Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Tunggu Momy, Nak!!


__ADS_3

Tatapan kosong wanita itu lansung tertuju pada Gudukan tanah yang terkubur dalam dibawah sana, Papan salip terlintang dengan permukaan Tanah yang masih basah dengan taburan bunga yang tak pernah layu sekalipun sudah beberapa-hari disini.


Tangan wanita yang berpenampilan kacau itu terus mengusap papan nisan Sang Buah hati yang meninggalkannya dalam kegelapan, air bening itu selalu mengalir dipipinya dengan tatapan kosong tak ada rona kehidupan sama sekali.


Wajahnya terlihat pucat karna tak ada yang ia konsumsi sama sekali, ia sangat hancur, tak ada puing penyokong tubuh dan batinnya lagi.


"Ba..Baby!"


Lirihan yang selalu keluar dengan sangat lemah, kantung mata itu tercipta dibawah netranya dengan wajah sembab yang memprihatinkan.


"Nyonya! sebentar lagi akan hujan, saya mohon kembalilah ke Ruangan anda!"


"Ba..Baby! Dia..Dia butuh aku, dia tak boleh sendiri!"


Ucap Fanya tersenyum mengecup papan nama itu dengan wajah yang benar-benar tak rela, ia terus memeluk gudukan tanah itu dengan penuh kerinduan.


Anaknya, buah hatinya yang selama ini telah memberi warna didalam hidupnya malah pergi meninggalkannya sendiri, sungguh ia tak sanggup lagi menatap Dunia, ia seakan terkurung dan jatuh dalam lembah Kesakitan yang teramat.


"Nyonya! Saya mohon mengertilah!"


"Tidak!!! Pergi..Pergi kalian dari sini hiks! Pergi!!!"


Fanya melempar bebatuan di sekitarnya pada Oskar dan para Petugas Medis yang menangani Keadaan Fanya yang begitu Drop.


"Nyonya! kendalikan diri anda!"


"Pergi!!! hiks hiks, kalian..kalian ingin mengambil Putriku, pergi kalian hiks, Pergi!!!!"


Mereka saling pandang menunduk dengan para Suster sana yang tak bisa membendung air mata, mereka paham dengan rasa sakit itu.


Fanya adalah seorang ibu, ia yang selalu bersama si mungil yang lebih disayangi oleh Tuhan hingga pergi meninggalkan seorang Ibu yang begitu rapuh meratapi anaknya.


"Pergi!!! hiks hiks, Pergi.. jangan bawa Putriku hiks, jangan!!"


"Kapan Tuan akan pulang?"


"Tuan sudah diperjalan!"


Jawab Oskar seraya berusaha tetap tegar dan menahan emosi, pria itu pergi tanpa memberi kabar dan sekarang lihatlah, semuanya sudah hancur bahkan tak bersisa sama sekali.


"Baby, Baby momy ikut ya? iya sayang hiks hiks, Tunggu..Tunggu momy Nak!"


"Bawa Nyonya!"


"Baik!"


Fanya menggeleng meneluk erat gudukan tanah itu seraya menghindar dari jangkauan para Suster yang ingin memisahkan ia dengan sang buah itu.


"Lepas!!! Pergi kalian Brengsek, Lepas!!"


"Maafkan kami, Nyonya!"


Fanya menggeleng memberontak, ia melempar mereka semua dengan tanah itu tanpa ingin pergi sama sekali, tubuhnya sudah sangat lemah bahkan ia tak mampu berdiri dan hanya terduduk di makam Baby Faby.


"Ba..Baby! Baby tolong Momy Nak, mereka..mereka jahat hiks! Momy., Momy mau ikut Faby, momy ikut Faby!!"


Teriak Fanya semangkin mengelak membuat mereka kualahan, namun Oskar menatap Dokter Farhas disampingnya dan pria itu segera mendekati Fanya yang menggeleng.


