Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 44


__ADS_3

Dan kini, dihadapan Anjas tengah berdiri dua wanita cantik. Apa yang akan dilakukan Anjas?


Dari raut wajahnya, Anjas terlihat kesal terhadap Mita karena rasa cemburunya. Apakah Anjas akan memanfaatkan Sasha untuk membuat Mita merasakan kekesalan yang sama?


"Maaf ya, aku datang tanpa memberitahu kamu sebelumnya." Ucap Sasha masih dengan senyum manis merekahnya.


Anjas beralih menatap Sasha, "tidak apa - apa."


Perlahan, Mita kembali melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Semoga saja Anjas tidak mempermasalahkan dia pergi beberapa jam. Namun sekali lagi langkahnya justru harus terhenti.


"Darimana saja kamu?" Tanya Anjas ketus.


Pertanyaan Anjas itu bukan hanya membuat Sasha terkejut, tapi membuat Mita pun terkejut. Sasha pun mengalihkan pandangannya pada Mita. Sasha mengira hanya ada mereka berdua saat ini.


Mita menundukkan wajahnya dalam - dalam. Ada rasa malu dan perasaan bersalah yang menghinggapinya. Seharusnya dia sudah kembali sejak tadi. Tapi apa boleh buat, keadaan tadi tidak bisa sia abaikan begitu saja. Elvano sedang sakit dan membutuhkan bantuan. Mana mungkin dia membiarkan orang yang sedang sakit pulang sendiri. Nanti dikiranya Mita adalah manusia yang tidak punya hati.


"Maafkan saya Pak. Saya tahu, saya bersalah. Untuk itu saya minta maaf." Ucap Mita sopan.


"Kamu tahu berapa jam kamu meninggalkan pekerjaanmu? Bukankah aku sudah memberitahu kamu apa konsekuensinya jika meninggalkan pekerjaan lebih dari satu jam?" Waduh, gawat, Anjas mulai emosi. Ternyata cemburu itu benar - benar bisa membakar hati ya? Buktinya, Anjas mulai terbakar. Dan menatap Mita tajam.


"Maafkan saya. Saya benar - benar minta maaf. Tadi Vano sakit, jadi sa_"


"Aku tidak mau mendengar alasanmu." Tandas Anjas.


Elvano lagi, Elvano lagi. Kenapa disaat seperti ini dia harus mendengar nama itu lagi keluar dari mulut Mita.


"Tunggu dulu. Ini ada apa Anjas?" Tanya Sasha merasa penasaran.


Anjas menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Saking terbawa emosi, Anjas sampai lupa kalau di depannya saat ini ada Sasha.


"Tidak ada apa - apa." Jawab Anjas.


Sementara Mita masih dalam mode menunduk.


"Mit, kamu bilang tadi Vano kenapa? Vano sakit?" Sasha beralih bertanya pada Mita.


"Iya, Vano sakit. Baru saja aku mengantarnya pulang."


"Alasan klise. Apapun alasan itu, tidak dibenarkan. Dan aku tidak suka dengan karyawan yang suka membolos kerja dan tidak bertanggung jawab seperti kamu." Ucap Anjas.


Wadidaw, benar - benar gawat. Amarah Anjas belum mereda. Saking cemburunya.


Dan Mita? Mita semakin malu dibuatnya. Anjas mengomelinya di depan Sasha. Calon tunangannya. Sepupu Elvano. Duh Anjas ... Kira - kira dong ngomelnya. Walau bagaimanpun, Mita kan malu. Apalagi Anjas adalah mantan pacarnya. Oh Mita, perkuat hatimu. Semoga amarah Anjas segera mereda. Dan konsekuensinya tidak akan berlaku lagi.


"Mita kan sudah minta maaf. Lagipula, apa yang dilakukannya itu tidak salah. Dia hanya menolong orang yang sakit." Ucap Sasha lembut dan sok bijak, untuk meraih perhatian Anjas.


"Oh ya, aku sampai lupa. Aku kemari untuk mengajak kamu makan siang. Dan aku juga ingin menyampaikan, lusa nanti orang tuaku mengundang keluarga kamu makan malam di rumah." Ucap Sasha lagi.


"Baiklah." Ucap Anjas singkat. Namun pandangan matanya tertuju pada Mita yang masih dalam mode menunduk.


Anjas masih belum bisa menghilangkan pikirannya yang berkecamuk. Alasan Mita tidak membuat hatinya lega. Masalahnya, sudah berjam - jam Mita meninggalkan pekerjaannya. Dan lagipula, Elvano itu sudah dewasa. Dia tahu bagaimana caranya pulang. Orang tuanya punya banyak asisten rumah tangga, supir, bodyguard yang selalu siap melayaninya. Tinggal minta salah satu supirnya untuk menjemputnya. Sudah, beres. Kenapa harus Mita yang repot - repot mengantarkannya pulang.


