Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Darah?


__ADS_3

Langkah Alen terlihat lunglai menapaki jalan setapak menuju Pantai didekat Penginapan Tak jauh dari Kediaman Moureen, matanya termenung kosong dengan kaki yang terus menapaki rerumputan dan berakhir di pasir Keabuan yang menenggelamkan kakinya kedalam lumpur yang masih bisa menopang bobot tubuhnya.


Air matanya lolos begitu saja di Kesunyian ini, ia kembali ditenggelamkan dalam Kesepian hingga Kenyataan membuat ia tak berani menoleh kearah manapun.


Sekilas Alen menatap Ombak dihadapannya, ia terhenti tepat di Tepi pantai seraya tubuh yang lunglai luruh begitu saja.


Kau bawa aku dalam Sepi dan kau tinggalkan aku adalam Kesunyian.


Seutas kalimat yang seakan kembali menghantui Alen, kali ini wanita itu tak berdaya, ia telah dipukul telak rasa Bersalah.


"Ma..Maafkan aku!"


Gumam Alen memejamkan matanya menikmati angin dingin yang membelai wajah cantik bergurat kacau itu.


Aku tahu kau berjuang selama bertahun-tahun hanya untuk membuktikan kalau Kau layak, tapi aku tak kuasa, Step! aku tak bisa melawan Takdir, dan sekarang akupun melukai Suamiku sendiri.


Batin Alen berdenyut, ia tak ingin kehilangan Nareus, ia merasakan Cinta itu mulai berbalik arah karna Kesabaran bahkan Giatnya Pria itu memperhatikan dirinya.


Alen larut dalam Kesunyiannya ditemani Ombak sana sampai tak menghiraukan Sesosok Pria yang selalu ada disetiap langkahnya.


Nareus? yah, dia mengabaikan segala urusan karna hati yang tak tenang berpisah terlalu lama, Pria itu hanya bisa memandangi dari kejahuan.


Wajah tampan Nareus yang tertutup Masker itu tampak terus menghunus sosok Sang istri yang sudah membuat ia menjadi Pria penguntit setiap hari.


"Apa yang terjadi?"


Nareus terkejut saat Alen tumbang dipasir sana dengan deburan ombak yang mulai menguat seakan ingin melahap Alen yang sudah tak sadarkan diri membuat Nareus seakan tercekat nafasnya sendiri.


"Lord!"


"Alen!"


Nareus berlari cepat menapaki Lumpur pantai yang lansung mengotori Sepatunya, wajah Pria itu mengeras seakan sangat terkejut dan khawatir.


"Sayang!"


Nareus menedekap Alen yang hanya diam dengan wajah dingin dan pucat itu membuat Jantung Nareus tak mau diam didalam dadanya.


"Smitttt!!!"


"Semuanya sudah Siap, Lord!"


Nareus lansung menggendong Alen ringan dan membawanya cepat keluar dari Lingkungan Pantai yang dingin, wajahnya benar-benar terlihat kelam membuat anggotanya menunduk seraya memayungi Lordnya karna tetesan air hujan yang mulai membasahi sedikit demi sedikit.


"Lord, saya memilih kamar 1221! dengan Fasilitas lengkap dan pemantuan yang pas dari setiap sudut!"


"Andrew!"


"Dia dalam perjalanan, Lord!"


Nareus menatap Asisten Buron yang lansung mengangguk membuka pintu mobil Mewah itu cepat dengan Nareus yang lansung masuk melakukan hal untuk menghangatkan tubuh wanita ini.


"Sayang, kau seharusnya tak kesana!"


Nareus terus menggeram seraya melepas Jaket yang ia pakai hingga ia tak memakai atasan sama sekali, dengan Alen yang ia dekap didalam pelukan erat tubuh kekarnya seraya menggosok tangan Wanita itu dan sesekali mengecupnya membuat rasa nyaman itu mengalir ke tubuh Alen yang Drop.


Namun, rahang Nareus mengetat melihat luka dipergelangan tangan Alen yang seperti tergores oleh benda tajam, ini pasti terjadi saat wanita ini meloncat tadi.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat Keras kepala, ha? kau itu Wanita yang tak mau diatur, tapi setidaknya jagalah dirimu dengan baik!!"


Geram Nareus pada Alen yang sama sekali tak mendengarnya, wanita itu hanya larut dalam kenyamanan yang ia rasakan hingga tanpa sadar mengeratkan pelukannya ke tubuh Nareus dengan wajah yang terbenam kedada bidang polos Pria ini.


"Re..Reus!"


Nareus menyandarkan kepalanya kesandaran kursi sana seraya tangan yang terangkat mengelus kepala Alen yang masih melirihkan namanya.


"Re..Reus!"


"Apa, hm?"


"Re...us!"


Alen seakan tak mau untuk pergi, ia tetap memeluk Nareus yang juga sama, keduanya seakan sudah saling mengikat satu sama lain.


"Re...Reus!"


Perlahan Alen membuka matanya dengan sayu, pandangannya buram seakan masih membentuk Visual yang mendekati wajah khas dengan Kharisma dari tatapan tajam bulu mata lentik itu membuat bibirnya tertarik kecil membentuk lekukan.


"Reus!"


Nareus hanya diam membiarkan jari Alen menyusuri garis wajahnya dengan begitu halus dan lembut, mata wanita itu masih menunjukan setengah sadar namun ia menikmati sentuhan lembut ini.


