Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Bersandiwara!!


__ADS_3

Semua orang semangkin di buat terkejut dengan kedatangan Sesosok yang sudah menghilang dari Publik beberapa tahun silam, tampilan yang begitu berkharisma menapakan ia adalah sosok Pria Paruh baya yang masih tetap segar dan menuai decah kagum semua orang.


Mereka hanya terdiam membisu seakan mulut itu terjahit rapat dengan tulang yang mendingin kaku, mata yang terbengong kosong dengan waktu yang seakan terhenti begitu saja.


Benarkah ini Tuan Muda kedua Keluarga Hotmartew? lalu kenapa bisa begini? kemana saja pria ini.


"Selamat malam, Semuanya!!"


"Ma..Malam, Tuan!!"


Sapa mereka memberi balasan, Stephen yang berdiri diatas Podium sana hanya terdiam menatap puas pada Pria itu dengan wajah yang bergurat licik.


"Kenapa diam? apa aku membawa keburukan, hm?"


"Maaf, Tuan! kami tak menduga kau akan datang!"


Ucap MC Darwin yang mengamankan situasi, ini sangat hening, bahkan mereka bisa merasakan desiran angin yang bergulir dingin menerpa kulit masing-masing.


"Lanjutkan saja, aku tak akan menganggu!"


"Tapi Dad..!"


Whatt???? Dady! yang benar saja, apa yang telah terjadi ditempat ini?


Para Tamu undangan yang mulai berdesus membisikan tentang Stephen dan juga Tuan Adlen yang menyeringai tipis karnanya.


"Maaf, Tuan! tapi bisa anda jelaskan?"


"Apa aku salah bicara?"


Para awak Media sana saling pandang merasa begitu penasaran hingga turun mendekati Tuan Adlen yang tersenyum penuh arti.


"Anda telah lama menghilang dari Publik! bahkan kami tak tahu kalau anda telah menikah dan mempunyai anak!"


"Ouhh, baiklah! akan ku jelaskan!"


Tuan Adlen melangkah keatas panggung sana dengan Rhose yang menatapnya penuh dengan ambisi, Pria itu mengiminginya Nareus jika ia mau bekerja sama menghancurkan Keluarga Moureen, tentu Rhose tak ingin menolak.


"Apa aku boleh bercerita, Nak?"


Nareus mengeraskan wajahnya kuat dengan aura yang sudah mendingin membuat mereka semua gemetar, Mark hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan Pria ini.


"Hm!"


"Baiklah, kita mulai dari kisah lama, hm?"


Mereka begitu serius menantikan penjelasan dari Tuan Adlen yang mendekati Stephen, pria itu menatap Stephen penuh makna tentu pria itu mengerti.


"Dia adalah Putra Pertamaku! Dulu aku menikah dengan seorang wanita Perancis karna CINTA yang tulus!"


Tuan Adlen menekan kata Cinta, padahal saat itu ia hanya memperkosa wanita jalanan yang ia campakan begitu saja karna hanya melampiaskan amarahnya pada Albert dan Carolin.


"Kami menikah sudah lama, dan di karuniai 1 orang putra! dan dia berdiri dihadapan kalian sekarang!"


"Mana buktinya, Tuan?"


"Baiklah! ayo kita lihat di Belakang layar!"


Kayar LED besar dibelakang sana terlihat memaparkan Foto-Foto Stephen kecil, bahkan bukti Nikah pun ada membuat mereka semua terkejut, apalagi Alen yang sudah lemas menatap Stephen dengan rumit.


"A..Apa-Apa'an ini?"


"Tenanglah, jangan masuk dalam Rencananya!"


"Tapi.. Tapi ini tak mungkin, Reus! kalau memang Step anaknya, lalu kenapa dia biarkan pria itu menjadi gelandangan?"


"Sutt! aku tahu, Sayang! tapi dia itu akan melakukan apapun, jadi kau harus bisa mengendalikan dirimu! Perlihatkan kalau kita tetap tak terguncang, hm?"


