
Alen lansung terbungkam menatap Nareus dari balik kacamatanya itu, keningnya di penuhi keringat dingin karna tak mampu untuk menolak tapi ia juga harus menghindar.
Namun, mata Baby Zilla sudah berair membuat ia tak tega, jujur dari hatinya Alen pun sangat ingin bersama pria ini, tapi ia takut jika nanti akan menjadi buah bibir Masyarakat dan diketahui banyak orang.
Melihat keraguan dari wajah Alen Nareus jadi mengerti, wanita ini sudah bersuami dan tentu tak mudah untuk berdekatan dengan Pria lain.
"Sudahlah, lain kali saja!"
"Dady hiks hiks, Momy Mu Dady hiks hiks!"
Nareus seakan kaku, ia tak bisa pergi dari tempat ini karna ada yang membelenggu batinnya untuk tetap diam seakan ini kebahagiaan, kau cukup diam dan perhatikan dua Mahluk dihadapanmu.
"Nak, lain kali saja, hm?"
Baby Zilla menggeleng menarik Dasi Nareus kuat membuat Alen menjadi tak kuasa bertahan, kalau tahu begini ia tak akan membiarkan Putrinya Zilla untuk pergi bersamanya.
"Momy, Dady Laa Momy!"
"Baiklah!"
Glek..
Olivia tercekat saat melihat wajah tampan Nareus yang berbinar bak mentari pagi saat mendengar jawaban itu, Pria bak pangeran yang tadinya seperti Es Balok dan sekarang berubah seperti Pangeran Surga yang begitu senang menggendong Baby Zilla yang lansung mengkalungkan lengan mungilnya ke leher kokoh Nareus yang melengkungkan bibir Sexsinya membuat Alen menjadi terenyuh.
Kau tahu, Sayang? itu Zilla putri kita, dia buah cinta kita, Nareus.
Perkataan yang menggantung di lidah Alen yang hanya bisa menelan keharuan itu, betapa bahagianya wajah sang putri saat bertemu dengan ayah yang sebenarnya, iapun menghapus lelehan bening yang keluar dari sudut netranya.
"Momyy!"
"Baby ikut saja, Presedir! Biar Momy disini!"
"Tapi putrimu butuh Asi bukan?"
Asisten Buron yang menyambar karna merasa aneh dengan jawaban Alen dan tingkah laku wanita ini setiap menatap Lordnya.
"I..Iya, tapi..!"
"Ikutlah!"
Nareus menarik lengan Alen lembut keluar dari pintu mobil seraya Olivia yang hanya diam menyaksikan Nonanya di bawa oleh Pria berkuasa itu membuat matanya terbengong kosong.
"Apa kau lihat-lihat?"
Sembur Olivia pada Asisten Buron yang hanya menatap dingin dirinya dan melangkah pergi membuat Olivia geram bukan main.
Namun ia senang karna Nona kecil yang nakal itu akhirnya bisa bertemu dengan ayah yang sebenarnya.
"Ehm, Lepas!"
Nareus tersentak, ia baru tahu kalau tangannya masih menggenggam lembut tangan Alen yang sudah duduk disampingnya seraya Baby Zilla yang berkoala ke pinggangnya, keduanya sangat dekat bak Seorang ayah dan putri kesayangannya.
"Hm!"
"Iya!"
Jawab Alen canggung begitu juga Nareus yang baru kali ini merasa salah tingkah satu mobil dengan seorang wanita kecuali bersama Alen, ia seakan merasakan Dejavu dengan wanita ini, bahkan jantungnya didalam sana juga merespon.
Untuk sesaat tak ada pembicaraan sama sekali membuat suasana benar-benar canggung, Alen yang tak berani menatap Nareus ia hanya melihat ke jendela saja dengan Nareus yang juga mengalihkan fokusnya pada Baby Zilla yang mengadah menopang dagu di dadanya.
"Dady!"
"Kau merindukan Dady mu, hm?"
Baby Zilla mengangguk menatap Nareus polos dengan bulu mata lentik nan indah itu membuat Nareus betah, ia seakan menemukan sosok Alen dalam diri si kecil ini bahkan netranya sama dengannya, namun ia masih tak ingin menduga sebelum ada hal yang lebih dari ini mendekati hatinya.