"Kamu dipecat." Ucap Anjas tiba - tiba. Hingga membuat Mita otomatis mengangkat wajahnya.


Kaget? Setengah mati! Ternyata Anjas serius dengan ucapannya. Rupanya Anjas tidak main - main kali ini. Begini nih, kerjaannya orang yang terbakar cemburu. Ngomong asal ceplos aja. Penyaring omongan rusak. Alhasil, perasaan Mita dibuat hancur seketika.


Sabar Mita. Yang kuat Mita. Tidak apa - apa. Tinggal cari pekerjaan lain, beres.


Mita berusaha menghibur dirinya sendiri. Meski hatinya terasa sakit. Sakitnya lebih sakit dari diputusin pacar. Rasanya gimana gitu. Dipecat mantan pacar didepan calon tunangannya. Duh, malu - maluin. Mana calon tunangannya bukan orang sembarangan lagi. Dia adalah putri seorang pengusaha terpandang di kota ini.

__ADS_1


Sedangkan Sasha yang mendengar keputusan Anjas, justru tersenyum bahagia. Akhirnya ...


Itu artinya, Sasha tidak perlu repot - repot lagi mencari cara agar Mita dipecat. Ternyata Mita sudah menggali kuburannya sendiri.


YES!


Ini kabar baik! Sungguh menyenangkan!


"Saya di pe_pecat Pak?" Tanya Mita memastikan. Mungkin saja pendengarannya bermasalah.


Bukannya menjawab pertanyaan Mita, Anjas justru pergi meninggalkan Mita. Disusul Sasha di belakangnya.


"Anjas, tunggu." Sasha berusaha mengikuti langkah panjang Anjas yang tergesa - gesa.


Hening!


Yang terdengar hanya suara ******* napas Mita. Sial benar hari ini. Kira - kira, Mita mimpi apa ya semalam? Kok hari ini malang benar nasibnya. Apa ini karma baginya, karena sudah mengusir Elvano dalam keadaan basah kuyup. Bahkan Elvano sampai sakit. Ternyata karma itu ada guys.


Mau bilang apa lagi? Status mantan tidak lantas membuat Anjas berbaik hati padanya. Terima nasib sajalah. Beralih status menjadi pengangguran!


Dengan langkah lesu, Mita menghampiri meja kerjanya. Mengambil tasnya, dan mengambil beberapa barangnya.


Tanpa disadarinya, titik - titik air bening itu mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Semakin lama semakin deras. Suara isak tangisnya tertahan. Mita mengusap dadanya, mencoba meredakan rasa sakit itu. Ini bahkan lebih sakit saat Anjas meninggalkannya tanpa alasan empat tahun lalu.


Bukankah ini yang diharapkan Mita? Selama ini dia selalu berusaha menghindari Anjas. Dan sekarang, dia tidak perlu menghindarinya lagi. Karena Anjas sendiri yang menghempasnya.


Mungkin memang ini yang terbaik. Mungkin pekerjaan ini memang tidak cocok untuknya. Tetap semangat Mita.


.


.


.


Sejujurnya, Anjas pun merasakan sakit saat melontarkan kalimat itu. Dia sudah membuang kesempatan yang ada. Empat tahun mereka terpisah. Selama empat tahun itu, batin Anjas tersiksa. Perpisahan yang tidak pernah diinginkannya. Tapi apa boleh buat, keadaan memaksa perpisahan itu harus terjadi.


Kala itu, Anjas dalam keadaan terhimpit. Dan tidak punya pilihan lain. Keadaan benar - benar tidak berpihak padanya. Dan sekarang, Mita sudah berada di depan matanya, berada dekat dengannya, tapi dia malah membuang kesempatan itu.


Seharusnya Anjas tidak perlu semarah itu. Apa yang salah dengan apa yang dilakukan Mita. Dia hanya menolong orang yang sakit. Itu saja. Bukan berarti dia tidak bertanggung jawab.


Anjas menyesal. Dia tidak berpikir panjang terlebih dahulu. Sekarang, apa yang harus dilakukannya? Meminta maaf pada Mita dan mengakui perasaannya? Itukah yang harus dia lakukan?


Hal yang tidak pernah dilakukannya empat tahun lalu. Yaitu memperjuangkan cintanya. Anjas menyesal tidak melakukan hal itu. Dan sekarang, dia tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Anjas pun berdiri dari duduknya dam bergegas meninggalkan restoran itu. Meninggalkan Sasha yang memandanginya dengan penuh kekesalan.


