Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Keributan besar!!


__ADS_3

"Fabyy!!!"


Teriakan Fanya dengan keras dari atas sana berlari menuju Keranjang Bayi dimana Si Mungil belahan jiwanya itu sedang kejang-kejang menatap wajah panik ibunya dengan mata yang memerah.


"Fa..Faby! I..Ini Momy, Nak!"


Fanya menggendong Bayi mungil yang terlihat pucat dengan tangisan yang hampir pecah tapi nafasnya tersendat membuat Fanya histeris panik.


"Tolong!!! Tolong, hiks hiks!"


Fanya berlari menggendong Baby Faby yang sungguh sesak dengan darah yang keluar dari hidung si mungil itu membuat jiwa sang ibu menjadi tak terhingga di tikam rasa sakit.


"Nyonya!! Nyonya apa yang..!"


"Da..Dady hiks!"


Fanya semangkin lemah mendengar lirihan kecil dari bibir pucat itu dengan Penjaga Kediamannya yang lansung menyiapkan Mobil.


"Hubungi Tuan segera!!"


"Baik!!"


Mereka berpencar mencari bantuan dan mencoba menghubungi Tuan mereka, namun sudah beberapa kali panggilan tetap tak aktif seakan ini sengaja dilakukan.


Melihat Sang Nyonya yang begitu panik akan keadaan sang anak, Oskar yang menjadi supir pun lansung menancap gas menuju rumah sakit terdekat, Bayi mungil itu terus memanggil sang dady membuat ia prihatin akan keadaan Ibu dan Anak ini.


"Da..Dady!"


"Sutt! Baby..Baby jangan tutup mata, nak! hiks, cepatlah aku mohon!"


Isak tangis Fanya yang tak terbendung terus menghapus lelehan darah yang keluar dari hidung Baby Faby yang terus menangis tertahan karna nafas yang seakan disekang sesuatu, bayi mungil itu tak kuasa menahan sakit di rongga dadanya dengan buih putih yang mulai keluar membuat Fanya benar-benar menggila didalam mobil ini.


"Da..Dady hiks!"


"Da..Dady akan datang, Baby! Momy yakin, yakin sayang!"


Cup..


Fanya mengecup kening Putrinya lembut, ia tak menduga Putrinya akan begini setelah naik kekamar tadi, Penyesalan itu merendung pikirannya karna meninggalkan anaknya senidiri dikamar itu.


Di Sepanjang Perjalanan, Oskar sang supir hanya terdiam mendengar tangisan Fanya, ia tak tahu kenapa Tuannya tak menghubungi lagi beberapa hari ini, bahkan pria itu tak memberi kabar sama sekali seakan ditelan bumi.


"Cepatlah hiks hiks, Putriku, Aku mohon!!"


"Tenanglah, Nyonya!"


Tangis Fanya semangkin pecah, ia tak sanggup sungguh, pikirannya menduga-duga takut penyemangat hidupnya ini malah pergi meninggalkannya.


Setelah beberapa lama, mereka sampai Kerumah Sakit didekat kota, Fanya dengan sigap menggendong Baby Faby yang sudah terlelap digendongan Momynya, disela langkahnya Fanya terus berteriak memanggil Dokter tak perduli dengan dirinya yang mulai menjadi Objek Perhatian semua orang di Hospital Cours ini.


"Tolong!!! Tolong Putriku, hiks hiks, Tolong!!"


Dokter Faresza yang melihatnya lansung menyonsong dengan para Suster yang mengambil Bangkar mendekati Fanya yang tak bisa mengendalikan dirinya melihat Putri semata wayangnya itu memejamkan mata dengan tubuh yang keras dan kejang.


"Faby hiks hiks, Bangun Nak!"


"Silahkan tunggu di Luar, Nyonya!"


"Faby hiks!!!"


Teriak Fanya luruh memandangi ruang ICU sana dengan rambut yang ia remas Frustasi dan wajah yang benar-benar rapuh membuat Oskar tak tega hingga mendekati wanita itu.


"Fa..Faby hiks hiks!"


"Tenanglah, Nyonya! saya akan menghubungi, Tuan!"


Seakan mendapat harapan, Fanya mengangguk cepat seraya mengeluarkan Ponselnya untuk mencoba menelfon kembali, namun ia semangkin terisak saat hanya Operator yang merespon.


"Ste..Step, hiks! Aku..Aku mohon pulanglah, hiks! Pulang!!"


"Saya akan berusaha, Nyonya!"


Oskar melangkah pergi mencoba meminta bantuan, Baby Faby sangat dekat dengan Tuannya Stephen, tentu kesehatan Bayi mungil itu akan selalu Drop saat sang ayah tak lagi bisa di hubungi dan tak tahu sekarang apa yang terjadi.


