Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Kegegeran satu Kota!!


__ADS_3

Semua Anggota Nareus tampak berkeliling diseluruh pelosok, bahkan sampai ke Dekat pesisir kota sana mereka usut tuntas namun tak ada yang bisa menemukan sesosok yang membuat ulah mengegerkan satu Kota ini.


Kalau mereka menghadap pada Lordnya dengan Informasi hampa, sama saja mereka mencari mati dan mengantarkan diri sendiri.


Begitulah yang dialami Smith, ia harus menjadi pelampiasan dari kekesalan Lordnya karna begitu khawatir dan mengumpat akan Kelakuan Bumil itu.


"Diamana Istriku??? Cepat temukan dia, Brengsek!!"


"Semua anggota sudah mencari, Lord! tapi Nyonya tak ditemukan!"


Nareus lansung mengacak rambutnya frustasi, ia melihat sekelilingnya dengan sangat jeli, ia yakin wanita itu tak jauh dari sini, ia bisa merasakannya, namun rasa Khawatir itu membuat Nareus kelut, apalagi Salju mulai turun membuat ia sangat kelimpungan.


"Kerahkan pasukan khusus! aku tak mau tahu, kau utus Pasukan gelap mengitari daratan dan lautan disini!"


"Baik, Lord!"


Mereka kembali berpencar, sekarang masalah mulai serius, mereka tak bisa mencari dengan tangan kosong lagi menduga ada hal buruk yang telah terjadi.


"Dimana kau sayang? jangan membuatku begini!"


Gumam Nareus memakai Maskernya lalu berlari mengitari Pantai ini, ia berusaha tak terlihat mencurigakan namun semua orang tampak menatapnya dengan Intens karna Tubuh gagah dan aura Nareus sangat kuat dan berbeda dari yang lainnya, bahkan lirikan mata pria itu begitu mematikan.


"Maaf, Tuan! anda mencari apa?"


Seorang wanita tua dengan rambut hampir memutih itu mendekati Nareus yang menggeram karna ada saja halangannya.


"Mencari Istriku!"


"Istri? apa anda sudah punya istri?"


Nareus bergidik jijik dengan Gestur aneh wanita ini, Tongkat yang menjadi kaki ke 3 nya itu selalu ia ketuk ke tanah dengan wajah reot yang sangat ja'im terkesan nakal.


"Hm! Menyingkir!"


"Istrimu tak ada disini! ayo ikut Nenek ke sana, ya?"


"Aku bilang menyingkir!!!"


Brugh..


Wanita tua itu lansung tumbang ke pasir sana dengan wajah pucat dan mimisan yang keluar dari hidungnya, mereka semua terkejut akan suara bentakan Nareus yang mengundang Perhatian banyak orang.


"Tu..Tuan!"


"Bulshit!"


Umpat Nareus melangkah pergi memasang kacamata hitamnya, ia tak memakai Mantel sama sekali, hanya kemeja putih dengan celana Hitam keabuan itu saja yang membalut tubuh kekarnya, tampak Cool dan snagat berkharisma sebagai Keformalan seorang Presedir.


Nareus melangkah kesemua sudut pantai namun tak ada yang ia temukan membuat ia benar-benar ditelan kepanikan, ia tahu betul Alen sangat lihai bersembunyi, wanita itu bukanlah wanita sembarangan, namun ia masih takut jika terjadi sesuatu dengan Istri nakalnya itu.


Disaat Nareus ingin meninggalkan tempat ini, ada 3 orang pemuda dengan wajah sangar dan salah satunya mengulum rokok yang menyala dengan tato yang sangat penuh di pipi sebelah kananya mendekati Nareus yang berdiri tegap didekat batu itu.


"Minggir!"


"Ouhh! kau yang mencari Perhatian di sini!"


Mereka saling pandang geram karna sedari Nareus datang kemari, banyak wanita dan Manusia yang tak lagi memperhatikan mereka, bahkan ada yang membandingkan Fisik mereka dengan Pria bertubuh kekar ini.


"Kau pergi mencari mati!"


Nareus mengepalkan tangannya kuat dengan buku-buku jari yang memucat menonjol keras, wajahnya tak terhitung lagi dosis ke dinginan itu dibalik Masker dan kacamatanya.