"Lepas!!! Ja..Jangan, aku..aku tak mau!!! Baby hiks hiks, Lepaskan aku!!"


"Pegangi Bahu Nyonya!"


Dokter Farhas berusaha menyuntikan obat penenang ke tubuh Fanya yang sudah tak bisa menerima Dosis dari cairan itu, selama beberapa hari ini hanya Suntikan ini yang bisa menenagkan Fanya.


"Le..Lepas hiks, Ja..jangan pisahkan aku, jangan aku mohon!"


Lirih Fanya dengan pandangan yang mulai membayang, tapi pelukannya pada makam sang buah hati masih saja menguat seakan ikatan batin kedua Mahluk ini sangatlah erat.


"Tu..Tunggu Momy Nak!"

__ADS_1


Gumam Fanya mengecup gudukan tanah itu lalu memejamkan matanya saat kesadaran itu mulai menghilang, melihat Fanya yang sudah tak bergerak para Team Medis sana lansung mengambil tindakan dengan Menggendong wanita ini kembali ke rumah sakit.


"Tuan!"


"Apa yang terjadi?"


Dokter Farhas menghela nafas berat menatap Oskar yang tampak gugup, ia takut wanita itu tak bisa diselamatkan sama sekali.


"Nyonya menderita Sikis mental yang parah! otaknya tak menerima kematian Nona kecil hingga ia terus ingin bersama anaknya! saya takut jika Nyonya seperti ini terus dia akan Gila, Tuan!"


Deggg..


Oskar lansung tercekat kuat seakan ada rantai yang membelit lehernya, apa yang akan ia katakan pada Tuannya? sedangkan semuanya sudah hancur, keluarga yang dulunya terlihat Harmonis dan lengkap malah berantakan seperti ini.


"Saya khawatir kalau pihak Rumah sakit akan mengeluarkan Nyonya!"


"Ke..Kenapa?"


"Karna Nyonya tak lagi sakit secara fisik! dia sakit secara mental dan bisa membahayakan seluruh Pasean yang ada ditempat ini, Bisa jadi nanti..!"


"Na..Nanti apa?"


"Nanti Nyonya di tempatkan ke Rumah sakit Jiwa!"


...............


Nareus menatap Stephen yang terlihat pucat mendatanginya, ia melihat dengan jelas kalau pria ini berusaha menahan tangisan dengan mata yang menggenang.


"Ada apa?"


"Na..Nareus!"


"Hm!"


"Apa yang terjadi?"


Dari raut wajah pria ini Nareus mengerti, berarti Stephen sudah tahu apa yang terjadi di Kediamannya sekarang, hela'an nafas ringan Nareus tercipta seraya menegguk segelas air putih didekat meja kamar tamu ini.


"Putrimu memang sudah Tiada!"


Duarrr..


Stephen lansung luruh didepan pintu sana dengan air mata yang sedari tadi ia tahan keluar dan wajah yang sungguh terkejut, matanya termenung kosong dengan bibir yang berhetar tak menerima semua ini.


"Ka..Kau berbohongkan? Na..Nareus, katakan padaku, kau..!"


"Putrimu sudah pergi satu minggu yang lalu saat kau sibuk dengan Masalahmu sendiri!"


"Ti..Tidak! Tidak mungkin, Fa..Faby putriku masih hidup!"


"Step!"


Alen yang baru datangpun tersentak melihat Stephen yang terlihat sangat terluka dan rapuh, ia mematung didepan pintu menatap Nareus yang hanya diam membiarkan pria ini meluapkan segalanya.


"Ti..Tidak, Pu..Putriku, Putriku masih hidup!"


Gumam Stephen menggeleng mencoba berdiri namun ia tak bisa hingga jatuh kembali membuat Alen prihatin.


"Kau kenapa?"


"Fa..Faby, hiks! Faby!!!"


Stephen kembali berdiri tertatih-tatih dengan lemah menyusuri dinding kamar ini, ia tak sanggup lagi bicara karna ia ingin pulang memastikan segalanya.