"Putrimu sangat merindukan, Dadynya!"
"Ha?"
Alen tersentak bertanya karna tadi ia sedang melamun membuat wajahnya memerah akan tatapan gemas Nareus pada rona di pipi itu.
"****! kenapa harus ada rona-rona merah begini?"
Umpat Alen membatin lalu berdehem menormalkan deru jantungnya yang memberontak kuat saat berada disisi Nareus, bahkan aroma tubuh pria ini membuat ia mabuk untuk bertahan lama.
"Em, I..Iya! ka..kami memang sudah lama berpisah!"
Nareus terdiam, Berpisah? ada rasa aneh didalam lubuk hatinya mendengar kata itu, seperti lega dan plong begitu saja, bahkan matanya terlihat beraura membuat Asisten Buron terdiam sejenak.
__ADS_1
Ada apa dengamu, tuan? kenapa kau terlihat sangat bahagia?
"Sudah berapa lama?"
"Baru beberapa bulan! dan anda Presedir, bagaimana?"
Nareus hanya tersenyum kecut, untuk pertama kalinya ia membuka diri pada orang asing bahkan bisa sedekat inipun ia tak tahu, rasanya hanya mengalir begitu saja.
"Kisahku sangat panjang!"
"Hm! Tak apa jika anda tak ingin bercerita, saya paham, Presedir!"
"Hm!"
Nareus mengelus punggung Baby Zilla yang mengulur tangannya mengelus pipi Nareus yang ditumbuhi rambut tipis membuat Si kecil itu geli namun ia suka bahkan bermain dengan wajah Nareus yang menurutnya sangat dekat di hatinya.
"Dady Laa!"
"Ada apa, hm?"
Baby Zilla berdiri diatas paha Nareus dengan hati-hati, si mungil itu mencengir menunjukan gusi merahnya membuat Alen terkekeh bersama Nareus yang geli akan raut wajah menggemaskan Baby Zilla.
"Namamu Siapa, hm?"
"Dady Laa!"
"La?"
Nareus menatap Alen yang kelagapan, apa yang harus ia katakan, jika menyebutkan nama Ezilla maka Nareus akan mulai curiga karna banyak sekali persamaan yang datang dalam kesempatan satu ini.
"Na..Namanya..!"
"Namanya?"
"Zella!"
Nareus aggak tersentak, ada sedikit kemiripan dengan nama yang dulu ia berikan pada Putrinya tapi ia hanya diam manggut-manggut mengerti lalu mengecup pipi gembul Baby Zilla yang hanya tersenyum dan ingin lagi dan lagi kecupan manis dan penuh cinta itu membuat Alen menghangat.
Perlakuan lembut Nareus pada putrinya seakan membuktikan betapa besarnya kasih dan Cinta pria ini pada anak mereka.
Aku rasa jalanku benar, lihatlah bagaimana kau memanjakan putrimu sendiri.
"Kau ke Perusahaan RST?"
"Itu bagus, kau pantas melakukannya karna kau memang berpotensi!"
Alen hanya mengangguk saja membuat Nareus tak senang dengan jawaban ini, kenapa wanita ini begitu gugup? ia sama sekali tak mengeluarkan aura kelamnya sama sekali.
"Tak ada jawaban, lain?"
"Eh! maaf Presedir, apa saya salah?"
Nareus menghembuskan nafas kasar dan jengkel, ia menatap Alen yang lansung melengos tak mau bersitatap lama dari balik kacamata itu.
"Matamu sakit?"
"A..I..Aku..! i..iya,"
"Hm! ku pikir kau buta!"
Alen lansung mengepalkan tanganya kuat merasa ucapan itu sangat menusuk, tapi apalah adayanya sebagai wanita sekaligus Nona yang bermain peran disini.
"Momy!"
"Iya, Baby?"
Baby Zilla meraih tangan Alen karna ia merasa sangat haus, membuat Alen pucat menduga apa yang diinginkan Putrinya.
A..apa aku harus memberi Asi dihadapan, Nareus? Aaaaa.. Habislah!!
"Berikan saja, tak ada yang akan melihat!"