"Hajar dia!"


Nareus dengan santai menggulung lengan Kemejanya keatas menunjukan otot lengannya yang begitu sexsi dan kokoh membuktikan ia mampu melindungi diri.


"Banyak gaya kau, Tuan!"


"Hm!"


Nareus hanya diam dengan mata yang liar menatap pergerakan 3 Sampah masyarakat ini, dua diantara mereka lansung menyerang Nareus yang menangkisnya telak dengan sekali benturan lengannya.


Ia tak menghindar karna ia sangat geram dan mengubun akan amarah yang ia tahan, Istrinya belum ditemukan dan sekarang ada saja Tikus kecil yang mencoba mencari mati.


Krekk..


"Aaass!!"


Salah satu diantara pria itu terpekik saat Nareus mencengkram lengannya kuat menimbulkan suara yang nyaring, tak cukup disitu saja Nareus memberikan tendangan kerasnya hingga satu pria yang menyerangnya dari belakang lansung terlempar ke Laut sana.


Bughh.. Brakk..


Tubuh pria yang tadi ia cengkram seketika lansung membentur kursi pantai yang hancur remuk, namun Nareus sudah dikelabui amarah itu, ia tak suka jika ada yang memonopoli Wilayahnya.


"Bekerjalah selagi Tulang kalian masih tegap!!"


Bughh..


Nareus menempar satu puing kayu yang berpaku itu ke wajah Pria yang tadi merokok itu hingga seketika ia menggeram sakit karna pipinya tertancap paku yang dilempar Nareus.


Disaat melihat Nareus yang menatap kedepan, pria yang remuk karna dihantam kursi tadi lansung mengeluarkan sebilah pisau dari balik celananya dan lansung menghujami betis Nareus.


"Haaa!!"


Srett,..


Nareus berbalik dengan gesitnya tanpa mengubah posisi berdiri memutar kakinya ringan menendang pisau itu kuat hingga merobek perut sang pemiliknya hingga keadaan 3 Manusia itu benar-benar menyedihkan membuat semua orang disana mulai berkerumun.


"Lord!"


"Lemparkan mereka ke Laut sana!"


"Baik!"

__ADS_1


Nareus melangkah pergi dengan amarah yang meluap, Smith yang sudah mendapat kabar dari Anggota lainpun lansung mendekati Nareus yang terlihat gusar.


"Lord!"


"Dimana istriku?"


"Nyonya ada didekat Taman Perusahaan, Lord!"


"Ha?"


Gumam Nareus terkejut, ia tadi sudah kesana namun tak menemukan apapun, ia pikir Alen akan pergi ketempat Perkelahian karna mengingat kegemaran wanita itu yang suka kekerasan.


"Sial!!"


Umpat Nareus lalu berlari kesana, semua Anggotanya sudah berdiri mengepung semua orang yang ingin memotret sosok sempurna ini, namun mereka mengamankan dengan cepat.


Nareus mengendarai Mobilnya dengan cepat kesana, hatinya sangat resah karna bisa saja wanita itu terluka atau melakukan hal yang membahayakan, apalagi salju mulai turun membuat jantungnya tak mau diam.


Setelah beberapa lama, Nareus sampai ditempat dan lansung turun dari Mobilnya dan berlari ke Taman di belakang Perusahaannya, para Petugas Kebersihan sana hanya mendunduk saat Tubuh Nareus melewati mereka.


"Alen!!"


Panggil Nareus ditengah-tengah taman, ia memutar tubuhnya mencari keberadaan wanita itu, dan Anggotanya yang lain lansung turun tangan memberi tahu Lordnya.


"Nyonya ada diatas Rumah Pohon sana, Lord!"


Nareus lansung berlari menuju Pepohonan rindang dimana daunnya sangat rimbun dan sejuk, puncak pohon itu telah diselumbungi Salju tipis membuatnya benar-benar khawatir.


"Alen!"


Suara Geram Nareus sekaligus lega saat melihat Alen yang bersandar duduk membelakanginya dengan tangan yabg masuk kedalam saku mantel tebal itu.