"Jangan Tinggalkan aku!"


Nareus tertegun diam menatap dalam bahkan saling menghunus jantung masing-masing, keduanya sama-sama melemah saat tatapan itu sudah terkunci dalam.


"Sesuai Kinginanmu!"


Cup..


"Aku mohon ini jangan Mimpi!"


Batin Alen yang merasa sangat lelah untuk membuka matanya, tubuhnya seakan kaku didalam Pelukan kehangatan ini namun ia tak bisa menolak apa yang dilakukan Nareus padanya.


Keduanya saling memangut mesra dengan Nareus yang larut dalam Keheningan, dengan suara decapan bibir yang beradu lembut, rasa manis, bahkan Gejolak hati yang tadinya berkecamuk itu seketika diam menikmati Suasana ini.


Namun tak berselang lama Alen kembali tertidur membuat Nareus tersenyum kecil mengulum lembut bibir Manis wanita ini, bahkan nafas dan hidung keduanya saling berbenturan dengan Alen yang tak mau melepas tautan bibir itu, wanita ini sangat imut dan menggemaskan saat tidur dan akan menjadi Singa jika terbangun.


"Kita sudah sampai, Lord!"


Nareus hanya diam, ia berusaha melepas hisapan Alen namun nyatanya wanita ini masih enggan membuat ia tak tega untuk menganggu tidur nyenyak sang kekasih.


Ia dengan pelan bergerak memakai Mantel untuk keluar dari Pintu mobil yang sudah dibukakan Asisten Buron, pria berjas itu hanya bisa menunduk tak berani melihat Keintiman Tuan dan Nonanya.


"Lord anda..!"


Nareus menatap tajam Smith yang ingin memberi tahu seketika diam menunduk, Nareus masih tak ingin melepas pangutannya hingga sambil melangkah kedalam Apartemen 177 lantai ini dengan para Staf dan penjagaan ketat itu menunduk saat ia menginjakan kaki ke lantai berdesain Moderen Casual.


"Selam..!"


Asisten Buron menatap mereka yang mengerti, tatapan iri itu muncul karna Presedir yang baru saja membeli Tempat mewah ini sekaligus Staf dan Kariawan didalamnya itu sangat Mesra dengan seorang wanita.


"Engg Reusm!"


"Sutt!"

__ADS_1


Nareus dengan cepat melangkah menuju Lift sana, ia seakan menjadi seorang Babysiter yang takut Bayinya terganggu, bahkan pria itu tak ingin satu suarapun terucap disekitarnya.


Smith sangat tahu kalau Bibir Lordnya mulai kebas, tapi ia salut karna Pria itu tak mau melepasnya sebelum wanita itu melakukannya terlebih dahulu.


"Re..Reusm!"


Alen melepas hisapannya lalu berganti mengendus dada bidang Nareus yang hanya diam hingga sampai kekamar sana dengan Kerumunan para Anggota intinya.


"Lord!"


"Jangan bersuara!"


Mereka mengangguk kembali berjaga dengan ketat, Dokter Andrew yang baru datang lasung mendekati Lordnya yang kembali menuai Kekaguman dari benanknya.


Semua orang seketika diam menatap Nareus yang dengan sangat hati-hati membaringkan Alen keranjang sana, ia membuka Jaket wanita ini dan hanya menyisahkan Tangtop saja.


"Re..Reus!"


"Sutt! Aku disini, Sayang!"


Nareus mendekap Alen dengan Dokter Andrew yang mendekat, pria itu merasa sangat aneh dengan Perlakuan Nonanya, Mustahil wanita ini tak bangun hanya Mengerang begitu saja.


"Lord!"


Smith terkejut saat melihat darah yang tiba-tiba ada diSeprey putih sana membuat Nareus tercekat mati ditempatnya.


.......


Kedua Manusia itu masih saling tatap penuh guratan, yang satu dengan netra tajamnya mengurung Pria Tampan berwajah manis ini akan Kekerasan dari Pengaruh keberadaannya.


"Da..Dad?"


"Kau pikir kau itu Sendiri?"


Stephen hanya termenung ditempatnya, sejak dulu ia tak tahu Orang tuanya, hanya Azob adiknya yang begitu nakal namun sayangnya Pria itu telah tiada.


"Adikmu meninggal! dan itu semua karna Wanita itu!!"


"Cukup!!!"


Bentak Stephen tak terima, ia sangat mencintai Alen dan tak akan pernah menganggap wanita itu Musuh baginya.


"Kau Bodoh?"


"Kau bukan Ayahku! Pergi dari sini!!!"


Bentak Stephen menyala-nyala mengusir dengan telak, Pria bermasker itu menggeram murka melihat Kebodojan Step yang terlalu Na'if tentang Cinta.


"Cihh, Suatu saat kau akan datang padaku!"


"TIDAK akan Pernah!"


Tekan Stephen keras lalu melangkah pergi kekamar Mandi sana diringi tatapan penuh Kemurkaan pria paruh baya yang masih tampak gagah itu.


"Lihatlah, Kau sendiri yang akan datang padaku!"


Seringaian licik itu muncul lalu dengan kilat meloncat keBalkon sana dan pergi begitu saja selayaknya Angin yang tak terlihat.

__ADS_1


.........


Vote and Like Sayang.,


__ADS_2