
21+.. Mohon pengertian..
Tatapan Alen semangkin lemah dengan pikiran yang mulai kosong, ia berusaha mengendalikan dirinya ditengah rasa panas, denyutan hasrat yang melonjak dengan desiran darah yang seakan menggebu membelah batinnya.
Ia menghapit kedua pahanya kuat seraya mencengkram bagian samping kursi Mobilnya dengan wajah yang benar-benar merah dan meradang gerah.
"Reus!"
Lirih Alen tanpa membuka matanya, ia takut saat melihat Nareus ia akan kembali lepas hingga benar-benar melakukan kesalahan dengan pria itu.
Nareus yang sedang menyetirpun menjadi Prihatin melihat Alen yang sedari tadi meringis dan mengerang panas, ia tak tahu harus berbuat apa, cara satu-satunya hanya bisa melepas dahaga Batin itu.
"Step!"
Nareus terdiam dengan kepalan yang kembali menguat, hatinya panas mendengar kalimat itu bahkan, ia ingin Alen hanya mengerang bahkan melirihkan namanya saja, bukan Pria yang sudah mengikat hati wanita itu.
"Ste..Step!"
"Berhenti memanggil namanya!!!"
Bentak Nareus menyala-nyala menatap murka Alen yang ada di sampingnya, wanita itu terlihat benar-benar kehilangan kesedaran lalu kembali membuka mata dengan tatapan berat dan lemah.
"Pa..Panas, Reus!"
Nareus lansung membuang muka, ia mencengkram erat Stir Mobilnya dengan kecepatan yang diatas rata-rata, ia harus ke Apartemennya untuk mengantisipasi Alen. lagi pula Smith sudah memerintahkan Dokter Andrew untuk segera datang.
"Reus!!! Panasss!!!"
"Tenanglah, kita sebentar lagi sampai!"
Namun Alen sudah tak tahan hingga ia lansung memeggang tangan Nareus yang tercekat, ia sedari tadi juga berusaha menahan karna Tubuh Alen benar-benar sudah terbuka degan Gaun hitam minim itu yang sudah turun hingga pinggang membuat bagian atas Alen benar-benar mulus mengundang hasrat.
"Reus hm!"
"A..Alen!"
Nareus berusaha menjauhkan tangannya namun Alen dengan cepat membawanya kebagian dada empuk itu membuat rasa lega bahkan ini sangat menyenagkan, rasa panas itu berlalu dengan sapuan tangan besar ini.
"Alen, tahanlah sebentar lagi!"
"Panass!!"
Nareus lansung memasukan mobilnya kedalam Lingkungan Apartemen karna Alen yang sudah menjajahkan tangannya kebagian empuk itu membuat Nareus kelimpungan dan menggas Full mobil.
"Lord!!!"
Nareus menggapai Mantel di sampingnya, dengan sigap ia meraih tubuh Alen kepelukannya dan membungkus wanita itu rapat seraya menggendongnya ringan keluar dari mobil.
"Lord!"
"Siapkan semuanya!"
Smith mengangguk mengerti, ia berlari masuk dengan anggota Inti mereka yang lain terlihat berjaga dengan kedatangan Lord Devil junjungan mereka sendiri.
Disetiap langkah menuju Kamar diatas sana, wajah Nareus terus berkeringat karna Alen mulai mencubu lehernya dimana desiran darah itu mendidih dengan gebuan hasrat yang naik.
"Reusss,"
Lirih Alen terus membuat jejak kemerahan bahkan membiru di leher kekar Nareus yang tak punya cara lain untuk meredam panas dari tubuh Alen sampai ke Kamar sana.
"Lord!"
"Obati dia sekarang!"
Dokter Andrew terlihat menatap Alen dengan intens, pantas saja wanita keras berwatak Arogan ini bisa membuat Lordnya sangat berbeda, ternyata dia sangat cantik dengan kekhasan dari kulit dan juga wajah yang tegas.
"Berapa lama Nona seperti ini, Lord?"
"30 menit!"
Dokter Andrew terdiam sejenak, dari melihat tubuh Alen yang tak berhenti menggeliat dengan wajah merah redam itu membuktikan Dosis yang diberikan orang itu sangatlah kuat dan lama.
"Saya hanya bisa meredamnya sampai 30 menit, karna ini masalah berbeda, Lord!"
Nareus terdiam, ia bisa melihat bagaimana hausnya Alen bahkan wanita ini tak seggan untuk bersikap liar, ia paham itu tapi apa ia harus melakukannya?