"Bu..Bukan begitu! aku..aku hanya sedikit susah!"
"Susah?"
"I..iya, tapi ..!"
"Tapi..?"
__ADS_1
Tanya Nareus mendekatkan wajahnya ke Wajah Alen yang mundur sedikit membuat Asisten Buron menahan nafas karna tak fokus akan apa yang dilakukan manusia-manusia di belakang sana.
Nafas Nareus menerpa wajah Alen yang benar-benar memerah, ia terus mundur hingga kepalanya mentok ke kursi Mobilnya dengan kegugupan yang membelah tubuhnya.
"A..Aku.. Sulit membuka baju!"
"Tapi bajumu terbuka?"
Glekk.,
Alen menutup bagian pahanya yang ternyata menampakan kulit mulusnya serta dadanya yang benar-benar tercetak akan Dress Minim hitam ini, suara Nareus juga terkesan tak suka seakan mengahakiminya.
"I..Ini Fas..Fashion, da..dan..!"
"Lain kali pakailah pakaian yang tertutup! itu lebih bagus untukmu!"
"Tapi aku..!"
Alen lansung mengangguk karna tatapan membunuh Nareus yang bahkan lebih menyeramkan dari dulu, pria ini benar-benar membuatnya takut.
"Kau seorang wanita, akan banyak yang berniat jahat jika kau berpakaian seperti itu, apalagi kau termasuk wanita lemah!"
"Apa kau..!"
Alen terdiam saat suaranya mulai meninggi karna terlalu tersulut, namun ia segera menormalkan sikapnya saat tatapan Asisten Buron dan Nareus memandangnya sulit.
"A..Apa kau haus, Baby?"
Alen mengalihkan kalimatnya pada Baby Zilla yang mengangguk menggapai tubuh Alen yang lansung menggendongnya, namun tangan mungil itu masih menggenggam jari besar Nareus.
"Ba..Baby! lepas dulu, Nak?"
Baby Zilla menggeleng bahkan ia meletakan tangan Nareus ke pipinya membuat Alen bergetar, bisa saja nanti Nareus menyentuh aset berharganya dan tentu ia tak akan bisa menahannya.
"Biarkan saja, aku tak akan melihat!"
"I..Iya, Presedir!"
Nareus menatap kesamping kanannya seraya menatap tajam Asisten Buron yang seketika menurunkan kaca Spion kearah lain membuat Alen lebih nyaman.
"Baby! Haus, hm?"
"Emm, Momym!"
Jawab Baby Zilla seraya menghisap permen ranum itu dengan lapar, ia juga memainkan jari-jari Nareus yang ada di pipinya seraya menatap wajah pucat Sang Momy dengan penuh kasih.
"Dadym!"
"Iya?"
Jawab Nareus refleks membuat senyum diwajah kecil itu melengkung, menaikan kaki mungilnya ke lengan Nareus yang berusaha tak terpancing untuk menoleh.
"Dadyhm!"
"Baby! jangan ditarik tangan, Presedir!"
"Dady hiks!!"
Grep..
"Aaaaa!!!"
Alen terpekik kencang saat tubuh Nareus malah menghapitnya karna Nareus tersentak akan tangisan Baby Zilla hingga menoleh cepat namun sayangnya ia malah memeluk Alen yang begitu kaget sekaligus gugup.
.......
Tatapan lemah pria itu terlihat bahagia melihat seorang wanita yang sekarang sedang berkutat dengan peralatan dapurnya, rona tak terjabarkan itu muncul seakan sekangan yang dulu menggerogoti dadanya begitu lepas karna tak bisa menahan desakan Perasaan.
"Sayang!"
"Hm?"
Stephen melangkah mendekati Fanya yang sudah tampak seperti biasa, wanita ini memberi senyum cantiknya pada Stephen yang juga tak mengumbar kepalsuan.
"Jangan terlalu lelah, kau butuh istirahat!"
"Apa itu untukku?"
Stephen tersenyum kecil memeluk Fanya yang masih ragu dengan Cintanya, wanita ini sudah lebih baik akibat Kemoterapi dan Psikologi yang selalu Stephen berikan, namun hanya hati itu yang masih belum sepenuhnya tertata.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..