Alen akhirnya mengangguk, padahal lidahnya sudah panas untuk menyerocos disini, apalagi melihat Perlakuan Stephen yang tak lagi sama seperti Step yang ia kenal.


"Sayangnya, Istriku meninggal saat Putraku kecil, dan..!"


"Tenanglah, Dad!"


Stephen menepuk bahu Tuan Adlen yang mengangguk dengan wajah menyedihakn itu, ia berusaha mengambil simpati semua orang dan akan mengatakan segalanya.


"Dan saat itu aku terpuruk! aku tak ingin muncul kemanapun hingga hanya hidup sendiri! Aku tak ingin Putraku mengalami nasip yang sama, aku membesarkannya dalam diam dan sampai sekarang..!"


Tuan Adlen seakan terpukul akan kejadian yang ia karang, entah dari mana Pria ini mendapat bukti-bukti palsu itu membuat Smith sangat geram.


"Tuan, apa Keluarga anda memberi Respon?"


Tuan Adlen tersenyum miris membuat mereka menduga apa yang telah terjadi menatap Nareus dan Alen yang sudah kepalang geram.


"Kami keluarga yang sibuk! tak ada waktu untuk mengurus orang lain!"


"Tapi seharusnya anda tak diperlakukan Buruk seperti ini, Tuan!"


Sarkas mereka masuk dalam tipu daya Pria itu, Media semangkin gencar meliput berita dengan ungkapan yang tadi Tuan Adlen katakan.

__ADS_1


"Itu biasa dalam Tahta Bangsawan, Nyonya?"


"Benarkah?"


Alen yang tak lagi menahan rasa panasnya angkat bicara membuat Nareus exstra menjaga wanita ini, ia diam karna punya rencana sendiri setelah pernyataan ini selesai.


"Nyonya Muda Keluarga Moureen! anda sangat cantik, Nyonya!"


"Kau juga sangat tampan! apa benar kau tak menikah lagi, Tuan?"


"Sayang!"


"Diam!"


Tekan Alen pada Nareus yang seketika bungkam dengan mata tajam Alen yang sudah ingin mendekati Stephen tapi Nareus dengan cepat memangkunya.


"Ayo lanjutkan kisahmu!"


Tuan Adlen menggeram saat Nareus begitu santai seakan ia sedang berdongeng dengan para Manusia ini pendengarnya, ia sudah berusaha memancing tapi masih saja belum sampai pada sumbunya.


"Baiklah, Nak! kau sangat berbeda dengan Dadymu!"


"Tak semua anak yang menuruni Ayahnya, Termasuk SIFAT!"


Tekan Nareus tegas bermaksud menukik, ia tahu pria ini ingin memperjelas Tuduhan Ketidak manusia'an itu dikhalayak ramai.


"Baiklah, aku harap Saudara kembarku itu menyaksikan kisah ini!"


"Iya, Tuan!!"


Tuan Adlen kembali membuat suasana hening, ia menatap Stephen yang juga ikut berdrama membuat Alen naik darah.


"Aku sangat beruntung memiliki Ayah sepertinya! Meski ia berdiri sendiri tanpa dukungan orang lain, tapi aku masih saja tetap hidup sampai sekarang!"


"Apa Presedir Nareus tahu soal ini?"


Mereka lansung menatap Nareus yang menunjukan wajah biasanya seraya duduk begitu santai seakan ini adalah Kisah Teater.


"Kalian tahu sendiri bukan? aku tak ingin membuat kerja keras siapapun hancur! Uncel Adlen mengatakan, kalau ia menyendiri dan berjuang sendiri! aku paham atas rasa sakit yang dia rasakan, itu karnanya kami tak ingin menambah luka atas Kematian Istrinya!"


Greett..


Tuan Adlen mengepalkan tangannya kuat, bisa-bisanya pria ini membalikan kata-katanya dengan mudah, dan sekarang semua orang mulai terpengaruh akan ucapan pria itu.


