
Winata Group
Tampak di setiap sudut gedung bertingkat itu, karyawan - karyawan tengah bergosip. Desas desus tentang pergantian pimpinan telah beredar luas. Bahkan rapat dewan direksi saat ini tengah berlangsung.
Pagi ini Anjas datang terlambat hingga satu jam lamanya. Begitu Anjas tiba, rapat itu telah berakhir. Hingga Anjas pun tidak tahu menahu perihal desas - desus itu. Hanya saja, ada yang terasa aneh. Saat Anjas berjalan menuju ke ruangannya, banyak karyawan - karyawan yang menatapnya aneh. Bahkan mereka saling berbisik.
Namun, Anjas tidak menghiraukannya. Dia terus saja melenggang menuju ke ruangannya.
Kini, Anjas sudah berdiri tepat di depan pintu ruangannya. Tangannya sudah bersiap hendak membuka daun pintu itu. Saat tiba - tiba Chandra keluar dari ruangan itu dengan ekspresi wajah menghiba sambil menatap Anjas.
"Chandra ... Ada apa?" Tanya Anjas.
"Maafkan saya Pak. Saya tidak bisa mencegah hal ini terjadi." Kemudian berlalu meninggalkan Anjas yang mulai tampak kebingungan.
Kenapa Chandra berkata seperti itu? Apa yang terjadi?
Perlahan, Anjas pun membuka pintu itu. Begitu Anjas masuk, seseorang menyambutnya. Seorang pria tampan, dengan setelan rapi, tengah duduk di kursinya.
Elvano Abraham.
"Selamat datang, Anjas. Mari, silahkan duduk. Ada yang bisa aku bantu?"
Anjas menghampiri Elvano dengan wajah kebingungan. Sungguh, Anjas tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
Dan Elvano? Apa yang sedang dilakukan pria itu di ruangannya. Bahkan dengan setelan rapi. Tidak seperti biasanya. Dan sedang duduk di kursi kerjanya pula. Anjas pun dibuat penasaran olehnya.
"Apa yang kamu lakukan di ruanganku?" Tanya Anjas.
"Apa yang aku lakukan di ruangan ini?" Elvano menyeringai tipis. Kemudian bangkit dari duduknya.
"Ruangan ini sekarang sudah jadi milikku." Sembari duduk di tepian meja. Dengan bersidekap dada.
Anjas tersenyum. Lalu terkekeh. Tak percaya dengan bualan Elvano.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Van. Tolong kamu keluar dari ruanganku."
"Yang seharusnya keluar itu kamu. Bukan hanya ruangan ini, tapi perusahaan ini pun, sekarang sudah jadi milikku."
Anjas pun kembali terkekeh.
"Kalau kamu masih marah soal kejadian kemarin, kita bicarakan itu lain waktu. Skarang aku harus bekerja."
Kini giliran Elvano yang terkekeh.
Tak berapa lama, Chandra kembali memasuki ruangan itu dengan sebuah berkas ditangannya. Kemudian menyerahkan berkas itu ke tangan Elvano. Sebelum akhirnya Chandra kembali meninggalkan ruangan itu.
"Silahkan." Elvano menyodorkan berkas itu pada Anjas.
Anjas pun meraih berkas itu dari tangan Elvano. Dan mulai membaca setiap halaman tanpa terlewati.
Betapa terkejutnya Anjas saat membaca isi berkas itu. Seluruh aset perusahaannya sudah menjadi milik Elvano.
Rupanya inilah rencana Elvano. Dia terpaksa harus menggunakan kekayaannya untuk membalas sakit hatinya. Dia membeli saham pamannya sendiri. Karena pamannya, Sandy Abraham adalah pemilik saham terbesar di Winata Group. Nominal investasinya di perusahaan itu tidak main - main. Sehingga tanpa persetujuan Anjas pun, dia bisa menunjuk siapa yang pantas memimpin perusahaan itu.
Elvano adalah seorang anak tunggal. Apapun yang diinginkannya, sudah pasti ayahnya akan mendukungnya. Apalagi soal bisnis.
Dengan menahan kekesalan, Anjas pun melempar berkas itu ke atas meja. Sembari menatap tajam Elvano, Anjas pun berkata,
"Silahkan, ambil semuanya dariku. Walau aku harus hidup di jalanan sekalipun, aku tidak peduli. Mulai detik ini, aku akan menganggapmu orang asing."
"Sebagai teman, aku masih punya sedikit rasa kasihan. Kamu beruntung, karna aku tidak mengambil semua aset milikmu. Setidaknya, aku masih memberimu tempat untuk berteduh."
Elvano kembali menyeringai tipis. Dia hanya mengambil alih perusahaan itu. Tapj masih menyisakan rumah serta kendaraan untuk Anjas. Setidaknya dia tidak terkesan JAHAT. Meskipun sebenarnya apa yang dilakukannya saat ini pun sudah sangat jahat.