"Kau memang ingin mati, ha? sudah ku bilang jangan kemana-mana, tapi kau memang keras kepala! bagaimana jika kau terluka bersama Baby, Alen? jangan membuatku ingin menghajarmu!!"


Cerocos Nareus dengan suara geram marah itu meluap, namun tak ada jawaban dari wanita itu membuat Nareus kembali khawatir.


"Alen! kau punya mulutkan? JAWAB AKU!!"


"Reus!"


Suara lemah itu membuat Nareus tersentak kaget, ia lansung mendekati Alen yang belum menoleh padanya.


"Kau kenapa?"


"Perutku Mual!"


Gumma Alen menolah dan memeluk Nareus yang tercekat ditempatnya merasakan kulit Alen sangat panas dan tubuh wanita ini sangat lemah.


"Kau jangan menakutiku lagi! jangan bercanda, ayo pulang!"


"Aku ngantuk!"


Gumam Alen menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Nareus, dan benar saja, Nareus lansung menempelkan punggung tangannya ke dahi, pipi dan leher Alen yang panas.


"Hm!"


"Itu makanya aku melarangmu keluar!! dan sekarang lihat apa yang terjadi!!"


"Sudahlah, aku tambah pusing hiks! jangan marah-marah!"


Rengek Alen memukul bahu Nareus pelan membuat Pria itu menghela nafas berat, ia harus menyimpan unek-unek itu sekarang karna wanita ini sedang dalam Mode sakit.


"Aku merusuhkan satu Kota ini hanya untuk mrncarimu!"


Alen tersenyum lalu mengadah menatap wajah Tampan sang suami, ia tadi hanya beristirahat karna cuaca yang semangkin dingin, tak ia duga kalau Nareus semarah ini padanya.


"Maaf Sayang!"


"Hm! Ayo pulang, kalau kau tak sembuh dalam satu hari ini, aku akan mengurungmu di kamar!"


Geram Nareus menggendong Alen untuk pergi, sekarang ia dibuat khawatir akan kondisi wanita ini membuat ia tak setega itu untuk memarahinya.


"Sayang!"


"Hm!"


"Aku sakit tapi kenapa kau mendiami aku begitu?"


"Diamlah. kau sakit itu karna ulahmu sendiri! jadi jangan menyusahkan orang lain!"


Alen lansung menatap tajam Nareus yang acuh, lagi pula hanya bicaranya yang kasar, tapi hatinya sekarang sedang gelisah.


"Kau tak sayang padaku!"


"Tidak!"


"Aku mau Turun!!"


Alen memberontak dari pangkuan Nareus, ia ingin menangis mendegar jawaban pria ini, ia tak terima, dan sangat benci dengan kata itu.


"Lepas!!! Aku mau Turun hiks, Turun!!"


"Tidak!"


"Aku benci kau!!!! Aku benci kau, Turunkan aku sekarang hiks!!"


Nareus menghela nafas berat lalu menarik Alen tepat menghapit tubuhnya, ia mengunci kedua lengan wanita itu kebelakang dengan wajah yang melembut.


"Apa aku terlihat tak menyayangimu, hm?"


"Bulsiht! kau pria brengsek!!"


Nareus tersenyum lembut lalu memeggang dagu lancip wanita ini untuk menatapnya, Alen tak menolak karna ia juga tak rela melepas pria ini.

__ADS_1


"Apa kau mencintaiku?"


"Iya!"


"Maka aku juga, Cinta dan sayang padamu! kalau aku tak mempunyai rasa itu.,tak mungkin aku menghabisi Orang hari ini!"


Degg..


Alen lansung menatap Nareus terkejut, lalu menagkup kedua pipi sang suaminya ini.


"Ka..Kau berkelahi tadi?"


"Hm! aku tak menemukanmu, rasanya sangat tak enak berjauhan seperti tadi!"


"Apa ada yang luka?"


"Tidak! hanya lecet sedikit!"


Nareus menunjukan punggung tangannya yang tadi terkikis karna memukul sampah masyarakat itu apalagi ini bekas memukul Adlen siang tadi.


Alen lansung meraih tangan Nareus. ia melihat dengan jelas kalau luka itu kembali memar dan lecet membuat ia khawatir.


"Apa masih Perih?"