"Kau Pamannya Suamiku! walau aku tak tahu bagaimana Susahnya kehidupanmu, tapi aku turun berduka cita, Uncel! kau sangat di Hormati di Kediaman kami, cobalah pulang sebentar saja, A..Aku..!"


"Suttt! Jangan menangis!"


"A..Aku sangat ingin melihat Grandma Zamlya kembali tersenyum hiks, ha..hanya itu sayang!"


"Hm! aku tahu, Grandma akan sangat bahagia!"


Shena berusaha tak ikut menimbrung karna Mark menekannya untuk tak ikut campur, ini sudah dikendalikan Nareus sedari awal, pria ini hanya ikut alur tapi ia akan berbalik mematuk lawan.


"Benarkah kalian sangat menyayangi kami? tapi kenapa kalian tak pernah mengunjungi kami?"


Sambar Stephen yang seakan menjadi orang yang terluka disini, ia memainkan peran dengan sangat baik menatap Alen penuh rasa sakit, tapi luka itu adalah luka Cinta, bukan sebagai seorang Saudara.


"Kau tak ingat? apa memang lupa Step?"


"Apa?"


"Suamiku menaungi Perusahaanmu sebagai seorang Presedir, buakan Sepupu! dia membantumu secara Formal karna takut kalian merasa kecil hati!"


Deggg..


Stephen lansung meneggang ditempatnya, sekarang apa lagi yang akan ia katakan kalau sudah ditelak begitu, bahkan Alen tega mengungkin perjuangannya dari Nol.


"Hm, aku tak ingin kau merasa tak Adil! hanya itu yang bisa ku lakukan aggar kita tetapi bersama!"


Timpal Nareus yang memang sudah merencanakan ini, menjadi keuntungan besar baginya jika Perusahaan Step ada di dalam Naungannya, ia bisa memantau apa yang dilakukan Pria itu hingga sekarang.


"Kalian sangat berhati Mulia Presedir dan Nyonya Muda!!"


Ucap mereka menatap Alen dan Nareus kagum, Pesona keduanya kembali mekar seakan sudah melebel di hati manusia disana.


"Apa aku bisa kembali ke Kediaman kalian?"


Nareus terdiam, inilah yang ia pikirkan, kalau ia menolak maka pandangan orang akan kembali berubah.


"Tentu! Itu juga Rumahmu, selamat datang kembali!"


"Terimakasih, Nak!"


"Hm!"


Tuan Adlen mengundurkan niatnya untuk membongkar soal surat perjanjian, sepertinya ia salah kali ini, posisinya tak tepat sama sekali.


"Apa sekarang Taun Stepen menjadi Tuan Muda Hotmartew?"

__ADS_1


"Tentu saja! diakan PUTRA penguasa di sini!"


Sambar Alen menatap penuh kekecewaan pada Stephen yang hanya diam merasa sakit dengan ucapan wanita itu.


"Apa Perayaanya sekarang juga, Tuan?"


"Tidak! aku hanya memberi tahu ini, dan tolong sebarkan karna aku ingin berbagi kisah!"


"Baik, Tuan!"


Para Media sana mulai berdiskusi dengan para Tamu undangan yang berkelompok kecil berdesus miring, Nareus tahu tak semua orang bisa menerima pernyataan mengejutkan ini.


"Acara ini berlajan dengan sangat mengejutkan! Jujur aku belum mengerti, tapi ya sudahlah, ini terlalu rumit dan saya harap Tuan Besar Adlen dan Presedir Nareus memberi pernyataan yang jelas, karna kalian Panutan Negara ini, Keluarga Bangsawan yang bermartabat, kami sangat mengharapkan itu!"


"Hm!"


"Baiklah, waktu Pesta kita masih 1 jam lagi, acara untuk panggung ini sudah berakhir dan sekarang dipersilahkan Untuk menikmati Suguhan Hidangan!!"


"Uhhuuuu!"


Prokk...Prokk..


Mereka bertepuk gangan meriah dengan Rhose yang mulai beraksi, ia membawa Dosis tinggi obat untuk meracuni Pria itu, meski nanti ia akan malu tapi tak akan ia biarkan Nareus lepas darinya.


