Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Melemah!!


__ADS_3

Langkah pelan namun penuh lenggokan wanita memakai Gaun Merah yang begitu Minim dengan tali kecil di leher jenjangnya yang menahan bobot dari dada sintal yang menyembul keluar dengan sangat sexsi, pinggangnya berlenggok dengan mata yang terkesan sangat angkuh dan berwibawah, ia tak menatap kearah lain selain lurus memandang Dekorasi yang begitu mewah ini.


"Ouhh, kau sudah datang, Cantik!"


Rhoseline segera memeluk Grandma Zamlya yang dengan hangat menyambutnya dan Sang Momy Jennifer tak kalah kagum akan Desain Interior megah bagian dalam Kediaman Moureen.


"Kau sangat cantik, Nak! lihatlah, penampilanmu sangat Hot!"


"Tentu, Grandma! bukankah ini cocok untukku?"


Rhoseline memutar tubuhnya anggun dengan Heels tergolong tinggi namun ia sudah biasa memakainya dengan uraian rambut yang di Roll cantik menjuntai di punggungnya.


"Ayo! Kita lansung masuk!"


"Dimana, Presedir Nareus?"


Grandma Zamlya tersenyum bahagia, ia sudah memaksa Nareus memakai Jas pemberiannya dengan mengatakan Rekan Bisnisnya akan datang malam ini, tentu saja pria itu menolak tapi Grandma mengancamnya dengan sangat fatal melibatkan keselamatannya. sedangkan Momy Carolin dan Dady Albert sedang disibukan dengan Pertengkaran yang ia picu tadi siang.


"Kalian panggilkan Nareus!"


"Baik, Nyonya!"


Kepala pelayan sana lansung melangkah kelantai atas namun ia terhenti saat Melihat seorang pria tampan dengan Jas Biru dan Stelan Formal memukau itu turun dengan wajah datar yang begitu sempurna, bulu mata lentik yang menghiasi netra tajam itu tampak menarik tatapan penuh damba semua orang.


"Tuan Muda!"


"Hm!"


Nareus hanya bergumam kecil melanjutkan langkahnya melewati deretan Pelayan yang menyambutnya dengan penuh hormat, namun dahinya mengkerut melihat dua Manusia yang tak asing bagi Nareus sendiri.


"Presedir Nareus!"


Rhosaline mendekat sesuai arahan Grandma Zamlya yang benar-benar bersemangat untuk mendekatkan Susnya pada Rhose.


"Kenapa kau kesini?"


"Ouh, aku di undang makan malam oleh Grandma Zamlya!"


Jawab Rhoe berusuara lembut namun itu seperti ******* halus membuat Nareus jijik namun ia tetap mempertahankan wajah dinginnya supaya Grandma Zamlya tak malu akan kemarahannya nanti.


"Sus! ayo duduk sayang!"


"Aku rasa tak ada urusanku disini!"


"Ada, Sayang! ayo duduk!"


Mendengar itu Nareus tertegun menatap wajah Grandma Zamlya yang sangat menekan, mana mungkin ia melawan wanita yang sudah sedari 5 tahun membesarkannya itu.


Melihat Nareus yang menurut Rhose dan Momy Jennifer lansung mengedipkan matanya sukses dan menduduki kursi yang sudah di sediakan dengan para pelayan yang membantu mengatur Peralatan makan hingga mengambilkan makanan itu.


"Makanannya terlihat sangat lezat!"


"Benarkah? kalau begitu kalian bisa mencoba, ayo makan! tak usah malu-malu!"


Grandma Zamlya berucap ramah membuat Nareus yang memasang Sarbet pun terhenti sejenak menatap datar wajah Grandmanya.


"Tak perlu berlebihan!"


"Presedir, biar saya bantu!"


Nareus menjauh dari jangkauan tangan Rhose yang ingin memasang Sarbet di tangannya disertai tatapan tajam Nareus yang membuat Rhose gemetar sedikit gugup.


"Sus, Rhose hanya ingin membantu!"


"Aku punya tangan!"


Ucap Nareus datar nyaris tak berintonasi seraya memasang Sarbetnya lalu memakan potongan Stek dan Spagetty dipiringnya, hanya beberapa suapan lalu ia melepas Garpu dan pisaunya.


"Aku selesai!"


"Sus!"


Grandma Zamlya menggenggam tangan Nareus yang ingin melangkah pergi setelah mengelap mulut dengan Sarbet sana, terlihat sekali pria ini tak suka berada disini.


"Kenapa terburu-buru, Presedir? kita bisa berbincang kecil!"


"Aku tak punya waktu!"


Degg..


Rhoseline dan Momy Jennifer saling pandang geram, kenapa pria ini sangat sulit di tundukan, padahal Rhoseline sudah sedari tadi berusaha menggoda dengan gestur tubuh yang memancing, tapi tetap saja Nareus acuh dan fokus pada makanannya.


"Nak! kau..!"


"Apa kau lelah Presedir? aku bisa mengantarmu ke..!"


"Lepasss!!!"


Suara keras wanita yang ditarik paksa dari luar sana hingga sampai kedalam Kediaman di pertengahan ruang Tamu dengan teriakan dan pemberontakan yang terus dilakukan.