Nareus memejamkan matanya menikmati perlakuan manis wanita ini, tiupan lembut Alen ke punggung tangannya sangatlah menyentuh lubuk hatinya hingga rasa panik, amarah dan geram tadi hilang begitu saja, berganti dengan rasa Cinta dan kasih yang menyelumbungi segalanya.


Cup..


"Semoga kau cepat sembuh, ya? dan maaf aku terlalu membuatmu pusing, tapi aku tak pergi kemanapun, Sayang! aku hanya ...!"


"Suttt!"


Nareus mengecup bibir Alen dan kembali membenamkan wajah wanita itu kebelahan dadanya yang terbuka karna kancing diatasnya sudah terbuka.


"Tak usah dipikirkan! sekarang Istirahatlah. Andrew sudah ada di sana, dan yang paling penting..!"


Nareus menagkup pipi Alen yang tersenyum menatap wajah tampan suaminya, ia mengecup dada pria ini dengan lembut membuat Nareus sungguh meresa melayang.


"Jangan lakukan itu lagi. hm?"


"Hm, Iya! tapi jangan marah lagi! dan jangan tinggalkan aku!"


Nareus mengangguk memeluk Alen erat, keduanya berpelukan mesra dan karna tak tahan untuk melihat bibir masing-masing, akhirnya Alen menyambar benda kenyal itu hingga Nareus-pun siap melayani keliaran lidah wanita ini.


.....


.....


Stephen berlari ke Bandara sana dengan wajah khawatir dan sembab itu, ia mencoba untuk mengambil Penerbangan cepat menuju Amerika, tapi cuaca buruk ini membuat semua orang menunda Penerbangannya.


ia mencoba mencari Staf Penerbangan yang bisa membantunya dengan tiket yang sudah ada ditangannya.


"Mister!!"


Stephen mendekati seorang pria berpakaian Seragam putih yang sedang melayani para Orang yang juga mendesak untuk berangkat.


"Yes?"


"Please, Fly my Plane right. Now!"


(Saya mohon, terbangkan pesawat saya sekarang juga).


"Sorry Sir! We Can't take any big risk!"


(Maaf Tuan! kami tak bisa mengambil Resiko besar).


"Please! I..I Can give you'r Money, Sir!"


(Aku mohon. saya bisa memberimu uang, Tuan).


Pria itu tetap menggeleng membuat Stephen mengigit telunjuknya mencoba berfikir, ia tak bisa menunggu lagi, hatinya sudah sangat resah, ia yakin Putrinya masih hidup, Nareus hanya ingin membalas dendam padanya.


"Aku..Aku mohon jangan benarkan semua ini, Tuhan! aku mohon!"


Stephen berdoa dengan tulus, ia tak akan melakukan ini lagi, ia akan membawa dua Mahluk itu untuk Pergi bersamanya, hanya itu yang dapat Stephen lakukan untuk menjalankan amanat sang adik dan membuai waktunya tanpa Alen.


"Sir!"


Stephen lansung menoleh kearah Stap petugas tadi yang terlihat menatapnya dengan senyuman itu.


"You Can Use a Plane From Diffrent Line!"


(Kamu bisa menggunakan Pesawat dari jalur yang berbeda).


Mendengar itu Stephen lansung berbinar memeluk pria itu lalu berlari menuju tempat yang diarahkan Staf pria ini.


"Thank's!"


"You'r Welcome!"


(Sama-Sama).


Ucap Staf tersebut menatap seorang wanita yang tadi menyuruhnya meloloskan Stephen, ia tak tahu apapun, tapi sesuai cerita wanita ini ia prihatin dan berusaha mencari Penerbangan ke Negara itu.


Wanita dengan Topi putih dengan pakaian Mewah itu tampak tersenyum menatap kepergian Stephen, para Bodyguart itu menunggunya rapat seakan ini adalah seorang yang berkelas besar.


"Akan ku bayar segalanya! Kematian, rasa sakit dan Penderitaanmu!"


Gumam wanita itu lalu melangkah pergi dengan kibaran rambut bergelombang dan risasan tebal itu membelah keramian, Salju mulai turun di luar sana karna Suhu udara yang mulai naik.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2