamar mandinya di_" belum sempat Mama Retno menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Mita dari dalam kamarnya.
"Suruh pulang aja Ma ... Kalau tidak, aku akan menelfon Pak RT dan bilang kalau di rumah kita ada pria mesum ..." Mita berkata dengan suara lantangnya. Membuat Mama Retno jadi tidak enak hati pada Elvano.
"Anak itu, apa sudah gila?" Gerutu Mama Retno dengan suara setengah berbisik.
"Tidak apa - apa Tan. Sebaiknya aku pulang saja." Elvano pun tahu diri. Elvano berkata dengan rasa kecewa. Sembari menyerahkan kembali handuk dan pakaian ganti ke Mama Retno.
Mama Retno menerimanya dengan raut wajah penuh penyesalan atas sikap kasar Mita.
"Maaf ya Nak Vano. Nanti Tante coba bicara dengan Mita. Memang anaknya sedikit keras kepala. Tapi Tante akan berusaha membujuknya, agar mau bicara dengan Nak Vano."
"Tidak usah Tan. Mungkin Mita butuh waktu."
"Sebenarnya ada masalah apa sih?" Mulai deh keponya Mama Retno.
"Sedikit salah paham. Kalau begitu, aku pulang dulu Tante." Elvano pun akhirnya pamit. Dengan pakaian yang basah kuyup, hati yang perih, kecewa, dan tentunya menyesal. Memang, sejak awal, sebenarnya dia hanya berniat main - main daja dengan Mita. Tapi siapa yang akan menyangka, dia justru benar - benar jatuh cinta.
Brmmm ...
Mobil Elvano melesat di tengah guyuran hujan lebat malam itu. Lebatnya hujan malam itu tak selebat air mata yang jatuh membasahi wajahnya.
Selama dia menjalin hubungan dengan seorang gadis, baru kali ini dia merasakan sakit saat putus cinta. Biasanya, berapakalipun dia putus cinta, dia tidak pernah peduli. Justru itu yang diinginkannya, agar dia bisa mencari gadis lain yang bisa diperdaya.
Ya ampun ... Segitu sakitnyakah? Sampai - sampai airmata Elvano tak mau berhenti berderai. Bahkan dadanya pun terasa begitu sesak. Baru kali ini, rasa sakit itu terasa begitu menyayat hatinya.
"Ceroboh ... Dasar bodoh!" Elvano hanya bisa merutuki diri sendiri. Sambil memukul - mukul keras setir mobil. Seharusnya sejak awal, dia memutuskan hubungannya dengan Liza. Wanita ular itu, benar - benar sudah mengacaukan hidupnya.
Kini, hubungannya dengan Mita sudah berakhir. Lalu apalagi yang bisa dia perbuat. Mita mungkin sudah sangat membencinya.
Tapi, bukan Elvano namanya jika mudah menyerah. Apapun dan bagaimanapun caranya, Mita harus kembali padanya. Titik.
.
.
.
...Bersambung...
Sekedar menyimpan hasil karya.
Mohon maaf slow update ✌️
__ADS_1