"Dasar Brengsek!! Lepas!!"


Alen menendang kuat tapi entah mengapa Smith tak bergerak bahkan Merespon sama sekali, pria ini seakan memiliki tenaga dalam yang kuat melebihi dirinya.


"Mnurutlah, Nona!"


Smith menyeret Alen menuju Ruang makan dengan Grandma Zamlya yang terkejut melihat wanita preman ini dengan Rhose dan Momy Jennifer yang lansing berdiri menatap Alen dengan bingung.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Nareus yang tetap duduk dengan gestur dinginnya serta kepalan tangan yang menguat menatap Alen yang malah tak perduli, wanita itu tetap memberontak keras bahkan tak segan untuk memukul.


"Lepas!!"


"Lepaskan dia!"


Brugh..


Alen tersungkur akibat lepasnya tangan Smith yang memakai sarung tangan memeggang kedua lengan Alen yang tak mungkin baginya menyentuh wanita Lordnya ini.


"Apa-Apa'an kau ha?"


"Jaga bicara anda, Nona!"


Ketus Rhose yang benar-benar salut akan Keberanian Alen yang membentak dihadapan Pria berwajah serius dan menyeramkan ini, ia saja harus pandai memilah perlakuan dan Intonasi.


"Bukankah kau Istrinya Presedir Nareus?"


Rhose membulatkan matanya mendengar tebakan Momynya, ia tak sempat melihat wajah Alen yang terselumbung dari rambut pendek yang berantakan karna memberontak tadi.


"Apa? Bagaiaman mungkin, Mom! Dia ini seperti tak bermartabat saja!"


Ketus Rhose membuat kepalan tangan Alen menguat panas seketika berdiri menampakan wajah cantiknya yang sudah memerah menahan emosi.


"Kau bilang apa?"


"Tak bermartabat!"


Plakkk..


Grandma Zamlya membulatkan matanya melihat Alen yang lansung menampar Rhose yang tersungkur na'as ke lantai sana dengan amarah Alen yang membeludah, ia tak terima karna kata-kata itu mengundang Pertanyaan tentang ajaran Keluarganya.


"Bicara sekali lagi!!!"


"Kau berani menamparku?"


"Memangnya apa yang ku takutkan?"


Sinis Alen dengan mata yang menajam membuat ia benar-benar menjelma menjadi sosok yang mengerikan, namun Nareus tak mau membuang waktu untuk memberi pelajaran pada wanita ini.


Grett..


Nareus menarik Alen kasar menuju kamar mereka diatas sana dengan Momy Jennifer dan Grandma Zamlya yang membantu Rhose bangun dari lantai dingin sana.


"Aaaauu, Mom hiks! pipiku,"


"Dasar wanita tak tahu diri! kau lihatkan, dia itu tak cocok menjadi menantu disini!"


Ucao Grandma Zamlya yang membantu Rhose mengelap ceceran darah yang keluar dari hidung dan sudut bibir karna di tamparan keras yang dilayangkan Alen tadi.


"Reuss!!!,Lepas!!"


Namun Nareus hanya membatu menyeret Alen kasar menuju kamar mereka dengan sangat marah dan murka, amukannya tadi siang kembali menggunung saat melihat wanita ini masih belum mengetahui kesalahannya.


Brakk..


"Reus!!"


pekikan keras Alen saat Nareus melemparnya keranjang sana dengan suara pintu yang tertutup keras, Alen menegguk ludahnya kasar melihat wajah tampan Nareus yang benar-benar kelam seakan melahap habis dirinya dari Kesunyian ini.


"Kemana saja kau?"


"Keluar!"


Nareus mengetatkan rahangnya erat seraya melangkah pelan penuh tekanan mendekati Alen yang beringsut menjauh merasa Nareus sangatlah menyeramkan.


Grett..


Nareus mencengkram kuat pipi Alen hingga memerah dengan kilatan angkara murka yang berkobar dari matanya, ia seakan mengurung wanita ini dalam Sangkar kegelapan yang ia miliki.


"Re..Reusss!"


"Sudah berapa kali ku bilang! JANGAN MEMBANTAH!"


"Ta..Tapi aku!"


Cup..


Alen seketika terlonjak kaget ingin menghindar tapi bibirnya sudah lebih dulu diraup penuh Nareus yang seakan menggila menghisap kasar bibirnya dengan sangat rakus.


"Reusmm!"


Nareus hanya membatu terus mengigit bibir Alen yang terpaksa membuka mulutnya memberi akses bagi Lidah Nareus yang lansung membelit lidahnya erat dengan hisapan yang kuat membuat Alen sesak.


"Reusmmm! Lepasmmm!"


Alen memberontak keras namun Nareus mengunci pergerakan tangannya ke atas kepala hingga ia benar-benar tak bisa bergerak dari kungkungan pria ini.


Beberapa kali Alen terpkik tertahan saat bibirnya terasa terhisap kuat oleh pria ini bahkan ia tak bisa bernafas dengan leluasa dengan liur yang saling menegguk mengaliri kerongkongan masing-masing.