Kini, hubungan pertemanan mereka selama bertahun - tahun, hancur hanya karena seorang wanita.
Tanpa menghiraukan Elvano lagi, Anjas pun meninggalkan ruangan itu. Sambil menahan amarahnya.
Di depan pintu ruangan itu, ada Sasha. Yang hendak menemui Elvano. Sejenak, Anjas menatapnya tajam. Tapi kemudian berlalu meninggalkan Sasha.
"Anjas ..." Panggil Sasha.
Langkah Anjas pun terhenti. Lalu berbalik. Kembali menatap tajam Sasha yang justru memberinya tatapan berbeda. Ada rasa iba di hatinya melihat nasib Anjas saat ini. Tapi Sasha pun tidak bisa melupakan pemandangan yang disaksikannya malam itu. Pemandangan yang membuatnya sakit hati dan cemburu.
__ADS_1
"Aku masih bisa membantumu dengan bicara pada Papa." Tawar Sasha.
"Lupakan saja. Aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Sekarang kita impas. Aku tidak perlu lagi berhutang budi pada keluargamu."
"Pikirkan tentang keluargamu. Masa depan adik kamu, Nara, dan__"
"Itu bukan urusan kamu. Selama ini, ada hal yang belum pernah aku beritahu."
Anjas menghela napas sebentar. Sebelum akhirnya kembali berkata,
"Aku mencintai seseorang. Sejak empat tahun yang lalu. Itulah kenapa aku tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kamu."
Ya. Memang Sasha pernah bertanya tentang hubungannya dengan Anjas. Apakah Anjas bisa membuka hatinya untuk Sasha. Tapi sampai detik ini Anjas tidak pernah memberikan jawabannya.
Wajah Sasha yang semula terlihat iba, kini terlihat seakan tengah menahan kesal. Matanya pun mulai berkaca - kaca. Buliran - buliran bening mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Siapa dia?" Tanya Sasha.
"Aku rasa kamu bisa menebaknya."
"Haruskah aku tau siapa dia? Haruskah aku mendengar ini darimu?"
"Maaf. Kamu harus tau ... Aku tidak pernah mencintaimu. Dan tidak akan pernah bisa mencintaimu." Anjas pun berbalik. Meninggalkan Sasha yang masih berdiri mematung dengan linangan air matanya yang tak terbendung lagi.
Sasha mengepalkan tinjunya kuat. Air matanya bahkan mengalir semakin deras. Aura kebencian sangat jelas terpancar dari wajahnya. Ini tidak bisa diterima. Berani sekali Anjas meremehkannya seperti ini. Jelas baginya ini seperti sebuah penghinaan. Penghinaan yang terlalu menyakitkan.
.
.
.
Di luar gedung itu, Mita semakin mempercepat langkahnya. Karena Mita bangun kesiangan, akhirnya dia pun terlambat berangkat ke kantor. Yah, hitung - hitung sebagai kejutan untuk Anjas. Kembali menjadi sekertaris Anjas, kali ini akan terasa menyenangkan. Sebab hubungan diantara mereka kembali bersemi. Bahkan Anjas serius akan membawa hubungan mereka menuju pernikahan yang mereka impikan selama ini.
Dengan napas terengah - engah, Mita memasuki ruangan Anjas. Namun sedikit terkejut, karena ada Sasha di ruangan itu.
Melihat Mita datang, seringai tipis pun terbit di wajahnya. Tapi kemudian Sasha beranjak keluar dari ruangan itu.
Karena yang duduk di balik meja itu membelakanginya, hingga Mita pun mengira kalau orang itu adalah Anjas.
"Maaf ya, hari ini aku datang terlambat. Apa aku masih diterima bekerja disini? Sebagai sekertarismu lagi?"
"Tentu saja kamu masih diterima." Spontan orang itu pun berbalik, begitu mendengar suara Mita.
"Sebagai sekertarisku."
Elvano mengulum senyum manisnya memandangi Mita.
Berbeda dengan Mita. Seketika itu juga, Mita tersentak kaget. Kaget bukan kepalang.
Dimana Anjas?
Kenapa orang yang duduk di balik meja itu malah Elvano?
"Sedang apa kamu di ruangan Anjas? Mana Anjas?"
Elvano pun bangun dari duduknya. Perlahan mulaj menghampiri Mita. Senyum manisnya masih terukir.
"Atasanmu sekarang adalah aku. Bukan Anjas."
Mita masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Apa maksud kamu?"
"Perusahaan ini, sekarang adalah milikku."
"Apa?" Mita pun terbelalak. Mita sudah bisa menebak, inilah yang akan terjadi jika Anjas menolak perjodohannya dengan Sasha. Tapi kenapa justru Elvano yang mengambil alih Winata Group?
