
Dokter Andrew sedikit takut untuk menyentuh kulit Alen, ia lansung memanggil Suster Pendampingnya yang dengan siaga dan cekatan melihat apa yang terjadi pada Nonanya.
Smith dan Asisten Buron melangkah keluar dengan Dokter Andrew yang juga tak ingin membuat kecanggungan didalam kamar sana, tapi Suster Hamely itu sangat gugup karna ia tak jauh dari Presedir Nareus yang tampak hanya dibaluti Mantel membuat tubuh gagah itu sangatlah Sexsi.
"Cepat Periksa Istriku!!"
Suster Hamley mengangguk dan memeriksa perut serta Pergalangan tangan Alen, ia juga mengecek bagian bawah Perut yang terlihat membiru.
"Apa Nona sudah Menstruasi, Lord?"
"Belum!"
"Maaf, tapi bisa anda lihat di bagian mana darah yang keluar?"
Nareus lansung melepas Jeans yang membalut bagian Pinggang Alen dengan lembut hingga Daleman hitam yang kontras dengan Kulit Kuning Langsat itu memaparkan bentuk Pinggang dan paha yang tampak punya daya tariknya sendiri.
"Kalau dibagian Inti, apa darahnya banyak atau hanya Keluar sedikit saja?"
Nareus meneyentuh bagian yang merah itu dan ia terkejut saat tangannya benar-benar dialiri darah segar membuat wajahnya semangkin kelam dengan jantung yang berdebar kuat.
"Ini Bukan Mens!"
Suster Hamley lansung memerika Perut Alen, ia menduga wanita ini sedang Stres dari raut wajah yang pucat dan lemah serta kekurangan cairan.
"Apa yang terjadi?"
"Kemungkinan besar, Nona Mengalami Pendarahaan!"
Duarrr..
Nareus lansung meneggang ditempatnya dengan wajah kosong menatap wajah lemah pucat Alen yang masih enggan untuk ia lepas dari dekapan hangatnya.
"Pe..Pendarahan?"
"Iya, Lord! darah ini membuktikan kalau Nona Mengalami benturan dan Stres yang kuat menyebabkan Janin yang ada di Rahimnya melemah!"
A..Apa benar? A..Alen Hamil, Istriku Hamil?
Pertanyaan yang membuat Nareus mematung dengan dada yang bergemuruh, ia tak menduga Malam Istimewa itu malah menghadirkan Sang buah Cinta yang bersemayam didalam Rahim istrinya.
"Sa..Sayang! buka matamu!"
Bisik Nareus seraya mengecup lama Bibir Alen yang masih enggan bangun dari tidurnya, wanita ini terlalu hanyut membuat ia tak bisa beegerak seakan kaku dengan satu kata 'Hamil' yah, dia akan menjadi seorang ayah, sama seperti harapannya saat melihat Keluarga Kecil Mark yang bahagia.
"Re..Reus!"
Alen membuka matanya karna merasa ada panggilan yang seakan menarik alam bawah sadarnya hingga ia tersigap akan bibir Nareus yang masih membungkam bibirnya.
"Sayang!"
Tatapan Alen melemah, matanya kembali menggenag dengan bibir yang bergetar, ia tak menyangka Nareus yang tadi menyuruhnya pergi ternyata ada bersamanya.
"Re..Reus hiks! Reus, ini kau kan?"
Nareus mengangguk cepat mengecup kening Alen yang begitu lega, beban pikirannya seketika ringan karna ia bisa bersandar kembali ke tubuh kekar dan bahu kokoh ini.
"Reus, hiks hiks! kita Pergi saja, aku mohon!!"
"Tidak! kita tak bisa pergi, Sayang!"
"Ta..Tapi aku ingin pergi, Reus hiks! aku sudah lelah, aku tak sanggup jika harus menyakiti Step dan kau bersamaan, Tak sanggup, Reus hiks!"
Isak Alen yang menunjukan kerapuhannya, ia tak pernah menangis selama ini dan akhirnya didalam Rumah Tangganya sendiri, ia tak sanggup dan lemah, hatinya sangat rapuh untuk menggores luka lebih dalam.
"Bertahanalah sebentar, aku berjanji, Sayang! aku..aku akan membat mereka mengerti dan kita hidup bahagia!"
__ADS_1
Alen menggeleng, ia seakan merasakan hal besar yang akan membuat Hidupnya akan semangkin sulit, apalagi ia masih labil dengan Step.
"A..Aku mohon!"
Nareus menggeleng, kalau ia dan Alen pergi maka Rumah tangga Kedua orang tuanya akan di Pertaruhkan, Pria itu sudah berusaha mempengaruhi sedikit-demi sedikit Orang kepercayaanya, ia tak bisa lepas tangan begitu saja.
"Aku berjanji aku..!"
"Aku tak butuh Janji Kalian!!!"
Bentak Alen yang sudah tak ingin mendengar kata janji, ia sudah lelah sungguh, Trouma itu masih mengesan dihatinya, bahkan ia sudah tak ingin berjanji.
"Sayang!"
"Aku tak butuh hiks, aku tak butuh hiks!!!!"
Alen memberontak didalam pelukan Nareus yang serba salah melangkah, jika ia mundur maka Kedua orang tanya akan bercerai dan jia ia maju, maka Rumah tangganya yang akan hancur.
"Aku tak butuh hiks, aku..aku hanya ingin Tenang Nareus hiks hiks, hanya itu!!"
"Suttt! aku tahu, aku paham sayang! tapi aku mohon mengertilah posisiku!"