Merasakan Alen mulai benar-benar kehabisan nafas, Nareus melepas pangutan kasarnya dengan wajah Alen yang meradang merah segera menghirup oksigen dengan cepat.


"Na..Nare..Us Hos Hos!"


"Dimana dia menyentuhmu?"


Alen yang masih belum sempat menjawab karna kesesakan itu seketika bungkam mencoba lepas namun ini sudah kuncian mati.

__ADS_1


"A..Apa?"


"Apa disini!"


"Reus!!!"


Teriak Alen keras saat bagian intinya di tekan Nareus dengan lututnya membuat wanita itu benar-benar nyeri dan sangat perih.


"Re..Reus! Sakitt!"


"Kau tahu sakit? tahu kau kata sakit, ha?"


Bentak Nareus menyala-nyala dengan makna yang berbeda, dadanya sudah sangat menggebu dengan sekangan rasah panas dan marah, kenapa kau tega membuat aku hilang akal setiap melihatmu memperdulikan pria itu? kenapa kau membuat aku selalu Menggila saat melihat kalian bersama?


Kemarahan Nareus yang berteriak membelah tubuhnya, namun lidahnya keluh untuk mengungkapkan itu, hanya sorot matanya saja yang terlihat sangat terluka.


Untuk sesaat keduanya saling pandang dengan Alen yang tercekat melihat netra tajam Nareus menyimpan rasa sakit yang teramat, pria ini sekuat tenaga menahan sesuatu yang bisa saja itu membuat Pikirannya terganggu.


Begitu juga Nareus yang tak sampai hati memukuli wanita ini, ia tak bisa meluapkan kemarahanya pada Alen.


"re..Reus!"


Dengan tangan terkepal Nareus memejamkan matanya meredam Rasa tersesak yang baru ia rasakan setelah sekian lama.


"Re..Reus kau..!"


"Aaaaaaa, Brengsekk!"


Brakkk..


Nateus meninju pinggir ranjang yang lansung tergorrok berserakan dengan kayu-kayu pilihan yang keras itu remuk akan hantaman kepalan tangan Pria ini membuat Alen benar-benar pucat ditempatnya.


"Kenapa? Kenapa dan Kenapa?????"


Nareus menghancurkan ranjang ini dengan kuat, melempar apapun disampingnya dengan wajah yang merah meluapkan kemarahan membuat Alen terdiam kaku.


Hatinya berdenyut melihat wajah penuh luka pria ini, tapi ini kenapa? bukankah ia sudah punya Step, tapi kenapa ia tak bisa melihat Nareus begini?


Brakk..


Prankk..


Nareus seakan menggila membuat kamar itu benar-benar hancur dihadapan Alen yang terdiam dengan satu tetesan air mata yang keluar, ia terkejut melihat cairan bening itu luruh dengan sendirinya.


"I..Ini!"


Grett..


Alen kembali menggeram saat lehernya dicekek Nareus yang telah membuat ruangan ini hancur menyisakan kasur dan Alen yang masih saja membatu.


"Kau! Kau harus menurut!! Kau harus berhenti menemuinya!!"


"Re..Reus!"


Grepp..


Nareus tak bisa mengangkat tangannya menampar atau memukul Alen selain mencengram itu saja, ia memeluk wanita itu dengan gemuruh dada yang berat dan sangat sesak.


"Re..Reus!"


Nareus hanya diam memeluk Alen dengan perlahan melembut membuat hati Alen bergetar karnanya,


Tangan besar Nareus teralih pelan naik keatas mengelus rambut Alen yang begitu berantakan dengan wajah lemah Wanita itu terlihat linglung.


"Re..Reus!"


Cup..


Nareus hanya diam mengecup pipi Alen yang tadi ia cengkram erat, kenapa ia selalu lemah berhadapan dengan wanita ini? bahkan rasanya ia tak mampu bergerak sama sekali.


"Apa sakit?"


Alen tersentak menatap Nareus bingung dan sangat aneh, ia suka Nareus seperti tadi karna ia takut kalau sikap manis Pria ini malah merubuhkan benteng besar yang ia bangun.


"Jangan begini!"


Lirih Alen merasa sangat takut memeggang tangan Nareus yang menagkup pipinya lembut melihat pipinya yang memerah karna tekanan kuat tadi.


Cup..


Alen mencengkram kaut dada bidang Nareus yang memberikan kehangatan pada Tubuhnya membuat Alen menjadi nyaman namun juga sangat takut.


"Kau sudah makan, hm?"


Alen menggeleng menatap Keadaan kamarnya yang sudah berantakan, hatinya mencolos tapi ia belum tahu ini rasa apa, ia takut hanya sekedar nyaman saja.


"Jangan memakai Jeans terlalu lama!"


Alen hanya diam membiarkan Nareus melakukan apapun padanya dengan tatapan mata yang melemah.


Seandainya kau yang pertama datang, mungkin aku bisa mencari cela untuk lari dari situasi ini.


Batin Alen seketika Spontan berucap tanpa arahan dari pikiranya, hatinya hanya diam meresponnya dengan begitu hangat.


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2