"Reusss hiks!"
"Maafkan aku! tapi aku tak bisa!"
__ADS_1
Gumam Nareus merasa sangat jahat jika melakukan hal itu ketika Alen dalam keadaan tak sadar bahkan ia tak tahu apa Alen akan setuju atau tidak.
"Re..Reus!!"
Nareus turun dari ranjang Alen yang menelan kehampa'an dengan tubuh yang benar-benar meledak bahkan ia sudah tak bisa berfikir jernih.
"Lakukan apapun yang bisa meredam itu semua!"
"Baik, Lord!"
Dokter Andrew mengeluarkan beberapa botol kecil, ini bisa meredam untuk beberapa saat, tapi ia tak menjamin saat menduga kalau Dosis obat itu sudah menguasai seluruh tubuh Alen.
"Ste..Step!"
Alen menyibak selimutnya kasar dengan pikiran yang hanya tertuju pada pria itu, hanya Stepnya-lah yang tak akan membiarkannya begini.
"Step!!!"
"Alen!!!"
"Lepasss!!!! aku mau Step!!!"
Nareus membelit tubuh Alen yang masih dibaluti mantel ini dengan erat, ia tak akan membiarkan wanita ini bertemu dengan pria itu, apalagi dalam keadaan seperti ini.
"Alen!!! kendaikan dirimu!!"
"Step!!! aku mau dia, hiks hiks!!"
Teriak Alen meradang, ia tak bisa mengendalikan tangisan itu karna tubuhnya benar-benar sakit dan nyeri, bahkan nafanya mulai tersendat dengan kulit yang memerah panas.
"Alen!"
Nareus kembali membaringkan Alen keatas ranjang sana dengan dada yang bergemuruh, ia tak sanggung tapi kenapa ia harus dihadapkan dengan situasi begini?
"Re..Reus! A..Aku mau Step hiks, aku mau dia!"
Nareus menggeleng seraya menatap berat Alen yang memang menginginkan Kepuasaan, Dokter Andrew menggantung jarum suntik di tangannya merasa Lordnya pun sedang berkecamuk.
"Reus hiks hiks, i..ini sakit!"
Kepalan tangan Nareus menguat dengan Smith yang melangkah keluar diringi dengan Asisten Buron dan Dokter Andrew yang tak mau merusak suasana ini dengan menutup pintu kamar itu rapat.
"Kendalikan dirimu, aku yakin kau bisa!"
Nareus membuka Mantel itu dengan tubuh polos Alen yang kembali membuatnya mendidih, tapi ia sekuat tenaga tak lepas kendali.
"Panas Reus hiks, Panas!"
Nareus hanya diam membatu seraya mengipas wajah Alen yang lansung menatapnya dalam dengan mata yang berkabut syahwat.
"Re..Reus!"
"Hm?"
Jari Alen refleks terangkat menyentuh bibir Nareus yang meremang merasakan sentuhan Abstrak jari lentik wanita ini ke wajahnya, cengkramannya ke punggung Alen menguat dengan tatapan yang mulai berat.
"Ka..Kau sangat Tampan!"
Sudut bibir Nareus terangkat sedikit seraya tetap mengipas wajah Alen yang tampak mulai hanyut dalam buian wajah tampan sang suami.
"A..Aku mau!"
Cup...
Degg..
Kipas ditangan Nareus terlepas dengan mata pria itu membulat kosong dengan Alen yang menyambar bibirnya liar, ia bisa merasakan deru nafas Alen memburu dengan keinginan yang tinggi.
"Hm, Reusmm!"
Nareus memejamkan matanya menikmati cumbuan di bibir manis itu dengan pelukan yang menguat, ia memberi ruang pada Alen untuk menguasai bibir bahkan lehernya yang tak lepas dari cumbuan bergairah wanita ini.
Srett..
Nareus yang sudah larut itu hanya pasrah saat kemejanya di koyak oleh Alen yang lansung meraba perut berkotak dan dada bidangnya yang begitu Sexsi dimata kaum wanita.
"Reuss!"
"Kau yang melakukannya!"
__ADS_1
Serak Nareus membaringkan tubuhnya yang dinaiki Alen sepuasnya, wanita itu seakan haus menjelajahi setiap tonjolan otot itu dengan Nareus yang mengigit bibir bawahnya merasa wanita ini benar-benar liar dan memancing.
"Re..Reus!!"