Alen hanya bisa terisak pilu, kapan ia akan bisa menerima Cinta yang tak ada sangkutan Dilema, ia ingin hidup bebas tanpa ada kekangan dari Peraturan.
"A..Aku hanya ingin Tenang, hiks! Hanya itu, Sayang!"
"Tenanglah, hm?"
Alen terdiam dengan sekugukan itu, ia kembali lemas dengan kepala yang sangat pusing bahkan peglihatannya sangat kabur, untung saja Nareus tetap memberinya kenyamanan untuk tenang.
"Ha..Hanya itu! be.bebas, Reus!"
Gumam Alen sayu-sayu setelah Suster Hamley melakuka Injeksi ada lengannya karna memberi Vitamin dan juga obat penurun Stres dan rasa nyeri, ia juga membersihkan Pendarahan yang terjadi dengan Nareus yang tak berhenti mengelus kepala istrinya lembut.
"Lord, Ini hanya Pendarahan kecil, tapi ini akan memicu Pendarahan besar! untuk sekarang anda bisa memijat kepala atau merilekskan tubuh Nona senyaman mungkin!"
"Hm!"
Nareus hanya mengangguk datar seraya memikirkan bagaimana caranya Alen tetap tenang selama Rencananya berjalan?
"Saya permisi, Lord!"
"Hm!"
Suster Hamley melangkah pergi setelah meninggalkan beberapa Resep obat dan tentunya tak lupa Minyak Aromaterapi untuk menyeggarkan sang Nona.
"Re..Reus!"
"Tenanglah, tak akan terjadi apapun!"
Nareus membenarkan Posisi Alen dengan hati-hati, namun wanita itu tetap tak ingin lepas membuat Nareus hanya bisa menghela nafas halus.
"Sayang!"
"Hm?"
"Kau hamil!"
Alen hanya diam, ia mendengar semuanya tapi ia hanya menyimpan raut bahagia itu untunya sendiri, ia masih tak ingin berharap banyak.
"Kau marah?"
"Berapa usianya?"
Nareus tersentak kaget, tadi wanita ini menangis, terlihat sangat rapuh dan sekarang malah berikap dingin sama seperti Alen yang ia kenal.
__ADS_1
"Maafkan aku!"
"Apa aku terlihat Lemah?"
"Sayang!"
Nareus tak lagi ingin mendengar isakan itu, ia ingin Alen yang kasar dan dingin namun wanita ini kuat menerima segalanya.
"Seharusnya dia tak ada!"
"Ma..Maksudmu?"
Tanya Nareus menatap Alen tajam, ia sama sekali tak menyesal bahkan sangat bahagia dengan kabar ini, seakan ada taburan bunga yang jatuh ke lahan kering yang dulu menimpanya.
"Lihat apa yang ku lakukan! Mengurus hidupku saja aku tak bisa!"
"Kenapa bicara begitu, hm? Kau bisa, kita akan membesarkannya bersama!"
Alen hanya tersenyum kilas lalu memejamkan matanya, yang jelas ia akan melindungi Janinnya meski nanti tak tahu apa yang terjadi kedepannya.
"Untuk sementara kau tinggal disini dulu, ya Sayang?"
"Kenapa?"
"Karna aku harus mengurus Masalah Keluargaku! aggar kau dan Baby bisa hidup tenang!"
"Aku tak bisa menunggu, kalau kau tak bisa Kau katakan dan jangan berjanji!"
Nareus hanya diam sesaat, kenapa ia malah dtempatkan dalam situasi ini, seandainya ia disuruh memilih, Rumah tangganya atau Rumah Tangga Kedua orang tuanya, apa yang harus ia lakukan sedang berjanjian itu adalah sebuah Kalimat Mutlak dari Sang ayah.
"Tidurlah!"
Nareus mengganti Sprey ranjangnya dengan yang baru serta melepas Jaket dan Tangtop Alen aggar wanita ini nyaman.
Alen hanya diam membuka kecil kelopak matanya menatap semua kegiatan Nareus, senyum kecil itu tercipta saat pria itu terlihat senang mengelus perut datarnya seraya menyalakan lilin Aromaterapi serta mengatur suhu ruangan.
"Kenapa dulu aku tak bisa melihat Ketulusanmu?"
Batin Alen tersentuh, Dua pria dengan karakter yang berbeda, Stephen sosok yang manis, hangat dan terbuka, namun Nareus sosok yang kasar, Dingin namun penuh kelembutan dengan caranya sendiri, Pria pengertian dan sangat Berkomitment.
"Sebentar, Sayang!"
Nareus mengoleskan cairan hangat ke perut Alen seraya mengecup perut wanita itu lembut, tak lupa ia mengganti Selimut dengan yang lebih hangat dan tentunya halus berbahan berkualitas.
"Ini sudah larut! kau tak pulang?"
Nareus seketika terdiam dengan wajah yang tak rela, ia masih ingin disini, bersama Alen dan memeluk wanita ini.
"Aku tidur disini!"
"Alicia butuh kau!"
"Sayang aku..!"
Alen menggenggam tangan Nareus erat, ia bisa menjagadiri, sedangkan Alicia, ia butuh Perhatian dan Perlindungan Nareus sebagai seorang kakak, apalagi keadaan di Keluarga itu masih runyam.
"Pergilah! Aku tahu kau memikul beban yang berat, meski au tak ingin bercerita, tapi aku bisa merasakannya!"
Degg.
Nareua terkejut bukan main, ia menatap Alen yang tersenyum lembut padanya, darimana wanita ini tahu? ia tak pernah memberi tahunya sama sekali.
"Sayang, kau..!"
"Itu ajaran King Latina!"
__ADS_1
........
Vote and Like Sayang..