"Silahkan Menikmati dengan hangat, dan 20 menit lagi akan kita adakan acara DANSA! kalian setuju????"


"Yeaaahhh!!!"


Mereka lansung menyantap suguhan nikmat ini, tentu para pelayan sibuk mengantarkan Minum dan membawakan pesanan tamu, di cuaca dingin ini banyak yang meminum Alkohol yang selalu sedia di meja sana.


"Sian, dada ku sakit!"


"Hm! Pasti baby Haus, ini sudah malam! ayo kita pulang!"


"Pergilah, akan ku urus ini!"


Sambing Nareus melihat Shena yang mulai risih karna telah lama meninggalkan anak-anaknya hingga denyutan itu ia raskana di dadanya karna pasti mahluk mungil itu kehausan.


Mark mengendong Shena dengan mesra tanpa memperdulikan para Manusia yang menelan Pil kehampa'an menatap Mark yang menggendong Shena melewati Red karpet sana


"Kau ngantuk, sayang?"


"Hm! Entahlah, rasanya sangat dingin!"


Nareus lansung memakaikan Mantelnya ke tubuh Alen yang dilapisi beberapa baju hangat, wanita itu masih memeluk Nareus erat seraya menelusupkan wajah cantiknya ke ceruk leher sang suami.


"Apa masih dingin?"


"Iya, makanya jangan jauh-jauh!"


"Aku disni, Sayang! bergerak saja aku susah!"


Rhose mengepalkan tangannya kuat menatap Nareus dan Alen yang asik berdua saja membuat Media sana mencuri foto mesra dua Mahluk sempurna itu, namun Stephen hanya bisa memandangi dari jauh.


Apa kau memang tak lagi mengenalku, Alen? apa aku sudah tak ada lagi dalam hidupmu?


"Tenang saja, ini baru permula'an! kau akan ku jamin mendapatkannya!"


"Apa Nareus benar-benar jahat?"


"Memangnya kenapa?"


Tanya Tuan Adlen dingin seraya menegguk Alkohol digelasnya dengan cara duduk yang tampak sangat Arogan.


"Kalau dia memang mencintai Alenku! aku tak apa Me..Melepasnya!"


Ucap Stephen ikhals jika Alen bahagia, ia melakukan ini hanya demi mencari Kebenaran dan Alen akan berhenti di manfaatkan.


Mendengar itu Tuan Adlen mengeraskan wajahnya kuat, ia ingin sekali membunuh pria ini, meski Stephen benar-benar putranya tapi ia membenci penghalang dari jalannya.


"Kau lihat bagaimana liciknya dia membalikan Alur cerita? dia membuat Alenmu menjadi berpihak padanya, Step! kau harus berjuang sekali lagi!"


Stephen hanya diam, ia memperhatikan betul bagaimana Alen menatap Nareus penuh Cinta, begitu juga sebaliknya, tapi ia masih ragu akan cerita pria ini.


"Kalau kau tak ingin Merbut Alenmu, tapi setidaknya Perjuangkan keadilan bagi Ibumu yang tak di terima di Keluarga ini!"


Stephen pun mengangguk, Adlen bercerita kalau Ibunya meninggal gara-gara ketidak Terima"an Keluarga Moureen akan statusnya, apalagi Momy Carolin yang dulu mencintai Dadynya Adlen.


"Cihh! Kau sama seperti Albert! dia benar, tak semua anak menuruni Sifat ayahnya!"


Sedangkan Rhose di seberang sana dengan berbicara dengan sang Momy, ia tahu Nareus menyukai Alkohol, tentu pria itu akan minum malam ini.


"Mom, aku yakin banyak penjaga disini!"


"Adlen akan membantumu! Momy yakin dia bisa mengecoh semua orang!"


"Baik, Mom!"


Rhose menatap Tuan Adlen yang paham, ia punya rencana B yang bisa membuat pria ini meminum segelas Alkohol itu.

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2