Tanpa kata, tanpa permisi, Anjas pergi begitu saja meninggalkannya. Seakan dia hanyalah tak kasat mata, makhluk yang todak berarti sama sekali. Kehadirannya bahkan tidak mampu mengisi kekosongan hati Anjas. Kehadirannya bahkan tak mampu meraih sedikitpun perhatiannya.


"Sudah cukup Anjas. Sudah cukup kamu memperlakukan aku seperti ini." Lirih Sasha dalam kekesalannya. Sejumlah rencana mulai melintas dibenaknya.


.


.


.


Anjas melangkah panjang, tergesa - gesa menyusuri perkantoran. Netra matanya mencari keberadaan seseorang. Seseorang yang sangat berarti baginya. Tiba di depan ruangannya, dilihatnya meja Mita sudah kosong. Mita sudah pergi.


Tidak! Jangan sekarang! Jangan lagi kamu pergi meninggalkanku!

__ADS_1


Penyesalan empat tahun lalu masih membayanginya. Dengan berlari, Anjas bergegas ke lift. Buru - buru Anjas masuk dan menekan tombol 1. Begitu tiba di lantai 1, Anjas pun berlari keluar gedung itu. Mencari Mita di sepanjang pelataran kantor. Sampai pandangan matanya terhenti pada sesosok yang tengah berdiri di tepi jalan, dan sudah bersiap naik taksi.


Anjas pun berlari menghampirinya. Dengan cepat menarik pergelangan tangan Mita, hingga membuat Mita terkejut.


"Anjas, lepaskan." Titah Mita kesal.


"Kita perlu bicara." Kemudian menyeret Mita sampai ke mobilnya yang terparkir di parkiran VIP.


"Pak, tunggu sebentar." Pinta Mita pada supir taksi online yang dipesannya.


"Jangan lama - lama Neng ..." Teriak si supir taksi.


Anjas menyeret Mita sedikit kasar, hingga Mita meronta dan menarik kasar tangannya dari genggaman Anjas. Tapi sia - sia saja, genggaman Anjas terlalu kuat.


Anjas menghempas tubuh Mita hingga menyandar di sisi mobil. Anjas menempelkan kedua tangannya di sisi mobil, hingga membuat Mita berada dalam kungkungannya dan tidak bisa berbuat apa - apa. Helaan napas Anjas terdengar memburu.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau orang - orang memperhatikan kita dan bergosip yang bukan - bukan?" Mita semakin kesal dibuatnya. Baru saja pria itu memecatnya, dan sekarang malah mengejarnya. Apa yang diinginkan pria itu darinya?


"Jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku." Pinta Anjas.


"Kamu sudah gila ya? Kamu sendiri yang memecatku. Apa kamu sudah lupa?"


"Aku tidak serius mengatakan itu. Untuk itu aku minta maaf. Aku hanya terbawa emosi."


"Cih, seenaknya saja bicara. Sudah cukup kamu mempermainkan aku. Kejadian empat tahun yang lalu sudah cukup membuka mataku dan melihat seperti apa kamu sebenarnya."


"Aku minta maaf. Aku tau aku salah."


"Turunkan tanganmu. Aku tidak mau orang - orang berpikiran buruk tentang aku."


Anjas pun menurunkan tangannya.


Tanpa berkata apa - apa lagi Mita beranjak pergi meninggalkan Anjas. Secepat kilat Anjas menariknya


kembali, lalu memeluknya erat dari arah belakang. Hingga membuat Mita tertegun.


"Aku akui aku salah. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu. Maafkan aku." Ucap Anjas lirih tanpa melepaskan pelukannya.


"Lepaskan." Titah Mita.


"Aku cemburu melihat kamu bersama Vano. Aku benar - benar cemburu. Aku masih sangat mencintaimu. Tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Tidak bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi?"


Memberi Anjas kesempatan sekali lagi?


Mita menghembuskan napas panjang. Kemudian mencoba melepaskan tangan Anjas. Tapi sial, Anjas memeluknya sangat erat, hingga Mita kesulitan melepaskan tangannya. Bagaimana caranya ya?


"Aww !!!" Seru Anjas sambil meniup punggung tangannya yang terasa perih karena di gigit Mita. Otomatis dekapan Anjas pun terlepas. Dan Mita tersenyum sinis.


"Sudah aku bilang, lepaskan." Kesal Mita kemudian pergi meninggalkan Anjas. Mita bergegas naik ke taksi yang sedang menunggunya. Taksi itu pun akhirnya melaju meninggalkan tempat itu.


Anjas hanya bisa menatap pasrah kepergian Mita. Bagaimana lagi caranya agar Mita mau kembali padanya. Anjas benar - benar tersiksa dengan perasaannya saat ini. Andai saja Mita mengerti.


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2