.................


Sedangkan didalam kamar ini, wanita dengan rambut pendeknya itu sedang bergelut didekat Balkon sana, ada rasa aneh dihatinya saat mendekati Stephen, seakan rasa itu berganti dengan raut bersalah dan sesak.


Netra tajamnya selalu menghunus sang bulan diatas sana, ia bergelut sendiri dengan Kehidupan yang membuat Dunianya hilang tak tahu arah.


"Masih marah, hm?"


Alen hanya diam membiarkan Nareus memeluknya seraya membalutkan Selimut tebal ketubuh mereka berdua seraya menatap sang Bulan yang masih sama seperti biasanya, tak ada yang berbeda bahkan ini lebih sepi.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Reus!"

__ADS_1


"Hm?"


"Sebesar apa Cintamu?"


Nareus terdiam sesaat, setelah perdebatan tadi Alen lebih banyak diam dibanding bicara ketus dan memukulnya kasar, ia juga tak tahu wanita ini kenapa.


"Memangnya, Kenapa?"


"Hanya ingin tahu!"


Nareus menghela nafas berat semangkin mengeratkan pelukannya ketubuh Alen yang mencari ketenangan dalan kehangatan ini.


"Aku tak bisa mengatakannya, karna ini tak sebesar yang kau pikirkan tapi juga tak sekecil yang kau harapkan!"


"Maksudnya?"


"Kalau aku mengatakan besar dari Dunia, Matahari itu lebih besar! kalau aku mengatakan besar dari Galaksi, bahkan Tuhanpun maha besar!"


Alen terdiam sesaat, ia sangat kagum jika bertanya soal cinta pada pria ini, sangat mendalami arti sesungguhnya.


"Separuh nyawamu?"


"Nyawaku satu, tak bisa dibagi!"


"jadi?"


Tanya Alen berbalik mengkalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Nareus yang tersenyum mengerti akan Kebimbangan wanita ini.


"Lebih dari apa yang kau bayangkan!"


"Kau tak Romantis!"


Ketus Alen berbalik membelakangi Nareus yang lansung menyandarkan dagunya ke bahu Alen yang seperti biasa hanya memakai Tangtop dan Hotpans saja.


"Aku tak sama dengan Kingmu! dia bisa berubah dimana tempat, saat bersama Shena dan Musuh! aku tak bisa merangkai kata indah yang kau mau!"


Alen mencabik sinis seraya menggenggam tangan Nareus, ia akan memulai membuka hati dan melihat, apa ia akan memilih atau malah pergi dengan sendirinya.


"Kau tahu, aku orang yang tak suka Menyakiti!"


"Tapi kau sudah menyakiti aku sedari awal!"


"Itu karnanya aku tak ingin lagi memberi luka!"


Gumam Alen seakan ia juga tak tahu kemana arah Tujuannya, Step masih ada dihatinya, Perjuangan 7 Tahun itu tak mudah, ia merasa sangat jahat jika pria itu ia campakan begitu saja.


"Sudahlah, kau bisa pusing memikirkannya! Ayo kita tidur!"


Nareus menaikan Selimut ketubuh mereka berdua dengan Alen yang lansung melepas Kaos tipis Nareus menampakan tonjolan otot-otot itu.


Cup..


"Malam!"


"Hm, Malam!"


Jawab Nareus setelah mendaratkan kecupan singkat ke bibir Alen yang memeluknya erat dengan Lengannya yang menjadi bantalan wanita ini.


Ia mematikan lampu kamar dan hanya menyisahkan lampu tidur yang meremangi kamar itu membuat keduanya larut dalam kesunyian dan kehangatan dari masing-masing tubuh yang disalurkan lembut.


Prankkk..


Alen lansung terlonjak kaget saat ada pecahan barang yag bersuara nyaring diluar sana dengan Nareus yang tersentak dari alam bawah sadarnya menatap Alen yang juga menatapnya sayu.


"Apa yang..!"


"Kau lanjutkan tidurmu!"


Alen menggeleng ingin ikut namun Nareus menekan tatapannya membuat ia pasrah kembali masuk kedalam selimut dengan Nareus yang menggapai Kimono di Sofa sana untuk melihat Keributan apa yang terjadi saat dini hari ini.


"Apa kau sudah gila, ha?"


"Aku muak mempunyai Menantu sepertimu!!!"


Bentak Grandma Zamlya pada Momy Carolin yang tak lagi bisa menahan emosinya saat tahu apa yang dicampur Grandma Zamlya pada Minuman Alicia putrinya.


"Untuk apa kau meracuni, Putriku? wanita tua brengsek!!"