Nareus membantu mencumbu bagian dada Alen untuk memuaskan dahaga wanita ini, tak lupa tangannya yang meraba abstrak di setiap lekukan indah sang istri dengan sentuhan yang membayang di pikiran Alen sendiri.
"A..Alen!"
Alen hanya membatu tetap meraba bagian keras dibawah sana, ia seakan tak menjadi Alen yang Galak dan tak mau di sentuh lebih bahkan ia sekarang tak perduli akan harga diri sendiri.
"Re..Reus hm!"
"Kau yang menyerahkan dirimu padaku"
Ucap Nareus berat membaringkan tubuh Alen dibawahnya yang mengungkung wanita yang sedari menggeliat bak cacing kepanasan ini dengan pandangan yang sama-saman mendamba berat.
Tangan Alen gesit melepas Bagian bawah Nareus yang pasrah saja hingga bagian Pusaka yang terlihat sangat gagah dan Perkasa itu membuktikan kuasanya membuat Alen menggebu kuat.
"Re..Reus!"
Nareus mengecup bibir Alen kilas lalu memposisikan tubuh mereka untuk memulai penyatuan, ia tak bisa menolak lagi karna tubuhnya juga sudah meledak sedari tadi.
"Re..Reuss ss!"
Alen mendesis saat selaput darahnya malah ditekan lembut benda Perkasa itu, tubuh kekar Nareus dengan bagian yang menggiurkan tampak semangkin memancing Birahi yang menggunung.
"Tahan sedikit!"
Nareus lansung meraub bibir bengkak itu dengan lembut untuk membagi Kehangatan darinya, kedua tangan Alen terulur berkalung ke leher kokoh Nareus yang berusaha untuk bersikap lembut dan bersabar.
"Ammm! Reusmm!"
Alen terpekik tertahan saat Nareus sedikit menekan kuat membuat cakaran kukunya keleher Nareus semangkin kuat, namun pria itu tak perduli, ia harus meruntuhkan keangkuhan wanita ini dengan selembut mungkin.
"Na..Nareuss!!!!"
Pakik Alen kuat mencengkram kuat bahu Nareus yang seketika terkadah merasakan pusakanya sudah terbenam kedalam sana dengan Alen yang menjerit kuat karna bagian intinya terasa terbelah dengan rasa sakit yang menjalar di setiap kulitnya.
Namun, ia tak bisa bertahan lama dengan rasa nyeri itu, Bagian intinya sangat menerima bahkan Nareus beberapa kali menggeleng saat merasakan pusakanya di hisap lembut dinding lembab itu.
"Apa sangat sakit?"
"Hm!"
Gumam Alen tak jelas, ia mulai menggerayai leher Nareus kembali membuat Pria itu terbang membelah awan Kenikmatan, desisan itu muncul dengan erangan yang berat dan lemah.
"Akhh Reus. hm!"
Alen menikmati setiap Permainan lembut ini, bahkan ia memaksa untuk bergerak cepat namun Nareus tetap mempertahankan ritme lembutnya takut kalau bagian inti Alen akan terluka kalau di Paksa kasar.
"Hm, Faster akhh Nareus!!"
"Ka..Kau yang meminta!"
Serak Nareus mulai mempercepat hentakan kenikmatan itu hingga Alen terpekik-pekik kuat namun wajah Wanita itu begitu cerah dan bebas, tak ada rasa sesak dan panas tadi.
Yang ada hanya rasa lepas dengan Nareus yang di buat menggila hingga tak bisa berhenti, ia sesekali mengerang namun ia selalu memperhatikan raut wajah Alen yang terlihat sangat manis dan mempesona baginya.
"Faster!!! Fasterr Baby, Ouhhhh!"
"Aousss, Shittt!"
Umpat Nareus merasa ini sangatlah nikmat, hal yang baru pertama ia lakukan tapi sudah membuat ia candu dan tak ingin lepas.
Mereka terus bertempur panas dengan Alen yang tak pernah puas, akibat hasrat yang terus naik ia meminta Nareus untuk selalu mencumbu tubuhnya.
Tentu Nareus tak menolak, ia laki-laki normal apalagi Alen yang juga membuat ia selalu mengerang dan mendesah halus akan permainan gila wanita ini.
"Reuss!!!"
"Apa? Asss Alen!"
"Lagi!!"
Nareus tersenyum geli hingga ia membiarkan Alen melakukan apapun pada tubuhnya hingga membuat leher bahkan dagu Nareus merah membiru dengan perut, dada bahkan paha bagian dalamnya menjadi sasaran wanita ini.
.......
Vote and Like ..
__ADS_1