"Apa Anjas tidak pernah cerita__"
"Aku tau!" Sela Mita cepat, "Aku tau seperti apa sulitnya Anjas bertahan demi orang - orang egois seperti kalian. Kalian orang kaya yang tamak. Jadi inilah dirimu yang sebenarnya. Aku menyesal pernah mengenalmu. Dan aku tidak akan pernah menjadi sekertarismu."
Mita berbalik dengan angkuhnya. Hendak keluar dari ruangan itu. Namun secepat kilat Elvano menarik pergelangan tangannya. Hingga Mita pun jatuh ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Semua ini tidak akan terjadi jika saja kamu mau mengerti." Sinis Elvano sembari mempererat rangkulannya. Bahkan Elvano mulai membawa jemarinya menyentuh wajah Mita.
"Lepaskan Vano." Pinta Mita sambil meronta.
"Jika saja kamu mengerti dengan perasaanku, semua ini tidak akan terjadi. Jangan pernah menyalahkan aku, karna semua ini terjadi karna kamu. Gara - gara kamu."
"Lepaskan aku Vano. Lepaskan." Mita masih meronta.
Kali ini, Elvano bukan hanya menyentuh wajahnya. Elvano bahkan berusaha mencumbunya.
Dengan sekuat tenaga Mita berusaha memberontak. Sampai tiba - tiba ...
PLAK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Elvano. Elvano pun meringis sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan dari Mita.
"Laki - laki seperti kamu, tidak pantas mendapatkan cinta tulus dari seorang wanita. Sekarang aku tau, kamu tidak lebih dari seorang baji*ngan. Kamu mungkin bisa membeli apapun yang kamu mau. Tapi kamu tidak akan pernah bisa membeli cintaku."
Mita pun berbalik. Dan bergegas keluar dari ruangan itu. Air matanya kini tak terbendung lagi. Ingin rasanya dia bertemu Anjas secepatnya. Dia tahu seperti apa perasaan Anjas saat ini.
Mita mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Anjas. Dan sebuah pesan.
Jangan terlambat. Aku butuh vitaminku.
Isi pesan Anjas yang membuat air mata Mita semakin deras berlinang.
Dengan cepat jempol Mita membalas pesan itu.
Kamu dimana?
Tak berapa lama, Anjas pun membalas pesan itu. Dengan memberitahukan dimana dia berada saat ini.
Setelah membaca isi pesan Anjas, Mita langsung memesan ojek online. Hanya perlu menunggu beberapa menit, ojol yang di pesan Mita pun datang. Langsung saja Mita bertengger di boncengan. Dan ojol itu pun mulai melaju.
.
Sampai di sebuah taman, Mita menyapukan pandangannya. Mencari keberadaan Anjas. Sampai pandangannya terhenti pada sesosok pria yang tengah duduk di sebuah bangku kecil. Sambil menatap lurus ke depan. Perlahan Mita pun menghampirinya.
Menyadari kehadiran seseorang, Anjas memalingkan wajahnya. Lalu bangkit dari duduknya. Mengulum senyum manisnya menatap Mita yang menatapnya sayu.
Kenapa Anjas melakukan ini? Kenapa Anjas rela kehilangan segalanya? Apa benar kata Elvano, semua ini terjadi karena dirinya.
"Aku hanya mencari udara segar." Ucap Anjas sembari tersenyum.
Mita masih membisu sambil terus menatapnya.
"Kemari. Aku bu__"
Dengan cepat Mita menghambur ke dalam pelukan Anjas.
"Aku juga butuh vitaminku." Sembari mempererat pelukannya. Merasakan kehangatan pelukan Anjas. Sampai akhirnya, air mata Mita kembali berderai.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Ucap Mita lagi sebelum Anjas mengatakannya lebih dulu.
Anjas kembali tersenyum. Lalu mengecup puncak kepala Mita dengan lembut. Ada perasaan lega dihatinya. Beban yang dipikulnya pun kini terasa luruh sudah. Selama ini, sebuah hutan budi, hingga dia harus membalas hutang budi itu dengan mengorbankan hidupnya. Tapj kinj, dia bisa bernapas lega. Meski harus kehilangan segalanya.
Dan sekali lagi, Elvano menyaksikan semuanya dari balik kaca mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Tidak jauh dari tempat Anjas dan Mita saling berpelukan. Rupanya Elvano mengikuti Mita secara diam - diam.
Elvano menggeram menyaksikan pemandangan itu. Sembari mengepalkan tinjunya dengan kuat, air matanya pun luruh.
Sakit!
Perih!
Betapa perih luka yang Mita berikan untuknya. Hingga membuat Elvano sanggup melakukan apapun untuk mendapatkan kembali apa yang diinginkannya. Bagaimana pun caranya, dia harus mendapatkan Mita kembali.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1