"Caroin, kendalikan dirimu!"


Dady Albert yang mencoba melerai namun Grandma Zamlya dan Momy Carolin yang terus bersiteggang.


Ibu mana yang diam saja saat Putrinya Alicia ternyata di Beri Racun tikus oleh Grandma Zamlya yang merasa tak melakukan apapun.


"Ajari istrimu ini, Sopan santun! aku hanya memberi Dia Obat tidur dan..!"


Plakkk..

__ADS_1


Momy Carolin lansung menampatnya telak membuat Dady Albert terkejut setengah mati melihat apa yang telah dilakukan oeh istrinya.


"Mom!!"


Nareus yang datang terkejut melihat ini semua dengan Dady Albert yang sudah menatap tajam Momy Carolin yang dibutakan amarahnya.


"Berani sekali kau menampar Momyku, Carolin!!"


"Ini bukan soal Menantu dan Mertua! aku bicara tentang rasa Kemanusiaan antara sesama Ibu!! Dia juga seorang Ibu, lalu kenapa tega meracuni Putriku!!"


"Tapi Momy belum tentu melakukannya!!"


Bentak Dady Albert menyala-nyala, ia sudah lelah dengan masalah keluarga ini, Sang istri yang tak pernah mengerti posisinya dengan Sang ibu yang tak pernah mau memahami Kehidupan anaknya.


"Alicia, kenapa Mom?"


"Li..Lihat adikmu!"


Nareus lansung berlari kelantai atas sana dengan wajah yang kelam mengeras, kepalan tangannya menguat menahan emosi dan kemurkaaan.


Ceklekk..


Nareus lansung tertegun saat melihat Alen yang duduk disamping Alicia yang di Infus dengan Cullen yang menatap wajah pucat gadis itu dengan Prihatin.


"Cia!"


Alicia hanya diam memejamkan matanya dengan Alen yang menggenggam tangannya lembut.


"Apa yang terjadi?"


Dokter Andrew mendekati Lordnya yang sudah pasti menahan geram dan kekecewaan yang teramat.


"Nona Muda Keracunan makanan!"


Grett..


Nareus mengetatkan rahangnya kuat menatap Alicia yang hanya diam dengan wajah pucat lemah itu, langkah pelannya terulur mendekati sang adik yang masih kekeh tak ingin bicara.


"Cia!"


Alicia tetap bungkam dengan satu tetes air bening yang lolos di ekor netranya, ia sangat sakit mendengar semua ungkapan yang tak mengenakan dari mulut Grandma Zamlya padanya.


Apa karna ia seorang Muslim harus di Asingkan? apa karna ia berbeda harus di anggap Hama?


"Biarkan dia istirahat!"


"Kau tahu orangnya?"


Tanya Nareus kekeh dengan suara kelam itu, kalau memang Grandma Zamlya meakukannya, ia akan melupakan Status Cucu itu sekarang.


"Jawab Aku!"


"A..Aku ingin tidur!"


Lirih Alicia membuat Cullen mengerti dan melangkah pergi dengan Alen yang hanya diam mengelus dada bidang Nareus untuk meredakan amarah itu.


"Ayo kita kekamar!"


"Alen, ini..!"


"REUS!"


Tekan Alen tegas membuat Nareus seketika diam dan mengangguk mengiring Alen untuk pergi.


Selepas pintu itu tertutup, barulah Alicia meloloskan tangisannya mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya.


"A..Aku benci Grandma hiks, hiks! Benci!!"


Cullen yang mendengar dari balik pintu sana hanya diam, sejujurnya ia tak pergi karna takut Gadis itu membutukan sesuatu.


"Dia Stres!"


"Hm! aku tahu, terlalu banyak tekanan!"


Jawab Cullen pada Dokter Andrew yang sudah biasa menangani Alicia yang sering jatuh sakit membuat ia benar-benar esktra menjaga Nona Mudanya itu.


"Aku harap Mentalnya tak terganggu!"


"Aku tak menjamin, dia akan lebih Pendiam dan menyendiri!"


Cullen menatap kepergian Dokter Andrew yang membuat ia khawatir, banyak hal yang masih belum ia ketahui tentang keluarga ini.


"Masalah Kakakmu. Kedua orang tuamu! Kebencian Grandma dan Ketidak bebasan! Masalah yang sangat rumit dihadapi!"


Gumma Cullen lalu melangkah pergi, ia tak menyadari Alen yang berdiri dibelakang sana dengan gelas Minum yang menggantung.


"Ada yang ingin Keluarga ini hancur!"

__ADS_1


Gumam Alen menatap Foto keluarga didinding sana, ia yakin ini pasti ada dalang besar yang membuat masalah menjadi begini.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2