"Reus! apa yang terjadi?"


Nareus membuka tangannya menatap Alen yang mengerti melangkah mendekati Nareus yang lansung memeluk Alen dengan hangat.


"Kenapa Step begitu? Faby! Faby ada apa dengannya dan..!"

__ADS_1


"Stephen menikah dengan Sepupu Shena Fanya!"


Degg..


Alen tersentak kaget lalu menatap Nareus dengan pandangan yang tak percaya, melihat itu semua Nareus lansung duduk di pinggir ranjangnya seraya Alen yang duduk dipangkuannya.


"Ceritanya sangat panjang, hanya dia yang bisa memberitahu segalanya!"


"Dan..Dan apa maksudnya dengan kata 'Pergi'?"


"Putri Fanya sudah Tiada!"


"Apa???"


Pekikan kuat Alen yang sungguh tersambar petir, ia termenung kosong dengan wajah yang begitu Prihatin dan sangat ikut berduka karna Stephen merasakan sakit berkalilipat setelah ini.


"Aku sudah mengirim anggotaku kesana, aku yakin Shena juga akan marah besar mengetahui hal ini!"


"Tapi..Tapi bagaimana bisa? Pasti ada..!"


"Saat itu aku tak tahu apapun hingga aku tak melindungi Mereka, Adlen yang melakukan itu semua!"


Alen mengepalkan tabnannya kuat, pria tak bermoral itu sungguh tak berhati nurani, dengan teganya membuat Putranya sendiri hancur hanya demi Obsesi gila itu.


"Akan ku habisi Brengsek itu!!"


"Sayang!"


Nareus membelit pinggang Alen erat karna wanita itu sudah terlihat tak bisa menahan emosi, bahkan wajahnya saja sudah sangat keras.


"Dia itu tak pantas Hidup, Reus!!! Dia itu gila!!! Stephen, Fanya dan Bayi itu tak bersalah tapi dia malah mempermainkan kehidupan orang lain!!!"


"Aku tahu! Aku sangat tahu betul kalau dia tak pantas dikatakan sebagai manusia, dan kau lihat ini!"


Nareus menghidupkan Televisi dihadapannya dengan Alen yang lansung melihat apa yang terjadi.


Namun, seketika rahangnya benar-benar mengeras melihat Berita yang menyiarkan tentang Perjanjian itu hingga banyak Masyarakat yang melakukan Demonstrasi Anarkis diluar sana karna Mendesak Dadynya untuk turun dari gelar Tuan Muda pertama dari Kerajaan Bisnis Kebangsawanan ini.


*Albert Hotmartew telah melakukan keslaahan besar dengan mencoreng nama baik Keluarganya.


Wajah tegas dibalik Sifat kotor yang tersembunyi*.


"Nareus! kita habisi saja dia sekarang, aku bersumpah namaku bukan Alen Eliotes Anggota King Latina kalau tidak mencincang pria sialan itu!"


"Kau lihat saja apa yang terjadi malam ini!"


Alen terdiam menatap Nareus yang terlihat santai, pasti pria ini sudah memikirkan sesuatu tanpa mengajaknya.


"Apa?"


"Tidak ada! kau lihat saja!"


"Kau selalu melakukan segalanya sendiri! ajak aku juga, aku akan membantumu!"


Nareus menggeleng tegas lalu menyambar makanan yang baru saja Smith bawakan tadi dan meletakannya kepaha Alen yang bingung.


"Ini apa?"


"Makanan! maaf tadi aku tak sempat membelinya!"


"Cihh! kau berbohong, tadi kau memukuli dia kan! seharusnya kau panggil aku juga, kita pukuli sama-sama kan Seru, Reus!!"


"Lain kali saja!"


Alen hanya mendecah kesal lalu membuka Camilannya, ia sekarang memikirkan bagaimana cara aggar Stephen bisa melupakannya dan menatap Fanya.


........


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2